WE GOT MARRIED

WE GOT MARRIED
CHAPTER 73 RINDU SETENGAH MATI



 


Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Tetapi Jinyi belum juga pulang. Dia juga tidak menelpon bahkan tak mengirimiku pesan sama sekali.


Apa yang sebenarnya terjadi? Aku mulai gelisah.


Mertua? Aku lupa untuk menceritakannya. Bahwa dua hari yang lalu mereka sudah kembali ke LN untuk melanjutkan terapi ayah mertua. Jadi aku benar-benar merasa kesepian dan ketakutan sekarang. Aku merasa sangat cemas.


Bukan takut karena hantu atau perampok, atau apa lah yang lainnya. Tapi karena Jin yang sampai sekarang belum pulang juga.


Tidak biasanya Jin seperti ini. Karena biasanya dia akan segera menghubungiku untuk memberikan kabar jika dia akan pulang terlambat.


Aku mencoba menghubungi ponselnya berulang-ulang. Terhubung, akan tetapi tak ada jawaban sama sekali selain dari operator yang berkata untuk meninggalkan pesan.


Aku mencoba merebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Tak nyaman. Aku berguling ke kiri dan ke kanan tak jelas. Akhirnya Aku kembali duduk, bingung. Seperti orang yang linglung.


Akuberanjak berdiri dan berjalan ke ruang tamu untuk menunggunya. Masih memegang ponselku. Aku berjalan mondar mandir tak karuan. Sesekali aku melihat ponsel.


Merasa lelah akhirnya berjalan menuju sofa dan duduk di sana. Cemas, aku melihat lagi ke ponselku, barangkali dia kirim pesan atau apalah. Tapi nyatanya nihil.


Ketakutanku semakin menjadi ketika pikiranku kembali teringat pada Fei.


“Jangan-jangan????” aku bergumam sendirian.


Aku semakin takut dan cemas. Aku takut jika Fei sampai nekat terus menjebak Jin seperti di dalam drama-drama yang pernah aku tonton sebelumnya.


“Tidak. Ini tak mungkin terjadi. Jin tak akan mudah terjebak seperti itu.” Aku memggeleng pelan mencoba mengenyahkan pikiran kotorku.


Tanpa sadar jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Kenapa di saat seperti ini waktu serasa cepat sekali berlalu. Dan aku masih menunggunya pulang.


Aku mulai ingin menangis. Perasaanku sudah semakin kacau.


Aku mulai menghubungi pak Huang siapa tahu dia mengetahui keberadaan Jin.


Namun saat panggilanku mulai terhubung, aku mendengar seseorang akan membuka pintu yang ada di belakangku.


Cklek!


Sontak aku langsung berdiri dan sedikit berlari menuju pintu.


Pintu pun akhirnya terbuka. Dan orang yang aku nantikan sudah pulang.


Aku melihatnya yang terkejut melihatku berdiri menatapnya. Dia tidak terlihat buruk atau bisa di katakan dia baik-baik saja.


“Sayang... kok belum tidur?” tanyanya heran.


Melihatnya seperti itu aku langsung menangis sejadinya. Bagaimana tidak? Aku yang di rumah terus saja merasa kahwatir padanya. Dia datang-datang seperti orang yang tak berdosa dan malah bertanya kenapa aku belum tidur.


“Aduh.... sayang kok malah nangis?” Jin menjadi bingung dan menarikku dalam pelukannya.


Aku tak menjawabnya dan malah menangis semakin menjadi.


“Sayang... ada apa? Ush.....” Jin mencoba menenangkanku dengan mengusap kepalaku yang berada dalam dekapannya dan sesekali mencium ubun-ubunku.


Namun akhirnya aku malah mendorongnya dan mulai memukulinya dengan tanganku sekuat tenaga.


“Dasar Jahat. Kau jahat. Kau jahat. Kau jahat Jin.” Marahku membabi buta dengan terus memukulinya.


“Mei.... ada apa???” Jin kebingungan kemudian meraih tannganku dan menariknya lagi dalam pelukannya.


