
Kami tidak jadi pergi menikmati hotpot, akhirnya kami berada di sebuah rumah makan yang ramai, namun terasa senyap sekali di meja kami. Ketika aku menoleh ke arah Jin hawanya sangat dingin sekali. Aku menoleh ke arah Manager Wang sama juga, terasa dingin.
Aura dingin yang benar-benar menusuk ke jantung hingga membuat siapa saja yang berada di antara mereka merasakan ketidak nyamanan.
Karena aura dingin yang begitu kuat Lama-lama di sini, mungkin aku bisa mati membeku.
“Waitress.” Aku mencoba mencairkan suasana dengan memanggil seorang waitress agar datang ke meja kami.
“Jin kau mau pesan apa?” Aku bertanya pada Jin dengan tersenyum mencoba mengalihkan pandangannya.
“Apa pun yang istriku pesan pasti aku juga menyukainya.” Dia menjawabku tanpa mengalihkan tatapan dinginnya dari manager Wang.
Dan yang lebih membuatku merinding lagi. Ketika mengatakannya, Jin memerikan penekanan pada kata ‘istriku’.
Aku menyukainya, tapi aku juga merasa sangat horror sekali.
Jika di pahami, sepertinya dia benar-benar ingin memberikan sebuah peringatan pada manager Wang, dengan menunjukkan bahwa aku ini adalah benar istrinya.
“Ahhh... aku mengerti.” Aku mengangguk.
“Umm... manager, kau mau pesan apa?” aku kemudian bertanya pada manager Wang ramah.
“Pesankan apa pun, aku akan menyukai apa pun yang kau pesankan.” Manager Wang menjawab dengan dingin pula.
Dan lagi... dia juga seperti Jin yang berkata padaku namun tak menatapku dan malah beradu tatapan tajam bak mata belati dengan Jin.
Aura di antara kami benar-benar sangat mencekam. Bahkan waitress yang aku panggil pun merasa sedikit tak nyaman.
“Baiklah kalau begitu... kami pesan La Ji Zi dan Hainan Jifan saja, um... minumnya air putih saja.” aku berkata pada Waitress.
Waitress itu pun mengangguk paham dan pergi meninggalakan kami setelah mencatat menu yang aku pesan.
Selama menunggu waitress datang kami masih terus terdiam. Jin dan manager Wang sama sekali tak menoleh ke arahku. Mereka masih tetap berpandangan tajam satu sama lain.
Mungkin kalau diadakan kompetisi tatap mata, keduanya benar-benar akan seri.
“Wahhh.... makanan telah datang.” Aku berteriak girang mencoba mengalihkan perhatian mereka agar berhenti saling bertatapan. Namun gagal. Aku menjadi merasa putus asa.
“Ini sayang makanlah...” Jin mengambilkan potongan ayam La Ji Zi ke piringku.
“Te...”
“Kau harus makan protein lebih banyak Mei, agar kau tak terkena anemia lagi.” Belum selesai aku mengucapkan terimakasih pada Jin, manager Wang telah menambahkan potongan ayam ke piringku.
Aku dan Jin terkejut bersamaan.
Jin menoleh ke piringku kecewa hingga membuatku merasa sangat bersalah.
“Ketika suamimu mengambilkannya untukmu, kau harus memakannya.” Ucap Jin lagi memotong kalimatku dengan mengambilkan potongan ayam lagi.
Aku tersenyum kepadanya linglung.
“Mei... kau hari ini begitu kelelahan. Kau harus makan yang banyak.” Manager Wang membuyarkan senyumanku.
Dan lagi dia mengambilkan potongan ayam ke piringku.
“Kalian juga harus makan.” Ucapku kepada mereka berdua.
“Kau yang memerlukan tenaga lebih istriku.” Jin mengambilkan potongan ayam lagi.
“Kau bekerja dengan sangat keras, kau harus selalu sehat.” Manager Wang mengambilkanku potongan ayam lagi.
Terus seperti ini. Dan aku terus melihatnya bergantian ke Jin, ke Manager Wang. Lama-lama kepalaku menjadi terasa berkunang-kunang. Aku merasa pusing sekali.
Perasaan apa ini?
Piringku kini telah penuh dengan La Ji Zi dan Ayam Hainan. Sedangkan piring saji La Ji Zi dan Hainan Jifan di tengah sudah habis. Karena Semua telah terkumpul di piringku yang sudah membentuk sebuah bukit kecil.
Ku lihat piring Jin dan Manager Wang hanya tersisa nasi hainan-nya saja. di sana tak ada satu pun lauk.
Mataku beralih menatap Jin kemudian manager Wang. Mereka sama sekali tak memperhatikan aku dan hanya berperang dalam diam.
Hal ini membuatku langsung merasa gusar.
‘Baiklah... kalian teruskan saja. Aku mau makan sendiri.’ Aku menggerutu dalam hati kemudian memakan gunungan ayam di piringku.
Kapan lagi aku bisa mukbang sebanyak ini coba? rutukku sendiri.
Namun baru dapat sepertiganya saja aku sudah merasa begah sekali. Akhirnya tak kulanjutkan memakannya. Pandanganku menoleh ke arah Jin dan manager Wang lagi.
Masih. Tetap seperti sebelumnya.
“Hufh....” aku menghela nafas panjang. Kemarahanku benar-benar sudah sampai di ubun-ubunku. Bagaimana tidak? Mereka sama sekali tak makan dan hanya saling beradu pandang saja sedari tadi? Apa itu mengenyangkan?
Rasanya aku benar-benar berenang di anatar dua kutub yang menghimpitku. Lama-lama aku bisa mati di sini.
Akhirnya aku beranjak berdiri meninggalkan mereka. Terserah mereka mau beradu pandang samapai kapan. Mereka bahkan tak menyadari sama sekali jika aku telah beranjak dari sana.
Aku membayar ke kasir terlebih dahulu kemudian mencari taksi untuk pulang.
Untuk Ling, besok saja aku mengamuknya.
***