
Sinar matahari pagi memaksa menerobos masuk melalui sela-sela gorden satin kuning pastel yang tertata rapi di jendela kamar. Angin semilir musim semi membuat gorden itu terlihat menari-nari kecil menyibak dan menutup dengan indahnya.
Aku mulai menggerak-gerakkan tubuhku lemah, mataku pun mulai mengerjap-kerjap meskipun masih enggan untuk membuka.
Seluruh tubuhku benar-benar terasa sangat letih sekali. Seprti baru saja naik turun gunung. Kurasakan ada beberapa bagian tubuhku yang terasa sedikit nyeri juga. Aku mulai merintih tertahan saat menggerakkan badanku.
Beberapa detik kemudian kesadaranku sepertinya mulai kembali. Hingga aku mau tak mau harus segera membuka mata meskipun rasanya masih sangat enggan dan ingin terlelap kembali.
Silau... Ketika perlahan mataku mulai terbuka, efek silaunya membuatku memicing dan sesekali mengerjap. Aku benar-benar tak terbiasa dengan silaunya karena aku tak biasanya bangun kesiangan seperti ini. Tanganku bergerak hendak mengucek mata agar pandanganku kembali sempurna.
Namun seseorang dengan lembut terasa memegang tanganku sehingga membuatku sedikit terkejut. Dan jantungku mulai berdebar lirih.
Ya Jin. Samar-samar Dia terlihat tengah bertempu pada salah satu sikunya dan tersenyum menatapku. Rambutnya yang biasa tertata rapi kini terlihat sangat berantakan sehingga membuat hatiku berdetak tak karuan.
Masih di tempat yang sama, di bawah atap yang sama dan dalam selimut yang sama. Saat kakiku terasa bersentuhan langsung dengan kakinya seketika aliran darahku serasa berhenti. Jantungku kembali berdebar.
Pandanganku telah kembali seutuhnya. Sekilas ku lihat tubuhnya yang bertelanjang dada karena separuhnya tertutup oleh selimut yang menyatu bersamaku. Sontak Pipiku langsung memanas tersipu-sipu.
“Selamat pagi istriku.” Sapanya lembut. Namun mampu membuatku terkejut dan tersadar akan sesuatu.
Segera Aku langsung menarik selimut sehingga menutupi wajahku. Sejak kapan dia terbangun dan terus menatapku seperti itu. Ini benar-benar sangat memalukan. Aku tak mampu membayangkan betapa kacaunya aku terlihat.
Dan lagi.... ingatan semalam kembali terngiang di pikiranku. Semalam.... Ya... aku... dan Jin.... Ya Tuhan.... Semalam?? Ahh... setelah tersadar aku benar-benar merasa sangat malu sekali.
Dia benar-benar tidak sadar jika terus menatapku seperti itu, akan membuat jantungku meledak karena berdetak dengan sangat kerasnya.
Ya Tuhan.... apa yang aku lakukan semalam. Aku merasa sangat malu sekali. Dalam selimut aku melirik tubuhku yang.... begitu polos tanpa apa pun. Aku hanya bisa menggigit bibir bawahku kemudian mencoba menahan malu.
Tapi yang lebih aneh... meskipun hatiku berdegub tak beraturan seperti sebelumnya Ada titik di mana hatiku merasa lega.
Terdengar suara Jin terkikik pelan.
“Istriku sayang apa yang sedang kau lakukan?” tanyanya kemudian.
Yang membuatku semakin malu dan tak berani membuka selimut. Bahkan bersuara pun aku tak berani. Menarik napas pun aku lakukan dengan perlahan.
Dia menyebutku ‘istriku’. Ini benar-benar seperti sebuah kembang api besar yang meledak di palung hatiku. Bisa membayangkan?
Sebenarnya... dia pernah mengucapkan kata ‘istriku’ sebelumnya. Namun kali ini sensasinya benar-benar berbeda. Senang tentu saja.
“Ayolah sayang.... kau tak perlu bersembunyi seperti itu. Apa kau tak ingat? Semalam kau begitu kencang sekali menjambak rambutku. Untungnya shampoo yang aku pakai adalah produk yang bagus, jadinya rambutku tak mudah rontok begitu saja.” Dia sedikit bercanda dengan berusaha menarik selimutku.
Aku masih berusaha keras mencengkeram selimut agar selimut yang menutupi tubuh hingga kepalaku tak terbuka.
Mendengar candaannya bukannya tertawa aku malah semakin malu.
Bagaimana tidak? Dia mengingatkanku pada kejadian semalam. Kejadian di mana aku menjambak rambutnya sekuat tenaga karena merasakan sakit untuk pertama kalinya. Aku bingung bagaimana harus mengkondisikan jantungku.
“Jangan menggodaku.” Akhirnya aku mengeluarkan suara parau.
Dan lagi aku terkejut. Suaraku kenapa? Ya Tuhan... bahkan suaraku sampai hilang.
