
"Sepertinya ibu sudah jauh lebih baik. Saya rasa semua sudah tak menjadi masalah. Akan tetapi... Ibu harus jauh lebih berhati-hati untuk ke depannya. Tidak boleh terlalu lelah, tidak boleh melakukan pekerjaan berat dan harus beristirahat yang cukup. Makan yang teratur. Ini harus diusahakan ya bu?" Dokter Zhao mewanti-wanti.
Jadi ini tandanya aku boleh pulang kan? Betapa senangnya karena aku sudah sangat merindukan udara rumah.
"Tent....."
"Tentu saja dokter saya akan mengawasinya dan menjaganya dengan baik, agar istri dan calon anak saya baik-baik saja." Jin menyelaku dengan begitu bersemangat sehingga membuat dokter Zhao tertawa lirih.
"Saya sudah memberikan resep Obat anti mual-muntah, asam folat dan beberapa vitamin penunjang. Setiap bulan harus mengunjungi dokter untuk memeriksa keadaan ibu dan janin." Pesan dokter Zhao serius.
"Siap dokter, saya akan selalu mengantarnya kepada anda setiap bulan." Ucap Jin lagi.
"Ish..... santai saja sayang." Aku berbisik lirih pada Jin.
"Tak apa kan? Ini karena aku memang bersemangat." Dia balik berbisik.
Aku sama sekali tak bisa berkata apa-apa karena Jin dengan sigap sudah menjawab semuanya sehingga aku hanya bisa tersenyum garing.
Aku hanya menatapnya yang tengah serius berbicara pada Dokter Zhao. Lucu ya? ini benar-benar konyol. Presiden sekolah yang dulu sangat kejam padaku kini berubah menjadi suamiku dan sangat menyayangiku.
Bahkan.... Dia yang dulu selalu membuatku tertekan dan mengerjaiku, kini berubah menjadi takut jika terjadi sesuatu padaku. Takut jika aku pergi darinya.
"Terimakasih dokter, Kalau begitu kami permisi." Ucapan Jin mengejutkanku yang tengah terbang dalam lamunan.
Dengan geragapan perlahan aku berdiri.
"Terimakasih dokter." Ucapku mengulangi ucapan Jin kemudian menjabat tangan dokter Zhao dan beranjak keluar ruangan.
Ya... Hari ini akhirnya aku keluar juga dari rumah sakit. Lega rasanya setelah seminggu lamanya aku harus berbaring di tempat tidur dan tak melakukan apa-apa.
Ku usap perutku yang masih datar pelan sembari tersenyum senang.
“Ayo masuk!” Jin menuntunku pelan menuju pintu mobil yang terbuka.
“Heii... aku tak apa-apa. Aku bisa sendiri sayang.” Ucapku pada Jin tak nyaman karena masih diperlakukan dengan hati-hati.
“Tidak-tidak... kau harus berjalan hati-hati sayang.” Ucap Jin serius.
“Jin... Dokter bilang aku sudah tak apa-apa. Aku hanya harus hati-hati saja. Aku bahkan belum hamil 9 bulan, tapi kau sudah menuntunku seperti aku hamil tua.” aku mendesah tak nyaman dengan perlakuan Jin yang berlebihan.
“Apa bedanya kata hati-hati dengan harus memperlakukanmu dengan hati-hati?” Jin balik bertanya padaku tak acuh dengan membantuku masuk mobil pelan hingga bisa dipastikan aku benar-benar telah duduk dengan sempurna.
Tak sampai di situ... bahkan dia juga mengaitkan sabuk pengamanku. Padahal aku juga bisa melakukannya sendiri.
Apa daya aku hanya terdiam tak bisa menjawabnya dan hanya bisa mendesah pelan.
"Duduk dengan tenang dan jangan banyak bergerak, memgerti?!" Perintahnya dengan menatapku serius.
Aku tak menjawabnya dan hanya menatapnya yang terlihat begitu senang namun ada sedikit kekhawatiran di wajahnya.
Tak berapa lama dia menatapku kemudian mengecup bibirku dan keningku pelan bergantian lalu menutup pintu disebelahku. Dia bergegas berlari ke arah pintu kemudi.
Aku bisa memakluminya kenapa dia seperti ini. Dia benar-benar menginginkan aku dan janinku baik-baik saja dan tak mau kejadian horror beberapa waktu yang lalu terjadi lagi padaku.
Peristiwa yang membuat semua orang benar-benar merasa ketakutan dan sangat panik. Peristiwa yang bagiku adalah sebagai mimpi terburuk.
Perlahan kami beranjak pergi melaju menuju rumah Jin yang berjarak sekitar 40 menit perjalanan. Tapi ada hal yang tak biasa yang dilakukan oleh Jin.
