WE GOT MARRIED

WE GOT MARRIED
Chapter 22 MESUM



Drt.... Drt....


Ponselku begetar menandakan ada sebuah panggilan masuk atau sebuah alarm. Aku yang mendengarnya samar-samar dengan segera berusaha untuk membuka mata.


Kaget. Aku tengah memeluk Jin erat di atas tempat tidur. Dé javu? Apakah aku pernah mengalami ini sebelumnya? Ini benar-benar seperti sebuah dé javu.


Jin menggeliat membuatku spontan geragapan dan beranjak duduk. Namun aku sedikit terhuyung merasakan pusing yang teramat sangat. Kepalaku benar-benar terasa pening.


Ku jambak rambutku berusaha mengurangi rasa pening yang melanda.


"Sudah bangun?" Tanya Jin sembari beranjak duduk dan memijati dan meregangkan lengan kanannya yang tadi telah aku gunakan sebagai bantal. Sepertinya kram.


Setelah aku merasa lebih baik, aku menarik napas panjang dan mencoba bertanya padanya ragu-ragu.


“Bu...kankah kita..? emm... kk...kau...?” namun pertanyaanku malah terdengar tak jelas karena aku bingung dan malu.


Gugup tentu saja. Dia menatap aneh padaku.


Beberapa detik kemudian, dia spontan menoyor kepalaku hingga kepalaku sedikit terhentak kebelakang.


"Ahhh...." Aku memekik pelan kemudian mengusap-usap bekas toyoran tangan Jin yang sangat kuat.


“Kau tak ingat?? semalam kau minum banyak sekali, setelah itu meracau tak karuan. Setelahnya kau memelukku sambil menangis memanggil ibu, ibu mertua, terus siapa lagi temanmu... dan setelahnya... kau muntah padaku. Kemudian kau malah mendorongku dan jatih tertidur dengan saaaangat pulas di atasku. Kau masih tak ingat??? Ahh... benar... Pagi ini kau malah menarik dan memelukku semakin erat dan...”


“CUKUP!” aku berteriak histeris.


Bingung... kemudian aku mencoba mengingat. Jadi... tadi setelah aku mencium feromone aku tertidur lagi bukannya terbangun? Pantas saja dia membuka singletnya. Ternyata karena aku muntah padanga.


Terus.... yang tadi??? Jadi... ciuman selamat pagi.... itu... hanya sebuah mimpi? Di kamar mandi juga mimpi? Sontak aku langsung ternganga menyadari ke mesumanku. Namun detik berikutnya aku semakin tersadar dan spontan membekap mulutku sembari membelalakkan mata.


Malu. Aku sangat malu sekali. Bagaimana bisa aku jadi semesum ini??? apakah karena selama ini aku belum berdekatan dengan lelaki mana pun???


“Sudah ingat semuanya?” Jin bertanya dengan tatapan mematikannya.


Aku malu sekali dan langsung memunggunginya.


“Tunggu.... tadi kau bilang ‘kita?kau?’ apa maksudnya? Apakah kau memimpikan kita berdua... yang...???” dia bertanya dengan nada menggodaku yang membuat pipiku langsung terasa memanas.


“Tidak. Aku tidak..!” ucapku semakin tak berani bertatapan dengannya.


"Kkkkk..."


Kemudian ku dengar tawa Jin yang begitu pelan. Ya Tuhan... aku semakin malu padanya. Dasar aku ini. sebegini mau dijamah pria kah hingga aku bermimpi tentang hal seperti itu?


"Apakah seharusnya kita.... melakukan hal yang sama seperti dalam mimpimu??" Jin menanyakan suatu hal yang semakin membuatku ingin menghilang saja saat ini juga.


"Tidak... bukan... jangan.... Aku hanya... bermimpi kita telah pulang ke rumah itu saja." Ucapku mencari-cari alasan.


Sepertinya aku harus cepat-cepat pergi ke kamar mandi dan mengguyur seluruh badanku dengan air hangat agar otak kotorku kembali bersih seperti semula.


"A.... aku.... aku... Aku mau mandi dulu." Dengan perasaan gugup aku beranjak berdiri meninggalkan Jin tanpa memperhatikan apa pun dan bergegas ke kamar mandi. Namun...


“Uwa....” Aku berteriak kencang sekali saat kakiku menyaruk permadani dengan tak.sengaja karena aku tak memperhatikan apa pun.


Akhirnya aku jatuh terjerembab.


Akan tetapi ... tanpa di duga dan dengan gesitnya Jin menarik tanganku hingga akhirnya dia yang malah jatuh terjerembab.


Parahnya, aku malah terjatuh tepat di atasnya dengan posisi tengah memeluknya. Padahal... tadi seingatku, Jin masih duduk santai di tempat tidur. Tapi cepat sekali dia datang padaku?'Apa mungkin karena kakinya yang panjang itu?


“Ahhh....” rintihnya pelan kesakitan. Membuatku tersadar akan lamunan.


“Ya Tuhan... maaf... maafkan aku.” Dengan spontan aku yang tengah tengkurap di atas tubuhnya cepat-cepat segera berdiri.


Namun kemudian berjongkok kembali karena melihat Jin sepertinya punggungnya benar-benar merasa sangat kesakitan. Mungkin kalau dalam dunia medis bisa dikatakan bahwa otot punggungnya mengalami shock.


"Apakah kau baik-baik saja?" Aku berusaha membantunya untuk bangun.


“Kau.... Tubuhmu sangat kecil, tapi kenapa berat sekali.” Dia merintih tapi masih bisa menghinaku dengan nistanya.


Aku berat dia bilang? Hei... berat badanku hanya 42kg. Apakah ini berat??? aku benar-benar merasa sangat sebal dan kesal sekali.


Bugh!


Kupukul dia sekenanya kesal. Dia yang melihatku tengah kesal malah tersenyum senang.


"Arggh...." Tapi detik berikutnya merintih lagi.


“Makanya jangan menghinaku.” Ucapku padanya masih merasa sebal.


Tapi... meskipun begitu aku masih mencoba membantunya untuk berdiri lagi.


“Sini... pegang erat pundakku.” Aku meraih tangannya dan mengalungkannya pada leherku.


Dia pun melakukan apa yang aku sarankan. Dan aku pun mulai mengangkat tubuhnya.


GLUBUGH!


Karena dia yang lebih tinggi dan lebih berat dariku akhirnya kami kembali terjatuh. Dan kali ini aku yang terjatuh lebih dulu dengan kaki terbuka. Bisa dikatakan ini adalah split yang gagal.


“Aww...!” Aku meringis kesakitan.


Rasanya benar-benar sakit sekali. Kini Jin yang berbalik jatuh di atasku dengan kakiku yang tebuka. Tubuh Jin yang berat membuat tekanan pada pangkal pahaku seolah melakukan split hingga ligamenku terasa ngilu.


“Ya Tuhan... kau lebih berat. Ini sakit.” Ucapku dengan sedikit mendorong tubuh Jin.


"Maaf..." Ucapnya kemudian kembali berusaha berdiri dariku. “Aku seorang pria. Wajar jika aku sangat berat.” Ucapnya dengan menahan sakit namun tetap membantuku untuk berdiri.


Aku tertatih sangat kesulitan berjalan karena ligamenku yang terasa sakit, sedangkan Jin berjalan tertatih dengan memegangi punggungnya yang terasa sakit.


Kita kemudian duduk bersandingan di atas tempat tidur. Terdiam tak bersuara. Sesekali saling melirik dan menarik napas pelan. Canggung. Hingga membuat kami merasa salah tingkah.


 


***