WE GOT MARRIED

WE GOT MARRIED
Chapter 85 (FLASH BACK STORY END)



Jadi kapan kau akan berangkat ke German?" Tanya Ayah Zhang pada Jin yang terlihat sedih di balkon rumah inapnya.


"Bulan depan paman, meskipun tahun ajaran baru belum di mulai, aku ingin membiasakan diri dulu di sana." Ucap Jin dengan tersenyum hambar.


"Kenapa? Kau terlihat sedih? Apakah karena Mei?" Tanya ayah Zhang.


"Paman jangan izinkan dia pacaran dulu selama aku pergi." Ucap Jin nerengek seperti anak kecil sehingga membuat ayah Zhang tertawa.


"Karena itu toh rupanya?" Ayah Zhang melanjutkan tawanya. "Aku mau menagih janjimu saja. Jadilah orang sukses. Kemudian taklukkan Mei seperti yang kau katakan. Dan berikan kami cucu yang banyak." Ayah Zhang menepuk pundak Jin dengan senyumnya yang penuh arti sehingga membuat Jin tersipu.


Itu lah pembicaraan yang terjadi di malam kelulusan itu. Dan beberapa tahun kemudian Jin akhirnya telah kembali ke Beijing. Dia memulai kerjanya dari nol mendirikan sebuah perusahaan kecil dibidang ekspor barang dengan uang hasil part time jobnya di German tanpa sepeser pun meminta bantuan ayahnya yang sangat mapan.


Namun sesuatu yang tak diinginkan akhirnya terjadi juga. Ayah Feng pingsan saat bekerja dan jatuh sakit. Saat itu, dokter mendiagnosanya dengan Aritmia dan harus memperbanyak waktu istirahatnya dan memperbarui kualitas hidupnya yang sangat buruk.


Dan Sejak saat itu, mau tak mau Jin harus menggantikan ayahnya secara bertahap. Membeli 12% saham di perusahaan ayahnya dengan uang hasil usahanya sendiri agar dia bisa masuk jajaran direksi. Dan akhirnya terpilih sebagai CEO muda di perusahaan elektronik milik ayahnya.


Jadi, dia benar-benar memulainya dari nol. Sebenarnya, ada cara yang mudah saja.


"Kau langsung saja masuk, panggilkan notaris untuk mengurus balik nama kepemilikan sahamku padamu." Ya dengan jentikan jari ayahnya maka Jin tak perlu usaha dan bisa masuk perusahaan ayahnya begitu saja. Tapi itu tak sesuai dengan prinsip Jin yang menilai sebuah usaha.


"Tidak ayah, saham ayah adalah milik ayah. Aku ada beberapa tabungan meskipun tak banyak, aku akan membeli beberapa saham. Di perusahaan ayah. Nanti aku akan membeli saham ayah secara perlahan jika aku sudah mempunyai tabungan lagi." Ucap Jin pada Ayahnya saat usai makan malam di rumahnya.


"Kau memang anak ayah. Kalau kau punya keinginan demikian, maka nanti uang hasil penjualan saham ayah padamu, akan ayah gunakan untuk mendirikan yayasan kanker dan jantung untuk anak-anak." Ucap ayahnya senang.


"Saranku, Saham ayah yang untuk saat ini 57% persen, jangan sampai dijual habis meskipun itu padaku ayah. Biarkan ayah memiliki 40% nya, Dan aku akan membeli dari pemegang saham lain. Karena peran ayah masih sangat kami butuhkan sebagai ketua direksi. Jika sampai saham ayah habis, maka jajaran direksi lain akan sangat kacau dan menentang segala yang aku usahakan ayah. Mereka akan berebut kekuasaan." Ucap Jin mengusulkan.


"Kau memang cerdas nak, Kami bangga padamu." Ayah Feng membanggakan Jin.


"Dan... untuk yayasan yang ayah bilang. Kenapa kita tidak memulai saja dari sekarang? Aku mungkin masih bisa jika hanya membeli 5-7% saham ayah. Dan untuk pendanaan harian, kita bisa menyisihkan laba 0,5% dari perusahaan." Jin kembali mengusulkan. "Ini bisa jadi ladang amal buat kita ayah." Jin tersenyum.


