WE GOT MARRIED

WE GOT MARRIED
Chapter 55 PERLAWANAN



 


Aku bergegas berjalan menuju tempat di mana suara ibuku berasal. Ternyata beliau sedang membuat sesuatu di dapur. Aku pun mendekatinya.


“Ibu mau buat apa?” aku bertanya ingin tahu.


“Ini... ibu ingin buat mantou kesukaan ayah. Nanti Jin bawakan sekalian Ya?” Ibuku menawarkan.


“Boleh... sini aku bantu.” Aku mengambil adonan yang baru saja di beri air oleh ibuku dan mulai menguleninya.


“Bu... aku mempunyai banyak sekali pertanyaan. Aku tak tau harus bertanya kepada siapa?” aku memulai pembicaraan.


Ibuku yang mulai membuat isi mantou menoleh sesaat kepadaku.


“Boleh... kalau ibu tau akan ibu jawab.” Ucapnya lembut.


“Ayah mertua... sebenarnya sakit apa? Aku sudah tiga bulan menikah dengan Jin tapi tak tau sama sekali. Aku tak bisa bertanya pada Jin secara langsung, aku tak enak hati.” Tanyaku masih dengan menguleni adonan.


Ibuku tersentak.


“Eum... ibu juga tak begitu tau.” Ucapku ibuku, dia terdengar seperti menghindari pertanyaanku.


“Aku pikir ibu tau.” Aku tak mau memperpanjang masalah. “Bu... aku merasa... awal pernikahanku dengan Jin terasa sedikit aneh. Semua dilaksanakan secara mendadak, tetapi meskipun begitu... semua seperti telah tersusun secara rapi. Apa sebenarnya ibu menyembunyikan sesuatu dariku?”


“Apa maksudmu?” ibuku terlihat bingung. “Apanya yang aneh? Keluarga Feng kan memang keluarga mampu, apa pun hanya dengan perkataannya saja semua akan terlaksana dengan baik. Kenapa kau membahas ini? Mei... yang terpenting, sekarang kau hidup bahagia dengan Jinyi sekarang. Eum?” Ibuku menyentuh pundakku sayang.


Tapi aku tetap saja tidak puas dengan jawaban ibuku. Meskipun begitu, aku tersenyum kepadanya.


“Sayang, kau jadi mampir ke kantor?” Jin bertanya dalam sambungan telefon.


Sepulang dari rumah ibuku, aku pun berniat mengunjungi Jin ke kantornya. Dan ini kali pertama aku datang ke sana.


Sebenarnya aku begitu gemetaran. Aku begitu gugup. Ini seperti aku akan pergi menemui kekasihku saat akan berkencan saja.


“Hu um...” Aku sudah hampir sampai. Tinggal menyeberang jalan saja.” Ucapku pada Jin sembari menunggu lampu merah berubah hijau untuk pejalan kaki.


“Baiklah... nanti langsung masuk saja ya, aku sudah memberikan akses. Tahu kan ruanganku di mana? di lantai 21 paling ujung.” Jin berkata panjang lebar.


“Iya aku akan langsung ke sana.” Ucapku dengan mulai berjalan menyeberangi zebra cross. Kemudian menutup sambunganku dengan Jin.


Tadi sebelum datang ke sini, aku sengaja menata rambutku persis saat masa SMA dulu. Aku ingin tau bagaimana reaksi Jin. Apakah dia mengingatku atau benar-benar melupakanku. Tiba-tiba aku tersenyum sendiri membayangkan bagaimana reaksinya.


Aku telah sampai di gedungnya dan mulai memasuki lobi. Namun aku mendapati sosok yang tak asing sedang duduk di sana dengan pakaiannya yang serba kekurangan bahan. Make upnya yang begitu tebal benar-benar membuatku merinding.


Aku pun berniat menyapanya.


“Fei?” Aku memanggilnya.


Dia pun terkejut dan menoleh ke arahku. Aku pun langsung tersenyum ramah padanya setelah kami bertemu pandang.


Aku mengernyitkan dahiku bingung. Bukankah seharusnya aku yang bertanya demikian.


“Maaf?? Apa kau tak salah bertanya?” Aku mencoba menajamkan pendengaranku.


Dia terlihat gusar menatapku.


“Tidak. Aku bertanya benar. Kenapa kau datang ke sini? Bukankah ini jam kerja?” Fei terlihat geregetan.