“Kenapa baru pulang? Kenapa kau tak menghubungiku? Kenapa kau bahkan tak mengirimkan pesan padaku? Kau tau aku di sini hampir mati karena mencemaskanmu? Kau ini benar-benar jahat.” Marahku padanya dan mulai memukulinya lagi.


“Ahhh..... karena itu?” Jin akhirnya menyadari kesalahannya dengan tersenyum senang.


"Kenapa kau malah tersenyum seperti itu? apa kau suka melihatku seperti ini?


“Mei sayang..... sini... dengarkan aku....” Jin menarikku berjalan menuju sofa, dia duduk terlebih dahulu kemudian menarikku dalam pangkuannya. “Maafkan aku eum?” Jin menatapku dalam.


“Tak mau...” ucapku kesal padanya serta tak mau menatapnya. Hatiku sudah dongkol sekali rasanya.


“Mei....? tadi aku menghadiri pertemuan dengan D&D electronics. Tapi ponselku tertinggal di kantor. Jadinya... aku tak bisa menghubungimu sayang. Dan setelah menyelesaikannya, aku memilih langsung pulang daripada harus kembali ke kantor untuk mengambil ponsel. Tadi aku sudah meminta sekretarisku untuk mengambilkannya dan menyerahkannya kepada pak Huang.” Jin mencoba menjelaskan.


Tapi aku masih kesal. Kesal sekali. Sehingga aku masih saja merajuk.


“Terus kenapa kau tak menghubungiku melalui ponsel pak Huang?” Tanyaku terus menyelidik.


“Pak Huang.... tak ikut denganku, dia aku tunjuk untuk menghadiri pertemuan lain di tempat yang berbeda karena waktu temunya bersamaan. Aku tak mungkin menghadiri semuanya sendirian. Secara mereka kekeh menginginkan pertemuan tetap dilaksanakan menurut jadwal mereka.” Jin melanjutkan penjelasannya sembari menatapku gemas karena aku masih saja merajuk.


“Benarkah???” aku masih menyelidik.


“Hu um sayang.... kau masih belum percaya juga?” Jin mulai bingung. "Bagaimana aku harus menjelaskannya?? Apa aku perlu menghubungi pak Huang?" Tanyanya memberikan opsi.


“Aku takut... kau bertemu dengan wanita lain... atau kau tengah berduaan dengan Fei dan..... “ Aku tak melanjutkan kata-kataku karena aku sendiri tak mau mengatakan hal itu.


Tiba-tiba Jin langsung tertawa yang membuatku semakin bingung.


“Atas dasar apa aku menemui Fei? Ahh... wanita lain?” Jin bertanya di sela tawanya.


“Tentu saja.... aku takut akan hal itu.... sudah lama aku tidak melayanimu sebagai mana mestinya.” Pipiku rasanya memanas mengatakan hal itu. Aku merasa sangat malu sekali.


"Mei... apa suamimu ini buta? sudah jelas-jelas istrinya di rumah lebih cantik dari wanita manapun. Mau diberikan 10 Fei secara gratis juga aku tak mau." Tawanya sembari mencubit hidungku gemas yang membuatku merasa senang karena disanjungnya seperti itu.


Mungkin, jika orang kain yang mengatakannya aku tak akan sesenang ini.


Jin kemudian malah tersenyum lebar menatapku. Kemudian dia mengecupku kilat bibirku yang mulai tersenyum tipis sehingga mengejutkanku dan membuat jantungku serasa berhenti berdetak dan aliran darahku serasa berhenti juga saking terkejutnya mendapatkan perlakuan spontan dari Jin.


“Mei.... apakah kau tau, sebenarnya.... Dr. Zhao mengatakan padaku bahwa kita boleh saja melakukannya. Katanya tak apa-apa. Dan tak akan terjadi sesuatu yang buruk jika dilakukan dengan hati-hati. Tapi.... karena aku menyayangimu dan anakku lebih dari apapun... aku tak mau melakukannya meskipun aku merindukanmu setengah mati. Aku takut... jika nanti aku menyakiti anakku. Selain itu.... mertuamu.... pasti akan membunuhku jika terjadi sesuatu dengan menantu dan calon cucu kesayangannya. Jadi untuk apa aku harus melirik wanita lain?" Jin mengatakannya dengan raut wajah yang begitu memelas.


