
Akhirnya mobil Jin memasuki halaman rumahnya. Kami pun melepas sabuk pengaman secara hampir bersamaan. Dengan tertatih, aku membuka pintu terlebih dahulu kemudian beranjak keluar perlahan dan menarik napas lega setelahnya.
Tapi kemudian aku menjadi takut kembali setelah kembali teringat jika aku telah menikah. Yang tentunya, ketika kami tinggal bersama orang tua atau pun mertua kami akan tidur di tempat tidur yang sama.
Tidak. Aku tak bisa membayangkannya. Tapi besok mertua akan berangkat ke luar negeri. Jadi... aku bisa lega.
Jin keluar dari mobil sembari memegangi punggungnya yang terlihat masih sedikit kesakitan. Tentu saja... karena aku begitu keras jatuh di atasnya. Namun, sepertinya setimpal denganku. Pangkal pahaku juga terasa sakit meskipun tidak separah Jin.
Meskipun begitu, Jin masih sanggup mengambil barang-barang kami dari bagasi.
"Aku bantu." Ucapku sembari perlahan mendekatinya.
"Tak perlu... hanya sedikit." Ucapnya sembari melemparkan senyum ke arahku.
Aku terdiam kemudian dan hanya mengekor di belakang Jin pada akhirnya.
“Kami pulang.” Ucap Jin setelah memasuki rumah dan disambut oleh ayah dan ibunya.
Tak ada penyambutan khusus hanya mereka berdua memeluk kami bergantian dengan mimik begitu ceria.
“Benar-benar aura pengantin baru ya sayang?” tanya ibu mertua pada ayah mertua setelah memeluk kami.
Sedikit bertanya-tanya di sini. Memang aura pengantin baru seperti apa sih sebenarnya? Kenapa orang tua selalu mengatakan akan hal itu kepada pasangan baru? Apakah pengantin baru memang mempunyai aroma tersendiri? tapi kenapa aku tak bisa membaunya?
“Kalian terlihat sangat kelelahan sekali?” Tanya ayah mertua dengan senyum anehnya.
“Eoh... lelah sekali.” Ucap Jin sembari berjalan beriringan bersamaku menuju kamar lesu.
Aku merasa tak nyaman dengan ibu dan ayah mertua yang terus memperhatikan gerak gerik kami dengan saling melemparkan senyum aneh.
"Jin..." Aku menarik-narik lengan Jin sembari menoleh ke arah ayah dan ibu mertua yang terus menatap kami bahkan sampai kami masuk ke kamar mereka masih terus memperhatikan.
"Eum? kenapa??" Tanya Jin heran sembari meletakkan barang-barang kami di atas tempat tidur.
Tapi kemudian aku merasa tak enak menanyakannya karena mereka orang tua Jin.
"Ah... tidak." Aku kemudian menggeleng dan tersenyum canggung padanya.
Aku masih berdiri di depan pintu yang tertutup merasa sungkan untuk masuk.
Jin kemudian menatap ke arahku dan tersenyum tipis.
"Kau sedang apa di sana?" Tanyanya dengan terkekeh pelan.
"Apa.... apa kita akan tidur di kamar ini?" Tanyaku tiba-tiba.
"Ya... ini kamarku. Kenapa???" Jin balik bertanya heran.
"Aah... tidak. Tidak apa-apa." Jawabku dengan senyum canggung.
"Jin... ayo ajak istrimu makan." Teriakan ibu terdengar sampai kamar.
"Ayo kita makan. Berbenahnya nanti saja." Sarannya sembari menarik tanganku menuju meja makan.
Tapi setelah sampai di dapur, makanan belum siap sehingga aku sedikit membantu ibu mertua. Sedangkan Jin dan ayah bercengkerama di ruang makan.
Gerak gerikku terus saja diperhatikan oleh ibu mertua. Mulai dari cara berjalan, memasak dan semuanya. Padahal aku berjalan agak sedikit tidak seperti biasanya karena pangkal pahaku, ligamennya terasa sedikit sakit.
Kami pun telah siap untuk makan malam bersama.
“Jin... bagaimana? Apakah sukses?” ayah mertua bertanya pelan kepada Jin yang hampir tak terdengar olehku.
