
“Sayang maafkan aku. Apa kau benar-benar marah?” Jin berjalan mendekatiku di balkon yang tengah berdiri menikmati gelapnya malam.
Aku berdiri di sana karena merasa ingin menenangkan pikiran yang begitu kalut dengan melihat bintang-bintang yang malam itu terlihat begitu terang. Aku bahkan tak begitu mendengar ketika Jin berjalan mendekatiku karena aku begitu terpukau oleh cantinya malam. Selain itu juga... karena pikiranku berjalan entah ke mana.
“Mei....” Jin memelukku dan memanggilku pelan hingga mengejutkanku.
“Hum?” aku akhirnya meresponnya dengan bergumam.
“Sayang... kau tau Fei kan? Kau juga mengenalku dengan baik. Aku tak mungkin ....”
“Aku tau...” Aku memutus kalimat yang Jin lontarkan. “Aku sangat tau.... aku hanya sedikit kesal saja. aku tak apa-apa.” Aku tersenyum kecut kemudian menyentuh kepala Jin yang berada di pundakku.
“Aku benar-benar minta maaf Mei... Aku benar-benar minta maaf...” Jin meminta maaf lagi dan lagi. Suaranya benar-benar terdengar tulus dan mengharapkan maaf dariku.
"Aku yang salah Mei, aku telah melukai kepercayaanmu." Jin benar-benar terdengar begitu menyesal.
Mendengarnya membuatku berbalik dan ingin sekali menatap wajahnya.
"Jin.... aku hanya merasa sedikit kalut dalam hatiku." Ucapku. Namun saat mengatakannya aku benar-benar tak bisa menatap matanya.
"Kenapa Mei??? Apa kau meragukanku?" Dia bertanya khawatir.
Aku hanya menggeleng kemudian. Karena aku memang tak meragukan Jin. Aku yang meragukan diriku sendiri.
“Jin... jika suatu saat hatiku memudar, apa yang akan kau lakukan?” Aku bertanya dengan merengkuh wajahnya agar sedikit merunduk agar aku bisa melihat matanya yang begitu meneduhkan.
“Aku? Aku akan menguatkan hatimu kembali.” Jin terheran sejenak. “Sayang kenapa kau bertanya seperti itu?”
“Tidak... aku hanya ingin tau saja.” Ucapku meyakinnya.
“Kalau begitu... jika aku yang seperti itu, apa yang akan kau lakukan?” Jin balik bertanya dan semakin mengeratkan pelukannya di pinggangku.
Pertanyaan ini.... sejenak membuatku merasa dilema. Pertanyaan yang benar-benar aku bingung harus menjawabnya bagaimana? Apakah ini karena manager Wang?
“Ketika aku mengatakan aku mencintaimu, Aku harus bisa bertanggung jawab akan perasaanku. Ketika kau mengatakan mencintaiku, maka kau juga harus bertanggung jawab terhadap perasaanmu. Ketika salah satu di antara kita ada yang telah memudar, maka salah satu di antara kita harus bisa menguatkan. Kita tidak harus menunggu hingga salah satu memudar baru akan menguatkan. Jadi... kuatkan aku selalu, maka aku akan menguatkanmu selalu.” Aku menatap mata Jin lekat-lekat.
Aku begitu takut Jika perasaanku pada manager Wang yang dulu begitu menyukainya, kini kembali lagi karena kenangan masa lalu.
Tapi.... semua belum jelas sebenarnya. Apakah benar teman lamaku adalah manager Wang atau bukan.
Perasaanku... tak boleh terprovokasi hanya gara-gara sebuah ingatan masa lalu. Iya benar... aku hanya menganggapnya sebagai seorang kakak. Tak peduli dia manager Wang atau bukan. Tidak lebih dari itu.
Ku tatap mata Jin lamat-lamat. Aku seperti menemukan sesuatu.
Dia sedikit tersentak mendengar pertanyaanku.
"Kita satu sekolah saat SMA dan aku begitu populer, tentu saja kau pasti mengenalku." Jin menyombongkan diri dengan tersenyum menggodaku.
"Tidak... aku bahkan...."
"Apakah itu penting sekarang? bukankah yang terpenting kita saling mencintai? Apakah ada hal lain selain itu?" Jin memotong pembicaraanku.
Aku kemudian berpikir sejenak, Benar... Kini kami saling mencintai, kenapa aku harus mengorek ke masa lalu? terlepas... apakah Jin dan Manager Wang adalah orang yang aku kenal atau bukan? Yang terpenting adalah... aku benar-benar mencintai Jin.
Dalam pelukannya aku masih merasakan getaran yang sama. Dalam sentuhannya aku masih merasakan debaran yang sama, dalam tatapannya... aku masih menemukan keteduhan yang sama.
“Mei...?” Jin memanggil namaku pelan hingga hampir tak terdengar sehingga membuat jantungku berdesir.
Jin menatapku dalam. Perlahan Jin mencium bibirku dengan sangat pelan sekali... aku pun mulai memejamkan mataku mencoba merasakan ketulusan Jin yang bisa ku rasakan dari sentuhannya.
Tanganku yang semula merengkuh wajahnya, kini perlahan mulai memeluk tengkuknya dan semakin ku eratkan. Tidak... aku tak ingin jauh darinya... aku tak ingin berpisah darinya.
Jin semakin mengeratkan pelukannya padaku bersamaan dengan semakin dalamnya ciuman kami. Lama.... kemudian perlahan ciuman itu memudar.
“Buat aku selalu mencintaimu....” Ucapku pelan sembari menatap wajahnya yang begitu meneduhkan.
Jin tak menjawabku dan masih terus menatapku. Dan inilah sensasi yang aku sukai. Jantungku mulai berdegub tak beraturan lagi.
“Tanpa kamu minta, aku akan selalu melakukannya.” Ucap Jin tak kalah lembutnya sehingga terdengar seperti bisikan angin malam yang begitu lembut yang menyentuh telingaku. Kemudian berjalan menuju hatiku. Sehingga seolah semilir angin yang menyejukkan terasa telah memasuki hatiku.
Ku lihat bibirnya mulai tersenyum hangat dan sangat manis. Perlahan pula dia mendekatkan wajahnya padaku lagi sehingga membuatku menutup mata secara spontan. Ku rasakan nafasnya menyapu pucuk hidungku sebelum akhirnya sebuah ciuman menyentuh pelupuk kanan mataku. Hangat.
Kemudian beralih ke pelupuk mata kiriku, naik ke keningku, turun ke pucuk hidungku. Dan perlahan dia mengecup cuping telingaku lembut sebelum akhirnya turun ke leherku dan akhirnya ke tulang selangkaku.
ku rasakan dia sedikit menggigit kecil di sana.
Aku begitu menyukainya. Aku benar-benar begitu menyukainya. kami pun saling bertatapan kembali setelah dia berhenti melakukannya.
“Aku akan membuatmu semakin mencintaiku setiap harinya.” Jin berucap pelan sebelum akhirnya membawaku dalam gendongannya dan beranjak memasuki kamar kembali.
Dan malam ini.... sepertinya aku akan semakin mencintainya.... karena malam ini... akan menjadi malam yang benar-benar panjang bagi kami berdua.
***