WE GOT MARRIED

WE GOT MARRIED
Chapter 32 KELUAR KOTA



“Mei..." Jin memanggilku ragu-ragu setelah mendekatiku yang tengah asik menonton tv.


"Heum??" Jawabku acuh tak mengalihkan pandanganku dari acara tv.


"Aku akan ke Hunan besok pagi. Kau tak apa kan di rumah sendirian?” Ucapnya pada akhirnya.


Aku langsung tersentak dan mengalihkan pandangan mataku dari tv ke padanya.


 


“Kenapa tiba-tiba?” aku masih tak bisa menyembunyikan rasa keterkejutanku.


“Begini, ada sesuatu hal yang harus aku selesaikan di sana, karena ada sedikit masalah yang terjadi. Jadi aku harus datang.” Jin menjelaskan dengan hati-hati.


Hunan? Kenapa jauh sekali? sekitar kurang lebihnya 15 jam perjalanan dengan mobil. Kalau naik pesawat terbang sekitar 4-5 jam. Aku terdiam berpikir sejenak.


“Apakah... di sana akan lama?” tanyaku lagi padanya.


Entah kenapa aku merasa sedikit kecewa.


“Mungkin sekitar lima atau enam hari. Semoga saja bisa lebih cepat dari itu.” Ucapnya terlihat lesu.


Tiba-tiba aku juga merasa sedih. Kenapa juga aku seperti ini? Kami terdiam beberapa saat berkutat dengan pikiran masing-masing.


“Lama sekali.” Aku berkata lirih sembari memainkan remote tv.


Tanpa ku sadari raut wajahku kini telah berubah menjadi cemberut.


“Hei.... aku akan segera pulang. Kalau kau kesepian, kau bisa mengajak Huan untuk menginap.” Ucapnya sembari meraih tanganku meyakinkan dengan senyumnya.


Tapi senyumnya terasa hambar tak seperti biasanya.


"Aku tak kesepian." ucapku meyakinkan tapi malah terdengar menghibur diriku sendiri.


Perlahan ku tarik tanganku dari genggamannya. Aku tiba-tiba merasa ingin marah tapi tak tau apa sebabnya.


"Kalau kau akan pergi ya pergi saja, tak apa, jangan khawatirkan aku." ucapku dengan senyum ku paksakan.


"Ahh... baiklah kalau begitu." ucapnya kemudian terdiam.


Aku melirik sekilas ke arahnya yang terdiam.


Sunyi. Tak ada sepatah kata pun keluar dari mulut kami.


“Apa di sana ada pegawai wanita?” tiba-tiba sebuah pertanyaan bodoh keluar dari mulutku memecah keheningan di antara kami.


Setelah melontarkan kata itu aku berubah jadi merasa canggung.


“Tidak. Tidak ada....” Jin tersenyum meyakinkan. “Aku hanya pergi dengan Paman Huang.” Jawabannya entah mengapa membuatku merasa sedikit lega.


"Berkendara sendiri atau naik pesawat? Terus... kau akan menginap di mana?" tanyaku mulai mengintrogasi.


Ini lebih seperti seorang istri kepada suaminya. Bukankah Jin juga suamiku? jadi wajar kalau aku bertanya macam-macam padanya.


Jin malah terkikik pelan mendengarku bertanya ini itu.


"Aku akan dijemput paman Huang naik mobil perusahaan, kemudian mampir sebentar ke kantor. Setelahnya akan di antar sampai ke bandara. Kami akan pergi naik pesawat, nanti kalau sudah sampai di Changsha akan dijemput mobil perusahaan dari cabang Hunan menuju ke rumah ayah di Xiangtan. Jadi aku akan tinggal di sana. Bagaimana? apa masih kurang jelas?" Jinyi memperjelas rencana perjalanannya yang langsung membuatku terdiam.


Akhirnya aku mengangguk mengerti. Kemudian beranjak menuju kamar untuk membantunya berbenah apa yang akan di bawanya besok. Tapi kenapa perasaan hatiku berat sekali.


Karena terlalu lelah berbenah, tak terasa pagi pun telah menjelang. Dan aku merasa malam ini berjalan terasa cepat sekali. Tidak seperti biasanya.


Setelah bersarapan, dengan muka masam aku mengantarkan Jin ke depan rumah, di sana pak Huang tengah menunggu dengan mobil perusahaan.


“Maaf aku tak bisa mengantarmu.” Ucapku dengan berat hati.


“Tak apa... aku akan secepatnya pulang setelah semua selesai.” Ucapnya meyakinkanku.


