WE GOT MARRIED

WE GOT MARRIED
Chapter 76 PERTENGKARAN



Aku duduk terdiam di atas tempat tidur tanpa suara dan masih menggenggam foto-foto itu. Akan tetapi tatapan mataku kosong. Pikiranku juga hampa. Seolah semuanya tak bergerak.


Hatiku rasanya benar-benar sangat sakit. Sakit sekali. Jika mereka mengatakan ini hanyalah sebuah kebohonhan kecil, tidak buatku. Ini bukanlah kecil. Ini kebohongan terbesar yang pernah aku terima selama ini.


Ini menyangkut perasaanku yang semula begitu terombang ambing.


Jika mereka mengatakan 'toh sekarang aku sudah mencintai Jinyi. Kenapa masalah sepeti itu diambil pusing dan diungkit lagi?'


Iya, aku sudah mencintai Jinyi. Tapi aku tak suka dengan cara mereka menikahkanku dengannya. Kenapa harus berbohong? Kenapa tidak dengan cara yang sewajarnya, memperkenalkan kami dengan biasa dan membiarkan kami saling mengenal tanpa rergesa-gesa.


Dan perasaanku yang lemah ini, tega sekali mereka mempermainkannya. Tega sekali semuanya membohongiku dan memanfaatkan kelemahanku.


"Sayang... ada apa?" Tanya Jin saat keluar dari kamar mandi sembari mengacak-acak mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk.


Dia menatapku yang hanya terdiam duduk di tempat tidur dengan tatapan kosong. Dadaku sesak.


Aku masih terdiam tanpa suara dan tanpa menatap ke arahnya.


"Mei??? kenapa sayang? kenapa wajahmu masam begitu?" Jin mulai mendekatiku dan menyentuh ubun-ubun kepalaku berusaha untuk membelainya seperti apa yang selalu dia lakukan sebelumnya.


PLAK!!


Namun, belum sempat membelainya aku sudah menampik tangannya marah. Dan sangat kesal. Jin pun begitu terkejut mendapatkan perlakuan dariku yang tak seperti biasanya dan begitu tiba-tiba. Karena sebelumnya kami masih begitu hangat.


"Mei???" Jin memanggilku khawatir. Dia menyadari ada yang salah dengan perasaanku.


"Jangan menyentuhku." ucapku benar-benar marah.


"Sayang ada apa denganmu? kenapa kau tiba-tiba jadi begini?" Jin benar-benar sangat khawatir padaku.


Aku beranjak berdiri kemudian mulai menangis seraya melemparkan foto-foto yang sedari tadi ku genggam di tanganku ke arahnya yang juga masih berdiri di depanku. Jin semakin terkejut dan tampak kebingungan.


Perlahan dia mengambil foto-foto yang berserakan di lantai satu persatu dengan tatapan bingung.


"Ini..." Hanya kata itu yang keluar dari mulutnya saat melihat salah satu foto yang dipungutnya.


"Tega sekali kalian melakukan itu padaku." ucapku di sela tangisanku memutus perkataannya. Aku benar-benar merasa bahwa emosiku benar-benar sudah memuncak hingga ke ubun-ubun.


"Sayang... ini??" Jin melihat foto itu satu persatu. "Sayang... ini tidak seperti yang kau pikirkan." Jin berusaha mendekatiku dan menjelaskan. Namun aku sudah teramat marah dan kesal.


"Jangan mendekatiku atau aku akan semakin marah." Aku sedikit berteriak padanya.


"Mei sayang.... ku mohon dengarkan aku dulu..." Jin masih berusaha menjelaskan.


"Kenapa kalian melakukan itu padaku??? KENAPA??? Tidakkah kalian tau aku benar-benar marah ketika aku dibohongi. Dan ini??? Kalian benar-benar telah mengecewakanku. Kalian benar-benar jahat padaku. Kalian mempermainkan perasaanku. Kenapa kalian tega sekali kepadaku? KENAPA????" Aku benar-benar marah dan menangis meraung-raung.


"Mei... aku..." Jin berusaha mendekat untuk memelukku tapi aku mundur selangkah dan mengancamnya lagi.


"Sekali lagi kau mendekat, aku akan pergi dari rumah ini." Aku benar-benar mengancamnya dengan berapi-api.


"Mei....??? Kau bicara apa sayang? ini salah paham." Jin terlihat mulai frustasi.


"Atas dasar apa sebenarnya kau menikahiku?" Tiba-tiba pertanyaan itu keluar dari mulutku. "Kenapa kau mau menikah denganku? Kenapa ayah harus berpura-pura sakit agar aku mau menikahi denganmu?" Aku melemparkan banyak pertanyaan padanya, karena tiba-tiba... pertanyaan-pertanyaan itu muncul satu persatu.


"Ya Tuhan Mei... Ku mohon... tenangkan dulu dirimu sayang...." Jin berusaha mendekatiku dan menyentuhku.


"Kenapa kau tak mau menjawabku?" Ucapku dengan memundurkan kakiku selangkah darinya.