“Nah... justru itu yang ada di benakku. Bukankah ini jam kerja, tapi kenapa kau malah datang ke sini? Terus... kenapa hanya duduk di lobi? Kalau ada kepentingan seharusnya kau masuk saja?” aku bertanya tak mengerti. Maklum saja baru kali ini aku datang ke sini.


“Aku ke sini? Tentu saja ingin menemui Jinyi.” Ucapnya dengan mencibirku. “Sudah kau pulang saja. Kau tak akan bisa masuk ke sana.” Ucap Fei dengan tertawa mengejek.


Sekarang aku baru mengerti dan baru menyadari perkatan Jinyi di telfon tadi yang mengatakan tentang akses. Jadi Fei tak punya akses?


Aku menoleh ke arah jalan masuk yang banyak dan bersekat serta terdapat pemindai kartu. Aku langsung tesenyum menyadari hal itu.


“Jadi kau ke sini karena mau menemui suamiku?” Aku memberikan penekanan pada kata suamiku dengan maksud agar dia paham bahwa Jinyi sudah beristri dan tak boleh di ganggu lagi. “Apakah ada sesuatu yang urgent?” aku bertanya menyelidik.


“Tentu saja... Jinyi pasti sangat merindukanku. Sudah lah kau pulang saja. Asal kau tau saja ya... jika bukan karena perjodohan itu, Jinyi tak akan pernah menikah denganmu. Dan tentu saja, dia akan menikah denganku. Karena dia menyukaiku.” Ucapnya penuh percaya diri dan terdengar seperti anak SMA yang belum dewasa.


“Umm....” aku mengernyitkan dahiku lagi heran melihat ular ini. “Begini nona Lu Feiyue. Sepertinya anda benar-benar salah paham di sini. Sebenarnya aku tak mau mengatakannya, tapi aku rasa itu perlu juga. Kau sebenarnya tak bisa masuk ke sana karena kau tak punya akses kan? Menyedihkan sekali. Dan lagi.... sudah berapa lama kau mengejar cintamu yang bertepuk sebelah tangan itu? Aku pikir... mungkin sebaiknya kau mundur dan menyadari dirimu sendiri. Eum?” Aku membanggakan diriku dan tersenyum semanis mungkin padanya.


“Apa maksudmu?!” Fei sedikit berteriak gusar ke arahku.


“Kami.... ahh.... kau tau siapa yang aku maksud kami? Ya aku dan Jin tentu saja, benar-benar saling mencintai. Kami benar-benar dimabuk asmara setiap hari, Jadi... sehebat dan sekuat apa pun kau mengganggunya, kau tak akan pernah bisa mendapatkannya. Karena... dia benar-benar menyukaiku. Dan hanya menyukaiku.” Ucapku bangga dan sedikit mengejeknya. “Dan.... kau mau lihat? Sebenarnya ini rahasia. Tapi hanya untukmu seorang aku akan memberitahunya. Ini adalah jejak tadi pagi yang masih tertinggal.” Aku menunjukkan bekas cupangan Jin di dada kananku dengan sedikit menurunkan kerah kaos oblongku.


Fei terlihat tak bisa berkata apa-apa dan melongo tak percaya.


“Jadi nona Lu Feiyue... silahkan pergi dan jangan ganggu suami saya lagi eum?” Aku menyarankan padanya.


“Kau...” Fei sepertinya benar-benar tengah emosi.


“Bu, Bapak menunggu anda.” Sebuah suara mengejutkan kami sehingga aku menoleh ke arah suara itu. Ternyata pak Huang sudah berdiri di dekatku. Sepertinya dia disuruh Jin untuk menjemputku, mungkin takut aku akan tersesat di gedung yang serba penuh dengan pengaman ini.


“Baiklah... sepertinya aku harus menemui suamiku dulu. Dan.... aku istrinya, tentu saja aku mendapatkan akses masuk ke sana.” Ucapku mengejek tentu saja dan tak lupa mengedipkan mataku padanya sehingga membuatnya semakin gusar.


Aku dan pak Huang berjalan pergi meninggalkannya di lobi.


“YA ....!!!! KAU! DASAR PENDEK!! AWAS SAJA... TUNGGU PEMBALASANKU!!!” Fei berteriak sehingga membuat semua orang yang berada di lobi menoleh padanya, tapi tidak denganku dan pak Huang yang terus saja berjalan


 


meninggalkannya.


****