
Aku hanya terdiam saja saat berada di mobil bersama Jin dalam perjalanan pulang. Antara masih tak percaya dengan yang dilakukan manager Wang dan rasa Pusing dan mual diperutku yang semakin tak terbendung.
“Sayang... kenapa?” Jinyi membuka percakapan dengan menoleh ke arahku. Kemudian tangannya sebelah kanannya. menyentuh keningku pelan.
“Jin kau harus menatap lurus ke depan.” Aku mengingatkan Jin yang sedari tadi bolak balik menatapku dan menyentuh keningku, terhitung sudah lebih dari sepuluh kali dia melakukan itu.
“Aku hanya khawatir saja, kau terlihat semakin pucat. Tapi badanmu tidak menunjukkan tanda demam.” Ucapnya sembari memfokuskan lagi berkendara. Dia juga merasa aneh. "Apa mungkin kau tengah anemia lagi?" tanyanya lagi khawatir.
“Aku tak apa-apa sayang, mungkin maagku saja. Kau tau sendiri beberapa hari terakhir nafsu makanku benar-benar tak menentu, di kantor bahkan aku selalu melewati waktu makan siang." Ucapku menenangkan Jin kemudian menggenggam erat tangan kanannya.
Aku tak mungkin bercerita pada Jin tentang masalahku di kantor beberapa waktu lalu dan manager Wang tadi siang. Aku tak mau jika dia berubah menjadi protektif karena tak mau aku kenapa-napa.
"Apa? jadi beberapa hari ini kau tak makan siang? Mei... kau harus menjaga kesehatanmu. Kalau kau sakit bagaiamana? kau tak kasihan padaku? Aku bertanggung jawab penuh atas dirimu. Bukan hanya ayah dan ibu mertua yang akan memarahiku. Orangtuaku juga akan membunuhku. Dan aku... Aku pasti akan sangat menyalahkan diriku sendiri jika kau sampai sakit." Jin nyerocos panjang lebar, hingga membuat kepalaku terasa pening.
Tiba-tiba mulutku terasa hambar kembali. Perutku rasanya bergejolak tak karuan. Spontan aku langsung mencengkeram pundak Jin dengan maksud memberikan isyarat agar mobilnya berhenti. Sebelah tanganku membekap mulutku karena ku rasakan aku benarr-benar ingin muntah sekarang.
“Kenapa?” Jin terlihat kebingungan mendapat cengekeraman tanganku dan melihatku sepertinya hendak muntah.
Dengan sigap dia menepikan mobilnya. Setelah mobilnya berhenti aku langsung membuka pintu dan...
“Hukkk......” aku memuntahkan seluruh isi perutku.
“Mei.... kau tak apa-apa?” Jin kebingungan kemudian memijat punggungku pelan agar muntahku lekas berkurang. "Kan... apa ku bilang..."
Namun tak sempat menjawab aku sudah muntah lagi.
“Sayang.. kita ke rumah sakit.” Jin bertambah khawatir melihatku semakin memucat.
Aku benar-benar merasa lemas. Karena kontraksi perutku yang berlebihan saat muntah jadinya aku merasakan kaku pada perutku.
Aku melambaikan tangan dan menggeleng pelan nan lemas, bermaksud memberi isyarat aku tak mau ke rumah sakit.
“Mei....???” Jin terlihat kesal akan tetapi juga khawatir. Dia mungkin saja kesal karena aku tak mau ke rumah sakit dan khawatir karena aku yang terus-menerus muntah. Tapi meskipun begitu dia mengambil tisue dan membersihkan mulutku dari bekas muntahan. Kemudian memberikanku minum air mineral yang diambilnya dari dashboard.
Perlahan aku meminumnya.
“Aku tak apa-apa....” ucapku parau setelah menelan beberapa teguk air mineral dan ku rasakan mual dalam perutku berkurang. Rasanya kepalaku juga sudah tidak sepusing seperti sebelumnya.
