
“APA???? APA KAU BERCANDA??” Ling berteriak tak percaya setelah aku menceritakan semua dan menunjukkan jari manisku padanya.
“Harusnya aku tidak menceritakannya padamu kalau reaksimu akan seperti itu. Karena aku tau, tentu saja kau tak akan percaya, aku saja yang menjalani semua ini juga merasa tak percaya.” Aku mengacak-acak rambutku frustasi.
Aku benar-benar frustasi. Aku mulai gila karena sedari pagi aku benar-benar tak fokus bekerja.
“Tapi... bukankah putra co. CEO Feng itu sangat tampan? Beberapa kali aku melihatnya secara langsung saat dia datang untuk melihat syuting iklan yang kita produksi tentang produk mereka. Wuahh... dia terlihat sangat seksi dengan bahu lebarnya.” Ling menerawang jauh mengingat Jin dengan raut wajah yang tak bisa aku artikan.
CTAK!!
Jentikanku mendarat mulus di dahinya yang lebar tertutup poni bang.
“Ya.... ini sakkit!” Ling meringis kesakitan sembari mengusap-usap dahinya pelan.
Sepertinya itu benar-benar sakit karena dia menyibakkan poni bangnya dan terlihat memar merah samar di sana.
“Setiap bertemu dengan seorang pria kau selalu begitu. Di matamu sama saja sepertinya semua pria tampan.” Ucapku padanya kesal.
“Heiii.... tapi tetap saja yang aku katakan ini benar adanya. Kulit seputih susunya yang sangat bersih terlihat halus dan sehat sekali. Hidungnya yang tegas. Bibirnya yang begitu seksi... dan... tentu saja... tubuhnya itu O my Gosh... body goal sekali... apa lagi dia putra tunggal dari pengusaha yang kaya raya. Kalau aku jadi kau, aku pasti langsung saja bilang mau saat di tanya untuk menikahinya. Bahkan aku akan minta dia untuk menikahiku saat itu juga. Gak pake lama. Kau tau kenapa??? Karena di luar sana banyak sekali wanita yang ingin menjadi sitrinya.” Ling berkata panjangebar terlihat sekali begitu mengagumi Jin yang membuatku semakin merasa kesal.
“Kalau begitu kau saja yang menikahinya!” ucapku kesal sekali padanya.
“Ish... kau cemburu ya? Calon suamimu yang tampan ku kagumi?” Ling malah menggodaku. "Tapi.... apa kau benar-benar tak mengenalnya sebelumnya??? Dia sering wara wiri di tv nasional. Dia juga sering masuk berita aktual mingguan. Dia bahkan di dapuk menjadi The Most Influent CEO di China. Apa kau tak tau itu semua???" Ling bertanya heran.
"Aku sepertinya benar-benar hidup di dalam goa. Yang kau katakan itu satu pun aku tak mengetahuinya. Nanti aku akan mencoba mencarinya di QQ atau Weibo." Ucapku lemas.
Ling tertawa melihatku namun detik berikutnya senyumnya memudar saat melihat ekspresiku yang tak main-main. Dia berubah merasa simpati padaku.
“Sudahlah... Zhang Xiumei, sadarkah kau ini adalah orang yang paling beruntung yang pernah ada. Kau telah dipilih surga untuk menikah dengan pangeran setampan Feng Jinyi.” Dia mencoba menghibur dengan menepuk-nepuk pundakku menguatkan.
“Iya, dia memang tampan. Tapi... apakah tampan dan kaya itu menjamin?? tetap saja aku belum mengenalnya dengan baik. Aku rasa itu tak cukup untuk modal sebuah pernikahan. Yang terpenting itu adalah perasaan. Ibuku bilang cinta itu datang karena sebuah keterbiasaan. Tapi... aku tak bisa memikirkannya sampai ke sana. Terbiasa? Bagaiamana aku bisa terbiasa kalau kenal saja baru beberapa hari? Dan lagi yang paling mengerikan adalah .... aku harus hidup bersamanya selamanya? Ini... tak masuk akal Ling. Bagaimana aku nanti bisa punya anak dengannya ketika kita sama sekali tak ada ikatan cinta? Tidak... tidak... apa lagi anak? Mana mungkin aku bisa... aah... membayangkan aku harus tidur dengannya saja sangat menakutkan. Ah... rasanya kepalaku mau meledak saja kalau berpikir jauh ke sana.” Aku merajuk pada Ling yang tertawa melihatku membayangkan hal yang menurutku begitu mengerikan.
