
"Ayo dimakan sayang!" Ucap Jin menyerahkan kotak salad kepadaku yang telah duduk manis dan aman di sampingnya.
Dia kemudian mengaitkan sabuk pengamannya sebelum perlahan menginjak pedal gasnya meninggalkan kediaman kami.
"Hu um..." jawabku mengangguk senang.
Aku pun mulai membuka dan menyuapkan salad itu ke mulutku. Lega sekali rasanya bisa makan salad buatan Jin. Sepertinya salad itu diterima perutku dengan baik. Aku pun memakannya dengan lahap.
"Ahh... di botol itu susunya." Ucap Jin memberi tahu.
Aku pun merain botol yang berada di dekat hand rem. Masih terasa hangat-hangat kuku. Kemudian aku mulai melirik ke arah Jin yang tengah fokus mengemudi.
Dia perhatian sekali padaku. Beruntungnya aku yang mendapatkan pria seperti ini.
"Jin???" Panggilku padanya setelah menengguk susu yang telah dipersiapkannya.
"Eum? Apa sayang?" Dia balik bertanya tanpa mengalihkan perhatiannya dari jalan dan hanya melirikku dari kaca spion.
Aku menoleh ke arahnya dan berpikir sejenak. Sepertinya, ini adalah waktu yang tepat untuk mengatakan padanya.
"Aku.... mau jujur akan sesuatu, tapi kau jangan marah ya?" Aku berkata padanya ragu-ragu dan takut kalau-kalau dia akan marah denganku.
"Iya, mau jujur tentang apa Mei? serius sekali kedengarannya." Jin akhirnya menoleh padaku sejenak kemudian menghadap ke jalan lagi.
Aku terdiam sejenak ragu-ragu. Kemudian aku menarik napas dalam-dalam dan mulai bercerita jujur padanya.
"Sebenarnya kemarin saat aku pergi dari rumah, aku... minta bantuan Wang Tian." Aku memulai.
Jin tersentak kemudian menghadapku. Namun sepertinya dia bisa mengendalikan diri dan beralih menatap ke jalan lagi.
"Tapi kau jangan salah paham dulu Jin. Ini... bukan karena aku ingin berselingkuh dengannya atau apa... tapi karena... aku sudah menganggap Wang Tian sebagai kakakku sendiri. Tapi.... ini semua ada alasannya kenapa aku bisa menganggapnya demikian. Kau tau kan cerita tentang taman bunga di bukit belakang sekolahku dulu? Aku punya sahabat baik di sana.Dan ternyata dia adalah manager Wang. Aku juga belum lama mengetahuinya. Tapi... dia menhgetahui lebih awal. Tapi sungguh Jin... Aku sama sekali sudah tak ada perasaan apa pun padanya." Aku mengatakannya dengan serius dan begitu takut.
Jin tidak mengomentari ceritaku dan hanya terdiam fokus menatap jalanan.
"Jin... kau marah? Aku sudah menduganya. Ini juga kesalahanku yang selalu mengambil keputusan tanpa ku pikirkan lebih dulu." Aku mulai merengek padanya memohon supaya dia tidak marah padaku.
"Maafkan aku." Ucapku pada akhirnya. Aku sangat takut sebenarnya.
"Tak apa sayang..." Tiba-tiba dia menoleh ke arahku dan tersenyum.
Aku tertegun tak percaya dengan apa yang dikatakan Jin padaku. Jin... benar-benar berpandangan luas meskipun sebenarnya dia sendiri sangat marah.
Aku bisa melihat dari senyumnya yang terkesat sangat masam.
"Eum... Tapi aku merasa sedikiiiit.... tak enak hati. Tapi jujur aku mempercayaimu. Wajar kan kalau aku cemburu padanya? Kau istriku." Dia yang awalnya tersenyum masam kemudian berubah diam dan dingin.
Melihatnya seperti itu, aku merasa takut dan langsung mendekat padanya dan mengecup pipinya beberapa kali berusaha merayunya.
"Mei..... Kita di jalan sayang." Jin terkejut mendapatkan perlakuanku.
Aku kemudian menggelayut manja pada lengannya.
"Jangan marah." Ucapku padanya lagi memohon. "Apa kau masih meragukanku? Semua yang ku punya sudah kuberikan padamu. Aku pemarah tapi aku lebih takut jika kau marah." Ucapku sembari mengeratkan pelukanku pada sebelah tangannya.
Jin akhirnya tersenyum hangat dan memperlambat laju mobilnya.
"Sayang... sebenarnya aku juga bersalah." Jin mengatakan ragu-ragu padaku hingga membuatku spontan melepaskan gelayutanku padanya.
Aku menyelidik tajam ke arahnya. Jin melirik ke arahku kemudian menarik napas panjang dan beralih menatap jalanan lagi.
"Sebenarnya... Aku sering bertemu dengan Wang Tian. Awalnya dia berkata akan mengambilmu dariku, tapi beberapa waktu lalu dia mengatakan dia merelakanmu asalkan kau bahagia bersamaku. Tapi dia juga mengancamku bahwa dia tak akan memaafkanku dan akan merebutmu dariku jika aku membuatmu sakit." Jin menjelaskan pada akhirnya.