“Mei.... kau sakit, ayo kita ke rumah sakit.” Jin merayu. Dia benar-benar sangat khawatir. Sesekali dia memelukku, sesekali dia menciumi keningku.
“Aku tak mau ke rumah sakit. Aku hanya terkena maag Jin.” Aku meyakinkannya lagi. “Sayang benar aku tak apa-apa.” Ucapku pada Jin merayunya.
Jin menatapku bingung. Dia benar-benar terlihat bingung harus berbuat apa. Perlahan aku menutup pintu mobil itu kembali.
“Kita pulang saja.” Aku mengajaknya.
Dia tak menjawabku dan hanya mendengus sebelum akhirnya dia menekan pedal gasnya.
“Biar aku saja yang memasak makan malam.” Ucap Jin setelah sampai di rumah.
Aku mengangguk pelan kemudian mengganti pakaianku dan merebahkan diriku di tempat tidur. Aku terpikirkan lagi perkataan manager Wang. Kenapa dia begitu keras kepala seperti itu.
Aku jadi merasa bersalah padanya. Tidak... aku tak boleh terus memikirkannya begini. Agar pikiranku tak ke mana-mana aku perlahan menuju dapur menemui Jin yang tengah memasak.
Seperti biasanya, dia terlihat tengah serius sekali.
“Memasak apa?” Aku mengejutkannya dengan memeluknya dari belakang.
“Eoh? Kenapa tak di kamar saja?” Jin kembali bertanya.
“Tidak mau... aku ingin bersamamu.” Ucapku manja. Ya.... rasanya aku ingin sekali bermanja-manja padanya.
Beberapa saat kemudian hidungku mencium bau kecap. Dan saat itu juga perutku serasa bergejolak kembali. Rasa hambar pada mulutku kembali terasa sehingga aku merasakan mual yang tak terbendung.
“Jin kau masak apa?” Aku melepaskan pelukanku padanya dan mulai memegangi perutku yang benar-benar tak nyaman.
“Ini kan Ayam kecap biasa, Kau menyukainya jugakan?” Jin menoleh ke arahku heran karena melihat ekspresiku yang terlihat sangat tak menyukainya.
Aku benar-benar mulai tak tahan dan sedikit meringis mencium baunya.
“Kenapa bau kecapnya seperti ini? Aku...” Aku tak bisa melanjutkan kata-kata ku karena perutku benar-benar tak bisa di ajak untuk berkompromi. Lambungku serasa berkontraksi lagi sehingga aku merasakan gas lambungku naik hingga ke kerongkonganku dan...
“Uk...” Aku menuju wastafel dapur dan langsung muntah lagi di sana. Karena aku rasa tak mampu jika harus berlari ke kamar mandi. Jadi, wastafel dapur adalah pilihan pertama.
“Mei....??” Jin begitu terkejut dan meninggalkan masakannya untuk langsung beringsut di dekatku menepuk-nepuk pungung dan tengkukku memijatnya bergantian.
“Itu.... singkirkan itu... Ukkk...” aku menunjuk ke arah kompor namun belum selesai bicara aku sudah muntah lagi.
“Itu kan ayam kecap kesukaanmu.” Jin bingung tetapi tangannya masih terus saja memijat punggung dan tengkukku.
“Aku... Tak menyukainya... baunya aneh... Ukk...” lagi... aku terus memuntahkan isi perutku sampai tak bersisa.
Jin mengernyit sesaat kemudian meninggalkanku menuju kompor dan mematikannya. Dia kemudia memasukkan makanan itu ke dalam wadah yang tertutup rapat. Setelahnya dia menyemprotkan air refreshner ke seluruh ruangan dapur.
Setelah itu aku baru berhenti muntah dan benar-benar berubah merasa lemas. Dengan sigap Jin membopongku ke kursi meja makan. Kemudian dia dengan sibuk memberikanku air hangat dan tisu.
Kemudian Jin duduk di sampingku dan hanya menatapku tak mengerti. Aku yang sudah merasa lebih baik menoleh ke arahnya.
