WE GOT MARRIED

WE GOT MARRIED
Chapter 104 EMERGENCY



"Sayang.... bertahanlah..." Ucap Jin panik sembari membopongku berlari menuju mobilnya dengan gugup.


"Aku masih bisa bertahan..." Ucapku sembari menarik napas dalam-dalam mencoba menahan rasa mulas karena kontraksi yang mulai intens terasa.


Namun Jin terlihat bingung dan gugup sendiri sembari mengaitkan seat belt dengan tangannya yang bergetar.


"Aku harus bagaimana???" tanyanya pada dirinya sendiri mencoba ingin menghentikan pendarahan di leherku namun kemudian dia berdiri dan menjambak rambutnya sendiri kebingungan seraya berjalan menuju ke kursi kemudi.


Aku baru tau jika Jin seperti ini. Dia akan dengan mudah menemukan cara dan mengambil keputusan di saat perusahaannya mengalami hal genting atau bahkan ayahnya mengalami situasi yang kritis. Tapi tidak denganku. Melihatku terluka dan dalam keadaan genting seperti ini, dia malah terlihat panik dan bingung seolah-olah pikirannya benar-benar kosong dan tak bisa berpikir apa pun.


"Jin sayang.... hofhhhh..." Aku menarik dan menghembuskan napas melalui mulut karena rasa mulas datang lagi. Jin sangat panik jadi aku tak boleh merasa panik juga. "Tenang.... tarikh... napash... bersamakuhh...." Ucapku sembari mendesah menahan mulas yang semakin intens.


Jin pun mengikuti arahan ku. setelah dia merasa sedikit rileks, dia pun menginjak pedal gasnya dan melaju dengan kecepatan penuh.


Aku merasa perut bawahku benar-benar penuh sekarang, bahkan aku sudah merasa tak bisa duduk. Ku lihat kakiku yang semula hanya mengalir air ketuban kini sepertinya telah tercampur dengan sedikit darah.


Dan saat itu juga aku merasakan punggungku seperti mau patah, kemudian disusul oleh rasa sakit dan ingin mengejan.


"Hmhh......." spontan aku meraih pundak Jin dan mencengkeramnya dengan kuat seraya menggigit mengatupkan mulutku rapat-rapat.


Jin sepertinya tersentak.


"Kali inih.... akuh... benar-benar tak bisah... menahannya lagi hmmmmh....." Ucapku kemudian mengejan lagi.


"Sayang.... sebentar lagi sampai." ucap Jin parau.


Aku sudah tak bisa lagi melihat ekspresinya. Karena mulasnya semakin sering terasa. Sangat intens. Hampir setiap 4 menit sekali aku merasa ingin mengejan.


"Kita sudah sampai sayang ..." Jin dengan cepat melepaskan sabuk pengaman ku dan langsung membawaku berlari menuju IGD rumah sakit di mana dokter Zhao berada.


"PERAWAT!!!! ISTRIKU...." Jin berteriak lantang dengan panik.


"JIIINNNNHHH....!!!!" Lagi aku ingin mengejan dan spontan menjambak rambut Jin.


"Akkkkk......" Jin berteriak kesakitan karena rambutnya yang ku Jambak dengan sangat kuat. Padahal aku masih berada dalam bopongan Jin yang tengah berlari menuju IGD.


"Langsung ke ruang persalinan pak!" perintah seorang perawat yang mengikuti kami berlari.


"Mei... akkkk...." Jin berteriak lagi karena setelah menurunkanku ke ranjang persalinan aku malah mengigit pundaknya.


"Permisi... bapak suaminya?" Suara perawat yang lain bertanya pada Jin.


"Ibu memiringkan badan dulu." perintah perawat lainnya padaku.


"Iya saya suaminya." Jawab Jin dengan napas ngos-ngosan.


Aku bisa melihat dengan jelas kesibukan para perawat mempersiapkan persalinan ku. Meskipun aku sesekali merasakan sakit dan mulas yang luar biasa.


"Bisa minta tolong untuk melonggarkan pakaian ibu pak?" perintah perawat yang bertanya pada Jin sebelumnya.


"Te.. tentu..." Ucap Jin gugup.


Jin langsung meraih resleting dress hamilku.


