
Aku rasa aku benar-benar kesepian. Aku merindukan Jin. Aku benar-benar merindukannya. Merindakan Feng Jinyi setengah mati.
Padahal baru kemarin aku pergi meninggalkannya. Tapi kenapa aku merasakan seolah-olah diriku seperti orang yang sudah mati. Yang rohnya telah terpisah dari raga. Hampa. Dan linglung. Tapi apa daya? Karena gengsi dan ego ku begitu tinggi, Aku menahan semuanya meskipun hatiku rasanya sangat sesak.
Aku menangis sejadinya. Jinyi... aku sungguh mencintainya.
Suara volume tv dalam ruangan di mana aku berada saat ini terdengar begitu nyaring, padahal aku sudah menurunkannya volumenya hingga 10, tapi tetap saja suaranya terdengar begitu kencang.
Apa karena tempat ini begitu sunyi? Sehingga aku mampu mendengar dengan jelas suara tv yang begitu rendah?
Sejak kemarin aku masuk ke flat sewa ini, aku menyalakan tv dan sama sekali tak memadamkannya.
Sunyi. Ya... tanpa Jin rasanya hidupku benar-benar sunyi. Kenapa jika aku bersama Jin aku merasa hidupku tak pernah merasa seperti ini?
Tidak, Aku harus bertahan. Aku hanya ingin menjauh darinya sementara waktu. Karena aku merasa sangat kesal jika melihatnya. Tapi.... Kenapa aku sangat merindukannya jika jauh darinya.
Mengingat Jinyi aku hanya bisa menangis dan menangis. Ini salah siapa? Aku yang salah apa mereka yang salah? Lalu.... Aku harus bagaimana?
Dan lagi.... Bagaimana ini? aku bahkan tak mau makan sama sekali. Janinku? sepertinya dia mengikuti perasaan dan pikiranku yang sedang kalut dan sedih.
Setiap aku berusaha untuk menyuapkan sesuatu, pasti perutku akan menolaknya kemudian memuntahkannya kembali seperti masa trimester pertama waktu itu. Jadi, aku hanya minum dan minum meskipun kerongkonganku rasanya tercekat.
Suara ponselku berdering dan bergetar. Ya Jinyi terus saja menghubungiku, tapi aku sama sekali tak mau peduli. Ku biarkan ponselku bergetar dan bergerak berputar di atas meja dengan lampu led monitornya yang berkedip-kedip.
Terus seperti itu hingga daya ponselku habis dan mati.
Semua kenangan bersama Jinyi melintas di pikiranku. Kenangan saat dia membully ku waktu SMA yang aku sama sekali tak mengenalnya. Kenangan saat dia datang dalam acara makan malam keluarga dan ternyata dia dijodohkan denganku. Kenangan ketika dia tersenyum menyambutku di altar dan mengucapkan janji untuk mencintaiku sehidup semati dalam keadaan senang maupun sedih dalam keadaan sehat maupun sakit.
Semua. Aku mengingat semua. Bahkan aku mengingat, ketika hari di mana aku menyerahkan seluruh hidupku padanya. Di mana aku merasa bahwa aku benar-benar yakin bahwa dia adalah jodoh yang terbaik dan orang yang benar-benar ku cinta.
Mengingat semua itu, aku hanya semakin menangis meraung.
Aku menghela napas panjang kemudian menatap perutku yang mulai membuncit. Perlahan tanganku bergerak untuk mengusapnya perlahan.
"Maafkan mama nak, mama telah marah sama papamu." Ucapku pelan dengan tangan masih bergerak mengusap perutku.
Tok tok tok....
Suara pintu di ketuk oleh seseorang.
Aku tergeragap. Sejenak aku berpikir siapa kiranya yang datang bertamu?
"Mei.... ini aku.... Tian." Suara manager Wang berada di balik pintu.
Manager Wang. Perlahan aku berdiri seraya membersihkan wajahku yang begitu sembab karena terus saja menangis. ,Dengan langkah gontai aku berjalan membukakan pintu untuknya.
"Kakak? Kenapa datang?" Tanyaku padanya tanpa ekspresi setelah pintu terbuka.
"Kau terus menangis?" Dia begitu terkejut melihat wajah sembabku.
Aku tak menjawabnya dan hanya menunduk bersandar memeluk pintu.
Manager Wang berdecak prihatin padaku.
"Mei???" Dia memanggil namaku pelan.
Kenapa panggilannya terasa begitu hangat kali ini.
