
Kami berempat berjalan dengan tergesa memasuki kantor polisi dengan perasaan yang bercampur aduk.
Terutama aku, aku merasa sangat gugup, khawatir, penasaran dan marah. Entah perasaan apa lagi yang ada aku tak bisa menjelaskan. Yang jelas semua perasaan itu berkumpul menjadi satu dalam diriku.
"Kau harus tenang." Ling menggamit lenganku sembari berjalan beriringan bersamaku.
"Eum..." Aku mengangguk padanya.
Jin dan Huan sudah berjalan terlebih dahulu untuk menulis daftar lapor.
"CEO Feng?" Seseorang menyapa Jinyi dari belakang sehingga membuat Jin menoleh ke arah suara.
"Aahh... Detektif Song!" Jin berbalik menyapa seorang pria berperawakan gagah berjalan mendekatinya.
"Mari kita bicarakan di ruangan saya." Ajak orang itu yang ternyata adalah seorang detektif.
Kami pun mengangguk menyetujui dan mengekor dibelakangnya mengikuti ke mana detektif itu berjalan.
"Kami telah berhasil mengidentifikasi pemilik mobil tersebut." Ucap detektif Song setelah kami duduk menghadapnya membuka pembicaraan.
"Jadi anda sudah mengetahui siapa pemiliknya?" Tanya Jin dengan membelalakkan matanya penasaran.
"Apakah itu Lu FeiYue?" Tiba-tiba aku melontarkan pertanyaan itu dengan perasaan kesal.
"FEI????!!!" Ling dan Jin menyebutkan nama itu secara bersamaan dengan mimik tak percaya.
"Siapa dia??" Huan terlihat bingung namun tak ada yang menjawabnya.
"Ya, dia adalah Lu FeiYue, berumur 27 tahun.Sepertinya anda juga sudah tau jika ini adalah sebuah pembunuhan berencana?" Tanya detektif Song menyelidik.
"Jadi itu benar Fei?" Jin masih tak percaya dengan apa yang dia dengar. "Aku tak pernah berpikir dia akan sejauh ini." Ucapnya kemudian menyesal.
"Sebenarnya waktu itu, aku tengah memergokinya saat bertemu dengan Yang Mi. Dan ternyata mereka yang bersekongkol akan menjatuhkanku waktu itu. Dan kali ini, mereka akan menjebak Jinyi. Karena itu aku langsung tersulut emosi dan menamparnya. Ahhh... Aku tak berpikir dia akan mencoba membunuhku dan akhirnya malah membunuh manager Wang." Ucapku menyesal mengingat kejadian itu.
"Apa???" Ling dan Jin terkejut kembali.
Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaan kaget mereka.
"Yang Mi???" Ling menyebutkan nama itu sekali lagi karena di benar-benar tak percaya.
"Jika di lihat dari CCTV dan cerita anda, sepertinya ini memang pembunuhan berencana dan salah sasaran karena tuan Wang Tian mendorong anda waktu itu." Detektif Song memainkan pulpen di mejanya. "Sepertinya ada sebuah dendam terselubung pada anda, apakah demikian?" Detektif Song menyelidik.
"Ya.... sepertinya dia sangat membenci saya sejak saya menikah dengan Jin." Aku mengiyakan pertanyaan detektif Song.
"Kalau begitu... semua bukti sudah ada, jadi seharusnya surat penangkapan sudah dibuat kan?" Jin bertanya serius.
"Sudah.... akan tetapi... masalahnya... Lu FeiYue telah melarikan diri. Tidak ada siapa pun di rumahnya. Kami telah kehilangan jejak karena mobilnya ditinggal begitu saja di depan rumah. Kami juga tak bisa melacak ponselnya. Tapi... jangan khawatir... kepolisian sudah dikerahkan untuk mencarinya, Foto dirinya juga telah di sebar. Kartu debit dan kartu kreditnya telah ditangguhkan oleh bank atas permintaan kami, Jadi... dia tidak akan pergi terlalu jauh karena kami telah memblokadenya dan pastinya, dia akan segera ditemukan." Detektif Song memberikan sebuah kabar yang kurang mengenakkan karena pembunuh manager Wang tak bisa segera ditangkap, namun juga memberikan sedikit kelegaan karena semuanya akan diatasi.
"Dia kabur?? Apakah ada kemungkinan dia kembali menemui istri saya?" Jin terlihat khawatir.
