WE GOT MARRIED

WE GOT MARRIED
Chapter 79 MENYELINAP



Aku tengah berdiri di Halte bus untuk menunggu bus yang akan berhenti dekat rumahku. Ya... tentu saja aku akan pulang karena jam pelajaran telah usai.


Namun seseorang yang membuatku begitu gugup datang mendekat dengan Hoodie dan masker hitamnya sehingga hanya sebatas mata saja yang terlihat.


Mata itu... meneduhkan. Mata itu menatap ke arahku dan kami bertemu pandang. Semua seolah di slow motion.


Tidak... tatapan itu kenapa aku sangat mengenalnya.


Terkejut. Tubuhku terasa basah oleh keringat. Perlahan aku mencoba untuk duduk.


"Ini hanya mimpi?" Aku bertanya pada diriku sendiri.


Ini sangat aneh. Kenapa aku memimpikan proa berhoodie yang aku sukai semasa SMA dulu. Dan anehnya lagi, aku merasa mengenali tatapan matanya.


Ah... mungkin ini karena aku tidur di sofa, jadi aku memimpikan yang aneh-aneh.


Entah kenapa tiba-tiba, Saat itu juga aku teringat Jin dan sangat merindukannya. Hatiku tiba-tiba merasa sesak. Dan kenapa aku juga terpikirkan ayah mertuaku.


Bibir dan otakku berkata, 'Ah... mereka membohongiku lagi, buat apa aku ke sana.' Tapi hati dan nuraniku berkata jika aku harus menemui ayah mertuaku.


"Ayah...." Tiba-tiba perasaan tak nyamanku semakin membuncah sehingga aku tak mampu lagi menahan diri untuk mewujudkan keinginanku menemui mereka.


Aku tak peduli ini sudah larut malam. Dengan cepat aku menyambar cardigan tebal dan tas selempang kecil yang tergantung di gastok di samping pintu.


Ku langkahkan kakiku dengan cepat menuju ke jalan raya yang berada tak jauh dari gedung flat di mana aku menginap semalam.


Untung saja masih ada taksi beroperasi malam itu dan dengan sigap aku menghentikan sebuah taksi yang kebetulan lewat di depanku. Bergegas aku masuk ke dalamnya dan meminta sopir untuk mengantarkanku ke rumah Jin.


Ya... aku ingin menemui Suamiku. Dari jauh. Aku merindukannya. Tapi aku tak mau menemuinya secara langsung.Masa bodoh dengan egoku. Aku memang rewel.


"Terimakasih pak." ucapku setelah sampaiUn sembari beranjak keluar.


Aku melihat sekeliling, sepi. Bergegas aku membuka kunci pagar dengan memasukkan password yang aku ingat. Perlahan pintu terbuka secara sendirinya.


Aku mengendap-endap seperti maling saat memasuki rumah. Aku rindu dengan Jin tapi aku tak mau bertemu dengannya untuk sekarang.


Aku tertegun sejenak ketika berada di rumah. Entah kenapa aku sangat merindukan aroma dan suasana rumah ini. Tapi semua tampak sepi.


Satu persatu ruangan aku susuri, karena aku benar-benar rindu. Mulai dapur, kamar bahkan ruang penyimpanan yang belum pernah aku masuki sebelumnya.


Pintunya sama sekali tak dikunci. Jadi aku bisa masuk dengan leluasa. Aku mulai dengan menyalakan lampunya karena ruangannya sangat pengap tanpa lubang ventilasi sama sekali.


Terkejut. Karena ruangan itu sangat rapi meskipun aku tak pernah membersihkannya. Di sudut ruangan terdapat rak buku yang buku-bukunya tersusun dengan rapi. Di sana juga tertata beberapa map yang membuatku tertarik untuk membukanya.


Di sampulnya hanya tertulis Feng Rong Hao saja tanpa tulisan lainnya. Karena penasaran aku membuka map itu dan ternyata isinya lembaran-lembaran berkas dari rumah sakit Ming Lan.


"Rumah sakit Ming Lan?" aku bertanya pada diri sendiri memastikan.


Betapa terkejutnya aku setelah melihat dan membaca berkas-berkas itu. Kakiku langsung merasa lemas sehingga membuatku terhuyung. Refleks aku mencoba mencari pegangan untuk keseimbaganku dan akhirnya malah menjatuhkan tumpukan kardus sehingga kardus yang berada paling atas terjatuh dan salah satu isinya jatuh tepat di atas kepalaku dan yang lainnya berserakan di lantai.


"Masker hitam?" Ucapku sembari memungut sesuatu yang berada di atas kepalaku.


Mataku membelalak karena spertinya aku begitu mengenali masker itu.


Karena rasa penasaranku semakin tinggi, aku berniat memunguti barang-barang yang terjatuh tepat di kakiku.


"Hoodie?" Aku memekik pelan.


Hoodie ini?


"Mei? Apakah itu kau sayang?" Sebuah suara perempuan yang meneduhkan mengejutkanku sehingga membuatku menoleh secara spontan'ke arahnya.


"Ibu... mertua?" Aku menggumam pelan.


Aku menangis terdiam.


"Ya Tuhan.... Sayang... Kau baik-baik saja kan? kau tak terluka kan? Ya Tuhan, terimakasih menantu kami telah kembali." ucap ibu mertua lagi bersyukur.


Sepertinya beliau benar-benar sangat mengkhawatirkanku.


