WE GOT MARRIED

WE GOT MARRIED
Chapter 39 MERAYU



“Jin...?” aku memanggil Jin yang sedari tadi semenjak pulang dari menjemputku hanya terdiam tak mengeluarkan sepatah katapun.


Sepertinya dia benar-benar sangat marah. Aku harus bagaimana??


“Sayang kau kenapa?” Aku mulai memanja dengan mendekatinya yang tengah duduk di ruang tamu tengah berkutat dengan laptopnya.


Sebelumnya, saat makan malam pun Jin hanya terdiam tidak berbicara sepatah kata pun. Dia benar-benar mengacuhkanku.


 


Apakah dia merasa cmburu? Mungkin demikian. Tapi aku sudah jujur kan? aku langsung berkeinginan untuk memperkenalkannya pada manager Wang tanpa menutup-nutupi hubungan kami. Akan tetapi manager Wang juga sulit sekali di tebak. Sikapnya juga sungguh aneh.


“Sayang... bicaralah... jangan diam terus-menerus seperti ini.” Aku gergetan dan langsung duduk dipangkuannya kemudian memeluknya begitu saja.


"Sayang.... lihat aku.... jangan seperti ini..." Aku merengkuh wajah Jin dan membuatnya menatapku, namun sedetik kemudian dia kembali menatap laptopnya.


"YA FENG JINYI!! Kenapa kau menikahiku kalau hanya mau mengacuhkanku?" Aku merasa kesal padanya.


“Hufh...” akhirnya dia mendengus kemudian mengalihkan perhatiannya dari laptop yang berada di atas Meja ke arahku yang Kini tengah bergelayut manja di pangkuannya.


Sebenarnya ini sangat memalukan sekali. Namun aku benar-benar tak punya cara lain selain merayunya. Aku benar-benar tak bisa diabaikan oleh Jin seperti ini. Aku tak mampu. Meskipun hatiku berdebar begitu kencangnya, aku harus mampu mengatasinya.


“Ayolah... bicara padaku. Apakah laptopmu lebih penting dariku???” Ku rengkuh wajahnya agar menatapku.


Kali ini aku merasa kesal. Dia masih juga diam tak bersuara dan hanya menatapku tajam. Baiklah.... mungkin aku harus mengeluarkan jurus yang lain. Aku berpikir sejenak.


Perlahan aku mendekatkan wajahku padanya dan mulai mencium bibirnya ringan. Namun dia tidak bergeming sedikitpun. Aku mencobanya lagi dengan sedikit bersemangat. Masih. Dia tetap terdiam tak bergeming. Dan sama sekali tak membalas ciumanku. Tak ada respon yang kuinginkan, akhirnya aku menyerah.


“Baiklah.... teruskanlah! Laptopmu lebih penting dariku, sebaiknya aku akan tidur saja. Selamat bekerja!” ucapku kesal sembari beranjak turun dari pangkuannya.


 


Namun...


 


Sret!


Dia menarikku hingga membuatku duduk di pangkuannya kembali.


“Cium aku sekali lagi.” Ucapnya sembari mengeratkan tangannya yang memeluk pinggangku erat agar aku tak beranjak pergi darinya.


“Tak mau.” Aku sudah sangat kesal padanya. Dan kini giliranku yang merasa marah dan harus mengacuhkannya.


“Sayang kau tau apa yang baru saja kau lakukan? Lihat ke sana.” Ucapnya sembari memberikan isyarat agar aku menoleh ke arah laptop di atas meja.


Akhirnya aku menoleh juga untuk melihat laptopnya. Tidak ada apa-apa. Hanya saja laptopnya berada dalam mode webcam yang non aktif. Aku menoleh kembali ke arah Jin.


APA??? WEBCAM? Aku langsung menoleh kembali ke arah laptop dan Jin yang terus memperhatikan gerak-gerikku dalam pangkuannya bergantian.


Lah... aku sedari tadi duduk di sebelahnya? Merayunya? Hingga aku bergelayut manja dipangkuannya? Kenapa aku tidak melihat ke arah Laptop sama sekali. Aku hanya fokus pada Jin. Aku berpikir dia tengah mengerjakan sesuatu dan tidak berpikir Jin berada dalam sambungan video.


“Ta...ta..tadi... kau dalam panggilan Video?” aku bertanya gugup dan malu menyadari betapa bodohnya aku.