“Jin... kalau kau mengendarai seperti ini, kapan kita akan sampai di rumah?” Tanyaku padanya sambil melihat speedometer yang menunjukkan kecepatan hanya 20 Km/Jam.
Ini benar-benar sangat pelan, tak ubahnya sepeti seekor siput yang tengah berjalan. Pelan sekali seolah tak beranjak dari tempat kami semula.
“Kita harus berhati-hati sayang... dokter bilang, aku tak boleh terlalu kencang berkendara jika bersamamu.” Jin berucap polos.
Eum... sebenarnya polos atau memang dia ingin mengerjaiku sih? Dokter Zhao kapan mengatakannya? Apakah saat aku melamun tadi? Aku berpikir sejenak.
“Tapi sayang... tak begini juga caranya?” Aku mulai kesal dan merajuk.
Ini bukannya melindungiku malah membuatku merasa jengkel dan payah di punggungku. Aku mulai bergerak-gerak tak nyaman. Aku gerak ke kiri ke kanan bergantian mencari posisi duduk yang nyaman karena punggungku kepayahan.
Dia menoleh ke arahku dan mengerutkan keningnya. Sepertinya dia menyadari ketidak nyamananku.
“Mei? Kau ingin ke kamar kecil?” tanyanya Khawatir.
Mendengar pertanyaannya aku menghela nafas panjang.
“Tidak.” Jawabku singkat semakin kesal.
"Sayang kok gitu sih jawabnya. Jangan ketus gitu dong. Eum?" Dia tersenyum merayu.
“Terus? Aku harus bagaimana?” Tanyaku.semakin kesal.
Ok, sepertinya aku akan meledakkan amarahku sekarang. Apakah dia tak ingat jika aku sekarang sedang dalam masa sensitif? Aku menarik nafas dalam sebelum akhirnya....
“Kau berkendara seperti siput. Sedangkan rumahmu masih jaaaaauuuuuuuuh sekali. Sudah hampir setengah jam dan kita masih berada di sini? Apa kau tak sadar jika aku sudah mulai lelah dan punggungku rasanya sakit sekali? Apakah ini yang namanya melindungiku? Ini namanya malah menyakitiku Jin. Aku lelah... aku mau cepat-cepat istirahat di rumah. Tapi apa yang kau lakukan? kau malah bilang begini bilang begitu. Aku harus begini harus begitu? Tidak begini juga caranya. Aku sudah baik-baik saja Jin. Aku tidak harus diperlakukan ekstra seperti ini. Aku bisa berhati-hati sendiri ok? Aku bisa menjaga diriku sendiri.” Aku mulai menyerocos tanpa henti.
Jin ternganga mendengar ocehanku. Dia benar-benar tidak seperti Jin pengusaha muda yang cerdas yang seperti diberitakan. Dia lebih terlihat seperti orang yang kebingungan menghadapi ujian masuk universitas.
“Ahh... maaf sayang.... aku akan sedikit lebih cepat." Ucapnya kemudian setelah dia memahami kata-kataku yang nyerocos bak bullet train.
Dia pun akhirnya menambah kecepatan kemudinya. Aku pun merasa lega.
Namun... kelegaan itu tak berselang lama dan hilang kembali setelah aku menyadari bahwa laju kemudinya hanya bertambah menjadi 25km/jam saja.
Ya Tuhan.... ingin rasanya aku menggigit pipi Jinyi saking gemasnya. Ingin rasanya aku memeluknya erat saking sebalnya.
Suamiku ini, sebenarnya apa yang ada dalam pikirannya?
“Jin... Aku benar-benar merasa tak nyaman, apa kau bisa menambah sedikit kecepatanmu. Tak apa jika kau mengemudi seperti biasa saja. Itu tak akan berpengaruh padaku. Jika kau terus seperti ini? aku mungkin benar-benar akan pingsan saking lelahnya.” Ucapku kesal.
“Tidak sayang.... itu terlalu bahaya untukmu. Untuk Janinmu. Jadi kau harus bersabar eum? Rebahan saja jika punggungmu merasa tak nyaman.” Ucap Jin memberikan saran.
Sigh!
Tak tau aku harus bersyukur atau harus bagaimana mempunyai suami seperti dia.
Aku pun akhirnya mengalah juga. Dengan kesal aku menekan tombol yang berada di dekat kursi yang aku tumpangi agar berubah ke rest mode sehingga aku bisa sedikit merebahkan punggungku yang sudah sangat lelah.
Tak mau berdebat dengan Jin yang over protektif lagi. Akhirnya aku memilih untuk memejamkan mataku mencoba agar aku bisa terlelap karena perjalanan sepertinya akan sama lamanya dengan perjalanan mengitari tata surya.
***
***Terimakasih sudah mendukung novel saya. Pyung pyung pyung*** 😘😚😘