
Aku menggeliat dalam tidurku merasakan letih yang teramat sangat. Sebenarnya aku sudah ingin sekali untuk segera bangun, tapi aku merasa sangat letih sekali hingga mataku masih enggan membuka.
Hingga akhirnya aku semakin mengeratkan pelukanku pada guling yang ku rasakan sangat hangat dan nyaman, mencoba untuk berlayar lagi ke alam mimpi.
Tapi... aku mersakan ada sesuatu yang sangat aneh. Gulingnya. Ya gulingnya kenapa terasa begitu besar, teksturnya sedikit lebih kenyal tidak terasa lembut dan empuk seperti guling-guling pada umumnya.
Dan... bantalku juga terasa sama dengan apa yang ku rasakan pada gulingku.
Anehnya, hidungku mencium feromone pria yang tak pernah aku cium sebelumnya. Sebenarnya... aroma itu membuatku semakin merasa nyaman. Tapi....
Perlahan aku mencoba membuka mata. Niatku yang semula ingin berlayar lagi ke alam mimpi kini sirna begitu saja karena rasa penasaranku yang semakin mengganggu dan membuatku kehilangan nafsu untuk tertidur lagi.
Samar-samar mataku mulai membuka. Dan pemandangan pertama yang aku lihat adalah sesuatu yang kini tengah ku peluk. Tak begitu jelas karena kepalaku masih terasa sedikit pening.
Lama... hingga akhirnya aku mampu melihat dengan jelas guling yang ada di depan mataku.
“Oh my...!!!” aku begitu terkejut dan mulutku serasa tercekat saat menyadari bahwa aku tengah memeluk Jin dalam tidurku.
Yang lebih membuat syok lagi adalah... bantal yang ku gunakan. Ya... aku menggunakan lengannya sebagai bantalku untuk tidur. DENGAN NYAMANNYA. Ya Tuhan...
Ku beranikan diri mendongak ke arah Jin yang dengan tenangnya masih tertidur pulas dengan saaangat pulas.
Aku sangat malu. Sungguh aku malu sekali.
Apa-apaan ini? Kenapa bisa jadi begini? Aku benar-benar tak ingat sama sekali.
Perlahan, aku mencoba beranjak dari pelukan Jin mencoba untuk segera pergi. Pelan dan sangat pelan. Aku tak mau jika Jin terbangun dan mendapatiku tengah tidur berpelukan dengannya.
Tiba-tiba aku tersadar akan sesuatu ketika mataku melihat ke arah Jin yang masih terdengar dengkuran halusnya. Tubuhnya hanya tertutupi selimut separuh tubuhnya. Dia terlihat bertelanjang dada.
Ini semakin membuatku terbelalak tak percaya. Jangan-jangan.....
Dengan takut-takut aku melirik ke arah tubuhku.
Utuh. Akhirnya... aku mendesah lega ketika melihat piyamaku masih utuh ku pakai. Tapi kenapa dia tidak memakai baju? Aku berpikir sesaat. Tidak. Meskipun aku masih memakai baju. Jangan-jangan... hartaku? perlahan aku meraba bagian tubuh bawahku.
Dan.... lega. Aku masih memakai segitiga pengaman dan tak meninggalkan bekas apa pun di atas tempat tidur.
Perlahan aku pun berjingkat dari tempat tidur hendak beranjak pergi dari tempat tidur. Namun tiba-tiba...
GREB!!
Sebuah tangan menarikku dari belakang sehingga membuatku jatuh terjengkang ke dalam pelukannya lagi. Aku begitu terkejut hingga tak sadar jika aku harus memberontak. Aku membelalakkan mata tak percaya.
“Tidakkah kau menyapa suamimu di saat kau pertama kali terbangun?” Dia bertanya lirih di dekat telingaku yang spontan membuatku merinding.
Pertanyaan bodoh macam apa yang dia lontarkan?
Entah mengapa tiba-tiba hatiku berdegub begitu kencang. Aku sangat yakin jika Jin pasti kini juga mendengarnya.
“Oh... se... selamat pagi?!” ucapku malu-malu dan berusaha melepaskan pelukannya mencoba untuk bangun menghindarinya.
Namun... dengan secepat kilat dia malah berbalik berada di atasku yang tengah terlentang. Speechless.
Matanya menatap tajam ke arahku yang berdegub tak karuan. Apakah ini karena aku ketakutan. Iya ini sangat menakutkan.
Tapi... Di lain sisi... aku baru menyadari betapa dia sangat menawan. Matanya yang berwarna coklat terang, kulitnya yang sangat putih namun terlihat pucat. Seperti vampire dalam sebuah film atau novel yang pernah ku baca. Rambut hitam pekatnya yang sedikit basah oleh keringat. Membuat jantungku berdegub lebih kencang dari semula. Ku rasakan pipiku tiba-tiba memanas.
Aku benar-benar tak berkedip menatapnya.
