
Tidak. Aku terpental bukan karena tertabrak mobil putih yang terus melaju itu. Aku terpental karena seseorang mendorongku.
Pandanganku kabur tapi aku masih bisa berusaha untuk duduk.
"Tolong ibu hamil itu." Seseorang terdengar berteriak.
"Panggilkan ambulance cepat." Terdengar teriakan orang lagi tapi suara mereka berbeda.
Mataku berkunang-kunang. Tapi aku masih bisa melihat orang-orang yang berkerumun.
Aku masih berusaha mengontrol rasa pening pada kepalaku karena terkantuk aspal. Ku raba kepala belakangku perlahan... bau anyir yang menyengat. Sepertinya kepala belakangku berdarah memar sampai mengeluarkan darah.
"Di sebelah sini... sepertinya kritis. Cepat tolong dia." Terdengar seorang wanita, suaranya menyiratkan kepanikan.
Aku mulai teringat beberapa saat lalu, Manager Wang berteriak padaku dan berikutnya sebuah mobil putih dengan kecepatan tinggi datang ke arahku seolah dengan sengaja akan menabrakku. Namun sedetik sebelum kejadian, Manager Wang....
"Kak Tian????" Aku teringat padanya.
Seketika air mataku mulai menetes. Tidak. Yang orang katakan kritis itu... jangan-jangan....
Sekuat tenaga dengan badan tergopoh dan terhuyung aku mendekati kerumunan orang yang berada di dekatku.
"TIDAK!!!" Aku berteriak histeris saat aku telah berhasil menerobos kerumunan dan melihat seseorang tengah bersimbah darah.
Wang Tian. Dia menyelamatkanku.
"Ku mohon cepat panggilkan ambulance!" Aku menangis meraung sembari mengangkat kepala Wang Tian yang hampir tak terlihat karena hampir seluruhnya tertutup oleh darah.
"Kakak.... bangun.... ku mohon." Aku mulai menepuk-nepuk pipinya dengan perasaan takut dan gugup yang bercampur menjadi satu sehingga tubuhku bergetar hebat.
Namun Wang Tian tetap memejamkan matanya dan tak meresponku sama sekali.
"Kak Tian... ku mohon... ini aku...." Aku semakin mengencangkan tangisku sembari menepuk-nepuk pipinya kembali.
"Tolong selamatkan dia ku mohon...." Aku berteriak lagi sekuat tenaga meminta bantuan sesegera mungkin.
"TIDAK!" Aku terkejut spontan membuka mataku.
"Sayang.... kau sudah sadar?" Wajah pertama yang aku lihat adalah Jinyi. Suamiku.
"Jin... aku bermimpi.... buruk sekali." Baru saja aku mengatakannya kepala belakangku terasa nyeri. "Aahh...." Aku merintih.
"Jangan banyak bergerak dulu." Jin menenangkanku.
Aku pun mengalihkan mataku melihat sekitar. Tanganku telah terpasang infus. Dan aku berada di dalam ruangan dengan nuansa kuning pastel.
Jadi? Aku di rumah sakit?? ingatan tentang mobil itu terbersit kembali di pikiranku. Ini bukan sebuah mimpi???
Bayiku?? Aku teringat akan kehamilanku. Dengan cepat aku meraba perutku.
"Tenang sayang... anak kita baik-baik saja." Jin mulai memelukku mencoba menenangkan kepanikanku.
Ada kelegaan ketika Jin mengatakan hal itu. Tapi kemudian aku teringat akan manager Wang...
"Jin... Kak Tian....??? Aku mau menemuinya." Aku beranjak duduk dengan memegang kepalaku yang terasa berdenyut-denyut.
"Sayang.... tenang dulu..." Jin menahanku kemudian memelukku lagi dengan sangat erat.
"Apa yang terjadi??" Aku merasakan ada sesuatu yang tak beres di sini.
Jin tak bergeming dan hanya terdiam membisu serta semakin mengeratkan pelukannya padaku.
"Jin....???" Aku mulai menangis menyadari jika sesuatu yang buruk tengah terjadi.
Aku pun mendorong Jin sekuat tenaga dan beranjak meninggalkan ruangan dengan tergopoh mencari di mana manager Wang berada.
Seluruh keluargaku berkumpul di depan kamar tapi aku tak memperdulikannya dan terus berjalan mencari di mana manager Wang.
"Mei... Mau ke mana nak?" Teriak ibu dan ayahku hampir bersamaan.
Saking paniknya, aku tak menyadari jika saat ini infusku telah terlepas dan tanganku penuh dengan darah yang berceceran keluar dari bekas jarum infus.
