WE GOT MARRIED

WE GOT MARRIED
Chapter 49 FEELING (part II)



 


“MANAGER WANG???!!”


Aku segera mendongak ingin melihat manager Wang untuk memastikan. Tapi sayangnya dia sudah memasuki lift dan pintunya sudah menutup kembali.


Dengan segera aku langsung menekan tombolnya agar terbuka namun sayangnya sudah tidak bisa, karena Lift sudah mulai berjalan naik. Aku pun langsung berlari menuju tangga darurat yang berada di belakang.


Ini tidak mungkin kan? Aku benar-benar sulit mempercayai jika itu manager Wang. Maka dari itu, aku ingin memastikannya.


Aku terus berlari menuju lantai 16 di mana kantorku berada. Namun aku yang masih sampai di lantai 10 sudah merasa tak kuat lagi dan akhirnya aku terduduk di salah satu anak tangganya lemas. Nafasku begitu memburu.


Ku buka kembali genggaman tanganku melihat permen coklat itu. Saat itu juga aku mulai menangis.


“Kakak... apa itu benar kau?” Aku menangis tertahan. Sepertinya aku benar-benar merasa dilema.


Tidak. Tidak benar. Kenapa hatiku seperti ini lagi? Kenapa perasaanku jadi begini lagi? Ini salah.


Maka dari itu aku terus mencoba menekan semua perasaan dalam hatiku yang menurutku salah.


Di saat aku telah menikah.. di saat aku mulai mencintai orang lain.. kenapa dia baru memberikan petunjuk? Dan kenapa jika dia mengenaliku lebih dulu, dia begitu mengacuhkanku?


“Tidak. Aku harus memastikannya.” Ucapku mantab sembari berdiri dan mengusap air mata yang menetes perlahan dipipku dengan punggung tangan.


Aku mencoba menaiki tangga lagi. Hingga akhirnya aku berhasil dan telah sammpai di lantai 16 di mana kantorku berada.


“Mei....?” Ling memanggilku.


Namun aku tak menggubrisnya dan langsung berlari menuju ruangan manager Wang.


Setelah sampai di ruangannya ternyata manager Wang tidak ada sehingga aku sedikit berlari kembali menemui Ling.


“Kau kenapa?” Ling bertanya lagi setelah aku sampai di mejanya dengan nafas yang tak beraturan.


Dia sepertinya begitu khawatir padaku.


“Ling.... apa... kau tau di mana... manager Wang? Tanyaku dengan terputus-utus karena nafsku yang tak beraturan.


“Manager Wang? Tentu saja dia berada di studio. Bukankah hari ini pengambilan gambar iklan?” Ling mengingatkanku. “Mei... ada apa sebenarnya? kenapa kau begitu panik?” Ling bertambah khawatir.


“Ling... Manager Wang....” aku tak bisa melanjutkan kalimatku dan malah membuatku ingin menangis lagi. Namun aku mampu menahannya.


Hingga akhirnya dia menarikku menuju pantry yang ada di sudut lantai 16. Dia mengambilkan minum untukku di sana.


“Minumlah...” Ucapnya lembut mencoba menenangkan.


Aku pun mencoba meminumnya sedikit. Dan mencoba mengambil nafas perlahan.


“Apa kau sudah lebih tenang?” tanya Ling memastikan.


Aku pun mengangguk karena memang aku merasa sudah lebih tenang sekarang.


“Sekarang... katakan padaku apa yang terjadi. Kenapa kau panik sekali?" Ling mengambil gelas dariku kemudian dia menggenggam tanganku erat.


Aku bingung harus bercerita padanya atau tidak. Aku tak mau dia ikut khawatir padaku. Tapi aku juga tak bisa memendam dilema ini sendirian.


“Tak apa Ling, aku hanya merasa frustasi karena tugas yang diberikan manager Wang padaku belum aku selesaikan juga. Jadi aku ingin menemuinya karena ini benar-benar sangat mendesak.” Akhirnya aku tak mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.


Aku bahkan sudah tak memikirkan Fei yang merayu Jin di bawah tadi. Pikiranku terus berkecamuk, apakah manager Wang benar teman lamaku?


“Aku pikir kau kenapa-napa. Karena kau terlihat begitu kebingungan sekali.” Ling menyelidik setengah percaya. Namun pada akhirnya Ling mempercayaiku juga.


“Baiklah... karena kau sudah tenang, ayo kita menemui manager wang bersama. Kita harus ada di sana juga kan hari ini? sebentar lagi pengambilan gambar juga akan segera di mulai.” Ling tersenyum kemudian menggamit tanganku untuk di ajaknya pergi ke studio.


Kami akhirnya pergi ke studio yang berada di lantai 19. Dan pertama kali memasuki lantai itu, mataku langsung tertuju pada manager Wang yang tengah mengarahkan pihak produser dan teamnya.


Ku lihat dari garis wajahnya. Jika memang itu dia, semua sudah banyak berbeda. Semua benar-benar sudah berubah. Dulu... dia sangat imut dengan mata bulatnya, hidung mungilnya, bibir tipisnya. Semua kini benar-benar berbeda.


Matanya terlihat lebih tajam, hidungnya tidak semungil dulu. contour wajahnya benar-benar manly, tidak seperti dulu yang begitu feminin sehingga sering dibully.


Akan tetapi... aku baru menyadari satu hal... sifatnya yang pendiam. Jika itu memang dia, maka sifatnya tidak mengalami perubahan sama sekali.


“Ah Mei...” Suara Manager Wang tiba-tiba mengejutkanku.


Dia tersenyum kemudian berjalan mendekatiku dan Ling. Dan saat itu juga... aku pun menyadari.... jika senyumnya sangatlah mirip dengan teman lamaku dahulu.


 


***