“Menurutmu?” dia balik bertanya.


Ahhh.... Ya Tuhan... ini benar-benar memalukan. Aku menangkupkan tanganku menutupi wajahku karena benar-benar merasa malu. Aku tadi menciumnya? Bergelayut manja padanya. Dan ternyata dia sedang dalam panggilan video.


“Untungnya tadi hanya ayah dan ibu. Jika rekan bisnis ayahku bagaimana?” ucapnya lagi masih dengan nada gemas karenaku.


“Aa... ayah dan ibu?” aku geragapan semakin malu. “Kau bercanda kan? Sedari tadi aku mendekatimu tak ada suara sama sekali dari sana.” Aku menunjuk laptop sembari menggeleng tak percaya.


Tring....


Belum sempat Jin menjawab pertanyaanku ada sebuah pesan masuk ke ponsel Jin. Perlahan Jin meraih ponsel itu kemudian membuka pesan masuk tersebut. Dengan santainya dia menunjukkan pesan itu kepadaku yang masih berada di pangkuannya.


“Nak... kau lanjutkan dulu honeymoonnya. Maaf cameranya ibu matikan tiba-tiba. Ibu takut mengganggu kalian. Ayah berharap bisa sembuh serta sehat kembali dan bisa segera menimang cucu.” Sebuah pesan ku baca dengan seksama yang membuatku berdebar hebat. Kulihat pengirimnya, Ibu. Yang dimaksud adalah ibunya Jin.


Ya Tuhan, jadi tadi benar? Jadi mereka langsung terdiam saat aku datang duduk di sebelah Jin yang kemudian mulai merayunya? Jadi mereka benar-benar melihat aku yang... ahh.. Betapa memalukannya aku yang terlihat berhasrat sekali. Padahal maksudku tidak begitu. Aku hanya ingin merayu Jin yang marah saja. Aduh... semua menjadi sangat rumit.


“Sayang... jika orang lain yang berada dalam sambungan bagaimana? dikiranya kita sedang melakukan live porn streaming.” Dia menjelaskan apa yang tak ingin aku dengar dengan sedikit menggoda padaku.


Live porn katanya? Ya Tuhan... benar-benar malu sekali rasanya. Di depan mertua aku merayu-rayu Jin seperti itu?


“Salah siapa??? habisnya kau diam saja sedari tadi. Kau mengacuhkanku, sama sekali tak mengajakku berbicara. Ku pikir kau marah. Aku bingung, aku salah apa? Kau pikir ketika kau mendiamkanku seperti itu aku tak merasa takit?" aku cemberut dan kesal.


“Kalau aku benar marah bagaimana?” dia malah balik bertanya menggodaku.


“Ya sudah kalau mau marah, marah saja. Sekarang aku tak peduli. Aku mau tidur.” Ucapku kesal sembari mencoba melepaskan tangannya dari pinggangku yang mengunciku dalam pangkuannya. Namun tak bisa. Dia sangat kuat sekali.


“Kau pikir setelah membangunkan macan yang kelaparan kau bisa kabur begitu saja?” dia berubah sedikit kesal.


“Ma... macan????” otakku ini benar-benar. Kenapa selalu lambat loadingnya.


“Eoh. Kau membangunkannya.” Jin mengulanginya meyakinkan dengan menatap mataku lekat.


Apa maksudnya? Aku berpikir sebentar. Sedetik... dua detik.... tiga detik.... akhirnya Aku baru mengerti sekarang. Ma-can? Ya Tuhan.... aku begitu terkejut dan langsung membelalak melongo menatap Jin.


Melihatku begitu gugup Jin tersenyum kemudian mendekatkan wajahnya padaku.


“Tu...tunggu... jin... a... aku... aku ke kamar mandi dulu.” Aku berusaha pergi untuk kabur namun lupa jika tangan Jin berada di pinggangku memeluk erat.


 


Sudah beberapa kali melakukannya tapi kenapa aku masih gugup juga?


“Tidak usah... nanti saja kita mandi bersama.” Ucap Jin santai seraya mencium tulang selangkaku. Kemudian naik ke daguku dan....


Padahal awalnya aku hanya ingin merayunya agar dia tak marah lagi. Tapi... kenapa hasilnya melebihi target?


Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang panjang lagi bagi kami.


 


***