"Mei!" Jin mengejarku.
"Tidak.... ku mohon Jin aku mau bertemu dengan Kak Tian." Aku meraung memohon padanya ketika Jin mencoba menahanku lagi.
"Aku mau bertemu dengannya..." isakku dalam pelukannya.
Tak berapa lama, Huan dan seorang perawat datang mendekati kami sembari membawa kursi roda.
"Kakak duduklah dulu." Ucap Huan menginginkanku duduk di kursi roda.
Jin mengangguk memohon padaku. Aku pun akhirnya duduk di sana dan perawat itu langsung mengambil tindakan pada tanganku.
Setelahnya, Jin mendorongku melewati sebuah koridor dan menuju sebuah ruangan.
Tangisku mulai pecah saat melihat dari balik jendela kecil seseorang tengah terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit dan tubuhnya dipenuhi dengan alat-alat medis yang menempel padanya.
Jin kemudian mencengkeram erat pundakku dari belakang berusaha menguatkan.
"Dia sempat tersadar untuk beberapa lama. dan beberapa kali... dia juga sempat memanggil namamu." Jin berkata pelan.
Mendengar itu aku semakin merasa sedih dan semakin tak bisa menahan tangisku.
Jin kemudian meninggalkanku sesaat dan kembali lagi membawakan aku masker.
"Dokter mengijinkan. Ayo kita temui dia." Ucap Jin sembari memakaikan masker padaku.
Kami pun masuk ke ruangan itu perlahan. Senyap. Hanya suara monitor yang terdengar.
"Kak Tian.... ini aku...." Ucapku sembari terisak mencoba menahan tangis. "Ku mohon bangunlah.... Aku belum meminta maaf padamu. Aku benar-benar menyesal. Kak Tian ku mohon bangunlah..." Aku menggenggam tangan kirinya.
Sebuah keajaiban. Wang Tian menggerakkan jari tangannya perlahan. Bibirnya kembali membisikkan sesuatu dari dalam nebulator oksigennya.
"Mei..." Sepertinya dia mengatakan hal itu.
"Iya kak ini aku..." Aku masih terisak.
Wang Tian pun kemudian perlahan membuka matanya lemah. Aku pun beranjak beridiri agar dia bisa melihatku dengan jelas karena di lehernya terpasang penyangga.
"Mei... anak bodoh..." Dengan susah payah Wang Tian mengucapkan kata itu yang tak bisa di dengar dengan jelas.
"Iya ini aku... aku... Mei si bodoh." responku sembari menangis kembali menatapnya.
"Mei..." Dia berusaha menggenggam tanganku tapi dia tak kuasa karena tubuhnya terlalu lemah. "aku... mencintaimu." Ucapnya tersendat-sendat dengan suara parau.
Setelah itu tangannya mulai tidak ada daya. Bibirnya berusaha mengembangkan senyum dan matanya mulai memejam kembali. Aku dan Jin menoleh ke arah monitor jantung bersamaan.
Kenapa angkanya semakin menurun?? Dan suara monitor itu semakin jarang.
"Jin?" Spontan aku menghentikan tangisku dan merasa sangat ketakutan.
Jin menyadari apa yang terjadi dan langsung bergegas mencari dokter maupun perawat. Aku di dalam ruangan itu sendirian dalam ketakutan. Angka itu semakin menurun dan menurun.
"Kak Tian ku mohon.... kakak harus sehat kembali. Jangan membuatku takut. Kakak harus bertemu dengan anakku." Aku mulai menangis dan menggenggam erat tangannya.
Seorang dokter dan dua orang perawat memasuki ruangan dengan tergesa langsung memberikan tindakan. Perlahan aku pun mundur dan melihatnya dari kejauhan.
Tanda-tanda vital manager Wang kini semakin melemah dan melambat hingga akhirnya...
Tuuuuuuuuuuuuuuuuut.......
monitor itu berdengung panjang.
"Tidak.... selamatkan dia dokter." Aku spontan menangis meraung lagi.
"Maaf pak... bisa bawa ibu keluar?" Salah satu perawat memohon pada Jin agar membawaku keluar.
Namun belum sempat kami ke luar, aku sudah merasa lemas. Pandanganku semakin kabur dan kabur.
"Meii???" Jin memanggilku dan menepuk pipiku pelan setelah itu... Aku tak sadarkan diri.
***
Note : Maaf ya ceritanya memang berputar-putar, tapi meskipun demikian ceritanya masih ada arah kok...
Terimakasih atas saran dan kritiknya... Itu sangat membantu.