WE GOT MARRIED

WE GOT MARRIED
Chapter 24 MENGANTAR MERTUA



 “Jaga manantu ibu baik-baik, mengerti?!” pesan ibu mertua pada Jin saat kami tengah mengantarkannya ke bandara.


Sepertinya ibu mertua benar-benar serius mengatakannya. Bisa dilihat dari mimik wajahnya yang tak tersenyum sama sekali saat mengatakannya.


Ya, hari ini ayah dan ibu mertua akan pergi untuk mengobatkan ayah ke luar negeri. Lebih tepatnya untuk menjalani terapi, begitu kata ibu mertua. Jadi kami mengantarkan kepergian mereka. Dan mungkin akan membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama.


“Jangan khawatirkan kami, semua pasti aman terkendali.” Ucap Jin meyakinkan ibunya sama seriusnya.


Ibu Jin menoleh ke arahku kemudian mengedipkan matanya. Dan ini membuatku teringat lagi akan kejadian semalam saat makan malam. Semua penuh dengan kode-kode rahasia yang aku tak mengerti. Tapi nyatanya malah menjerumus ke arah... yang aku sendiri belum pernah mengalaminya.


“Dan lagi... kalian bisa bebas berbulan madu di rumah.” Ayah mertua mengedipkan matanya pada Jin.


Aku yang mendengarnya langsung merasakan panas pada pipiku. Mungkin pipiku kini terlihat memerah saking panasnya. Gugup. Tiba-tiba aku merasa gugup dan salah tingkah. Ingin sekali bersembunyi.


“Dan tentunya ayah pasti tidak akan pernah menyesal punya anak seperti ku.” Jin membanggakan dirinya, sontak aku langsung tercengang tak percaya dengan apa yang Jin banggakan.


Jin kemudian menoleh ke arahku dan tersenyum canggung.


“Nak... kalau Jin nakal atau berselingkuh, patahkan saja miliknya biar dia tau rasa dan tak akan melakukannya lagi, eoh?!” ibu mertua berpesan padaku dengan sangat bersemangat.


“Y..ya?” aku pura-pura tak mendengarnya.


Aduuh.... kenapa pembicaraan jadi mesum terus begini?? Tolong... aku ini masih virgin dan sangat polos. Aku tak mengerti tentang hal-hal demikian.


“Ibu... kalau milikku patah, ibu akan dapat cucu dari mana?” Jin merengek pada ibunya tak percaya.


Ini apa?? Mereka yang berbicara aneh kenapa aku yang malu??? Astagahhhh!!!


Apakah pembicaraan orang yang telah menikah itu seperti ini?? Tidak.... kenapa tiba-tiba aku merasa geli?


“Biar kau tau rasa dan tak berpaling dari menantuku satu-satunya.” Ucap Ibu mertua sembari menjewer ringan telinga Jin.


"Ya.... sakit..." Jin meringis kesakitan mendapatkan jeweran dari ibunya.


Padahal, dari luar Jin terlihat sangat dingin dan kaku sekali. Tapi ketika berkumpul dengan keluarganya seperti ini, dia terlihat begitu konyol. Bahkan dia terlihat sangat manja sekali. Sangat bertentangan dengan apa yang ada di pikiranku selama ini.


Tak berapa lama terdengar peringatan agar calon penumpang segera bersiap.


“Sayang... jaga Jin baik-baik juga ya...” pesan ayah mertua padaku kemudian memelukku hangat. Sangat hangat.


“Ayah harus sehat kembali dan berkumpul bersama kami lagi.” Ucapku sembari memeluk erat ayah mertua.


"Tentu... doakan ayah..." Ucapnya mantab sembari melepaskan pelukan kami.


Setelahnya, ibu mertua berganti memelukku dengan sangat eratnya. Dan begitu hangat.


“Seharusnya kalian yang pergi berbulan madu, tapi malah seprti ini....maaf ya sayang...” ucapnya sembari melepaskan pelukannya dan mencium keningku hangat.


“Tak apa-apa ibu, kami bisa bulan madu lain kali.” Ucapku menghiburnya, tidak serius tentu saja.


Lagi pula aku juga tak mau berbulan madu bersama dengan Jin. Aku takut kejadian tak terduga terjadi lagi seperti sebelumnya. Atau bahkan bisa lebih parah dan menakutkan. Dan anehnya aku selalu berpikiran aneh-aneh ketika berada dekat dengan Jin.