"HMMMMHH..... JIIIINNNHHHH.....!!!" Namun aku malah mencengkeram lengannya dengan kuat karena kontraksinya semakin berat.


"Tidak.... Mei.... sayang...." Jin mencium ubun-ubunku menenangkan kemudian melepaskan baju-bajuku semua yang menempel dan menggantinya dengan baju steril yang lebih longgar yang telah disediakan perawat.


Seorang perawat lain terasa menyentuh leherku beberapa kali mungkin merawat lukaku.


"Dokter.... istriku....." Teriak Jin ketika melihat dokter Zhao yang telah memasuki ruang bersalin dengan memakai masker dan sarung tangan dan mengangguk pada Jin ramah. sepertinya beliau tersenyum di balik maskernya.


"EUUMMHHHH......." aku mulai mengejan lagi. "Hofh... hofh... hofh...." Napasku benar-benar memburu.


"Meii..... bertahanlah sayang.... kau pasti kuat!" Jin mencium keningku dan mencengkeram tanganku erat.


Namun aku sudah merasa benar-benar tak kuat. Ini sakit sekali. sangat sakit. Rasanya seperti seluruh tulang dalam tubuhku remuk dalam sekali.


Aku mulai menangis. Aku mulai lelah... aku ingin tidur... namun saat aku baru saja menarik napas dalam, rasa kontraksinya kembali muncul dan lebih hebat.


"Jinh.... akuh.... akuh ... sudah tak kuathhhh akkhhh..." ucapku lagi disusul dengan kontraksi sehingga aku mengejan lagi.


"Meii.... aku di sini sayang..." Jin mengusap-usap puncak kepalaku dan menatapku dalam.


Dia menangis. Jin ku menangis.


"Dokter.... kita lakukan Cesar saja. Lakukan apa saja asalkan istriku tidak kesakitan..." Jin terguguk pada Dokter Zhao.


"Bapak..... tahukah anda melahirkan bagaimana pun caranya tetap saja merasakan kesakitan. Jika kita melakukan Cesar, istri anda harus disuntik anestesi pada tulang punggungnya dan harus menunggu lagi hingga anestesinya bekerja maka Cesar bisa dilakukan. Tapi sekarang, rahim ibu Feng sudah mengalami pembukaan sempurna. Jadi yang terpenting... berikan ibu semangat dan dukungan." Dokter Zhao menasehati Jin yang kini terguguk tak tega melihatku yang seperti ini.


"ERRRMMMMMMHHHHHH......" aku mengatupkan mulutku kuat-kuat dan spontan menarik baju Jin hingga sobek saat aku merasakan kontraksi lagi yang semakin Kuat.


Namun saat itu juga aku merasa aku sudah tak mampu lagi berjuang. Aku sudah merasa sangat lemah. Tenagaku terasa sudah menghilang.


"Sayang.... Mei.... bangun sayang.... kau harus bangun..... Kau harus kuat demi aku dan anak kita." Tiba-tiba aku merasakan Jin menepuk-nepuk pipiku sembari terguguk.


"Pasangkan oksigen!" dokter Zhao memerintah pada seorang perawat.


Apakah aku hampir pingsan? atau sudah pingsan? sekuat tenaga aku mencoba membuaka mata dan kemudian melihat wajah Jin yang penuh dengan peluh tengah menatapku dengan mata sembabnya.


"Dokter... rambut bayinya sudah terlihat." Seorang perawat terdengar sangat senang.


"Bayikuh..." Aku berbisik lirih pada diriku sendiri.


Jin.... little Feng... tidak.... aku harus berjuang untuk mereka. Aku pun merasakan kekutan ku datang kembali.


Spontan Jin mengangakat badanku dan naik ke atas ranjang persalinan untuk memangkuku.


Jin tak henti-hentinya menciumi kepalaku mencoba menguatkan.


Krek....


aku merasakan sesuatu mengoyak jalan lahirku, apakah dokter Zhao baru saja melakukan episiotomi?


Namun rasanya perihnya tak begitu kerasa karena tertutup oleh rasa mulas dan remuknya tulang-tulangku.


"Sayang... aku benar-benar mencintaimu..." Jin membisikkan kata itu di telinga kananku yang seolah memberikanku kekuatan baru.


Kakiku sudah diatur sedemikan rupa oleh perawat. Aku mulai merasakan kontraksi datang lagi.