"Kau memang anak ayah Jin." Jin dan ayahnya pun berpelukan hangat.


Semua berjalan sesuai rencana. Setelah keuangan Jin membaik, rencana awalnya adalah menggabungkan perusahaan ekspor miliknya sebagai anak perusahan milik ayahnya. Dan setelah merger dilaksankan, Perusahaan ekspor itu menjadi perusahan ekspor terbaik ke-3 di China.


Kiprahnya dalam berbisnis semakin menjulang dan bersinar. Hingga tak luput membuatnya dikelilingi banyak wanita cantik tentunya.


Banyak para pengusaha rekan bisnis ayahnya menginginkan Jin untuk menikahi putrinya agar usaha mereka semakin berkembang. Selain banyak yang menginginkan Jin karena faktor bisnis, banyak pula yang menginginkan Jin karena faktor ketampanannya yang diakui semua orang.


Maka dari itu, Ayah dan Ibu Zhang tak lagi mengharapkan lebih dari Jin. Mereka hanya berpikir. Mungkin dahulu Jin memang hanya tengah merasakan cinta monyet kala itu. Cinta pada masa pubertas yang menggebu-gebu. Semua bisa dimaklumi.


Hubungan antar kedua keluarga sebenarnya masih terjalin dengan baik tentunya. Tapi kedua keluarga tak pernah menyinggung lagi soal perasaan Jin pada Xiumei yang dulu telah terjadi. Bahkan Ayah Zhang juga telah berhenti mengirimkan foto pada Jin selama dia di German. Aya dan Ibu Zhang juga sama sekali belum pernah bertemu dengan Jin selama 7 Tahun terakhir. Hanya beberap kali melihatnya di media, itu sudah membuat mereka senang dan bangga dengan putra sahabatnya itu.


Keluarga Zhang sangat tau diri, bahwa strata mereka jauh berada di bawah keluarga Feng. Jadi, mereka masih berhubungan seperti biasa sebagai sahabat dan melupakan cinta remaja Jinyi yang telah terjadi sekian lama.


Namun dua tahun berselang... pada suatu ketika, Ayah Feng harus di rawat di rumah sakit lagi. Dan kali ini diagnosa dokter telah berubah. yang semula adalah Aritmia ternyata itu hanya sebagian dari gejala penyakit yang diderita ayah Feng. Cardiopathy.


Silent killer yang setiap saat bisa saja mengambil nyawanya.


"Nak... Apa perasaanmu selama ini masih sama?" Ayah Feng bertanya pada Jin yang saat itu tengah menunggu ayah Feng di rumah sakit.


Tidak menjawab, Jin hanya mengangguk membenarkan tanpa melihat ayahnya.


"Ohhh... ayah sudah menebaknya. Karena kau sama sekali tak menghiraukan ajakan-ajakan diluar sana yang menginginkamu menjadi menantunya atau menjadi suaminya. Kenapa kau tak mengambil langkah?" Tanya ayah Feng lagi sembari tersenyum lemah.


"Ayah..." Jin mulai membuka suara. "Aku... bingung harus bagaimana memulainya. Aku benar-benar tak punya nyali untuk itu." Jin akhirnya mendengus kesal dan bingung.


"Inilah anakku.... dia berani mengambil resiko dengan nyawanya untuk perusahaan, tapi untuk mendekati wanita saja dia tak berani. Di mana yang salah sebenarnya?" Ayah Feng bergumam sendiri menyindir Jin yang tengah menunduk memikirkan sesuatu.


"Itu dia masalahnya ayah. Aku.... memang tak punya nyali untuk itu..." Jin mendesah lirih.


"Itu kan dulu saat dirimu masih remaja, kalau sekarang? Bahkan 7 tahun terakhir kau bahkan belum pernah menemuinya. Bagaimana kau bisa menyimpulkan secepat itu bahwa kau tak punya nyali?" Ayah Feng meyakinkan Jinyi.


Jinyi terdiam beberapa saat memikirkan kata-kata ayahnya. Ya semua telah berubah dan mungkin keberaniannya untuk mendekati Mei sekarang lebih besar. Jin berpikir tak mau kalah sebelum berperang.