Kami sudah duduk di ruang makan. Beliau membuatkanku teh hangat. Dan tanpa sadar aku masih memeluk hoodie dan masker serta map yang tadi aku baca berkasnya sekilas.


"Sayang.... Maaf.... Tapi apa yang kau terima itu tidaklah benar." Ibu mertua menggenggam erat tanganku. "Jinyi... dan kami... tidaklah membohongimu." Beliau mulai menjelaskan.


"Ibu maaf.... tapi aku benar-benar merasa bingung dan sakit. Sebenarnya, apakah yang telah aku baca dari berkas ini adalah benar?" Aku mulai bertanya ragu-ragu.


Salahku di sini. Kenapa aku tidak berbicara pada Jin baik-baik terlebih dahulu. Emosi dan ego yang bercampur menjadi satu. Benar-benar telah membuatku melangkah terlalu jauh.


"Kami memaklumimu, Kau sedang mengandung, maka emosimu tidak selalu stabil." Ibu tidak langsung menjawab pertanyaanku. "Sebelumnya ayah sering pingsan dan mempunyai gejala aritmia, tapi baru 3 tahun yang lalu dokter telah mendiagnosa bahwa ayah positif mengidap Cardiophaty. Dan dokter menganjurkan agar ayah beristirahat total, sejak saat itu ayah tak lagi bekerja sehingga Jin menggantikannya." Ibu mulai menjawab sejelas yang dia bisa.


Bak tersambar petir tepat di ubun-ubun kepalaku. Jantungku pun serasa berhenti berdetak.


"Ja... ja... jadi ayah menderita Cardiophaty?" Tanyaku lagi memastikan dan tak terasa air mataku mulai mengalir.


"Maaf selama ini kami tak memberitahumu tentang penyakit ayah, karena kami takut menantu kesayangan kami akan sangat khawatir. Kami meminta maaf." Ibu mertua menjelaskan dengan sabar sembari menahan air matanya.


"Jika kondisi ayah seperti itu, kenapa ibu dan ayah harus pulang ke sini?" Sembari menangis, Aku bertanya seperti orang bodoh yang tak tau malu.


"Karena... Kami mendapatkan kabar dari Jin bahwa kamu menerima surat kaleng yang memfitnah kami. Jadi, kami berpikir untuk segera pulang dan menjelaskannya padamu agar kesalah pahaman diantara keluarga ini segera berakhir dan tak berlarut-larut. Tapi setelah sampai di bandara, kondisi ayah tiba-tiba drop dan ayah terkena serangan jantung dan itulah... hal yang kami takutkan terjadi." Ibu akhirnya menangis juga.


Jadi.... ini semua salahku??? ini semua karena aku?? Cardiophaty? Serangan jantung? Aku tak begitu tau dengan jelas tentang penyakit itu, yang aku tau jika cardiophaty sudah terkena serangan jantung, maka...


"Ibu... aku minta maaf.... Aku tak tau jika ayah dan ibu akan begitu memikirkanku. Aku sungguh meminta maaf telah menyebabkan ayah...." Aku tak bisa melanjutkan kalimatku karena aku malah menangis meraung seperti anak kecil.


"Ushh.... Tidak sayang... ini salah kami. Kami tidak terbuka padamu dari awal." Ibu malah menenangkanku dan menggam tanganku semakin erat. "Doakan saja Jin dan Pak Huang segera menemukan donor jantung untuk ayah. Agar ayah bisa segera dioperasi dan sehat kembali." Suara ibu nertua bergetar.


Tidak, transplantasi jantung tidak semudah yang dikatakan. Aku yakin ibu tau resikonya, tapi beliau mencoba menenangkanku dengan tegar.


Kata-kata ibu mertua semakin membuatku menyesali apa yang telah aku lakukan sebelumnya. Semua ini benar-benar karena salahku.


"Dokter bilang, Ayah harus hidup sehat dan menghirup oksigen yang bagus. Dengan melakukan hidup sehat maka akan mengurangi resiko serangan jantung. Untuk itu kami pergi ke German yang negaranya bagus untuk kesehatan ayah." Jelas ibu mertua lagi.


Sekarang aku paham. Sekarang aku tau. Ya Tuhan... Bodohnya aku yang terhasut oleh Fei begitu saja. Sekarang yang ada aku malah menyesali semuanya.


"Sudah... Kau tak boleh terlalu setres, eum?" Ibu mertua membelaiku sayang.


"Kita berdoa saja semua berjalan dengan lancar." ibu mertua meyakinkanku, aku pun membalasnya denga mengangguk mantab.


Detik berikutnya pikiranku kosong dan masih terdiam menyesali apa yang telah aku perbuat.


"Eoh?" Ibu mertua terkejut melihat sesuatu yang sontak membuatku terkejut juga. Sehingga secara refleks aku menatap ke arahnya yang tengah fokus melihat ke arah pangkuanku.


Hoodie? sepertinya beliau melihat Hoodie dan masker yang berada dalam pangkuanku kini.


"Bagaimana kau bisa menemukannya?" Ibuku masih terkejut tak percaya.


Aku masih bingung dengan ekspresi dan apa yang dimaksud ibu mertuaku karena sepertinya hoodie ini sangat rahasia.


Tapi.... tunggu... apakah??? Ya.... Akhirnya aku mengenalinya....


"Sepertinya... ini memang saatnya kau harus tau semuanya." Tiba-tiba ibu berubah tersenyum ke arahku.


***