“Kau itu terlalu berlebihan dan terlalu jauh berpikir. Ah... benar, kau masih seperti kertas hvs yang putih bersih tanpa noda coretan dari tinta apa pun. Bahkan ciuman saja kau belum pernah kan? aku turut prihatin." Ling tertawa meledekku.
“Kau mulai lagi. Ya... aku sangat bangga dengan hal itu.” Aku membanggakan kevirginanku pada Ling. Dan dia malah tertawa semakin menjadi-jadi. Padahal dia sendiri juga belum pernah punya pacar.
"Ya... Ciuman sekali saja dengan tetanggamu waktu masih preschool saja kau banggakan? Kau itu sama saja denganku." Ucapku membela diri pada akhirnya.
"Eleh... cuma sekedar kecupan doang. Bayi mana tau ciuman." Lagi aku tak mau kalah.
“Ok... ok... aku kalah." Ling akhirnya mengaku kalah. "Terus? Apa kau mau hidup bagai biarawati seumur hidupmu?? Waaahh... aku malah tak bisa membayangkannya kau menikah tapi seperti biarawati.” Ling bergidik membayangkan seprti apa hidupku kedepannya.
“Mungkin seperti itu.” Jawabku sekenanya dengan lesu.
“Kalau begitu... Karena kau sudah terikat dengan Feng Jinyi, Wang Tian akan ku dekati.” Godanya padaku saat melihat Wang Tian manager team di kantor kami berjalan melewati tempat kami berbincang melepas lelah di kantin kantor.
“Kau ambil saja... aku sudah tak ada harapan untuknya.” Aku menangis sekencang mungkin sehingga seisi kantin menatap ke arah kami aneh. Dan Ling semakin tertawa kencang nan nista.
Apakah memang aneh jika gadis seusiaku masih belum mendapatkan ciuman pertamanya? Kenapa Ling terus saja menggodaku akan hal itu. Dan lagi, berbicara tentang ciuman pertama... sepertinya... tidak akan pernah terjadi pada diriku. Kenapa? Karena.... hidupku akan seperti biarawati. Aku semakin sedih mengingat perkataan Ling tentang biarawati.
Bagaimana tidak? Aku bahkan punya impian menikah dengan pria yang aku idamkan dan memiliki beberapa anak bersamanya. Jika aku menikah dengan pria yang tak ku suka bahkan kenal saja baru beberapa hari mana mungkin impianku akan terwujud.
“Apakah ada pekerjaan lain yang harus saya kerjakan manager?” aku menyerahkan proposal kepada Wang Tian pria yang aku sukai dengan diam-diam. Ah... tidak... Ling sudah mengetahuinya.
“Tidak, kau boleh pulang.” Ucapnya setelah menerima proposal yang aku berikan tanpa menoleh ke arahku. Yaaa... seperti biasanya, dia sangat sibuk sekali.
Tapi.. kenapa begini saja aku sudah kelimpungan tak karuan. Menatapnya bekerja keras seperti ini benar-benar membuatku merasa senang.
“Kalau begitu saya permisi dahulu.” Pamitku padanya dan segera beranjak keluar dari ruangannya.
Ahh... dia sungguh pria idaman. Tapi hampa sudah aku tak ada harapan. Aku mendesah pelan saat merapikan meja kerjaku bersiap pulang karena jam bekerja telah usai. Dan aku tak harus lembur.
Kolekai novel di rumahku sudah selesai semua aku baca. Sehingga sepulang bekerja kali ini aku berniat mampir ke toko buku langgananku untuk berburu novel terbaru.
Baru saja memasuki toko, tanpa sengaja aku melihat seseorang yang baru beberapa hari lalu ku kenal , Jin. Dia berada di cafe seberang jalan. Sepertinya dia tengah duduk di sana untuk menunggu seseorang. Aku hanya mengamatinya dari dalam toko buku.
Benar saja. Tak berapa lama seseorang datang menyapanya. Seorang gadis yang sangat cantik berjalan berlenggak lenggok seperti super model. Kalau dilihat dari raut wajahnya dia sepertinya lebih tua dariku. Atau lebih muda? entahlah... make up tebalnya membuat orang tak bisa mengira-ngira. Tubuhnya sangat bagus. Jujur aku iri sekali melihatnya. Baju yang dikenakannya pun tampak mahal dan pas sekali di badannya. Ahh... dia sangat seksi. Sungguh sempurna untuk seorang wanita di dunia nyata.
Aku kemudian merasa kaget ketika dia dengan tiba-tiba memeluk Jin sebelum akhirnya dia duduk di kursi yang berada di depan Jin. Mereka duduk saling berhadapan dan terlihat membicarakan sesuatu.
Entah mengapa, ada sesuatu yang aneh menyusupi relung-relung hatiku.
***