
Sepertinya saat aku memanja dengan Jin tadi pagi aku jatuh tertidur. Karena sekarang saat aku tersadar, aku telah berada di atas tempat tidur dengan selimut menutupi separuh tubuhku.
Hidungku juga mencium aromatherapy yang menenangkan. Pasti Jin yang melakukannya. Pantas saja aku bisa tidur dengan rileks dan tenang.
Jin rupanya sudah tidak ada di sana. Dengan badan yang masih merasa sedikit lletih aku mencoba meregangkan lenganku dan beranjak duduk.
Rasanya memang sangat letih setelah dua malam aku tak memejamkan mataku. Hingga kini aku baru saja bisa terlelap setelah mencium keringat Jinyi. Dan menyentuhnya tentu saja. Konyol.
Aku menoleh ke arah jam digital di atas nakas yang menunjukkan pukul 10 pagi. Yah... aku telah tertidur selama kurang lebih 3,5 jam. Tapi itu cukup untuk mengembalikan kebugaranku.
Setelah aku merasa penatku sudah hilang, aku beranjak berdiri perlahan berjalan ke arah jendela dan melihat keluar.
Pemandangan hijau nan menyegarkan yang masih sama. Menyejukkan hingga ke pikiran dan hatiku.
Aku juga baru menyadari aku tak merasakan mual lagi. Sepertinya rasa mualku juga sudah pergi. Apakah ini karena aku telah pulang dan bertemu dengan Jinyi?
"Hei.... apa kemarin karena kau merasa kesal dengan mama? Kenapa setelah bertemu oma dan papa mama tak merasa mual sama sekali?" Aku mengusap-usap perutku yang mulai membuncit dan tersenyum karena merasa lucu. "Aah... maafkan mama ya nak... mama tak bermaksud membuat opamu jatuh sakit seperti itu." Ucapku lagi berubah merasa sangat menyesal.
Aku langsung teringat ayah mertua. Kenapa aku melupakannya? kenapa aku tak menanyakan bagaimana keadaannya sekarang?
"Jin????" Aku berjalan keluar kamar mencari Jinyi.
Ah... aku baru ingat kalau Jin harus pergi bekerja. Jadi aku menanyakan pada ibu mertua saja tentang keadaan ayah mertua.
Nah... aku teringat akan sesuatu lagi. Bukankah ponselku tertinggal di flat? Barang-barangku juga masih ada di sana. Jadi... Aku harus mengambilnya kan?
Benar aku harus mengambilnya. Tapi aku mau minum dulu karena tenggorokanku terasa sangat kering. Jadi, Ku langkahkan kakiku menuju dapur untuk mengambil air minum.
Sesampainya di dapur, betapa terkejutnya aku melihat beberapa hidangan telah siap tersaji di atas meja. Ada susu dan jus jeruk juga. Aku bisa menduganya. Ini pasti Jin yang melakukannya. Karena sebelum aku tertidur aku ingat dia berkata akan memasakkan sesuatu untukku.
Aku melihat sekilas ada sesuatu menempel di gelas jus jeruk. Sepertinya sebuah memo yang tertulis di sticky note berwarna pink.
Perlahan aku mendekat dan mengambil sticky note itu.
"Sayang kalau sudah bangun makan yang banyak ya. Piringnya jangan di cuci. Taruh saja di wastafel nanti aku yang cuci. Aku pergi bekerja dulu. Jangan pergi sendirian. Wo Xihuan Ni Mwah :*"
Membaca memo itu membuatku tersenyum-senyum sendiri. Betapa lucu dan protektifnya seorang Jin. Dia sangat perhatian padaku.
"Maaf... aku telah membuatmu menunggu dengan waktu yang sangat lama." Gumamku kepada kertas sticky note yang masih kupegang.
Perlahan ku letakkan seticky note itu dan mulai duduk di kursi meja makan untuk beranjak mencicipi setiap hidangan yang ada.