"Ibu.... tariklah napas yang dalam dengan satu tarikan, kemudian kerahkan seluruh kekuatan ibu. Ayo.... ibu pasti bisa." Dokter Zhao telah bersiap di depanku dan memberikanku semangat.


Aku pun mengikuti instruksinya dan menghitung dalam hati.


Satu...


Dua...


Ti.....


Tepat saat itu juga aku merasakan kontraksi yang sangat hebat.


"Errrrmmmmmhhh......" Aku mengatupkan mulutku kuat-kuat dan mencengkeram tangan Jin kuat-kuat. Aku mengejan sangat panjang.


"Ayo sayang kau pasti bisa!" Jin juga mencengkeram tanganku kuat-kuat.


Jin... ikut mengerahkan tenaganya denganku...


Namun masih belum berhasil.


"Hufh... hufh... hufh...." Napasku tersengal-sengal.


"Ayo ibu sekali lagi.... kepala bayinya sudah terlihat." Dokter Zhao menyemangati.


Dan aku mengulangi langkah yang sama seperti sebelumnya....


Aku mulai menghitung lagi dalam hati...


Satu..


"JIIIINHHHH........ ERMMMMHHHH....... EEEUUUUMMMMHHH...." baru hitungan pertama Aku mengejan sekuat tenaga dan mencengkeram Jin lebih kuat dari sebelumnya.


Aku mengejan dengan sangat kuat dan panjang. Hingga akhirnya.... aku bisa melihat kepala mungil keluar perlahan dan dibantu oleh dokter Zhao kemudian....


"Oeeeee....." suara tangis bayi memecah ketegangan yang tengah terjadi di ruang persalinan.


"Bayikuh...." Aku mendesah pelan.


Tangis yang begitu nyaring.... tangis yang terdengar begitu indah.... aku melihatnya.... aku melihat bayiku... Seketika rasa sakit remuk tubuhku menghilang.


Aku malah menangis.


"Sayang...." Jin langsung mendekap ku yang berada dalam pangkuannya dengan erat. Dia juga terguguk. "Terimakasih...." ucapnya lagi seraya berkali-kali mencium kepalaku.


Dokter dan perawat terlihat senang dari balik maskernya.


"Selamat pak... Bu... bayinya laki-laki. Tercatat kelahiran pada hari Senin pukul 21.25, tanggal 20 April 2020." Asisten dokter menjelaskan.


Dokter Zhao kemudian menjepit tali pusat bayi yang telah di potong dan tak berapa lama aku merasakan mulas lagi. Aku merasa bahwa aku ingin mengejan lagi.


Apakah...???? masih ada bayi lagi???


"Euumhhh...." Namun kali ini aku hanya mengejan ringan tidak seperti sebelumnya dan.... bukanlah bayi lagi, tapi ternyata plasenta little Feng yang keluar.


Aku berpikir bahwa anakku kembar padahal sudah tahu hasil ultrasonografinya cuma ada satu bayi.


"Normal ya... bayinya sehat.... seorang perawat menunjukkan Little Feng padaku. Tentu saja aku dan Jin sangat merasa senang dan lega.


"Bapak bolehkah membiarkan dada ibu terbuka? agar bayinya bisa merasakan kehangat ibunya dan mencari ASI-nya sendiri." pinta perawat itu ramah.


*Ahh... tentu.... tentu ...." Jin dengan perasaan senang dan gugup membantuku menyibakkan bajuku.


Kakiku masih terasa gemetar.


"Ibu bertahan sebentar ya..." Ucap dokter Zhao sebelum akhirnya.


"Ak..." Aku memekik pelan.


Aku lupa kalau jalan keluarnya little Feng harus dijahit. Namun rasa sakit ini tak begitu terasa karena tertutup oleh keberadaan Little Feng.


Tak peduli masih bau darah dan ketuban, Jin terus saja menciumi aku dan little Feng bergantian.


Aku.... telah menjadi seorang ibu.


***


Mohon maaf pembaca WGM semua. Laptop saya rusak beberapa Minggu lalu dan saya belum membackup nya ke FD sehingga saya harus mengetik ulang melalui ponsel. Jadi mohon maaf yang sebesar-besarnya. Dan terima kasih telah menanti WGM. Salam hangat dariku... Ezy ^^