"Untuk itu kami tak berani memastikan." Detektif Song menjawab ragu. "Tapi nyonya Feng bisa mendapatkan pengawalan karena dia merupakan saksi kunci. Jadi, saya akan mengerahkan beberapa petugas untuk bergantian berjaga di rumah anda." Usulnya.
"Sepertinya itu ide yang baik. Saya akan merasa sedikit lebih tenang." Jin akhirnya menarik napas lega. "Kalau begitu kami permisi dulu." Ucap Jin pamit, kami semua pun beranjak berdiri.
"Baiklah.... kalau ada perkembangan kami akan segera mengabari anda dan keluarga." Detektif Song ikut berdiri menghormati kami.
"Terimakasih detektif." Ucapku kemudian beranjak pergi meninggalkan detektif Song yang menatap kepergian kami dengan senyuman perpisahan.
"Kenapa kau tak mengatakannya padaku?" Jin membuka pembicaraan setelah mobil mulai berjalan perlahan.
"Aku tak mau membebanimu. Toh semua dapat diselesaikan dengan baik. Ya kan Ling?" Aku mencoba menjelaskan.
"Iya... Mei itu tak selemah yang kau kira. Tenang saja." Ling meyakinkan.
"Tetap saja... aku sangat khawatir." Ucap Jin dengan alisnya yang mengerut bertautan.
"Itu kan sudah berlalu." Aku mencoba menjelaskan pada Jin.
"Tapi Mei.... Aku tak menyangka Yang Mi yang melakukannya." Ling penasaran.
"Yang Mi menyukai manager Wang." Aku menoleh ke arah Ling yang berada di kursi belakang bersama dengan Huan.
Ling sepertinya memahami kalimatku yang singkat itu. Dia pun kemudian membelalakkan matanya tak percaya.
"Wuuuahhhh.... pantas saja." Ling mengerti namun tak bisa menyembunyikan wajah terkejutnya.
"Waktu itu, Fei meminta sesuatu dari Yang Mi, kalian tau apa?" Aku bertanya pada semua orang yang ada di dalam mobil.
Semua mengernyitkan mata, berpikir.
"Uang?" Huan menebak.
"Tidak... Fei lebih kaya dari Yang Mi." Ucapku pada Huan.
"Opium?" Ling menebak dengan bersemangat.
"Terlalu jauh..." Jawabku.
"Memangnya apa?" Jin bertanya penasaran.
Mereka bertiga terkejut, tak mempercayai apa yang didengarnya.
"Bukankah aprodisiac itu obat perangsang?" Huan kembali bertanya dengan polosnya, maklum dia masih anak menengah atas meskipun sudah tingkat tiga.
"Untuk apa dia menginginkan hal semacam itu?" Jin masih belum mengerti kenapa Fei sampai membutuhkan hal itu.
"Untuk menjebakmu." Ucapku lagi singkat.
Ckiiiiiiitttt!!!!
Spontan Jin menginjak pedal gasnya karena kaget. Kami semua terkejut tapi tak sampai membuat kami terkantuk sesuatu.
"Sayang.....hati-hati." sebelah tanganku memegang dada dan sebelahnya lagi mengusap perutku yang menegang.
Huan dan Ling sudah tak berbentuk lagi di kursi belakang.
"Ya... ingat ada little Feng." Huan berteriak kesal ke arah Jin.
"Sayang jangan bercanda, untuk apa Fei menjebakku?" Jin mengabaikanku dan Huan yang mengkhawatirkan keselamatan, dia malah melotot tak percaya padaku.
"Aku tak bercanda, aku mendengar sendiri dengan telingaku bahwa dia ingin tidur denganmu." Ucapku menjadi kesal karena Jin menanyakan hal itu lebih detil. "Dia.... ingin tidur denganmu. Maka dari itu aku kesal dan langsung datang untuk melabraknya. Dan dengan kerasnya aku menampar pipinya. Masih tak percaya??? Aku ulangi sekali lagi. DIA INGIN KAU MENIDURINYA!" Aku setengah berteriak menjelaskan padanya.
Ling dan Huan terdiam tak berani bergerak bahkan untuk berkedip pun mereka tak berani.
"Untuk apa dia melakukan itu? Apa dia sudah gila???" Jin semakin kesal.