Aku hanya mengangguk.


“Aku pergi...” ucapnya kemudian membuka pintu mobil.


“Jin... tunggu...” aku berjalan mendekat ke arah Jin yang hendak memasuki mobil.


Perasaan ini.... membuatku ingin menangis saja. rasanya.... sesak sekali di dada. Aku merasa... aku berubah lebih aneh jika berada di dekat Jin seperti ini.


“Sudah selesai!" ucapku dengan suara sedikit tertahan dan parau. "Hati-hati di jalan.” Aku mundur dua langkah ke belakang dan melambaikan tangan ke arahnya. Kemudian menunduk sopan kepada pak Huang yang di balasnya demikian.


"Tenang saja bu, Pak Presedir akan baik-baik saja." Ucap Pak Huang mencoba menenangkan. Aku mencoba tersenyum dan mengangguk pada pak Huang. Padahal aku tak apa-apa. Aku hanya.... tak tau.


"Aku pergi." Jin tersenyum kemudian memasuki mobil perusahaan.


Perlahan pak Huang menginjak pedal gas sehingga mobil pun pergi menjauh.


Aku menatap kepergian mobil itu hingga tak terlihat. Tiba-tiba badanku menjadi lesu dan tak ada gairah melakukan apa pun.


Hingga sampai di tempat kerja pun aku tak bersemangat seperti biasanya.


“Apa kau sakit?” sebuah suara mengejutkanku.


Manager Wang? Bahkan aku tak tau sejak kapan manager berada di dekatku.


“Ah... manager. Aku hanya merasa sedikit lesu. Mungkin terkena anemia ringan.” Ucapku sekenanya masih tak ada semangat.


“Mau aku antar ke dokter?” tanyanya khawatir.


“Ahh... tidak, mungkin sedikit beristirahat akan membuatku lebih baik.” Ucapku padanya.


“Baiklah, kalau begitu kau istirahatlah di rumah. Lagi pula pekerjaan tidak begitu mendesak.” Dia memberikan izin.


“Eum... apa tidak masalah?” aku meyakinkannya apakah tidak masalah jika aku pulang lebih awal.


“Jangan khawatir, nanti aku yang bertanggung jawab.” Dia berkata dengan semangat. “Aku antar ya?” dia menwarkan kemudian.


“Ah... tidak...tidak... manager terimkasih. Aku bisa naik taksi.” Ucapku kebingungan harus bagaimana menolaknya.


“Apa kau yakin?” dia terlihat sangat khawatir. "Tak apa aku juga akan keluar karena ada pertemuan, sekalian saja aku antarkan pulang. Ya?" Dia tetap bersikeras.


“Eum... aku tak apa-apa.” Ucapku meyakinkan.


“Begitu ya??? kalau memang begitu...Baiklah... hati-hati sampai di rumah ya...?” dia berpesan sebelum pergi meninggalkan mejaku karena dipanggil sekretaris presedir.


Setelahnya aku merasa lega. Perlahan beranjak dari tempat dudukku seraya mengambil tas dan menemui Ling.


“Ling... aku pulang dulu... aku sedikit tak enak badan.” Ucapku pada Ling.


“Kenapa? Mana yang sakit?” seperti biasa.


Dia akan bereaksi melebihi wajar. Dia memperlakukanku seperti bayinya saja.


“Hanya anemia biasa. Tak perlu khawatir.” Ucapku meyakinkannya.


"Aku panggilkan taksi?" dia kebingungan.


"Tidak Ling, aku sudah pesan taksi online." Jawabku meyakinkannya.


“Benar?" dia masih terlihat khawatir."Baiklah... kalau sampai rumah langsung hubungi aku ok?!” dia berpesan.


“Iya mama...” ucapku padanya kemudian beranjak pergi.


Dia terlihat kesal namun tertawa kemudian.


Sesampai di rumah aku malah tak bisa tidur. Aku seperti orang linglung tak karuan. Tiba-tiba rasanya ingin sekali tiduran di sofa yang biasa Jin tiduri. Dan tanpa sadar aku memakai selimut yang biasa Jin pakai saat tidur.


Aroma wangi yang sangat khas, yang sangat aku hapal. Tercium dengan tajam oleh hidungku.


“Jin... apakah dia sudah sampai di sana?” aku menutup mata sembari menggumam sendiri.


Hatiku tiba-tiba langsung berdetak sangat cepat hingga aku tak bisa bernapas saat aku mengingat semua tentang Jin.


 


***