
Ibu belum pulang juga, padahal ini sudah sangat larut malam. Huan juga baru saja mengirimkan pesan singkat bahwa dia akan menginap di rumah Haoming.
Dan sepertinya diluar akan turun hujan karena gemuruh guntur mulai terdengar bersahutan.
Akhirnya selesai juga aku membersihkan dapur, sehingga aku pun bernjak ikut Jin menonton tv di ruang tengah.
Kami duduk dalam satu sofa namun berjauhan. Aku duduk di ujung satunya dan Jin di ujung satunya. Canggung. Hawanya terasa berbeda sekali saat berdua dengannya dalam mobil dan saat berdua dengannya di rumah tanpa siapa pun.
Kami menghela napas berat bergantian. Sepertinya dia pun sama tegangnya denganku. Yakin. Kami seolah tengah berada di sebuah medan perang dengan musuh lima kali lebih banyak dari pada pasukan kita. Ini sangat menegangkan.
Di luar sepertinya hujan sudah mulai turun, karena aku sudah mulai mendengar suara air jatuh ke tanah.
Sesaat ku lirik Jin yang masih melihat tv dengan memakan camilan ringan yang aku ambilkan setelah aku selesai mencuci piring. Karena dia tengah menikmati camilannya, tanpa pikir panjang ku raih remote tv yang berada di depannya dan mulai memindah-mindah salurannya.
Tak ada acara yang menarik sama sekali.Aku mulai jenuh. Tapi sepertinya Jin tak protes sama sekali perihal salurannya yang selalu aku gonta ganti.
Tiba-tiba kami begitu terkejut saat aku memindah saluran tv yang terakhir kali. Chanel yang aku pilih tepat sekali dengan tayangan jam malam yang menampilkan adegan dewasa sebuah drama.
Aku terkejut dan Jin tersedak secara bersamaan. Karena saking terkejutnya spontan remote tv yang ku pegang terjatuh ke lantai.
Sedangkang adegan dalam tv itu semakin menjadi-jadi membuat kami benar-benar panas dingin dibuatnya.
Aku sangat kebingungan. Dengan geragapan aku mencoba mengambil remote tv yang terjatuh dan ingin cepat-cepat memindah saluran tersebut. Sayangnya, saking gugupnya sekeras apa pun aku memencet tombolnya, salurannya tak berubah. Lama aku berusaha, sampai akhirnya aku berhasil memindahkan saluran. Dan Suara adegan dewasa yang semula memecah keheningan kini telah tiada. Dan seketika kami semakin canggung.
Wajah kami memerah menahan malu satu sama lain. Ini benar-benar di luar dugaan. Kami terdiam berkutat dengan pikiran masing-masing.
Bagaimana ini?? Reputasiku sebagai gadis baik-baik akan kah tercoreng???
“Aa... a... aku... ambil air minum dulu.” Aku grogi tak karuan sembari beranjak berdiri.
“Eoh...” Jin mengiyakan tanpa menoleh dengan suara pelan dan parau, terdengar sangat tegang dan gugup.
Aku langsung beranjak ke dapur. Sebenarnya adalah karena aku ingin bersembunyi dan bukan karena ingin mengambil air minum.
Aku benar-benar bodoh sekali. Kenapa aku bisa sampai tak ingat bahwa pada waktu jam malam akan ada drama dewasa seperti itu yang diputar. Dan lagi... di rumah ini tidak ada orang lain dan hanya kami berdua.
Tidak. Bagaimana ini??? Aku semakin gugup dan tegang membayangkan sesuatu yang tidak-tidak.
Aku menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya melalui mulut mencoba menetralkan degub jantungku yang tak karuan.
“Aku pulang!” suara ibuku terdengar bersamaan dengan pintu terbuka. Bersamaan itu pula aku melompat kegirangan di dapur.
Lega. Akhirnya.... Aku tak perlu merasa cemas.
Dengan cepat aku mengambil minuman dan pergi menemui Jin lagi.
“Kenapa ibu lama sekali?” tanyaku padanya setengah merajuk.
“Di sana hujan deras sekali... jadinya ibu menunggu sedikit lebih reda. Eh, sampai di sini ternyata hujannya tak begitu deras. Seharusnya, tau begini ibu menerobos hujan saja.” Ibuku menjabarkan alasannya.
Jin kemudian beranjak berdiri.
“Karena ibu sudah pulang sebaiknya aku juga pulang karena sudah larut malam.” Jin berpamitan. Dan ini membuatku sangat senang juga tentunya.
