
Sepertinya Jin memang tak bisa mengekspresikan apa yang dia rasakan, ketika dia tengah berhadapan dengan Mei yang ada dia hanya ingin membentak tak jelas.
Sebenarnya bukan itu yang ingin dilakukannya. Jin sendiri juga tak mengerti kenapa setiap berhadapan langsung dengan Mei dia tak bisa berbicara dengan lembut seperti biasanya. Sehingga membuat Mei benar-benar membencinya.
Dan pada suatu ketika Mei sudah berada di ambang kekesalannya.
"Ayah aku tak mau sekolah di sana." Mei menangis meraung-raung setelah pulang sekolah.
Kebetulan Ayahnya pulang bekerja lebih awal waktu itu. Kaget dan bingung ayahnya saling bertukar pandang dengan ibunya yang sama-sama bingungnya.
"Tapi kenapa sayang?" Ibunya terlihat khawatir.
"Pokoknya, Pindahkan aku... ke luar negeri kalau perlu. Aku tak mau bertemu dengan presiden sekolah jahat itu lagi." Mei semakin meraung bak anak kecil.
Tapi mendengar keluhan anak sulungnya ayah dan ibu Zhang malah tertawa geli.
Huan yang masih duduk di bangku dasar tingkat 3 sepertinya tak begitu peduli dengan kakaknya yang menangis meraung-raung. Dia terlihat menikmati buku komiknya acuh.
"Kan bisa diselesaikan dengan baik-baik? memangnya ada apa di sekolah? presiden sekolah kenapa??" Tanya ibu Zhang penasaran.
"Sepertinya.... presiden sekolah benar-benar tak menyukaiku ibu. Aku selalu salah di matanya. Aku melakukan kesalahan dia marah, dia bentak-bentak. Aku tak melakukakan kesalahan juga di bentak-bentak. Dan tadi... padahal aku jatuh, aku sakit, aku juga dibentak-bentak. Sebenarnya dia itu kenapa?? Dan lagi... ini namanya pembulian ibu. Dia selalu mengataiku pendek. Itu menyakiti harga diriku. Pokoknya aku mau pindah." Mei semakin kencang menangis.
"Bukankah kakak memang pendek? Kenapa marah ketika ada orang berkata kalau kakak pendek? itu kenyataan." Huan dengan acuhnya mengatakan hal itu sehingga membuat Mei semakin keras menangis.
Memang sepertinya genetik tubuh tinggi dari kedua orang tuanya menurun ke Huan semua. Melihat Huan yang masih duduk di bangku dasar tingkat 3 dia sudah mempunyai tunggi yang hampir sama dengan kakaknya.
"Ibu.... Huan membuly ku juga." Mei merengek.
"Sudah... Tak apa-apa kan? itu malah akan membuat mental anak ayah ini makin kuat, iya kan? seperti sebuah pisau, makin ditempa makin tajam." Bujuk ayah Zhang agar Mei berhenti menangis.
Namun, sepertinya tak semudah apa yang orangtuanya bayangkan. Mei sangat susah sekali dibujuk saat itu. Dia tak mau belajar sama sekali hingga malam sebagai protesnya yang menginginkan pindah sekolah. Dia hanya membaca novel hingga larut bahkan menjelang pagi akhirnya dia baru tertidur.
Akan tetapi, pagi harinya Mei tetap berangkat ke sekolah meskipun telah terlambat bangun.
Jin menaiki bus seperti yang biasa dia tumpangi saat akan berangkat ke sekolah. Dan Seperti biasanya pula, bus yang dia tumpangi akan berhenti di halte yang tak jauh dari depan rumah Mei. Tapi Jin sama sekali belum pernah satu bus dengan Mei karena Jin selalu menaiki bus perjalanan akhir yang berangkat setelah bus yang Mei tumpangi.
Namun kali ini berbeda. Saat bus mulai beranjak dari halte yang berada di dekat rumah Mei perlahan, Jin sedikit terkejut melihat seorang gadis mungil yang berlari melambai-lambai berusaha mengejar bus yang dia tumpangi.
Dengan Sigap, dia merapikan Hoodie dan maskernya yang telah sempurna menutupi wajahnya dan hanya menyisakan matanya saja. Jin kemudian berjalan mendekati pintu masuk yang berada di belakang bus.