Dia terlihat tersenyum lembut dan menoleh ke arahku.
"Apa???? kapan??? kapan kalian bertemu??" Aku ternganga tak percaya.
"Eum..... beberapa kali dan dari situ aku tau kalau dia adalah orang yang baik. Hanya saja dia tak beruntung tentangmu. Dan aku lah yang lebih beruntung." Ucapnya senang.
"Eum?" Jin meminta penjelasanku lebih jauh.
"Dia telah bekerja sama dengan Fei untuk menghancurkanku. Kau bisa bayangkan betapa takutnya aku saat itu?? Aku dituduh menggelapkan dana proyek. Dengan maksud kau akan membenciku karena aku tamak. Juga... agar aku dipecat secara tak hormat. Dan tujuan lainnya agar aku mencari perlindungan pada Manager Wang." Aku akhirnya menceritakan hal itu juga.
"Apa???? Kenapa kau tak bilang padaku???" Jin terkejut bukan main mendengar ceritaku.
"Maaf... Aku tak mau jika semuanya mendapatkan pengaruhmu. Aku mau melakukannya sendiri selagi aku bisa." Ucapku menjelaskan padanya sembari tersenyum bangga.
"Sayang..." Jin menoleh padaku sejenak. Dia kemudian tak bisa berkata apa-apa.
"Dan kau jangan terlalu khawatir padaku. Karena aku akan baik-baik saja." Aku meyakinkan padanya.
"Tapi sayang... apa kau tak merasa aneh?" Jin melirik tajam me arahku.
"Aneh? apanya?" Aku balik bertanya padanya bingung.
"Aku tau Wang Tian sangat menyukaimu. Tapi sepertinya dia tak mungkin melakukan hal selicik itu. Karena kami pernah menyatakan bahwa kita akan berperang secara fair." Jin menjelaskan. "Tapi... apa tak sebaiknya kau menyelidikinya terlebih dahulu?? Aku tak mau kau menyalahkan orang tanpa bukti." Ucapnya memberikan saran.
"Sebenarnya aku juga mau melakukan hal itu. Tapi aku tak mau menyulitkan Ling lagi." Ucapku sembari mendengus.
"Untuk Fei.... Ku mohon sayang.... jangan percaya lagi padanya. Sekarang kau percaya apa yang aku katakan kan?" Ucap Jin meyakinkanku lagi.
Aku pun terdiam dan mulai berpikir. Jika aku tak dapat mempercayai Fei lagi. Apakah itu artinya aku juga tak dapat mempercayai apa yang ada dalam file suara itu?
"Tapi sayang... berarti apa yang Fei kirimkan padaku belum tentu benar? Yang aku heran kan.... apa motifnya? kenapa Fei ingin aku membenci manager Wang?" Aku bertanya pada Jin siapa tau Jin menemukan clue.
Jin berpikir beberapa saat.
"Mungkin sebaiknya kau memang harus menghubungi Ling untuk mencari tahu." Jin menyarankan.
"Apakah menurutmu itu yang terbaik?" Aku meyakinkan sarannya.
"Aku pikir memang harus begitu." Jin meyakinkan.
Aku terdiam beberapa saat kemudian menoleh ke arah Jin lagi. Feng Jinyi... beruntung sekali aku menjadi istrinya. Dia benar-benar sangat memahamiku.
"Ayo dimakan lagi saladnya. Atau mau makan yang lain lagi? mumpung kita di jalan Jin tersenyum cerah menawarkan padaku.
"Tidak. Aku tak mau. Cukup ini saja." Ucapku padanya sembari menggeleng dan melanjutkan makan.
Lampu trafic menyala merah sehingga Jin menghentikan laju mobilnya. Sesekali dia menengok ke arah kaca spion melihat situasi.
Aku memperhatikan segala gerak geriknya. Dan melihatnya seperti ini... membuat hatiku berdebar-debar karenanya. Kenapa masih seperti ini. Tapi inilah nikmatnya. Aku menyukainya.
Kemudian perlahan aku melepaskan sabuk pengamanku dan mendekat padanya.
Chup....
Spontan aku mencium pipinya lagi. Tapi kali ini, aku melakukannya dengan penuh perasaan. Membuatnya seketika terdiam dan menoleh ke arahku
"Wo xihuan ni." Ucapku padanya setelah kami saling bertatapan dalam.
"Mei...." Ucapnya pelan masih tetap menatapku.
"Eum???" Aku tersenyum sembari mengangkat alisku. Masih berada dekat dengannya.
"Apa sebaiknya kita kembali ke rumah?" Jin bertanya polos.
"Aish.... dasar mesum!" Aku langsung mencubit hidungnya gemas.
Tiiiin.... Tiiin....
"Lampu hijau sayang... ayo cepat jalan!" Aku beranjak duduk nyaman kembali sembari terkikik pelan.
Jin cemberut kesal dan menginjak pedal gasnya kembali.