“Eh... kenapa pulang? kenapa tidak menginap di sini saja? Ini sudah sangat larut nak.” dengan tampang tak berdosanya ibuku meminta pada Jin, agar dia mau menginap di rumah.
Dan ini membuatku tercengang.
“Apa???” aku meyakinkan pertanyaan ibuku.
“Iya... biar nak Jin menginap di sini saja. Sudah larut.” Ibuku memperjelas.
“Tidak boleh bu.... kita belum sah. Tak baik kalau dia menginap di rumah.” Aku mencari alasan.
Mataku melirik Jin sekilas dan dia hanya tersenyum tipis menanggapi penolakanku.
“Benar bu, nanti saja menginapnya kalau kami berdua sudah sah menjadi suami istri.” Jin malah menggodaku dengan memberikan penekanan pada kata suami istri sehingga membuatku merasa malu tentu saja.
Pipiku benar-benar terasa panas saking malunya.
“Ya sudah kalau begitu. Toh lusa kalian juga sudah bersama.” Ibuku tersenyum senang.
DEG!
"A... apa???" Aku terkejut.
Dan aku hampir lupa.. atau bahkan benar-benar telah lupa. Bahwa masa lajangku tinggal besok saja. Rupanya cepat sekali waktu berlalu.
"Kenapa terkejut begitu?" Ibuku menyelidik.
Aku hanya terdiam kemudian.
“Baiklah... saya permisi dulu.” Jin berpamitan pada ibuku sopan.
Aku mengikutinya berjalan sampai depan pintu rumah dengan linglung, perasaanku kacau.
“Jin....” aku memanggil Jin yang akan membuka pintu.
“Hm???” Jin menoleh.
“Emmm..... pernikahan kita... tidak bisa kah ditunda lagi?” aku memelas padanya dengan harapan permintaan ku dikabulkan. Tapi rasanya ini mustahil. Persiapan telah selesai semuanya.
“Keluarga kita sudah menyiapkan semuanya. Dan lagi... ayah akan berangkat hari berikutnya. Aku rasa kita tidak akan bisa menundanya lagi.” Jin menjawab kalem. “Aku pergi.” pamit Jin seraya mengusap rambutku beberapa kali sebelum dia benar-benar pergi.
Hari pun sudah pagi. Aku sama sekali tak berhasrat apa pun. Bahkan aku merasa tak berhasrat untuk sarapan. Nafsuku semua menghilang.
Kali ini Jin tidak menjemputku karena ada pertemuan pagi di kantornya. Jadi aku memilih berjalan kaki lagi untuk menuju kantor.
Sesampai di kantor mataku melihat manager Wang dari kejauhan yang tengah berdiri di lobi.
'Tidak... aku harus menghindarinya. Ini bencana.' Aku terus saja menggerutu dalam hati.
“Ya... calon pengantin!” Ling mengejutkanku.
“SSSt...” aku memberi isyarat Ling agar berbicara pelan. Ling pun tersadar dan membekap mulutnya sendiri.
“Maaf... keceplosan.” Ling tertawa kemudian. “Nanti... sepulang dari kantor, kita pesta lajang ok?” Ling bersemangat.
“Tak mau...” aku merasa akan menangis mendengar kata pesta lajang.
“Aduh.... ini anak. Apa mau aku gantikan pernikahannya?” Ling malah meledek. “Aku sih suka sekali... apa lagi tiap hari aku dapat melihat pangeran tampan dengan tubuh sempurnanya. Ah aku bisa mimisan memikirkannya.” Ling meracau tak karuan dengan khayalannya yang terbang ke awang-awang.
“Hhhh...” aku mendesah panjang. “Aku rasa otakmu perlu dicuci pakai detergen.” Aku menoyor kepalanya.
“Ish...” Ling mendengus sebal. “Pokoknya nanti malam kita pergi ke karaoke ok? Kapan lagi kita akan pergi berdua setelah kamu menikah?” Ling tiba-tiba menangis.
Melihatnya menangis seperti menghancurkan hatiku. Dengan sigap kurengkuh dia dalam pelukanku yang membuatku merasa ingin menangis juga.
Waktu benar-benar cepat berlalu. Aku dan Ling pergi ke tempat Karaoke di pinggiran kota yang agak jauh dari keramaian.
Pesta lajang yang biasanya diisi dengan foya-foya tidak berlaku untuk kami. Kami malah pergi ke karaoke dan menyanyi. Padahal lagu yang kami putar adalah lagu yang sangat ceria, tapi kami malah menangis meraung tak karuan saat menyanyikannya.
Dan besok... aku benar-benar akan menjadi istri dari seorang Feng Jinyi.
***