
Sudah dua minggu lebih aku mengambil cuti dan hari ini setelah aku merasa sudah sangat sehat aku berniat kembali ke kantor untuk menyampaikan surat pengunduran diriku.
Ini adalah keputusan yang telah aku pikir matang-matang, untuk janinku dan juga untuk diriku.
"Aku antar masuk ya?" Jin terlihat begitu khawatir.
"Tak perlu sayang.... bukankah kau ada pertemuan? Kau pergi saja dulu, aku juga akan menyampaikan salam perpisahan pada rekan-rekanku. Jadi akan sedikit lama." Ucapku padanya.
"Ahhh.... aku hampir melupakannya." Sepertinya Jin hampir melupakan agendanya. "Kalau begitu nanti biar pak Huang yang menjemput ya? ingat, jangan lama-lama. Jangan capek, kalau berbenah minta tolong Lingfei saja. Kau duduk saja dan jangan bergerak." dia mewanti-wanti dengan tatapan tajam.
Aku yang diwanti-wanti merasa jengah dan mengerlingkan mata kesal.
"Heiii.... Kalau aku terus duduk saja dan tak melakukan sesuatu, itu malah tak sehat buatku." Aku tak menerima peringatan darinya.
"Tapi kau masih rawan sayang, bahaya kalau kau kelelahan." Jin tak mau kalah.
Aku pun akhirnya mengalah juga.
"Baiklaaaaaah.... Pak direktur, saya akan mematuhi perintah anda." Ucapku kesal.
"Jangan cemberut begitu... jadi pengen gigit kan aku nya?" Jin mendesah pelan sembari melonggarkan dasinya gerah.
Aku yang semula kesal kini sedikit tersenyum melihatnya yang berubah kesal. Tingkahnya benar-benar lucu. Melihatnya seperti itu jantungku berdegub lebih kencang dan tak beraturan.
"Jin...???" Aku memanggilnya manja sembari menatapnya yang tengah kesal bersandar pada head seat.
"Eum?" Dia kemudian menoleh ke arahku dan menegakkan duduknya.
"Entah kenapa... meskipun kita sudah hampir setengah tahun menikah, jantungku selalu berdetak kencang saat bersamamu." Ucapku sembari menatapnya heran.
Jin menatapku, sejurus kemudian dia tersenyum dan menggenggam tanganku hangat.
"Aku bahkan merasakan hal itu tidak hanya 6 bulan." Jin berkata lirih namun samar-samar aku bisa menangkapnya.
"Apa???" Namun aku juga tak begitu yakin dengan pendengaranku.
"Ah.... Aku rasa aku salah bicara." Jin terlihat kebingungan, "Maksudku.... aku bahkan tak hanya merasakan hal itu selama 6 bulan ini, Aku bahkan... juga masih merasakan gugup ketika kau mengejutkanku tiba-tiba dengan sentuhanmu." Dia mengatakan dengan pipi yang merona.
Aku tersenyum melihatnya. Aku pun mencium pipinya spontan karena merasa gemas. Meskipun debaran jantungku begitu hebat. Tetap saja aku menyukai sensasinya.
"Nah kan.... kau melakukannya." Jin menyentuh dadanya. Telinganya juga terlihat memerah menandakan dia merasa gugup dan malu. Meskipun begitu dia tersenyum hangat.
"Kau harus segera pergi." Perintahku padanya.
"Baiklah.... Hati-hati sayang...." Jin mencium bibirku ringan. Kemudian menunduk mendekatkan wajahnya di perutku. "Junior... jangan nakal ya, papa nitip mama. Kita bertemu lagi nanti." Ucapnya kemudian mengecupnya lama.
Setelahnya dia keluar dari pintu kemudinya dan membukakan pintu untukku.
"Sampai bertemu nanti." Ucapku kemudian keluar dari mobil.
"Eum.... hati-hati." ucapnya sembari melambai dan masuk ke mobilnya lagi.
Aku balas melambai hingga mobilnya pergi meninggalkan tempat parkir kantor.
Akhirnya aku sudah berada di kantorku. Ada terbersit rasa sedih ketika aku melihat meja kerjaku yang kosong. Selama dua minggu sepertinya manager Wang belum berencana untuk meminta penggantiku. Atau mungkin dia menunggu surat pengunduran diriku baru dia akan meminta untuk mencari penggantiku.