"Mei kau jangan membuatku gila." Jin kembali menjambak rambutnya benar-benar frustasi.


"Apakah ayahku memiliki hutang pada keluargamu? apakah mereka menjualku padamu? ha??? iya??? seperti itu??" Aku menyimpulkan sendiri.


"Baiklah... aku akan jujur padamu. Memang iya ayahmu berhutang pada keluargaku. Tapi..."


"Iya kan????" Aku memutus penjelasan Jinyi dan semakin menangis meraung.


Hatiku benar-benar sakit sekali. Ayah benar-benar melakukan ini padaku?


"Mei.... aku belum selesai menjelaskan semuanya...." Jin bingung harus berbuat apa untuk menenangkanku.


"Tak perlu! Semua sudah jelas sekarang." Ucapku kemudian berjalan menuju alamari di sudut kamar dan membukanya.


"Kau mau apa Mei??" Jin terkejut melihatku yang mulai mengeluarkan baju-bajuku dari dalam almari.


"Mei.... sayang.... tak harus seperti ini." Jin mengambil kembali baju-bajuku yang telah aku keluarkan dari almari dan dimasukkannya kembali.


Namun aku yang egois ini bersikukuh mengambilnya lagi dan malah memasukkannya ke dalam tas besar yang aku beli untuk persiapan melahirkan nanti.


"Ya Tuhan, Mei!!!!" Jin meninggikan suaranya frustasi.


"Aku ingin sendiri sementara waktu. Tolong!" Ucapku singkat dan memohon.


"Kau mau ke mana? Tolong.... kau sedang hamil. Ingat dirimu Sayang." Jin meraih tanganku yang pada akhirnya takku elak.


"Aku yang meminta tolong padamu Jin, biarkan aku sendiri sementara waktu." ucapku dalam isakan. "Aku ingin sendiri dulu. Aku ingin menenangkan diriku."


"Tidak.... kau tak boleh pergi meskipun hanya sementara. Kau tak boleh melakukan ini sayang! Aku bisa gila tanpamu. Ku mohon!" Jin memohon padaku dengan matanya yang terlihat sembab.


Apakah dia juga menangis??


"Maafkan aku." Ucapku seraya berusaha melangkah pergi.


"Tidak Mei.... jangan lakukan ini." Jin berusaha menghalangiku.


Entah kekuatan dari mana, aku yang biasanya tak mampu melawan kuatnya genggaman tangan Jin kini aku bahkan mampu melepaskannya dari tanganku.


Dengan cepat aku berjalan keluar dari kamar.


"Mei??? Sayang jangan keras kepala!!! MEIII!!" Jin berusaha mengejarku. Namun setelah sampai di depan pintu dia teringat jika dirinya hanya mengenakan handuk sebatas pusarnya saja. "Sial!" Dia mengumpat kesal kemudian berlari kembali ke kamar.


Dengan cepat aku menghentikan sebuah taksi yang kebetulan saat itu melewati depan rumah.


"Ayo pak jalan. Cepat sedikit." Ucapku memerintah supir taksi.


Setelah berjalan sekitar 20 meter dari tempatku menghentikan taksi, Jin sudah terlihat kembali dengan celana selutut dan kaos oblongnya berlari berusaha mengejar dan menghentikanku namun tak berhasil.


Aku masih menangis dan menangis. Hingga supir taksi itu diam tak berbicara sepatah kata pun.


Aku tak tau apakah jalan yang aku ambil ini benar atau salah? Yang jelas, pikiranku kini benar-benar merasa sangat kacau sekali.


Aku tak tau ke mana arah tujuanku. Ke rumah ayahku? aku juga merasa marah dengan keluargaku, aku tak mau pergi ke sana. Pulang ke sana sama saja aku kembali ke rumah Jinyi.


Ke rumah Ling? tidak. Aku tak mau membuat Ling dan ayahnya khawatir. Aku juga tak mau merepotkan mereka berdua.


Jadi aku harus ke mana?? Aku benar-benar bingung pada akhirnya. Aku memang keras kepala. Aku sadar akan hal itu.


Ponselku bergetar sedari tadi tanpa henti. Dan ya... itu adalah Jinyi. Aku benar-benar tak mau menerima panggilan darinya. Jadi, aku mengabaikannya saja.


Lebih dari 20 panggilan sudah terjadi. Tapi aku tetap tak meresponnya.


Ku buka aplikasi GPS di ponselku dan segera mematikan agar Jin tak bisa melacak di mana diriku berada. Karena aku benar-benar ingin jauh darinya sementara waktu.


Saat mencari-cari nama kontak siapa kiranya yang bisa aku hubungi untuk meminta pertolongan, tanpa sadar aku menekan tombol panggilan pada nama seseorang.


Hanya beberapa detik panggilan itu ku lakukan, langsung ada respon dari seberang.


"Hallooo.... Kak Tian." Aku memanggil nama seseorang yang terhubung di seberang sana sembari menangis.


***


baca juga 🔻🔻