WE GOT MARRIED

WE GOT MARRIED
Chapter 52 INGATAN



Seharian di rumah saja benar-benar membuatku merasa sangat jenuh sekali. Aku hanya membaca novel, menonton tv tak ada kegiatan lain karena aku telah menyelesaikan semuanya mulai dari berbenah rumah sampai menyirami setiap tanaman yang ada di halaman.


 


Jin? Tadi pihak kantornya ada yang menghubunginya sehingga dia mau tak mau harus berangkat ke kantor. Sedangkan aku? Di rumah saja tak ada teman. Seandainya saja aku tadi tak mengiyakan ajakan Jin untuk cuti pasti aku tak akan sejenuh ini.


Atau aku ke rumah orang tuaku saja? ya... mungkin itu ide yang bagus. Akhirnya aku menghubungi Jin dan bilang kalau mau ke rumah orang tuaku. Dan dia memberikan izin tentu saja. Aku pun langsung bersiap berbenah untuk diriku sendiri.


Seperti biasa, hanya memakai kaos oblong yang aku rapikan ke dalam rok maxi yang ku padankan dengan sepatu keds. Aku benar-benartak punya gaya lain selain ini. tapi aku benar-benar menyukainya karena aku bisa bergerak dengan nyaman.


“Ibu aku datang!” Ucapku setelah memasuki rumah.


“Ya Tuhan, Mei....” Ibuku yang tengah sibuk berbenah sangat terkejut akan kedatanganku.


Dengan cepat-cepat dia menghampiriku untuk memelukku dan menciumi setiap inci wajahku.


“Kenapa tak bilang mau ke sini? Kalau kau bilang, pasti ibu akan memasakkan makanan kesukaanmu.” Ibuku begitu senang melihat kedatanganku.


“Aku mau membuat kejutan pada ibu.” Aku berbalik memeluk ibuku sayang.


“Eoh... apa menantuku tak ikut?” Ibuku teringat Jin.


“Tadi sebenarnya dia mau ikut, cuma karena ada urusan kantor yang begitu mendesak katanya, jadinya tak bisa ikut.” Aku menjelaskan. “Ah... ibu sini aku bantu.” Aku mengambil penghisap debu yang tadi di matikannya saat melihat kedatanganku.


“Tak usah sayang... kau duduk saja di sana.” Ibuku melarang.


“Apa? duduk? anak macam apa aku ini melihat ibunya sibuk malah duduk-duduk... ibu ini.... mana bisa begitu??? Sudah ibu istirahat saja sana.” Aku berbalik menyuruhnya istirahat.


“Dasar kau ini... memang tak pernah berubah.” Ibuku geregetan sesaat namun tersenyum kemudian ketika melihatku melemparkan kedipan mata padanya.


“Mei?” ibuku memanggilku pelan sambil merapikan meja.


“Iya?” aku menoleh ke arahnya sebentar kemudian fokus pada kegiatanku lagi.


“Apa Jin baik kepadamu? Apa kau betah di sana? Apa... kau makan dengan baik? Apa kau tak lelah? Apa......”


“Ibu......” Aku menghentikan kegiatanku sesaat dan menatap ibuku yang baru saja merapikan meja dan kini tengah menatapku khawatir.


“Aku.... baik-baik saja. sungguh aku baik-baik saja. Jin... sangat baik kepadaku, sangat baik... aku juga betah tinggal di sana. Aku juga makan dengan baik. Ibu lihat sendiri aku sekarang sedikit bertambah gemuk karena Jin hampir setiap tengah malam mengajakku makan. Lelah? Kalau lelah sih wajar kan bu aku juga bekerja sekaligus menjaga rumah. Tapi... itu semua tak apa-apa. Aku menyukainya.” Ucapku meyakinkan ibuku, tak berapa lama raut muka ibuku yang semula terlihat khawatir akhirnya tersenyum sennang.


 


"Benarkah? Kau tak berbohong kan?" Tapi masih ada sedikit kekhawatiran dari ucapannya.


"Bu... Kami benar-benar baik-baik saja. Jin... tidak seperti yang aku bayangkan sebelumnya. Jadi.... ibu jangan khawatirkan aku ya?" Aku tersenyum padanya meyakinkan lagi.


 


“Sepertinya.... kau sudah mulai menyukai Jin? Aku bisa melihatnya dari caramu menceritakan dia.” ibuku bertanya hati-hati. Dan sedikit menelisik padaku.


 


Aku bingung harus menjawab apa. Yang ada aku malah tersipu-sipu.


"Apakah..... Kau sudah menjalankan kuajibanmu sebagai istri?" Ibuku terbelalak mendekatiku. Dia benar-benar penasaran sekali.


