WE GOT MARRIED

WE GOT MARRIED
Chapter 45 BERENANG DI ANTARA DUA KUTUB (part I)



Setelah satu minggu dari pertemuan dengan pihak Bright Cosmetics akhirnya hari ini disepakati bahwa pengambilan iklan akan dilaksanakan minggu depan. Kami juga telah menghubungi pihak ambassador dan mereka bilang tidak ada jadwal saat itu.


 


Jadi aku dan Ling tengah sibuk-sibuknya. Sampai kami tak ingat bahwa waktu makan siang telah terlewat.


“Xiumei... istirahat dulu sejenak. Ini aku bawakan makanan.” Manager Wang mendekati mejaku kemudian memberikan kantong plastik yang berisi kotak bento. Aku hanya menatapnya tak mengerti.


“Tenang saja... Lingfei juga sudah aku beri.” Manager menjawab pertanyaanku yang tak terungkap.


“Ahhh... terimakasih manager.” Ucapku padanya kemudian melanjutkan kegiatanku.


Manager Wang menatap layar monitor yang tengah aku kerjakan. Kemudian dia mendekat.


“Mei... sepertinya kau melupakan sesuatu.” Ucapnya kemudian langsung memegang tanganku yang tengah memegang mouse. Tidak sebenarnya dia ingin memegang mouse itu. Namun tanganku masih ada di sana.


Aku langsung tersentak. Gugup tiba-tiba langsung menjalariku. Manager Wang sangat dekat sekali. Hingga aku mampu mencium aroma maskulinnya.


Ini tidak benar. Aku harus segera memperbaiki kondisi ini.


“Sudah.” Ucapnya kemudian melepaskan tanganku dan mouse yang tadi dia pegang.


“Te... terima kasih manager.” Ucapku sedikit gugup kemudian sedikit menarik diriku darinya sehingga tidak terlalu dekat seperti tadi.


“Um... makanlah. Aku tak mau kau sakit karena terlambat makan.” Ucapnya tersenyum ramah. Yang hanya ku balas dengan anggukan. Dia kemudian berjalan meninggalkan aku di mejaku sendirian.


Hufh...” Aku langsung menghela nafas panjang.


Kemudian kembali mengerjakan tugasku sendirian dengan sesekali membuka-buka beberapa berkas-berkas hasil cetak dan membolak-balik halaman pada tablet.


Tak terasa hingga waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Namun pekerjaanku belum selesai juga.


“Mei... sepertinya kita benar-benar harus lembur malam ini.” Ling mendekati mejaku dengan membawa berkas yang baru saja dia cetak untuk diberikan padaku.


“Aku rasa juga begitu.” Ucapku sedih sembari meneliti berkas yang Ling berikan. “Ling bukankah ini seharusnya kau perjelas?” Aku menunjukkan bagian yang harus diperbaiki Ling.


“Mana?” Ling mendekat dan melihat arah balpoinku yang menunjuk bagian yang masih terasa kurang. “Ahh.... aku mengerti.” Ucapnya kemudian sembari mengambil berkas itu dariku dan dibawanya lagi menuju mejanya.


Aku rasa aku harus memberi tahu Jin bahwa aku akan pulang larut malam ini.


Aku membuka sambungan telfon yang terhubung dengan Jin.


“Jin... Maaf aku tak bisa pulang tepat waktu hari ini. Pekerjaanku benar-benar harus selesai hari ini.” Ucapku dengan nada sedih.


“Kau bersama siapa? Apakah tidak bisa di bawa pulang ke rumah?” Jin juga terdengar sedikit lesu.


“Tidak, malam ini juga aku harus menyerahkan hasilnya. Tenang saja sayang... aku bersama Ling dan manager Wang.” Ucapku memberi tahu.


“Apa??? Manager Wang?” dia terdengar sedikit terkejut.


“Tak apa, Ling juga ada kok.” Aku mencoba menenangkannya.


“Baiklah... aku boleh ikut menemani?” Dia bertanya, sepertinya begitu khawatir padaku.


“Apa kau tak lelah?” tanyaku memastikan.


“Tidak... aku akan datang menemanimu.” Ucapnya seraya menutup panggilan telfon.


Sudah jam setengah sembilan dan ini sudah menjelang malam. Akhirnya pekerjaanku selesai juga. Tapi Jin tidak kunjung datang.


“Ayo kita makan malam dulu.” Suara manager Wang terdengar begitu lantang karena ruangan yang sudah sangat lengang, hanya ada aku dan Ling saja yang tersisa di sana.


“Baiklah.... Ayo!” Ling begitu bersemangat. Aku yang melihat Ling begitu bersemangat ikut menyetujui pada akhirnya.


“Bagaimana kalau kita makan hotpot di ujung jalan sana?” Ucap Ling mengusulkan.


“Umm.... sepertinya terdengar enak.” Manager Wang berpikir sejenak. “Baiklah.. ayo kita ke sana.” Ucapnya kemudian.


Aku hanya terdiam dan tersenyum hambar karena aku sudah sangat merindukan Jin.


Kami akhirnya telah keluar dari lift dan berjalan di koridor. Di sana ada seseorang yang tengah duduk di salah satu sofanya dengan terlihat membolak-balik halaman pada tabletnya.


Melihatnya aku begitu sangat kegirangan.


“Jin....” Aku berlari mendekatinya.


Aku sama sekali tak memperdulikan manager Wang dan Ling yang tengah memperhatikanku.


“Apa sudah selesai?” Jin berdiri menyambutku kemudian mengusap rambutku sayang.


“Hu um...” Aku mengangguk. “Aku pikir kau tak datang.” Ucapku dengan sedikit merajuk.


“Aku juga baru saja datang sayang... Karena tadi juga ada sedikit masalah yang harus diselesaikan.” Ucapnya menjelaskan.


Kemudian Jin menyadari kehadiran manager Wang dan Ling yang kini tengah berada di belakangku. Mereka saling beradu pandang. Sunyi. Hingga aku dan Ling merasa jika hawanya sangat tidak menyenangkan.


“Ah... manager, Ling... aku rasa aku pulang saja. kalian makan tanpa aku tak apa\-apa kan?” Aku mencoba mencairkan suasana dan tak ingin bergabung dengan makan malam mereka.


 


Tentu saja, karena aku ingin makan malam berdua saja dengan Jin.


 


“Tetapi kau masih mempunyai janji makan malam bersamaku.” Ucap manager Wang terasa dingin dan tanpa menoleh ke arahku. Masih tetap saling beradu pandang dengan Jin.


Ahhh... ini tidak benar, kenapa manager wang mengungkit masalah itu. Dia pekerja keras sekali. Kenapa hanya makan malam saja dia menagihnya seperti aku tengah berhutang beberpa miliar saja.


Jinyi tak terkejut sekalipun. Sedangkan Ling, dia terlihat sangat tak nyaman dan begitu gugup.


“Ahh.... manager... bagaimana kalau makan malamnya lain kali saja. sepertinya aku harus segera pulang.” Ling mencari alasan karena merasa takut dan tak mau ikut campur dengan apa yang terjadi sekarang.


“Bye... “ Ling melambai kemudian berlari pergi. Aku memberikan isyarat agar dia menolongku tapi dia menjawab isyaratku dengan bergaya seolah menangis setelah berada jauh dari kami.


Dasar Ling teman yang tak bisa di andalkan. Dia kabur begitu saja. aku harus bagaimana? Situasi ini benar-benar menakutkan.


“Baiklah... Mari kita penuhi janji makan malam.” Jinyi berucap dingin.


 


***