“Kenapa?” Tanyaku padanya dengan lemas.
“Entahlah sayang.... kau aneh sekali.” Ucapnya dengan raut tak percaya.
“Aneh bagaimana? Kecap itu baunya benar-benar buat perutku tak nyaman.” Ucapku padanya meyakinkan.
“Itu kecap yang biasa kau pakai.” Jin jengah. “Terus kita makan apa kalau begitu?” Jin bertanya bingung.
Aku berpikir sejenak. Kemudian mendapatkan sebuah ide. Sepertinya aku yang sudah merasa tak lemas lagi beranjak berdiri dengan perlahan.
“Aku tau.” Ucapku tersenyum penuh kemenangan.
“Mau ke mana? biar aku saja.” Jin melarangku berdiri.
“Tidak... aku mau sendiri.” Ucapku padanya dengan cemberut.
Akhirnya Jin menyerah dan bertopang dagu memperhatikanku yang tengah sibuk. Aku mulai dari membuka kulkas dan mengambil beberapa buah yang ada di dalamnya. Ada tomat ceri, apel, lemon, strawberry, blackberry, kiwi. Beberapa hari terakhir aku memang selalu belanja buah dan agak banyak juga.
Aku mulai memotong apel dan kiwi, kemudian mencampurkan buah lainnya menjadi satu. Tak lupa aku memberinya perasan lemon yang lumayan banyak dan sedikit madu.
“Taraaaa.....” aku begitu senang menyajikannya di depan Jin.
Tapi ekspresi Jin benar-benar tidak membuatku senang. Dia hanya menatapku bingung dan tak mmengerti. Aku yang merasa sangat sensitif akhirnya mulai merajuk lagi.
“Ini makanan apa Mei? Ini Cuma salad. Dan lagi.... ini... kiwi, tomat, strawberry? Ini buah-buahan masam sayang. Perutmu sedang tak nyaman. Kenapa makan seperti ini? Maagmu bisa lebih parah.” Jin menghela nafas panjang. benar-benar merasa bingung dengan diriku.
Mendengarnya aku benar-benar langsung merasa bertambah kesal. Kesal sekali. Sampai-sampai aku ingin marah saja.
“Tak mau ya sudah. Aku makan sendiri saja.” Ucapku sembari mengambil mangkuk salad di depan Jin kasar. Jin benar-benar bingung dengan sikapku yang tiba-tiba memanja, tiba-tiba marah. Intinya aku sedang moody.
Namun aku tak peduli. Aku hanya mau makan salad ini.
Aku mulai menyuapkan ke mulutku. Ummm.... dan ini rasanya benar-benar surga. Rasa hambar pada mulutku langsung berkurang saat itu juga.
Memakannya seperti memberikan sebuah energi baru.
Jin menelan ludahnya melihatku makan dengan lahapnya.
“Apakah itu enak?” Dia bertanya padaku setengah tak percaya.
Aku menatapnya dengan tersenyum kemudian aku memberinya sesuap.
“Hu um... ini benar-benar segar. Cobalah ak..” aku mendekatkan garpuku di dekat mulutnya senang. Jin terlihat ragu-ragu namun akhirnya membuka mulutnya juga.
“Bwweeeh....” Jin melepah makanan dalam mulutnya. “Ini asam sekali Mei... hentikan jangan makan itu lagi, nanti perutmu bisa bertambah sakit.” Jin merampas mangkukku paksa.
“Tidak... berikan padaku.” Aku marah padanya.
“Mei.... sayang.... perutmu sedang sakit. Jangan makan itu lagi. Ayo kita ke dokter.” Jin menyembunyikan mangkuk salad itu di belakangnya.
"Tak mau berikan itu padaku." ucapku kesal.
"Tak boleh." ucap Jin tegas.
Tiba-tiba aku merasa ingin menangis. Dan ini perubahan sikapku yang ke berapa??
Marah. Aku sangat marah sekali pada Jin. Tapi... hanya karena makanan saja aku bisa sampai semarah ini? Dan sampai menangis.
***