Jin terdengar terkikik lagi mendengar suaraku. Tapi dia tidak berkomentar. Meskipun begitu, hal ini malah membuatku mengingat bagaimana bisa sampai suaraku hilang? Ini... ah... aku memejamkan mataku dan menggelengkan kepalaku pelan karena mengingatnya.
“Mungkin lain kali... kau harus memendekkan kukumu sayang. Kau tau... punggungku benar-benar terluka.” Ucapnya lagi sedikit menggoda yang mengingatkanku pada sesuatu lagi.
Lagi... Sesuatu yang menambah intensitas maluku. Bagaimana tidak. Semalam... aku benar-benar mencakar punggungnya begitu keras. Padahal aku tak pernah membiarkan kuku jariku panjang. Tapi apakah benar bisa membuatnya sampai terluka?
Aku juga ada luka di sana. Di tempat yang.... ah ini membuatku semakin malu. Bagaimana bisa???
Perlahan aku mulai menurunkan selimut hingga ke hidung dan hanya terlihat mataku saja. ku lihat Jin masih bertumpu pada sebelah sikunya dan tetap manatapku denga senyumannya yang masih mengembang.
“Aku juga sakit.” Ucapku parau. Sepertinya suaraku benar-benar hilang entah ke mana.
“Maaf....” ucapnya sembari membelai rambutku dengan sebelah tangannya yang tidak menumpu. “Mei... Terimaksih. Terimaksih karena telah memberikan kepercayaan padaku hingga aku semakin yakin..... bahwa aku... benar-benar mencintaimu...” dia mengucapkannya dengan sungguh-sungguh.
Jantungku yang semula bedegub tak beraturan, kini mulai normal kembali mendengar ungkapan Jin yang begitu menenangkan.
Aku menggelengkan kepalaku pelan. Kemudian memberanikan diri untuk perlahan menurunkan lagi selimut hingga sebatas leherku.
“Kau tau? aku bahkan berpikir bahwa aku telah gila dan menemui seorang psikiater karena dirimu.” Ucapku merajuk.
“Tapi memang benar kau gila kan? Gila karena mencintaiku.” Ucapnya tertawa penuh kemenangan.
Sehingga membuatku malu lagi dan hendak menutup wajahku dengan selimut lagi.
Namun sebelah tangannya yang sedari tadi membelai rambutku menahannya dengan gesit.
Jantungku yang sempat berdetak normal kini mulai berdetak tak beraturan lagi.
“Aku... sudah melihat semuanya. Dan memberikan jejak di setiap incinya. Jadi... kau tak usah malu padaku.” Ucapnya lembut sembari mengusap bibirku pelan dan hangat.
‘Tapi itu semakin membuatku malu Jin.’ aku berteriak dalam hati.
Cup...
Sebuah kecupan lembut namun hanya sekilas. Tapi sudah mampu membuatku terlena lagi.
“Aku mencintaimu.” Lirihnya.
Mendengarnya mengungkapkan cinta, serasa semilir angin menerobos memasuki relung hatiku.
Cup...
Lagi... dia menciumku sedikit lebih lama. Hingga membuatku merasa melayang di angkasa.
“Aku... benar-benar sangat mencintaimu Mei. Kau adalah sayapku... yang mampu membawaku terbang meninggalkan ranting-ranting pohon yang rapuh. Karena kau adalah sayapku yang Mampu membawaku terbang menemukan ranting pohon yang kokoh sebagai pijakanku. Ku mohon... jangan kau patahkan sayapku. Karena aku... benar-benar sangat mencintaimu.” Tatapan teduh dan suara beratnya benar-benar menyihirku. Seolah memberikan mantra kedamaian.
Aku merasa.... aku benar-benar sangat lega. Mungkin... karena aku sudah tak lagi menyangkalnya. Ya... menyangkal perasaanku yang sebenarnya.
Cup....
Ku raih tengkuknya dan ku cium dia dalam. Kali ini aku benar-benar sudah mulai berani mengambil inisiatif.
“Tidak hanya kamu... aku juga sangat mencintaimu Jin. Kau telah membuatku seperti ini, Kau telah menarikku ke dalam candumu. Jadi... jangan buat aku sakau karena kehilanganmu. Dan aku... tak akan membiarkanmu kehilangan sayapmu. Karena aku juga sangat mencintaimu.” Akhirnya aku menyatakan cinta.
Mungkin semalam hanya tindakan saja yang terjadi, namun kali ini... aku benar-benar telah berani mengucapkannya. Berani menyatakannya. Berani mengutarakannya. Walau hatiku berdebar-debar. Akhirnya aku mampu berkata jujur padanya. Lega. Itu yang ku rasakan.
Perlahan senyum mulai mengembang di bibir kami. Dan lagi... sepertinya... Pagi ini akan kami awali dengan membakar kalori.
***