WE GOT MARRIED

WE GOT MARRIED
Chapter 7 PERTUNANGAN DADAKAN



“Sebaiknya pernikahannya dipercepat saja, mengingat kau akan segera pergi berobat. Biar Jin ada yang menemani.” Tiba-tiba ayahku berkata demikian pada paman Feng yang membuatku tersentak kaget.


Ayahku kenapa mengusulkan begitu??? Apakah dia benar-benar mau aku cepat menikah?? Apa dia sudah tak mau menampungku dalam rumahnya?? Kenapa aku rasanya sedih sekali.


“A... apa???” aku masih mencoba bertanya pada ayah untuk meyakinkan pendengaranku apakah masih baik-baik saja atau memang aku harus pergi ke THT.


Namun tak ada seorang pun yang mengindahkan pertanyaanku. Yang ada mereka semua malah bersorak senang seperti mendapatkan sebuah pencerahan.


Jadi... apa yang aku dengar adalah benar? telingaku baik-baik saja??


“AHH... benar juga. Aku akan merasa sangat tenang jika begitu.” Ayah Jin tertawa senang. “Bagaimana kalau acaranya diadakan pada akhir bulan ini?” tanyanya kemudian yang semakin membuatku merasa ingin pingsan.


“A.. akhir bulan ini?” aku terkejut. “Bu... bukankah ini terlalu cepat?” aku gelagapan seakan aku tenggelam di dasar palung terdalam. Ya Tuhan ini terlalu cepat.


Lama tak ada yang menyahut setelah aku bertanya. Semua terdiam.


“Aku baik-baik saja.” Dengan tiba-tiba Jin menyetujuinya.


Dan itu semakin membuatku merasa lemas. Tulang-tulangku serasa rontok. Kakiku serasa tak berpijak lagi di bumi. Otakku benar-benar kosong untuk beberapa saat.


"Nah... yang bersangkutan sudah menyetujuinya." Ayahku kegirangan.


Aku mulai berpikir, apakah sesungguhnya Feng Jinyi sudah mulai kehilangan akalnya? atau bahkan dia benar-benar tak punya akal? Kenapa setuju secepat itu??


Di saat yang lain tengah berbicara satu sama lain. Aku melirik ke arahnya tajam. Seolah aku ingin memangsanya hidup-hidup. Aku benar-benar ingin sekali memukul kepalanya itu dengan sepatu kanvas yang ku kenakan. Mendapatkan lirikan tajam dariku dia malah mencoba mengacuhkan lirikanku dan menggaruk-garuk sebelah alisnya dengan telunjuknya.


“Wah... ini benar-benar beeita yang sangat bagus.” Ibuku bertepuk tangan senang. Dan aku semakin lesu.


Ya Tuhan.... beginikah rasanya ketika semua orang mulai memojokkan diri kita sendirian? Aku benar-benar ingin menangis.


“Menurut penanggalan, hari ini adalah hari yang sangat baik dan membawa energi positif. Jadi bagaimana kalau hari ini dilangsungkan pertunangan saja?” bibi Feng mengusulkan sembari menatapku berharap aku menyetujuinya.


“P..p...p...” mulutku serasa kelu dan tak bisa melanjutkan kata-kata.


Yakinlah aku merasa dunia benar-benar runtuh saat ini juga.


“Iya, tentu saja sayang... ibu sudah mempersiapkan semuanya dengan baik." Bibi Feng memutus perkataanku dan melanjutkan kalimatnya dengan antusias.


Bahkan bibi Feng sudah menyebutkan kata ibu untukku. Sepertinya bibi Feng senang sekali. Tidak, tidak hanya dia. Bahkan ibuku juga. Dia merasa senang sekali.


“Wah... ini berita bagus. Dengan begini, aku tak merasa khawatir lagi.” Ibuku bersorak senang.


Aku sangat merasa heran dengan ibuku. Bisa-bisanya ibuku berlaku seperti itu. Apakah aku ini anak tirinya? atau anak angkatnya? kenapa ayah dan ibu kejam sekali.


“Ini... hadiah dariku.” Bibi Feng memberikan sebuah kotak beludru kecil berwarna biru navy pekat pada Jin.


Aku mencoba menerka apa isinya.


Jin yang tak banyak bicara langsung membukanya dengan ekspresi penuh tanda tanya. Sepertinya dia juga penasaran dengan apa yang ada dalam kotak beludru tersebut.


“Cincin?” dia bertanya lirih setelah kotak itu terbuka dengan sempurna dan terlihat dua cincin berkilauan terkena pantulan cahaya lampu.


Tepatnya itu sepasang cincin emas platinum dengan ukiran indah namun sederhana.