"Karena dia sangat menyukaimu. Sangat.... sangat menyukaimu.... makanya dia gila. Karena menyukaimu, dia tak mau kalau kau menikah denganku. Dan bagaimana caranya dia ingin kita berpisah. Aku membuang aprodisiacnya, maka dari itu dia berniat untuk membunuhku. Kau masih belum mengerti??? DIA INGIN TIDUR DENGANMU KARENA DIA SANGAT MENYUKAIMU." Aku kembali berteriak. Aku benar-benar berada di puncak kekesalanku.
Jin menyadari kemarahanku. Dia pun merasa menuyesal telah membuatku marah.
"Sayang.... maafkan aku... Aku tak bermaksud membuatmu kesal. Aku hanya.... tak mengerti kenapa Fei bisa punya pikiran semacam itu. Jangan kesal lagi ya.... eum??" Jin melepaskan sabuk pengamannya dan bergerak mendekatiku kemudian mengusap-usap pipiku merayu.
"Dia sangat menyukaimu, kau adalah toxic baginya. Karena itu dia mau melakukan itu padamu. Jika kau terus menanyakannya, aku akan semakin kesal dan marah padamu." Aku tak mau menoleh kepadanya.
"Tidak sayang... Aku tak akan bertanya lagi. Maafkan aku eum....? Aku sangat mencintaimu... Aku tak mau jika kau kesal seperti ini." Jin merasa menyesal kemudian menarik daguku sehingga kini aku menghadapnya.
Dia menatapku beberapa saat.
Chup....
"Maaf ya??" Jin mengecup bibirku singkat kemudian meminta maaf lagi padaku. Aku masih cemberut tak meresponnya.
Chuup....
"Ayo dong senyum..." Ucapnya setelah mengecup untuk yang kedua kalinya.
Dia pun mulai mendekatkan bibirnya lagi pada bibirku untuk yang ke tiga kalinya dan mulai menciumku hangat. Aku pun akhirnya terlena dan luluh juga serta mulai menyambut ciumannya.
Ling dan Huan semakin melotot menatap kami. Spontan Ling teringat akan Huan dan dengan cepat Ling menutup mata Huan dengan kedua tangannya. Sedangkan Ling sendiri memejamkan matanya dengan kuat.
"Ya Tuhanku.... dosa apa lagi yang hamba perbuat, kenapa engkau siksa hamba seperti ini?" Gerutu Ling yang spontan menginterupsi kegiatan kami.
Ya... kami melupakan fakta bahwa kami tidak hanya berdua saja. Tapi juga ada Ling dan Huan.
Dengan malu-malu Jin kembali duduk rapi di kursi kemudinya dan memasang kembali sabuk pengamannya.
"Maaf..." ucapku dan Jin bersamaan lirih menahan malu.
"Kak Ling... lepaskan tanganmu." Huan merengek.
Ling pun tersadar dan melepaskan tangannya yang menbekap mata Huan. Jin pun melajukan mobilnya kembali.
Aku melirik sekilas Huan dan Ling yang berada di kursi belakang melalui spion. Kemudian aku sedikit tersentak ketika aku melihat Huan tiba-tiba mendekati Ling dan mengecup pipinya ringan. Tentu saja Ling juga terkejut mendapatkan kecupan itu.
"Tuhan tidak menyiksamu. Tuhan hanya menginginkanmu bersabar sedikit lebih lama." Ucap Huan dewasa.
"Yaaa.... dasar bocah. Apa yang kau lakukan padaku?" Ling langsung mengunci leher Huan dan memitingnya kuat-kuat.
"Aaakkk... kak Ling sakit......" Huan merintih.
"Kalau kau ulangi lagi aku patahkan lehermu." Ucap Ling mengancam.
"Tak apa-apa leherku patah... asal jangan kau patahkan hatiku." Huan menimpali.
"Nah... makin pintar menggombal ya sekarang??? siapa yang ajarin? dasar bocah nakal." Ling semakin kuat memiting.
"Aaakkk..... sakit kak.... Kak Mei tolong ak.... ampun... ampun..." Huan meringis kesakitan.
Aku tersenyum menatap mereka melalui spion. Dan sekarang sepertinya aku harus mendukung Huan. Karena sepertinya dia benar-benar menyukai Lingfei.
Jin melirik mereka melalui spion sesaat kemudian menoleh ke arahku dan tersenyum.
"Itu tak bisa dihindari." Lirih Jin padaku.
***