Aku kembali teringat kenangan-kenangan yang dulu aku lalui saat aku pertama kali menginjakkan kakiku di kantor ini. Dulu...tiga tahun yang lalu tepatnya, aku mengajukan surat untuk magang di perusahaan ini. Saat itu, aku tengah duduk di kursi tunggu untuk menunggu giliranku wawancara.
Aku begitu gugup karena sama sekali tak punya pengalaman tentang bekerja diperusahaan advertising. Saat kuliah, aku juga sudah bekerja meskipun hanya sebagai part timer di sebuah minimarket waralaba. Tapi itu benar-benar sangat berbeda dengan pekerjaan yang akan aku lalui jika aku diterima magang.
Ya, aku lebih suka menghabiskan hari-hariku di tempat kuliah dan tempat bekerja. Sebenarnya ayah dan ibu melarangku untuk melakukan part time, tapi aku melakukannya dengan diam-diam.
“Hufh...” seseorang di sampingku beberapa kali menarik napas dalam dan berat. Sepertinya dia berusaha untuk mengurangi rasa gugupnya.
Aku pun menoleh ke arahnya, dia seorang gadis mungil yang mempunyai postur hampir sama denganku, bedanya... mungkin dia lebih tinggi dariku sekitar 5cm atau lebih sedikit. Aku rasa tidak sampai 10 cm. Wajahnya benar-benar sangat kecil sehingga hidung mungil nan mancungnya membuat kesan terlihat lebih imut. Matanya lebar seperti mataku, tapi bibirnya sedikit lebih tipis dariku. Meskipun dia tidak tersenyum, bibirnya terlihat seperti orang yang tengah tersenyum. Sangat manis sekali.
Rambutnya bergaya bob pendek sehingga cocok sekali dengan bentuk wajah dan tubuhnya yang terlihat mungil. Aku pikir dia sangat mirip dengan Zhao Lu Si sekarang.
Sekilas aku begitu iri sekali dengan dirinya yang terlihat seperti sebuah manga yang nyata.
“H...Hai...” Sapanya tersenyum gugup saat memergokiku yang tengah menatapnya kagum.
“Oh... Hai...” Balasku sama gugupnya.
Canggung. Awal yang sangat canggung. Tapi dia kelihatannya sangat ramah. Menambah nilai plus pada dirinya.
“Kenapa rasanya gugup sekali.” Ucapnya dengan suara bergetar meskipun dia tengah tersenyum mencoba mencairkan suasana.
“Iya.... aku juga.” Kataku sama gugupnya sembari memainkan jari-jari tanganku.
“Ahh... aku Ling Lingfei. Ayahku biasa memanggilku Ling.” Dia mengulurkan tangannya yang terlihat bergetar. Tapi meskipun begitu dia masih berusaha tersenyum.
“Nama yang imut, aku Zhang Xiumei.” Aku menjabat tangannya. Kami kemudian tertawa bersama dalam kecanggungan.
Begitulah awal mulanya aku bertemu dengan Ling, setelahnya kita saling mengobrol ke sana ke mari menceritakan banyak hal. Baru sekali berbincang tapi kami merasa benar-benar sangat nyaman. Hingga kegugupan yang kami rasakan menguap entah ke mana.
Syukurnya, kami diterima di divisi yang sama yang membuat kami punya kesempatan mengobrol dan berinteraksi yang banyak. Selama magang kami benar-benar semakin dekat dan dekat.
Ketika masa magang hampir berakhir, kami benar-benar sangat sedih karena kami berpikir kami harus berpisah. Namun akhirnya, kami menjadi sangat senang karena ternyata kami terpilih menjadi pegawai tetap. Perusahaan menilai kinerja kami sangat bagus. Dan syukurnya lagi, kami terpilih dalam team dan di divisi yang sama pula.
Aku merasa aku dan Ling benar-benar berjodoh sebagai seorang sahabat. Aku rasa lebih dari itu. Kami benar-benar seperti saudara kembar yang bergantung satu sama lain.
Aku tersenyum sembari duduk di kursi kerjaku mengingat-ingat kenanganku dahulu.
Mataku tiba-tiba tertuju pada tempat pensil yang berada di dekat vas bunga di mejaku. Ada sebuah balpoin berwarna hitam berkelir perak di sana. Bibirku langsung mengembang menatapnya.