Aku merasa malu-malu ketika Jin menjelaskannya namun aku juga merasa kasihan padanya. Ternyata dia benar-benar sangat menyayangiku sehingga dia rela menahan semuanya hanya untukku. Tahukah Jin, jika aku juga merindukannya?


Aku yang semula hanya cemberut saja kini mulai mengembangkan senyum.


“Kenapa kau tersenyum seperti itu melihatku eum?” Jin mengeratkan pelukannya di pinggangku yang masih berada dalam pangkuannya.


Jantungku mulai berdegub lebih kencang saat mata kami bertemu satu sama lain. Sepertinya adrenalineku mulai terpacu. Aku mulai gugup. Tapi... entah keberanian dari mana aku meraih dan merengkuh wajahnya yang kini sejajar dengan wajahku.


Aku menatap manik matanya lebih dalam. Meneduhkan. Aku begitu menyukai tatapan itu. Tatapan mata yang terasa tak asing. Tatapan yang begitu membuatku tersihir.


Pelan namun pasti. Ku dekatkan wajahku padanya dan mengecup lembut bibirnya lama. Karena aku begitu merindukannya. Bibirnya yang lembut, deru nafasnya yang menyapu piltrumku ringan. Semua terasa sangat memabukkan. Aku benar-benar merindukannya.


Tanpa sadar kecupanku disambut olehnya yang membuat jantungku semakin kencang berdetak. Semakin lama, sentuhan kami semakin dalam dan dalam. Tubuhku terasa semakin memanas, aliran darahku serasa berdesir dan panasnya ku rasakan mulai menjalar ke ubun-ubunku.


Namun di saat aku sedang menikmati kerinduanku tiba-tiba kehangatan itu memudar.


Jin perlahan melepaskan sentuhan di bibir kami. Dan Aku benar-benar merasa kecewa karenanya.


“Sayang.... aku takut aku akan kebablasan.” Jin mengucapkannya dengan suara parau karena begitu gugup mencoba menguatkan pertahanan dirinya.


Jadi?? Dia juga sangat merindukanku kan? tanpa pikir panjang aku mulai mengambil inisiatif untuk mencium keningnya kemudian matanya, hidungnya, pipinya, semuanya tak luput dari ciumanku.


Aku pernah membaca di sebuah situs di internet. Menurut penelitian, di sana dikatakan bahwa 80% ketika orang tengah mengandung, maka keinginannya untuk melepas rindu itu lebih besar. Ahh.... tau kan maksudku melepas rindu? Jadi ku rasa ini ada benarnya karena kali ini aku benar-benar menginginkannya.


Aku malu, tapi aku benar-benar mau.


“Jin... aku merindukanmu.” Ucapku benar-benar merindukannya.


Aku berpikir masa bodoh dengan ‘Menjaga Image’ karena aku benar-benar meridukannya. Ini memang bukan seperti aku yang sebelumnya. Jin menatapku beberapa saat.


“Aku bahkan lebih merindukanmu.” Ucapnya lirih, nafasnya menyapu hidungku sehingga membuat bulu kudukku mulai meremang karena hatiku semakin berdesir. Dan adrenalineku semakin terpacu.


Beberapa detik kemudian dia mulai menciumi daguku dan turun ke tulang selangkaku yang membuatku semakin tak berdaya.


Aku percaya padanya. Aku benar-benar percaya bahwa aku dan janinku akan baik-baik saja. Maka dari itu, aku berani memulainya.


Dan malam ini, rasanya sama seperti malam pertamaku waktu itu. Mungkin.... karena kami benar-benar saling merindukan satu sama lain. Bedanya, kami melakukannya lebih santai dan berhati-hati.


Uups.... Kalau kali ini lebih santai berarti malam pertama lalu???? kkkk....


Yang jelas... perbedaan yang paling mencolok adalah... dulu kami melakukannya sendiri. Sekarang? Kami melakukannya bertiga. Benarkan?


Maafkan kami Little Feng. Kami benar-benar tengah rindu setengah mati.


***


* Maaf lama tidak saya update, karena saya baru saja sakit. Terimakasih telah setia menunggu We Got Married *