
Seperti biasanya, setiap pagi aku harus bangun untuk berbenah dan menyiapkan sarapan. Tapi hari ini aku merasa badanku letih sekali. Mungkin karena aku kurang beristirahat semalam. Namun, mau tak mau aku harus segera membuka mataku.
Silau. Itu yang pertama kali ku lihat. Aku biasanya bangun saat masih jam 5 pagi jadi sinar matahari tidak sampai sesilau ini. Tapi kenapa hari ini sudah silau sekali. Lama aku mengerjap-kerjapkan mataku mencoba untuk memperjelas pandanganku.
“OH... YA TUHAN!” aku begitu terkejut dan duduk dengan spontan.
Bergegas aku langsung melihat jam digital di atas nakas yang telah menunjukkan pukul 7 pagi. Rupanya aku benar-benar telah kesiangan. Aku bingung dan begitu kelabakan karena seharusnya aku menyiapkan sarapan untuk Jin.
Jin? Ya Tuhan.... Tiba-tiba aku langsung teringat Jin. Kemudian aku menoleh ke sisi di mana aku tidur semalam. Rupanya Jin sudah tidak ada di sana. Dengan terburu-buru aku mengambil kaos oblong Jin yang berada di lantai tak jauh dariku kemudian memakainya dengan tergesa-gesa, bajuku terlalu jauh dari jangkauanku sehingga aku tak ada pilihan lain selain kaos Jin.
Terlalu besar dibadanku, tapi mampu menutupi tubuhku hingga di atas lutut. Dengan tergesa-gesa aku sedikit berlari ke arah dapur untuk bergegas menyiapkan sarapan Jin.
Namun apa yang aku lihat? Sebuah pemandangan yang sangat jarang terjadi.
Ya... ini kedua kalinya Jin memasak untukku. Aku terpaku menatapnya yang tengah sibuk menggoyang-goyangkan spatula dan wajan. Benar-benar tulus sekali dia melakukannya. Dia benar-benar seperti... seorang malaikat tanpa sayap, meskipun dalam keadan hanya memakai celana taktik selutut dan kaos dalam tanpa lengan, tetap saja... dia seperti seorang malaikat.
Perempuan mana yang tak akan tergoda olehnya? Aku baru mengerti kenapa Fei dan Daniella begitu terobsesi dengan Jin. Selain karena dia begitu tampan, tapi karena kepribadiannya sungguh sangat baik. Benar-benar baik.
Aku terkadang tak mengerti kenapa dia dulu begitu bersikeras menerima perjodohan kami. Karena, jika dilihat-lihat, dia hanya tinggal menunjuk saja wanita yang sempurna.
Ah... Aku mulai membahas ini lagi. Tapi tetap saja... rasa penasaran itu ada.
Aku terus saja menatapnya dari kejauhan, kagum. Dan sepertinya dia belum menyadari akan kahadiranku di dapur yang sedari tadi terus memperhatikannya.
“Jin...” Akhirnya aku memanggilnya dengan suara parau.
“Eoh? Sudah bangun?” Dia sedikit terkejut namun kemudian dia tersenyum ke arahku.
Senyumnya sungguh sangat manis. Ya Tuhan... aku benar-benar jatuh cinta padanya. Sungguh bodoh aku yang meragukannya hanya karena kenangan kecil masa lalu.
Perlahan aku mendekatinya yang tengah fokus memasak.
“Kau sengaja mematikan alarmnya?” tanyaku sembari memeluknya dari belakang.
Jin sedikit menoleh ke arahku yang tengah memeluknya dengan tersenyum hangat. “Kau begitu kelelahan... aku ingin kau beristirahat sedikit lebih lama.” Ucapnya sembari fokus pada masakannya.
Aku tak meresponnya dan malah mengeratkan pelukanku padanya. Aroma tubuhnya ini... aku sungguh menyukainya. Aroma ini benar-benar membuatku merasa sangat nyaman.
Aku merasa bersalah sekali karena pernah merasa dilema. Sejujurnya... akulah yang bersikap plin plan dan tak bisa mengerti akan perasaanku sendiri. Aku tak tau ini karena apa?
Ataukah karena aku pernah menyukai manager Wang? Sehingga ketika aku menduga dia adalah seorang sahabat lama yang aku rindukan aku merasa hatiku benar-benar goyah.
Namun.... Semalam... Jin benar-benar meyakinkan perasaanku. Jin mengingatkan akan keplin-planan perasaanku secara tidak langsung.
Perlahan Jin mematikan kompornya, kemudian berbalik menarikku dalam pelukannya. Hangat.
“Apa masih ingin berlama-lama denganku?” Tanya Jin dengan tertawa kecil menggodaku yang bergelayut manja dalam pelukannya.
“Jin... beri aku benerapa menit saja... aku mau seperti ini.” Ucapku dengan semakin mengeratkan pelukanku memanja.
Perlahan Jin melepaskan pelukanku dan menarik tanganku untuk ditaruhnya di pundaknya. Dia menunduk kemudian menggedongku menghadapnya. Karena aku terlalu kecil, jadi posisi seperti ini membuatku bisa melihat Jin dengan Jelas dari pada Jin harus menunduk.
Ku kunci kakiku erat pada punggungnya, tanganku pun mengunci lehernya juga. sehingga mata kami benar-benar bisa sejajar.