“Maksud ayah apa?” ucapnya polos sambil menyuapkan makanan pada mulutnya.
Ayah mertua kemudian memberikan kode yang tak ku mengerti.
“Uhuk...uhuk...” Jin langsung tersedak setelah memahami maksud ayahnya.
Aku yang melihat Jin terus menerus terbatuk-batuk dengan sigap mengambilkannya air dan menepuk-nepuk punggungnya pelan.
“Tentu saja Ayah.” Jin melirikku sekilas setelah menjawab pertanyaan ayahnya dengan tersenyum canggung dan meneguk minuman pemberianku.
“Bagus!!! Itu baru namanya anak ayah. Pantas saja punggungmu sampai sakit seperti itu.” Ucap ayahnya senang sembari menepuk pundak Jin bangga.
Jin menoleh ke arahku sebentar kemudian tertawa juga. Tapi tawanya sedikit canggung. Aku sama sekali tak mengerti apa yang mereka bicarakan. Ibu Jin yang mendengar pembicaraan itu pun ikut tertawa senang dan berkedip ke arahku memberi kode.
Tunggu! Apa keluarga ini penuh dengan kode-kode rahasia seperti ini? Sepertinya aku juga harus belajar bahasa kode kekuarga ini agar mengerti apa yang mereka bicarakan.
“Nak... sebaiknya kamu minum pereda nyeri. Menurut pengalaman pribadi, setelahnya badan akan terasa sedikit meriang dan tak nyaman.” Ucap ibu mertua kepadaku pelan.
Aku berpikir sejenak. Dan... WOW HEBAT sekali ibu mertua ini! Ibu mertua kenapa tau bahwa aku sedikit merasakan tak nyaman dengan tubuhku. Apa lagi hangover dan efek terjatuh tadi benar-benar membuatku sedikit meriang. Aku bersorak dalam hati.
Aku spontan tersenyum padanya dan mengangguk.
“Jadi... apakah sakitnya akan lama ibu?” tanyaku sedikit berbisik padanya dengan bersungguh-sungguh.
Jin merasa sangat aneh mendengar pembicaraan kami. Namun ayahnya masih sesekali tersenyum senang.
“Tidak... tidak kok. Mungkin setelah tiga atau empat kali semua akan baik-baik saja.” ucapnya sembari mengusap rambutku sayang.
Tunggu dulu. Tiga atau empat kali? Ini maksudnya aku harus meminum obat atau bagaimana? Aku masih belum mengerti arah pembicaraan kita. Ah mungkin benar tentang minum obat.
“Syukurlah... aku pikir akan lama.” Ucapku senang sambil menyuapkan makanan ke mulutku.
Namun kemudian Jin menatap ke padaku lama dengan senyum anehnya dan mengangkat alisnya memberikan isyarat membuatku kebingungan.
“Sepertinya... keinginanku untuk menimang cucu akan segera terkabul. Semoga aku bisa bertahan sampai sat itu.” Ayah mertua tersenyum senang.
Otakku tumben sekali loadingnya sangat lama. Aku masih belum mengerti arah pembicaraan ini sampai akhirnya...
“Uhuk... uhuk...!” aku tersedak karena terkejut menyadari akan sesuatu.
Jadi? Sedari tadi yang dibicarakan ayah dan ibu mertua adalah???? Malam pertama? Punggung Jin yang sakit? Ligamenku yang sakit? Aku baru menyadari kenapa semuanya tepat sekali seolah seperti orang baru saja melakukan malam pertama yang begitu menggebu-gebu. Apa mungkin begitu? Karena aku sendiri juga belum tahu dan tak berpengalaman akan hal itu. jadi ini asas praduga saja.
“Kenapa nak?” tanya ibu mertua khawatir bersamaan dengan Jin yang sigap mengusap bibirku dengan tisue karena makanan yang muncrat ke mana-mana. Sedangkan aku... bengong hingga akhirnya...
“Ccc... Cc... Cucu??” aku malah bertanya balik pada ayah mertua.
Dan semua tersenyum ke arahku kecuali Jin yang berpura-pura tak mendengarkan sesuatu setelah membersihkan bibirku.
***