Balpoin ini.... ingatanku langsung kembali ke masa lalu.
Hari itu adalah hari di mana aku dan Ling tergabung dalam sebuah team yang sama. Dan hari itu juga team kami ada sebuah pertemuan mendesak.
Aku yang begitu terburu-buru sampai tak memperhatikan apa saja yang harus ku bawa saat rapat. Hingga ternyata aku baru menyadari balpoinku tertukar dengan balpoin yang sudah tak bisa di gunakan lagi di saat rapat telah di mulai.
Aku begitu kebingungan. Cemas. Karena hari itu rapat pertamaku setelah menjadi pegawai tetap.
“Ling... balpoinku tak bisa ku gunakan.” Aku berbisik pelan pada Ling yang duduk di sebelah kananku.
“Aku cuma bawa satu, terus bagaimana?” Ling balik berbisik ikut khawatir.
Tak mungkin juga jika aku harus meminta izin.
Namun tiba-tiba seseorang dengan ekspresi dinginnya meletakkan sebuah balpoin di atas buku agendaku yang terbuka. Aku pun sontak terkejut dan menoleh kepada orang yang berada di samping kiriku yang ternyata adalah Manager Team kami yang terkenal sangat dingin namun kontur wajahnya benar-benar sangat sempurna. Ya... itu adalah manager Wang.
Entah kenapa sejak saat itu hatiku selalu berdegub tak beraturan saat bertemu dengannya. Meskipun dia sama sekali tak memperhatikanku dan Dia benar-benar sangat acuh padaku. Tapi nyatanya, dia menyadari siapa aku. Dan aku yang tak mengenalinya.
Ya... itu adalah awal mula aku menyukai manager Wang. Dan balpoin itu hingga kini masih ada di sana.
Aku menghela nafas panjang sebelum akhirnya aku beranjak berdiri dan berniat untuk menemui manager Wang. Aku bermaksud menyerahkan surat pengunduran diriku.
Aku menarik nafas dalam sebanyak tiga kali sebelum akhirnya tanganku bergerak ke arah pintu.
TOK TOK TOK!!!
Aku mengetuk pintu ruangan manager Wang kemudian sedikit mundur ke belakang. Lagi... aku flashback ke masa Lalu di mana aku sangat menyukai kegiatan ini. Mengetuk pintu ruangan manager Wang dan mundur selangkah ke belakang. Kemudian aku bisa melihat manager Wang dari balik pintu kaca meskipun tidak terlalu jelas.
Manager Wang akan terlihat begitu sibuk dengan kertas-kertas di atas mejanya dan sesekali akan melihat ke arah monitor laptop dan komputernya secara bergantian. Terkadang dia akan mengecek tabletnya sesekali.
“Masuklah!” perintahnya tanpa menoleh ke pintu. Cuek.
Tapi itu dulu, sekarang jika aku mengetuk pintu, dia akan langsung menatap ke arah pintu dan tersenyum.
Semua sungguh berbeda antara dulu dan sekarang. Tapi entah mengapa aku lebih menyukai manager Wang yang cuek dan dingin dari pada manager Wang yang ramah dan hangat seperti sekarang.
Aku tersadar dari lamunanku dan melihat ke dalam ke arah meja manager Wang. Dan ternyata dia sudah menatapku dengan senyumnya entah sejak kapan. Aku pun membalas senyumnya kemudian mekangkahkan kakiku untuk memasuki ruangannya.
Manager Wang berdiri dan menghamipriku.
“Maaf mengganggu manager...” sapaku setelah kami berdiri saling berhadapan.
“Kau sudah sehat? Bagaimana kabar kandunganmu? Semua baik-baik saja kan?” dia bertanya serius dibalik senyumnya.
Aku rasa dia benar-benar tulus menanyakannya. Bahkan dia benar-benar memperhatikan keadaan kandunganku.
“Eum... kami baik-baik saja.” senyumku padanya memberikan jawaban akan pertanyaannya. Aku tau dia akan memahami yang aku maksud dengan kata ganti ‘kami’. Ya... kami, Aku dan janinku.
"Aku sangat merindukanmu.” Ucapnya lirih dengan mata sendu.
Manager Wang.... aku sudah mengantisipasinya.
***