Ini adalah pertama kalinya aku berjarak begitu dekat dengan seorang pria. Tidak... ini yang kedua. Tapi masih tetap bersama dengan Jin. Saat dia mencuri ciumanku. Tapi saat itu lampu kamar tengah redup jadi aku tak bisa melihat dengan jelas wajahnya.
Kali ini???'Bahkan sampai dipeluk seperti ini. Tidak... ini keterlaluan namanya. Baru juga sebulan aku mengenalnya, enak saja main peluk-peluk seperti ini? Bukankah ini masuk dalam kategori pelecehan seksual. Tapi... semalam aku juga memeluknya saat aku tertidur. Ah... ketika aku mengingatnya kenapa pipiku semakin memanas begini.
Tiba-tiba aku merasa sangat terkejut saat dia mencoba mencium bibirku dengan kasar. Aku berusaha meronta dan melepaskan diri tapi dia sangatlah kuat sehingga aku tak mampu mengelak darinya.
“Seperti itu seharusnya kau menyapa suamimu.” Ucapnya saat melepaskan ciumannya dariku dan beranjak duduk.
Dia membiarkanku terlentang. Aku masih tersengal-sengal mencoba mengatur napas agar bisa bernapas dengan baik untuk segera meneriakinya.
Kemarin saja di depan semua orang dia tidak berani menciumku kenapa sekarang dia menakutkan begini? Tidak... sebenarnya bukannya tidak dicium sama sekali saat pernikahan, tapi hanya keningku saja yang dikecupnya. Itu saja sudah membuatku kelimpungan. Malu dan marah yang bercampur jadi satu.
Tapi kini????
“YAAA!!! Feng Jinyi." aku melemparnya dengan bantal saking sebalnya.
Dengan gesit Jin menangkap bantal yang ku lempar sembari terkikik pelan.
Merasa kesal, aku akhirnya berlalu ke kamar mandi. Ingin berendam rasanya, agar otak dan pikiranku bisa tenang.
Ini benar-benar membuatku merasa depresi.
"Aah...." Aku mendesah lirih saat tubuhku mulai terbenam dalam air hangat.
Rasanya begitu melegakan saat tubuhku terendam air hangat dalam bathub. Seketika otak dan pikiranku berubah lebih rileks dan tidak merasa emosional.
Dengan perlahan ku tenggelamkan kepalaku dalam bathub mencoba untuk lebih rileks lagi.
“Ya Tuhan!” seketika aku terkejut dan terduduk spontan saat ku dengar seseorang masuk ke kamar mandi.
Sialnya aku lupa mengunci kamar mandi. Sehingga kini Jin sudah duduk manis dipinggiran bathub dengan handuk yang menutupi separuh tubuhnya.
"Ya... apa kau gila?” teriakku padanya berusaha menutupi bagian tubuhku yang mungkin terlihat.
Ah.... sepertinya aku benar merasa sangat gila sekarang. Dia mesum sekali.
“Aku pikir kau mencoba untuk bunuh diri.” Ucapnya santai menatap ke arahku yang kebingungan menyembunyikan tubuhku dalam air.
Perlahan dia memainkan air dalam bathub dengan santainya yang membuatku semakin deg-degan.
“Ahhh... sungguh aku bisa benar-benar gila.” Aku menggerutu kesal sendirian.
“Kenapa? Aku kan suamimu.” Ucapnya polos namun ada nada menggoda terselip.
“Keluar...!” kakiku muncul dari air dan berusaha mendorongnya agar pergi.
“Tidak... aku mau mandi juga...!” dia hanya menggeleng dan sama sekali tak bergeming dari posisinya.
“Keluar...! aku mau mandi sendiri.” Aku menggerakkan kakiku mendorongnya lagi.
SRET!!!!
"Sudah ku bilang aku mau mandi juga." Dia menangkap kakiku dan menariknya sehingga aku berada lebih dekat dengannya.
Takut-takut aku mencoba menutupi tubuhku dengan busa yang sudah mulai habis. Jantungku serasa mau meledak saat itu juga.
“Ayolah... kita ini pengantin baru...” dia berkata sambil memijit kakiku pelan yang membuatku semakin gelagapan.
“Tii...ti..tidak!” aku menarik kakiku dari pangkuannya. “tu..tu..tunggu... kita... kita... menikah ah.. mmak...mak...maksudku...” belum selesai aku berkata dengan gugup karena gemetar tak karuan dia malah melangkah masuk ke dalam bathub ikut bersamaku. Aku membelalakkan mata tak percaya.
"Kkk... kau???" Aku tak bisa berkata apa-apa.
Dengan santainya dia malah melepaskan handuknya di dalam bathub yang tadi menutupi sebagian tubuh bawahnya. Yang gila aku atau dia sebenarnya?
Aku ingin segera keluar dari bathub tapi aku bingung bagaimana caranya, secara handukku berada di dekat pintu. Dan handuk basah yang tadi digunakan oleh Jin tak akan mampu menutupi tubuhku karena kurang lebar.
Aku hanya bisa mendesah pelan sambil menutup mata tak berani melihat keadaan sekitar.
***