
Aku masih pusing, masih juga mual, masih juga lemas dan masih juga menguatkan tubuhku agar mampu berdiri serta berjalan. Tapi semua itu seolah tak kurasakan karena aku begitu senang.
Ya, senang sekali. Betapa tidak? ada Jinyi kecil dalam rahimku.
'Sayang.... kita buat kejutan untuk ayah.' gumamku pelan dalam hati sembari tersenyum menatap dan mengusap-usap pelan perut bawahku.
Karena terlalu senang dan berbicara dengan calin buah hatiku, tak terasa jika aku telah sampai di gedung di mana Jin bekerja. Dan ini kali kedua aku datang ke sini untuk mengunjunginya.
Saat turun dari taksi aku merasakan perutku mulai tak nyaman lagi. Perutku mulai bergejolak dan aku merasakan jika sepertinya hendak muntah lagi. Dengan terseok aku berlari mendekati pohon palem yang ditanam di depan gedung.
"Ukkk...." Aku mulai mengejan, namun muntahku tak bisa keluar dan hanya membuat perutku berkontraksi hebat. Lemas. Lama aku mencoba mengatur nafas dan tenaga. Setelah ku rasakan membaik, aku mulai berjalan masuk ke dalam gedung.
Saat aku menginjakkan kakiku di lobi, aku melihat pemandangan yang membuatku merasakan kepalaku pening kembali.
Ya... Fei... Dengan santainya dia tengah duduk membaca majalah di ruang tunggu lobi. Heran, kenapa dia ada di sini lagi? Tidakkah dia menyerah? Aku benar-benar tak mengerti dengan Fei ini. Jika orang lain berada di posisiku, apakah mereka juga akan sepertiku yang merasa tak nyaman ataukag mereka tak mengindahkannya dan menanggapinya dengan santai?
Kali ini aku tak ingin membuat masalah dan ingin mengabaikannya saja. Jadi, aku terus saja berjalan lurus menuju pintu pemindai identitas.
“YA... XIUMEI!” Ku dengar Fei berteriak ke padaku. Ternyata dia menyadari kedatanganku.
Aku menghela nafas jengah dan akhirnya berhenti kemudian berbalik menatap ke arahnya.
“Oh? Lu Feiyue? apa kabar? Apakah ada urusan dengan suamiku lagi?” Tanyaku padanya basa basi dan tak ingin cari masalah. Dia yang raut wajahnya terlihat membenciku kemudian berjalan ke arahku dan berhenti sekitar 1,5 meter dariku. Sepertinya dia terlihat sangat geram. Dia menatapku tajam.
“Ya sialan! Gara-gara kau, aku hampir saja di pecat dengan cara tidak hormat. Kau pikir kau siapa berani sekali kau bermain denganku?” Fei tiba-tiba menyalahkanku gusar.
Aku kemudian berpikir beberapa saat. Apakah otak perempuan ini ada yang salah? Aku bahkan tak pernah melakukan apa pun yang bersifat menjatuhkannya.
Tapi... Jika dia berkata aku hampor membuatnya dipecat, apakah ini ada kaitannya dengan manipulasi laporanku waktu itu? Jadi? seseorang yang menyabotasenya adalah benar Fei?
“Ahh.... jadi itu benar kau yang melakukannya?" Aku memahami situasi.
"Baru saja aku mau menyelidikinya. Ngomong-ngomong... terimakasih ya karena kau sudah jujur padaku terlebih dulu ” Ucapku datar kemudian hendak berbalik meneruskan langkahku, namun aku teringat sesuatu lagi.
“Ahh... aku baru ingat.” Aku menoleh ke arahnya lagi sembari menjentikkan jari.
“Tapi.... aku benar-benar penasaran siapa orang yang mau bekerja sama denganmu. Meskipun begitu, karena kau telah mengakuinya, aku tak akan mempermasalahkannya lagi. Aku akan memaafkan dosamu padaku.” Ucapku sembari tersenyum kemudian berbalik.
Fei sepertinya menyadari kebodohannya karena secara tak sadar dia telah mengakui semuanya denganku. Aku melihat sekilas raut wajahnya yang benar-benar marah.