Jin sudah hapal jika aku tak menyukai kecap. Jadi tak ada makanan yang mengandung kecap. Dia juga membuatkan salad buah dan sayur.
Aku merasa beruntung sekali dicintai orang seperti dia. Dan tentu saja aku juga beruntung mendapatkannya. Kali ini aku akan mempertahankannya bagaimana pun keadaannya.
Aku tak akan terpengaruh lagi oleh si nenek sihir itu. Dia hampir saja membuatku kehilangan little Feng dan kemarin dia juga hampir saja membuatku kehilangan suami sekaligus mertua yang sangat mencintaiku. Meskipun keadaannya ayah mertuaku dalam keadaan yang buruk.
Tapi berkat dia juga, aku jadi mengetahui cerita yang sebenarnya.
Cukup sudah aku melamun. Aku menenggak jus jeruk yang disediakan Jin langsung habis hingga tetes terakhir. Kemudian mencuci semua piring kotor. Meskipun Jin melarangku, aku tak bisa begitu saja berpangku tangan. Karena aku masih bisa melakukannya.
Setelah semuanya selesai aku bergegas mandi dan bersiap karena aku berniat untuk mengambil barang-barangku di flat setelah itu aku akan ikut menemani ibu mertua di rumah sakit.
Tak berapa lama aku sudah sampai di flat dan mulai membereskan semuanya. Pertama aku mulai menghidupkan ponselku yang telah mati dari kemarin. Dan Aku mendapatkan pesan suara dari Jin banyak sekali. Aku tersenyum melihatnya karena membayangkan betapa Jin sangat mengkhawatirkan aku.
Tiba-tiba seseorang masuk ke dalam flat tanpa mengetuk pintu yang membuatku tersentak kaget.
"Mei??? Kau ke mana?? Tadi pagi aku datang dan kau tak ada." Ternyata manager Wang yang telah datang dia terlihat khawatir.
"Kak Tian... Maaf... Aku tak memberitahumu dan telah membuatmu khawatir. Aku memutuskan untuk pulang." Ucapku padanya memberitahukan alasanku kenapa aku tidak ada.
"Apa kau yakin???" Dia meyakinkanku akan keputusan yang aku buat.
"Ya... Aku harus kembali." Ucapku yakin.
"Kau tau... aku telah menarik semua kata-kataku untuk merelakanmu. Jika sekali lagi Jin melakukan kesalahan yang membuatmu menangis. Maka aku tak akan membiarkannya. Dan aku akan mengambilmu darinya." Manager Wang menatap ku tajam.
Baru dalam waktu dua hari saja kenapa dia bisa berubah sedrastis itu. Tidak... Aku yang tak sadar sejak kapan.
"Kak Tian...."
"Aku berkata serius." Dia memotong kalimatku yang belum selesai.
Aku terdiam. Bingung harus berbuat apa. Aku juga merasa ketakutan.
Drt.... drt....
Ponsel yang masih berada dalam genggamanku bergetar menandakan ada sebuah pesan masuk.
Kebetulan sekali. Momen ini aku gunakan untuk mengalihkan topik pembicaraan kami.
"Maaf..." Ucapku padanya dan mulai membuka pesan singkat yang ternyata terkirim dari Fei.
Aku mendesah pelan karena merasa jengah sekali dengan nenek sihir satu ini. Tapi meskipun begitu aku tetap membukanya juga.
Ada sebuah attachment dari pesannya, sebuah file suara. Tanpa ragu aku membuka file itu. Kebetulan volumenya masih dalam mode kencang. Jadi aku sangat yakin jika manager Wang juga bisa mendengarnya.
"Rubah semua file document itu dan buat seolah-olah dia telah melakukan penggelapan dana." - suara dari seorang perempuan yang sangat ku hapal. Aku yakin Itu adalah suara Fei sendiri.
"Kenapa kau ingin melakukannya?" - suara dari seorang laki-laki. Aku sangat yakin dengan suara siapa itu.
