
Perasaan menyesal kini benar-benar menyusupi relung hati Jin. Bagaimana tidak? kesan pertama yang seharusnya sangat berkesan dan menyenangkan, kini berubah menjadi sebuah mimpi buruk.
Ingin sekali rasanya Jin menjelaskan pada Mei, tapi mulutnya benar-benar serasa terkunci. Lidahnya seperti mati.
Mei terlihat sangat ketakutan. Jin meyakini pasti Mei mulai saat ini begitu membencinya.
'Aku harus melakukan sesuatu.' Gumamnya dalam hati.
Jin pun mulai berpikir apa yang seharusnya dilakukannya.
Di sepanjang kegiatan Jin terlihat sering melamun. Fei yang sedari tadi memperhatikannya kini memberanikan diri untuk mendekatinya.
"Jin... Apa kau baik-baik saja?" Fei duduk mendekati Jin. "Kau sepertinya dalam keadaan mood yang buruk sejak membentak siswi baru tadi." Dia mengimbuhkan dengan mimik yang kesal. "Memang siswi baru itu benar-benar tak punya otak atau bagaimana sih? padahal kan Aku sudah berbicara panjang lebar menjelaskan, tapi apa?? dia malah tak memperhatikan sama sekali." Fei mulai menyiramkan bensin di api yang kini tengah membara.
Mendengar perkataan Fei, Jin langsung menatap Fei tajam. Bersamaan saat itu, bel telah berbunyi menandakan waktu pengenalan sekolah telah selesai hari itu. Dan diberikan jeda istirahat sebelum kegiatan belajar dimulai.
"Fei... Aku paling tak suka kau menilai seseorang dengan pandangan buruk seperti itu. Belum tentu kau sendiri lebih baik dari dirinya. Jadi, jangan sekali-kali menghakimi orang lain seperti itu. Itu membuatku merasa muak." Jin kemudian beranjak pergi dan meninggalkan Fei dengan perasaan marah.
Fei tercengang dan tak bisa berkata apa-apa.
"Jin... aku... aku..." Fei berteriak ke arah Jin yang melenggang pergi. Namun sepertinya Jin tak menggubris sama sekali.
Masih merasa sebal, Jin berjalan menuju belakang sekolah berharap dengan melihat bunga-bunga di taman belakang sekolah perasaannya akan membaik.
Dia pun mulai duduk di sebuah bangku tua di sana. Dan menatap hamparan bung-bunga yang bermekaran.
"Mei itu perasaannya halus, dia mudah terluka, dia lebih suka mengalah meskipun begitu terkadang sikap egoisnya lebih mendominasi." Ucapan ayah Zhang terus terngiang-ngiang di pikirannya.
"Kenapa aku bodoh sekali?" ucapnya sembari meremas rambutnya kesal.
Namun, berikutnya ketika matanya menatap hamparan bunga di depannya dia seolah mendapatkan sebuah ide.
"Bunga? bukan kah paman Zhang pernah berkata kalau Mei sangat menyukai bunga?" Dulu pernah suatu ketika saat ayahnya dan ayah Zhang salin bertelpon, terdengar suara Mei yang tengah menangis meraung-raung karena taman di bukit kecil di belakang sekolahnya yang sangat menjadi tempat favoritnya digusur. Dia ingat akan hal itu juga.
Jin bergumam sendirian. Beberapa detik berikutnya senyum mengembang di wajahnya.
"Pintar kau Jin." Tawanya lirih memuji dirinya sendiri sembari berjalan ke arah sekumpulan mawar putih yang teramat sangat cantik.
Dengan senyum yang masih mengembang di wajahnya, perlahan Jin memetik setangkai bunga mawar putih itu.
Dia kemudian bergegas ke toko perlengkapan sekolah yang berada di ujung koridor.
"Bisa kau berikan aku sampul surat dan kertas warna pink untukku?" Dia meminta pada penjaganya.
Tidak langsung membantunya, si penjaga yang merupakan perempuan paruh baya itu malah menatap Jin bingung?
"Kau serius? untuk apa?" Penjaga itu bertanya balik pada Jin tak percaya.
Tentu saja. Jin, seorang presiden sekolah yang pendiam dan dingin dengan tiba-tiba membeli sampul surat dan kertas berwarna pink? Untuk apa? Bukankah dia terkenal sangat dingin dikalangan para siswi?
"Yang jelas aku sangat memerlukannya bi." Jin menjawab serius dengan wajah memohon.
Mata penjaga itu kemudian menatap setangkai bunga yang berada dalam saku celananya.
"Baiklah..." penjaga itu tersenyum kemudian mengambilkan beberapa lembar.
"Tapi.... bibi harus menjaga rahasia ini ok?" Jin meminta pada penjaga paruh baya itu sungguh-sungguh.
Penjaga itu kemudian mengangguk sembari tersenyum.
"Sepertinya presiden sekolah benar-benar sudah dewasa ya?" penjaga itu menggoda Jinyi.
"Aish... bibi ini." Jin menggaruk tengkuknya malu sebelum membayarnya dan pergi dari sana.
Jin tidak langsung kembali ke kelas, dia kembali ke taman sekolah yang berada di belakang dan mulai sibuk menuliskan sesuatu pada kertas yang baru saja dibelinya.
*Kosong...
Dan Hampa...