Aku benar-benar merasa ingin muntah sekarang. Sepertinya Jinyi kecil juga merasa tak nyaman jika berada di sampingnya. Jadi aku harus cepat-cepat pergi dari sini.
“Ya.... Brengsek. Jangan bersembunyi di balik nama suamimu. Kalau berani langsung saja menghadapiku.” Ucapnya sontak membuatku menghentikan langkahku.
Sepertinya aku benar-benar geram padanya. Perasaanku yang semula ingin muntah kini benar-benar menghilang. Ajaib. kata-kata Fei bisa mengobati mualku seketika.
“Apa kau bilang?” Aku menatap Fei tajam.
Padahal Ling yang dengan cerdas telah menyimpan filenya, bukan karena aku meminta tolong pada Jin. Aku jadi Ingin sekali menamparnya, tapi karena aku teringat perkataan dokter Zhao tadi yang mengatakan aku harus hati-hati, Karenanya aku tak mau meladeninya dan ingin mengalah saja untuk kali ini, seenggaknya sampai aku melahirkan nanti.
“Kalau mau mengajak ribut denganku, tunggu 10 bulan lagi baru aku akan meladenimu.” Ucapku kepada Fei dan benar-benar beranjak meninggalkannya.
“Arogan sekali kau berkata seperti itu?” Fei benar-benar merasa gusar.
Tiba-tiba....
“DASAR PEREMPUAN SIALAN!”
BRUGH!
“AKKHHHH!” kotakku yang sedari tadi ku peluk terjatuh dan Aku memekik tertahan saat Fei tiba-tiba menjambak rambutku dan langsung menarikku hingga membuatku jatuh tersentak ke belakang.
“MEI!!!!!” saat itu pula aku mendengar suara Jinyi bersamaan dengan perutku yang merasakan sakit teramat sangat.
Sepertinya Jinyi berlari ke arahku. Perutku benar-benar merasakan sakit yang semakin menjadi.
Tidak! calon bayiku??? di antara sakit yang ku rasakan aku masih bisa berfikir tentang bayiku.
"Akh...." Rintihku lagi karena merasakan kontraksi.
“FEI???? APA YANG KAU LAKUKAN???” Ku lihat sesaat ketika Jin mendorong Fei hingga membuat Fei sedikit tersentak kebelakang namun tak sampai membuatnya terjatuh.
Jin kemudian berjongkok padaku dalam kepanikannya karena melihatku meringis dan merintih kesakitan.
“Dia yang memulainya Jin. Aku tak melakukan apa-apa.” Fei membela diri.
“Sayang kau tak apa-apa?” Jin mengabaikan Fei dan bertanya padaku khawatir karena aku terus mengerang kesakitan dan memegangi perutku.
Dia terlihat sangat kebingungan.
"Jinyi.... dia hanya pura-pura. Dia hanya berusaha menarik simpatimu." Mei terus saja mencari alasan dan berusaha menjatuhkanku meskipun tau keadaannya aku benar-benar kesakitan.
"Diam kau. Sudah berapa kali aku bilang, enyah dari tempatku!" Jin setengah berteriak Ke arah Fei yang berdiri di belakangnya.
"Pak Huang panggil security sekarang! Suruh mereka mengusir perempuan ini!" Jin yang ternyata bersama pak Huang berteriak memerintahnya dengan gusar untuk memanggil security.
Sedangkan aku, Aku masih kesakitan memegangi perut bawahku. Jinyi kemudian kembali menoleh ke arahku. Dia semakin panik.
"Sayang.... apa kau bisa berdiri?" Jin mencoba mengalungkan tanganku di lehernya berusaha membantuku untuk berdiri, namun aku tak sanggup karena perutku benar-benar terasa kram.
“AKKKHHH....” aku mengerang pelan bersamaan ku rasakan sesuautu terasa basah di bawahku.
“Darah?” Jin terkejut mendapati rok biru mudaku terdapat bercak darah yang merembes hingga ke bawah yang diketahuinya saat dia hendak membopongku.
"Tidak... Mei????" Jinyi sepertinya menyadari sesuatu.
Perlahan pandanganku mulai mengabur.
“Pak Huang cepat bawakan mobil.” Itulah teriakan terakhir dari Jinyi yang aku dengar sebelum akhirnya aku benar-benar tak sadarkan diri.
***