"Lakukan seperti kataku. Aku akan memberikan pelajaran baginya. Agar dia tak berani lagi bermain-main denganku. Bukankah ini juga sangat menguntungkan untukmu?" - tawar Fei.
"Apa yang membuatmu yakin bahwa aku mau bekerja sama denganmu?" - pria yang sangat ku kenal itu bertanya.
"Karena kau sangat menyukai Zhang Xiumei. Jika kau melakukannya, Jin akan membuang Xiumei. Dan Xiumei akan datang padamu mencari bantuan setelahnya lakukan maumu. Aku sangat tahu jika Jinyi tak menyukai orang yang gila harta. Apalagi berlaku kotor untuk mendapatkannya. Jadi lakukan saja apa yang aku mau." - pungkas Fei yang mengakhiri file suara tersebut.
Aku terkejut. Dan menatap manager Wang yang juga tercengang.
"Ini suaramu kan???" Aku bertanya pada manager Wang dengan suara yang bergetar karena aku kini benar-benar merasa gemetar.
Aku yakin bahwa file suara ini adalah record dari percakapan saat merencanakan sabotase yang terjadi padaku beberapa waktu lalu saat aku mendapatkan proyek besar.
Sebenarnya, aku sudah tak mau mengingatnya lagi dan tak mau tau siapa orang yang bekerjasama dengan Fei untuk menjatuhkanku.
Tapi mendengar percakapan itu tiba-tiba aku merasa gemetar dan marah sekali. Orang yang sangat ku percaya ternyata...
Manager Wang? Wang Tian? ternyata sama liciknya dengan Lu Feiyue?
Terimakasih Tuhan saat itu kau mengirimkan malaikat Lingfei padaku dan menyelamatkan hidup kami. Dan tentu saja, aku tak perlu meminta bantuan Wang Tian untuk mengurus masalah itu.
Tapi sekarang? Aku benar-benar merasa kecewa pada Wang Tian.
"Mei.... kau salah paham. Itu tidak sepenuhnya benar. Fei memang licik. Tapi bukan aku yang bekerja sama dengannya." Wang Tian begitu khawatir jika aku mempercayai file suara tersebut.
Dia terlihat sangat ketakutan. Wajahnya benar-benar terlihat sangat pucat. Tapi suaranya sangat jelas terdengar.
"Wow... Ini benar-benar kejutan." Aku mencoba tersenyum meskipun aku merasa sangat-sangat kaget. "Kemudian.... katakan padaku suara siapa itu? Bukankah pembeicaraan kalian sangat jelas terdengar?" Tanyaku dengan menatap Wang Tian marah. "Aku sangat tau suara siapa itu manager." Saking marahnya aku tak lagi memanggilnya dengan sebutan kakak seperti sebelumnya. Padahal, belum lama aku memanggilnya seperti itu.
"Mei..."
"Cukup! Stop!" Aku mengangkat kedua tanganku saat Wang Tian mencoba mendekatiku, memberikan isyarat agar Wang Tian berhenti dan tak menyentuhku.
"Mei.... itu memang suaraku. Tapi..." Wang Tian mencoba menjelaskan.
"Cukup manager. Aku benar-benar kecewa denganmu. Asal manager tahu, entah manager atau bukan yang bekerja sama dengan Fei. Aku tak peduli." Ucapku kesal kemudian berbalik mengambil tas besar yang aku bawa saat pergi dari rumah kemarin.
"Mei???" Wang Tian berusaha menghentikanku, tapi aku sungguh tak peduli dan terus saja beranjak pergi meninggalkannya. Benar keputusanku semalam yang membuatku kembali ke rumah.
Dulu aku bisa lolos dari jebakan mereka, kenapa sekarang aku datang pada Wang Tian saat ada masalah dengan Jinyi. Aku terjebak pada akhirnya. Aku benar-benar menyesal. Sangat menyesal.
***