Aku terjebak dalam penjara hatiku sendiri...
Menangis meraung...
Tak ada yang peduli...
Gelap...
Dan pengap...
Aku terdiam menahan segalanya sendiri...
Dalam kerinduan...
Yang semakin hari semakin menyiksa dan menyakiti...
Hei Pelita!
Aku butuh kau...
Aku butuh petunjukmu...
Agar aku bisa membebaskan diri dari penjara hatiku...
Yang semakin hari semakin membunuhku...
Agar penjara ini berubah menjadi taman harapanku...
Maka... janganlah meredup...
Bersinarlah....
Dan terangilah hatiku...
Yang sangat membutuhkan cahayamu*....
Jin tak pernah menulis atau melakukan sesuatu yang puitis. Dia tidak yakin apakah kata-kata ini bisa menghiburnya atau tidak.
Tapi yang jelas, kata-kata yang dia tulis tersebut adalah kata-kata yang menggambarkan isi hatinya.
Cinta diam-diam bagaikan penjara dalam hatinya sendiri. Dia membutuhkan pelita yang menerangi penjara hatinya yang gelap nan sepi.
Jin berharap, Mei mampu memberikan pelita dalam hatinya sehingga dia tidak lagi terpenjara cinta dalam diamnya. Dan Mei akan berjalan bersamanya mengisi harapan masa depannya.
Setelah membaca yang terakhir kalinya, Jin kemudian melipat kertas itu dan memasukkannya ke dalam sampul surat yang tetap dia biarkan bersih tanpa tulisan apa pun.
Dengan degub jantung yang tak beraturan, Jin mulai mengendap-endap mendatangi loker Mei untuk memberikan surat dan setangkai mawar putih yang dia petik dari taman belakang sekolah.
Setelah berhasil meletakkannya, Jin langsung berlari secepat kilat meninggalkan jajaran loker itu dan kembali ke kelasnya.
"Kawan, ada apa denganmu?" Sapa teman sekelasnya yang merasa terheran-heran melihat Jinyi yang mengeluarkan banyak keringat dingin dan wajahnya sangat terlihat pucat.
"Tidak... Aku tak apa-apa." Ucapnya seraya menepuk-nepuk dadanya dan beberapa kali menarik napas dalam.
Melihat hal itu, temannya kemudian tertawa.
"Aku mencium bau-bau pembunuhan." ucap temannya seraya tertawa meledek.
"Kau ini, tutup mulutmu. Kau tau aku sangat gugup sekarang." ucap Jin dengan wajah kesal.
"Baiklah tuan muda Feng, aku akan tutup mulut." ucap kawannya kemudian sembari tertawa dan berjalan kembali ke bangkunya.
Jin sama sekali tak fokus pada pelajarannya. Dia bolak balik menatap ke arah jam di tangan kirinya.
Dia yang biasanya tak pernah menanti jam usai, kini dia berharap agar waktu cepat berputar. Dan waktu sekolah segera usai.
Kriiiiiiing.......
Akhirnya bel pun berbunyi, dengan segera Jin berlari ke luar kelas.
"Jin.... tunggu aku!" Fei berteriak namun Jin sama sekali tak mengindahkannya dan telah menghilang entah ke mana.
Fei pun berubah kesal.
Jinyi menghentikan laju kakinya ketika mendekati pot bunga besar di dekat jajaran loker. Dia mengendap-mengendap memperhatikan loker dari jarak yang cukup.
Perlahan seorang gadis mungil berambut sebahu yang mengalun-ngalun senada dengan langkah kakinya berjalan dengan pelan tanpa tergesa-gesa menuju sebuah loker di sana.
Deg!
Jantung Jinyi serasa seperti tersengat listrik ribuan volt yang menimbulkan efek lemas pada tubuhnya.
Dengan was-was Jin mengintai gadis mungil yang tak lain adalah Mei itu perlahan mulai membuka lokernya.
Terkejut.
Mei menoleh ke sana ke mari kemudian kembali melihat isi dalam lokernya.
Dengan pasti, Mei mulai mengambil kemudian membaca surat di kertas pink yang Jin berikan secara diam-diam.
Perlahan pula, senyum di bibir mungilnya mulai mengembang. Di raihnya setangkai mawar putih yang di sertakan bersama surat itu kemudian diciumnya.
"Tidak kah ini terlalu kekanakan dan sedikit berlebihan?" Mei tertawa lirih. "Tapi... meskipun begitu... aku menyukainya... cukup membantu meredakan moodku yang sedang buruk." ucapnya kemudian.
Melihat hal itu, Jinyi merasa senang tak terhingga kemudian berjalan pergi dari persembunyiannya meninggalkan Mei yang masih berkutat dengan perasaan senangnya.
Setelah kepergian Jinyi yang tak diketahui olehnya, Mei terlihat berjongkok dan menuliskan sesuatu pada sebuah kertas dibukunya.
Dengan senyum yang masih mengembang, mei merobek kertas di buku itu kemudian melipatnya dan memasukkannya ke dalam loker sebelum menutupnya.
"Siapa pun kamu... terimakasih..." Tulisnya singkat.
Mei pun akhirnya berjalan pergi dengan membawa surat dan sekuntum bunga mawar putih yang di dekapnya erat dengan senyum mengembang tipis di bibirnya.
***