“Jin... ingat apa yang ayah telah katakan padamu sebelum kamu tidur semalam. Ini rahasia kita berdua.” Pesan ayah mertua mengingatkan akan sesuatu sembari menepuk pundak Jin memberikan semangat.


Seketika telinga Jin memerah, mendengar ayahnya yang mengingatkan akan sesuatu yang hanya mereka berdua yang tahu.


“Apa?” tanyaku sembari berbisik lirih pada jin penasaran.


Jin berpikir beberapa saat kemudian menunduk dan mendekatkan bibirnya di telingaku hendak membisikkan sesuatu. Dengan siap aku menyibakkan rambutku ke belakang telinga, mau mendengarkan apa yang akan Jin bisikkan.


Mendengar itu aku langsung merengut kesal dan sedikit merajuk yang membuat ayah mertua serta Jin langsung tertawa bersamaan. Semuanya benar-benar tidak ada yang beres.


"Bye... bye..." Ibu dan ayah mertua melambai ketika berjalan pergi meninggalkan kami.


Setelah lama saling berpamitan akhirnya ibu dan ayah mertua kini sudah tak terlihat lagi.


Hanya tinggal aku dan Jin yang kini saling terdiam.


"Setelah ini kita mau ke mana?" Tanyaku mencoba mencairkan kecanggungan.


"Eum... Kau mau ke mana?" Dia berbalik bertanya.


Aku tak menjawab dan menatap heran ke arahnya.


Hari ini, Jin benar-benar terlihat sangat berbeda. Yang biasanya aku tau dia mengenakan setelan jas resminya, kini dia hanya mengenakan kemeja warna pink pastel yang kalem yang dipadankannya dengan celana cino krem pendek selututnya. Penampilannya makin sempurna dengan tambahan sepatu keds berwarna putih yang sangat kalem dan santai.


Kemudian aku pun tersadar, bukankah aku juga mengenakan blouse maxi tanpa lengan selutut yang berwarna senada dengannya? Padahal kami tak bermaksud memakai pakaian couple. Ahh... ini memalukan. Kenapa sedari tadi aku tak sadar akan hal ini sama sekali?


Srettt!!!


Aku tiba-tiba menarik tangan Jin dengan kedua tangannku saat kita tengah berjalan ke luar bandara sehingga membuat Jin terkejut dan berhenti berjalan. Dia kemudian menoleh ke arahku yang telah berhenti satu langkah di belakangnya.


“Ada apa? Apa ada sesuatu?” tanyanya sembari menatapku heran.


“Itu... ayah kan sudah tidak ada, kalian tadi membicarakan rahasia apa? Apa ada hubungannya dengan diriku?” aku bertanya padanya dengan mataku yang menatap ke dalam mata Jin meminta penjelasan.


“Kkkk...” Jin terkikik pelan.


Aku masih tak bergeming dan berharap dia mengatakan yang sejujurnya padaku.


“Apa kau benar-benar ingin tau?” tanyanya kemudian meyakinkanku apakah aku benar-benar ingin tahu.


"Eum..."ku jawab dengan anggukan mantab.


"Yakin???" Jin bertanya lagi.


"Iya... ayolah Jin... katakan padaku? Kau tau aku benar-benar tak nyaman." Aku mulai merajuk.


Jin kemudian tersenyum dan matanya memperhatikanku dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. Aku bertanya-tanya kenapa sebelum menjawab dia malah memperhatikanku dari ujung kaki sampai ujung kepala? Aku heran dan merasa tak nyaman.


“Ayah memberi tahu ku, bagian-bagian tubuh mana saja yang mungkin bisa membuatmu...” Jin menunduk menatapku tajam dan mengatakan kalimat itu sehingga membuatku tersadar akan sesuatu.


“STOP!! Jangan diteruskan!!” Sontak aku langsung mundur ke belakang dan menyilangkan kedua tanganku menutupi area dadaku.


Takut. Ternyata rahasianya... aku langsung merasa bulu kudukku meremang.


"Dan ayah juga memberitahuku bahwa..."


"Hentikan Jin itu tak lucu." Aku langsung menutup kedua kupingku dengan kedua tanganku seraya berjalan pergi lebih dulu.


Melihat tingkahku seperti itu langsung membuat Jin tertawa lepas. Aku pun menjadi semakin malu.


Bodohnya aku, kenapa aku harus menanyakan akan hal itu??? Ya Tuhan...Bagaimana aku nanti harus berhadapan dengannya. Aku benar-benar malu sekali.


***