'Dia begitu baik.' Aku hanya membatin
"Masuklah kak, di luar dingin." Aku mempersilahkannya masuk pada akhirnya. Di luar memang sangat dingin hingga menusuk ke tulang.
Dia berjalan lebih dulu dan aku hanya mengekor di belakangnya saja. Kami kemudian duduk di sofa yang berbeda namun masih berada dalam satu ruangan.
"Ayolah Mei, makanlah...." Manager Wang membukakan kotak makan yang tadi berada dalam kantong plastik yang dibawanya dengan wajah memelas memintaku untuk makan.
"Nanti saja kak, aku akan memakannya." Ucapku dengan pandangan kosong.
"Ayolah... kasihan janinmu. Kau hanya minum air mineral saja. Dari mana bayimu akan mendapatkan nutrisi?" Dia terus membujukku.
Aku menatapnya kemudian. Tiba-tiba aku teringat akan Jin yang membujukku makan saat aku mulai hamil.
Manager Wang mengangguk sembari tersenyum menyodorkan kotak makan padaku. Dan akhirnya, aku pun tertarik juga.
Perlahan aku mulai mengambil sesuap dan mulai memakannya. Awalnya tak merasakan apa pun. Tapi akhirnya... perutku bergejolak tak karuan.
Aku pun spontan berlari ke arah wastafel yang berada di pantry dapur dan mulai memuntahkan apa yang baru saja masuk ke perutku.
"Ukkk...." perutku berkontraksi berusaha memuntahkan lebih banyak lagi.
"Mei?! Kau tak apa-apa?" Tiba-tiba manager Wang sudah berada di belakangku dan mulai memijit pundak dan tengkukku.
Aku terhenyak. Ini seperti deja vu. Jin... juga pernah melakukan hal semavam ini. Bahkan lebih dari ini.
Ya Tuhan... Kenapa aku begitu merindukannya.
"BREAKING NEWS! Pemirsa, Feng Rong Hao selaku Kepala Direksi Empire Electronics mengalami serangan jantung saat tiba di bandara Beijing pagi tadi."
Deg!
Aku begitu terkejut saat mendengar nama ayah mertuaku disebut di dalam sebuah berita kilat di tv. Aku perlahan membersihkan bibirku dan berjalan untuk menghadap tv.
Hal yang sama juga dilakukan manager Wang. Dia menatapku tak percaya. Dengan cepat dia mengambil remote tv di atas meja dan meninggikan volumenya.
" Diketahui, Pendiri sekaligus kepala direksi Feng Rong Hao, melakukan penerbangan mendesak dari German dan tiba di bandara pagi ini. Ayah dari CEO muda Feng Jinyi tersebut mengalami serangan jantung secara mendadak setelah beberapa menit mendarat di bandara pagi tadi. Petugas kesehatan dengan sigap melakukan tindakan darurat guna mencoba agar Ayah dari Feng Jinyi tersebut tetap tersadar. Kini Feng Rong Hao berada di rumah sakit Ming Lan untuk mendapatkan perawatan intensif lebih lanjut dikarenakan kondisinya yang hingga saat ini masih sangat dalam keadaan kritis. Saya, Ma Xiaotong. Demikian Breaking News."
Hatiku berdegub sangat kencang. Ini tidak mungkin kan? bukankah ayah mertua berbohong tentang penyakitnya? Dan Juga, kenapa ayah mertua berada di China? bukankah dia seharusnya masih menikmati liburan masa tuanya di German?
"Mei.... apa tidak sebaiknya kau pergi menemui mereka?" Manager Wang memberiku saran lagi.
Aku terdiam dan linglung.
"Tidak.... Aku rasa mereka menyusun sandiwara sedemikian real-nya sehingga semua orang akan mempercayainya. Aku... sudah tak bisa lagi menerima kebohongan dari mereka." ucapku pada manager Wang menjelaskan uneg-unegku tengang kebohongan yang mungkin dilakukan mereka.
"Tapi Mei.... sepertinya...." Manager Wang tak melanjutkan kata-katanya karena melihatku yang sudah sangat down.
"Mei.... kemarin aku mengatakan padamu bahwa aku ingin mundur dan membiarkanmu berbahagia bersama dengan Jin. Tapi... melihatmu seperti ini, rasanya aku tak bisa melakukakannya."
"Apa????" Aku begitu terkejut tak percaya dengan apa yang dikatakan manager Wang padaku.
Apakah ini maksudnya dia tak mau menyerah kembali? Dan berusaha untuk....???
Sepertinya aku benar-benar salah langkah.