"Pak Maaf, bisa pelankan Busnya? Temanku tertinggal." Ucap Jin kepada sopir bus.
Bus pun kemudian berjalan pelan sehingga Mei bisa mensejajari pintu masuk yang sudah dibuka kembali meskipun bus tengah berjalan. Dan sepertinya Mei sudah terlihat sangat kelelahan.
Greb!
Mei tampak terkejut dengan aksi spontan Jin. Atau mungkin... dia terkejut, karena bertemu kembali dengan pelajar yang membuatnya tak bisa tidur dengan baik.
Jantung Mei mulai berdegub dengan sangat kencang. Mei mulai merasakan gugup yang luar biasa.
Jin menarik napas pelan, mencoba mengontrol gugupnya sendiri.
Untung saja Mei tak tergelincir dan terjatuh saat dia menariknya masuk ke dalam bus. Coba saja kalau sampai Mei tak berhasil masuk. Pasti dia akan terjatuh dan resiko terkecilnya Mei akan patah kaki. Jin juga mulai mengagumi akan kemampuan keseimbangan Mei.
Hal yang tidak mereka sadari kini adalah, mereka kini berada dalam posisi berpelukan dalam keadaan berdiri di dekat pintu masuk yang sudah tertutup kembali.
Mei sepertinya lebih terkejut ketika dia menyadari bahwa Jin juga berhasil menjaga keseimbangannya sehingga mereka berdua tak terjerembab dan jatuh ke dalam bus.
Mata Jin yang benar-benar meneduhkan seperti sebelumnya kini membuat Mei kembali serasa terhipnotis olehnya.
“Terima kasih.” Ucap Mei pada Jin pada akhirnya dan berusaha melepaskan pelukan Jin setelah menyadari bahwa dia terlalu lama terpaku menatap Jin yang hanya terlihat matanya.
“Lain kali jangan sampai terlambat.” Ucap Jin dengan suara yang masih tak begitu jelas karena mulutnya tertutup masker hingga ke hidungnya.
Tapi sepertinya bukan karena tak jelas tertutup masker, tapi lebih karena gugup yang menyusupi dirinya.
Dia terus berdiri didekat Mei selama perjalanan sekolah yang sama sekali tak berani menatap mata Jin lagi. Hanya sesekali mencuri pandang saat Jin tengah asik memainkan ponselnya. Tentu saja wajahnya tak begitu kentara.
Sebenarnya Jin tau pasti jika Mei sesekali melirik ke arahnya. Karena jantungnya yang semakin berdegub kencang tak beraturan. Jin berpura-pura acuh, sembari memainkan ponselnya untuk mengurangi rasa gugupnya.
Setelah kejadian itu, Mei berpikir. Jika dia pindah ke sekolah lain, mungkin dia tak akan pernah bertemu lagi dengan pria berhoodie yang tak lain adalah Jin. Dia pasti akan sangat menyesalinya. Sejak saat itu pula, Mei tak lagi mengeluh tentang presiden sekolah yang terus membulynya. Dan selalu bersemangat berangkat sekolah meskipun tak selalu bertemu dengan pria berhoodie.
Bus pun telah sampai di halte dekat sekolah, semua berdesakan untuk segera turun. Dengan cepat Jin beranjak turun terlebih dahulu karena tau Mei tengah mengamatinya.
Dan benar saja, Mei berusaha mengejarnya setelah berhasil turun. Bak kilat Jin berlari dan menyelinap di balik rerimbunan bunga taman yang tinggi. Di balik persembunyiannya, Jin mulai mengintip Mei yang terlihat celingukan mencari ke mana arahnya berjalan pergi dengan wajah kecewa.
Senang. Jin tersenyum senang dalam persembunyiannya melihat ekspresi Mei yang menurutnya langka.
Hari demi hari telah berganti. Tak terasa Hari kelulusan telah tiba. Dan dengan berat hati Jin memberikan surat kaleng yang terakhir kemudian diletakkannya dalam loker Mei seperti hari-hari sebelumnya.
Dan setelah itu Jin langsung kembali ke rumah tanpa menunggu dan melihat ekspresi Mei untuk yang terakhir kalinya sebelum dia meninggalkan sekolah. Karena menurutnya, itu akan menyakiti hatinya.
***