Tak ku pungkiri, keindahan cincin itu bagaikan sebuah magnet untukku. Meskipun sangat sederhana tapi cincin itu terlihat cantik sekali.


“Baguslah... sekarang Kau bisa memakaikannya di jari manis Xiumei.” Ucap paman Feng senang.


Jin kemudian sedikit tersentak dan menoleh padaku menatapku dengan tatapan yang tak bisa kuartikan.


"Ayo nak... pakaikanlah cincin itu dijari manis Mei." Ibuku memerintah. Sepertinya benar-benar tak sabar.


Tanpa menunggu perintah kedua, Jin pun langsung beranjak berdiri dan berjalan mendekatiku dengan membawa kotak beludru yang terbuka itu. Tangannya yang hampir dua kali lebih besar dari tanganku mengulur ke arah tanganku yang penuh keringat dingin dan lunglai di atas bantal sofa yang ku pangku.


Aku dengan bengongnya hanya menatap jari-jari tangannya yang panjang nan lentik itu tengah menggenggam tangan kiriku seraya berusaha berjongkok di depanku.


Dia menatap mataku sejenak tanpa ekspresi dan aku hanya bisa menatapnya dengan lesu dan pasrah.


Pandangan semua orang tertuju pada kami berdua. Semua menunggu dengan tak sabar.


Perlahan jari-jemari tangan kanannya mengarahkan cincin cantik itu ke pangkal jari manisku.


Deg!


Jantungku mulai bergemuruh kacau.


Ku tatap cincin yang sangat pas di jariku dan entah kenapa jariku jadi terlihat lebih cantik dari sebelumnya. Aku menatapnya untuk beberapa saat tanpa berkedip.


Hatiku benar-benar berdegub tak karuan dan tanpa ku sadari aku yang merasa gugup begitu gemetar sehingga membuat tanganku iku bergetar. Jin spontan menggenggamnya begitu saja setelah memakaikan cincin itu. Apakah maksudnya agar aku tak lagi merasa gugup? Aku menatapnya yang tidak memperhatikanku untuk beberapa saat. Dia masih menatap ke arah tanganku yang berada dalam genggamannya.


Dan apakah dia tidak sadar? Jika perlakuannya ini membuatku semakin gugup. Ini adalah pertama kalinya seorang pria menggenggam tanganku seperti ini. Karena hal itu atau karena hal lain? entahlah.


Saking gugupnya, aku bahkan tak menyadari sejak kapan Huan pulang dari sekolah? Kini dia sudah ada di sini. Dan ternyata sedari tadi dia sibuk memfoto dengan kamera DSLR-nya.


“Pakaikan untukku!” ucapnya lirih sembari menoleh menatapku.


“Ya?” aku sedikit terkejut dan bingung.


Jin kemudian memberikan isyarat dengan matanya yang melirik sekilas ke arah cincin dalam kotak.


Jin melepaskan genggaman tangannya perlahan, kemudian ku ambil cincin yang tersisa dalam kotak beludru yang ukurannya sedikit lebih besar dari yang aku pakai.


Ragu. Aku ragu-ragu saat hendak memakaikannya. Ku tutup mataku dengan takut-takut ku coba memasangkan cincin itu di jari manisnya. Perlahan aku mulai membuka mata melihat tangannya yang masih ku pegang. Manis. Jarinya sangat manis memakainya.


Tanganku terasa begitu dingin sekali. Tidak hanya tanganku namun juga tubuhku serasa menggigil. Jin tiba-tiba berbalik menggenggam tanganku erat. Dia menghela napas dalam kemudian mengangkat tangan kami yang bergenggaman menunjukkan pada semua keluarga kami yang ada di sana.


Tunggu! Aku tak sadar aku juga menggenggam tangan Jin dengan erat. Apa-apaan ini?


Tidak ada suara. Sunyi. Tidak ada suara sorakan, tidak ada riuh tepuk tangan.


GREB!!!


Ayahku tiba-tiba langsung menangis dan mendekap erat Jin yang berada di dekatku dan masih menggenggam erat tanganku.


Begitu pun dengan ku... mereka semua bergantian memelukku dan Jin dengan tangisan haru. Semua benar-benar menangis. Tidak tertawa seperti sebelumnya. Semua larut dalam keharuan. Sampai-sampai keinginanku untuk menangis sedari tadi kini ikut ku luapkan. Bedanya mereka menangis terharu. Dan aku... menangisi hidupku yang serasa kacau.


Dan.... sejak hari ini.... aku telah disahkan menjadi tunangan dari sesorang. Dan... orang itu baru dua hari yang lalu ku kenal.


***