"Bawakan dia sebagai menantu ayah." Ucap ayah Feng kemudian bersamaan dengan Ibu Feng yang masuk ke dalam ruangan inap bersama dua orang sepasang suami istri yang sudah sangat Jin kenal.


Dan sepertinya, mereka mendengar permintaan ayah Feng sehingga mereka begitu terkejut yang ternyata adalah ayah dan ibu Zhang.


"Apakah Jin masih menyukai Mei?" Pertanyaan itu dilontarkan spontan oleh Ayah Zhang.


Terkejut Jin spontan berdiri kemudian berjalan mendekati ayah dan Ibu Zhang untuk menyapa mereka dengan memeluk mereka satu persatu.


"Maaf paman bibi... saya tidak menemui anda selama ini." Jin sudah berubah. Dia lebih sopan dan lebih berwibawa.


"Katakan padaku Jin... Apa kau masih menyukai Mei selama ini?" Ayah Zhang mengulang kembali pertanyaannya.


"Apa yang kalian tanyakan? Bahkan Jin menyimpan foto Mei di laci meja kerjanya di kantor." Ibu Feng tersenyum namun detik berikutnya dia terlihat sedih.


"Kenapa kau selama ini diam saja nak?" Ibu Zhang yang kini terlihat sedih sembari meraih tangan Jinyi dalam genggamannya.


"Saya terlalu fokus pada janji saya pada paman Zhang. Sehingga saya benar-benar sangat sibuk. Bahkan menemui paman dan bibi saja saya belum pernah." Ucap Jin pada akhirnya memberikan penjelasan.


"Janji???" semua orang yang berada di ruangan itu bertanya serempak kecuali ayah Zhang.


Ayah Zhang tersenyum kemudian.


"Dia berjanji padaku akan menjadi orang sukses dan mandiri baru kemudian akan mendekati Mei." Jelas ayah Zhang pada semua.


"Jin??? itu benar nak?" Tanya ibu Feng berkaca-kaca.


Jin hanya tersenyum dan mengangguk mengiyakan perkataan ayah Zhang.


"Ada satu janji lagi. Dia berkata akan membuatkan kita cucu yang banyak." Ayah Zhang kemudian tertawa lepas yang di sambut tawa yang lainnya. "Aku berpikir itu hanya ucapan remaja yang asal-asalan saja." Ayah Zhang mengimbuhkan.


"Aku tak menyangka, yang membuatmu seperti ini secara tak langsung adalah Xiumei." Ayah Feng tersenyum senang.


"Jadi saya sudah menepati beberapa janji, maka saya akan mendekati Mei dan membawanya untuk ayah." Ucap Jin yakin.


"Tidak. Itu tidak bisa." Tiba-tiba ayah Zhang mengejutkan semua orang.


"Zhu Long, Apa maksudmu? Apa kau tak menyukai Jin?" Ayah Feng terkejut.


"Bukankah paman dulu yang memberikanku semangat? kenapa???" Jin bertanya tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


"Tidak.... Maksudku.... Cara seperti itu akan memakan waktu yang sangat lama." Ayah Zhang menjelaskan.


"Maksudmu?" Ibu Feng kini balik bertanya.


"Kalau menunggu Jinyi mendekati Mei, aku merasa sampai matahari terbit dari barat pun akan sia-sia. Kalau langsung kita nikahkan saja bagaimana??" usul ayah Zhang membuat semua semakin merasa terkejut.


"Tapi paman... Mei belum pernah memgenalku dengan baik? Saat sekolah saja dia tidak mau menatapku." Jin mengutarakan keberatannya.


"Jin... Percaya pada paman. Setelah menikah Mei akan mencintaimu waktu demi waktu." Ucap Ayah Zhang meyakinkan.


"Baiklah... aku setuju." Ayah Feng terlihat senang. "Menikah... dan cepat punya cucu." Tawa ayah Feng kemudian tak bisa menyembunyikan kesenangannya.


Ibu Feng dan Ibu Zhang saling berbisik-bisik kemudian tersenyum senang. Sepertinya mereka merencanakan sesuatu.


Jin terlihat masih bingung.


"Percayalah pada kami nak. Cintamu akan lebih bersemi setelah menikah." Ayah Zhang meyakinkan Jin dengan menepuk pundaknya beberapa kali.


Dan demikianlah, perjodohan yang tak terduga.


***