"Setiap aku melihat jauh ke dalam matamu, kenapa aku selalu terhipnotis olehmu?" aku memberikan sebuah pertanyaan yang kami pun tak menemukan jawabannya.
"Apakah kau tak sadar kau pun demikian? tidak hanya matamu.... tapi semua tentangmu adalah hipnotis bagiku." Jin memberikan sebuah pernyataan dari hatinya.
"Maafkan aku.... Aku pernah meragukanmu." Aku berkata lirih.
"Tidak.... itu pertanda bahwa kau benar-benar ingin mengenali hatimu. Karena ini adalah sebuah tantangan." Jin menjelaskan.
Aku kemudian mengangguk mengerti apa yang Jin maksudkan. Senyumku perlahan mengembang.
Aku tak menjawabnya dan malah mengambil inisiatif untuk menciumnya lebih dulu.
Meskipun jantungku berdegub kencang sekali, namun keinginanku untuk menyentuhnya mengalahkan segalanya. Malah sepertinya... deguban jantungku yang begitu kencang dan tak beraturan ini menimbulkan sensasi tersendiri yang membuatku benar-benar menantikannya.
Sepertinya Jin mulai membalas ciumanku yang ringan. Perlahan dia membawaku yang berada dalam gendongannya berjalan di salah satu sudut pantry yang kosong tanpa melepaskan ciuman kami. Dengan ciuman yang masih memburu, perlahan dia menurunkanku di sana. Dan perlahan pula ciuman kami semakin ringan hingga akhirnya terlepas.
“Jin.....” aku memanggil namanya lirih sembari terus menatapnya. Aku mencoba mendapatkan perhatiannya. Aku benar-benar ingin diperhatikannya.
Dia juga menatapku begitu teduh dan hangat. Tanganku yang semula memeluk lehernya kini mulai menyentuh alisnya yang tegas.
“Ini... milik siapa?” Tanyaku padanya tiba-tiba.
Jin mengernyitkan keningnya sesaat sebelum akhirnya menjawabku.
“Milikmu.” Jin menjawabnya tanpa mengedipkan mata dan terus menatap seluruh gerak-gerikku.
“Mata ini... untuk melihat apa?” tanyaku lagi dengan menyentuh ujung matanya.
Aku benar-benar mengagumi struktur wajahnya. Sempurna.
“Untuk melihatmu.” Jin menjawab lagi masih tetap menatapku. Kali ini bibirnya mulai mengembangkan senyum.
“Hidung ini... apakah milikku juga?” Aku beralih menyentuh pucuk hidungnya.
Aku menanyakan semua struktur wajahnya yang aku kagumi.
Jin masih menatapku hingga beberapa saat senyumnya masih mengembang, tangannya kemudian meraih tanganku yang menjelajahi seluruh wajahnya untuk digenggamnya erat.
“Hidung ini.... bibir ini.... tubuh ini.... semuanya milikmu dan hanya untuk dirimu. Dan tak akan kuberikan pada siapa pun selain dirimu.” Dia memegang tanganku untuk menunjuk bagian hidung dan bibirnya bergantian.
Kemudian diciumnya tanganku dengan penuh kehangatan. Hingga kehangatannya ku rasakan menjalar ke ubun-ubun kepalaku.
“Ku berikan semua padamu dan hanya untukmu. Ciuman pertamaku... adalah kamu... dan semuanya adalah kamu. Yang pertama... Jadi... semua ini adalah milikmu, untukmu dan hakmu.” Jin mengenggam tanganku di dadanya.
"Benarkah?" Tiba-tiba aku ingin menangis mendengar semuanya. Aku begitu tersentuh.
Bagaimana tidak? Aku yang pertama di sentuh dan menyentuhnya. Ini seperti sebuah kejutan. Dia dikelilingi begitu banyak wanita, tapi kenapa aku lah yang pertama?
“Hu um." Jin mengangguk, "Mei.... di sini... aku justru sangat takut. Takut jika aku kehilanganmu.” Jin berkata lirih. Ada sebuah ketegangan ketika dia mengatakannya. Sepertinya dia benar-benar takut aku akan meninggalkannya.
Spontan aku langsung merengkuh wajahnya.
“Sayang... kau pernah bilang... jika kau telah memberikan padaku tanda di setiap incinya. Itu berarti... aku adalah milikmu, untukmu dan hakmu. Jadi jangan biarkan aku menghilang darimu.” Aku berbalik meyakinkannya.
Mendengar perkataanku Jin tersenyum kembali.
“Tetapi kau belum menjawab pertanyaanku tadi. Jadi... apakah kita sebaiknya mengambil Cuti?” Jin mendekatkan wajahnya dan membisikkan sesuatu di telingaku sehingga membuat jantungku berdesir.
Belum sempat menjawabnya, ciumannya sudah mendarat dengan lembut di belakang cuping telingaku. Kemudian leherku dan bibirku lembut... sangat lembut. Tidak memburu. Dan aku benar-benar dibuat mabuk olehnya.
Yang seperti ini, benar-benar menyentuh hatiku. Membuatku nyaman, aman dan begitu rileks melakukannya.
Kemudian aku pun teringat sesuatu.
“Jin... ini di dapur.” Aku sedikit mendorongnya mengingatkan di mana kini kami berada.
Namun dia hanya menatapku sesaat dengan senyum menggodanya kemudian melanjutkan aksinya.
Jadi... apakah aku harus benar-benar mengambil cuti untuk membersihkan dapur kali ini.
***