 


“Menurut ibu????” Aku berbalik bertanya padanya dengan penuh teka-teki.


“Sepertinya kau sudah menyukainya.... jadi....kalian juga sudah melakukannya??” ibuku terkejut senang. “Mei.... kau benar-benar anak ibu yang paling cantik. Akhirnya usaha Jin selama ini tak sia-sia juga...” ibuku langsung menutup mulutnya dengan tangan ketika menyadari mulutnya tengah melakukan kesalahan.


“Apa??? Apa yang ibu bilang?” aku kebetulan tidak begitu mendengarkan kalimat terakhir ibuku karena suara bising dari penyedot debu.


“Ahhh.... tidak.... ibu hanya.... ibu... ibu hanya senang kalian sudah saling mencintai.” Ibuku tertawa kemudian.


“Ibu... kenapa ibu gugup begitu?” Aku mengernyit heran. Sebenarnya apa yang ibuku katakan tadi?


“Ahh.... ibu lupa mau menjemur selimut. Ibu mau ke loteng dulu. Nanti kalau sudah selesai ibu akan turun lagi.” Ibuku sepertinya ingin kabur dari pertanyaanku.


Aku hanya menggeleng aneh melihat tingkah ibuku yang seperti itu.


Tak berapa lama akhirnya berbenahku selesai juga. Dan aku menuju kamarku dahulu. Semua masih tertata rapi seperti dahulu saat aku masih memakainya.


Perlahan aku duduk di atas tempat tidurnya, namun tak berapa lama aku beranjak lagi untuk membuka jendela kamar, agar ruangan terlihat terang dan udara bisa masuk melewatinya.


Pemandangan ini, aku bena-benar merindukannya. Aku berjalan bernostalgia mengelilingi kamarku dan menyentuh setiap barang-barangku yang masih tertinggal di sana. Pertama aku mendekati rak buku yang berisi penuh novel-novel koleksiku.


Aku mengambilnya satu persatu melihat-lihat. Namun aku sepertinya menemukan buku yang hampir saja aku lupakan. Mataku tertuju pada Sebuah novel klasik Hong Lou Meng karya Cao Xueqin yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1700-an. Novel ini menceritakan tragedi romansa Jia Baoyu dengan Lin Daiyu yang sangat fenomenal.


Aku teringat bagaimana aku bisa mendapatkan novel ini. Saat itu aku tengah berada di pasar buku loakan yang menyediakan karya-karya klasik yang sudah terbuang atau telah dijual kembali pemiliknya. Namun pasar itu sangat rapi. Ada beberapa rak-rak besar dan tinggi di sana.


Saat itu mataku langsung tertuju pada novel yang berada di rak paling atas di salah satu toko yang ada di pasar tersebut. Karena badanku yang begitu mungil, aku tak bisa menggapainya begitu saja. Akhirnya aku berjinjit-jinjit dan sesekali melompat menjangkau novel tersebut. Tapi akhirnya usahaku gagal.


Aku kelelahan dan hampir putus asa, sampai pada akhirnya seseorang mengambilkannya untukku. Seorang pelajar sepertiku juga karena ku lihat sekilas dia memakai celana pelajar, namun bajunya aku tak begitu yakin karena dia memakai Hoddie dan masker sehingga aku tak bisa melihat wajahnya seperti apa. Apakah dia satu sekolah denganku atau bukan. Dia sangat tinggi sekali waktu itu. Mungkin sekitar 175 cm? Dan aku hanya bisa mendongak melihatnya yang menunduk dari belakangku. Matanya yang kecoklatan waktu itu benar-benar terlihat sangat meneduhkan.


“Apakah ini yang ingin kau ambil?” suaranya tak terdengar dengan jelas karena dia mengenakan masker.


Dan karena aku begitu tertegun akhirnya aku hanya menjawabnya dengan anggukan.


 


Dia kemudian memberikannya padaku setelah mengambilkannya. Kemudian mengusap puncak kepalaku pelan sebelum dia pergi meninggalkanku. Hatiku berdegub tak beraturan.


Dia melakukannya seolah dia sudah lama mengenalku. Sentuhannya di kepalaku waktu itu... benar-benar mampu membuatku tak bisa tidur dengan nyenyak dan selalu memikirkan dia. Padahal itu adalah kali pertama aku bertemu dengannya.


 


Aku terkadang malu sendiri jika mengingat masa itu. Tentu saja malu. Betapa tidak? Aku seorang anak SMA dan tinggiku hanya 148 cm. Sekarang saja tinggiku mentok di 150 cm tak lebih. Sepertinya aku benar-benar menuruni genetik dari ibuku yang mungil.


Tunggu... mata pria itu... Aku ingat betul bagaimana caranya menatapku, sepertinya... terasa tak begitu asing?


 


***