
Aku mencoba membuka mata perlahan dan seperti biasanya, langsung beranjak melirik jam di atas nakas di samping tempat tidurku.
Ternyata suda jam 5 sore. Aku tertidur sudah berapa lama? aku benar-benar tak ingat sama sekali. Yang aku ingat Jin melakukan sedikit kenakalan padaku kemudian ya.... kami melepas rindu.
Ku renggangkan lenganku sedikit karena aku merasa seperti baru saja melakukan perjalanan jauh. Kenapa rasanya letih sekali. Ini karena aku memang kecapekan atau memang karena kehamilanku yang sudah semakin membesar.
Di saat aku masih bermalas-malasan di tempat tidur, perutku terasa berkedut-kedut lagi dengan lebih intens. Merasakannya membuat senyumku mengembang. Aku pun membalas sapaan little Feng dengan mengusap-usap perutku perlahan senang.
Aku kemudian menyadari jika Jin sudah tak ada di sampingku. Ku edarkan pandangan mataku mencari-cari sosok Jin yang telah membuatku tertidur.
Hidungku kemudian mengendus wangi maskulin yang sangat familiar. Aku hapal betul bahwa bau ini adalah wangi sabun mandi yang biasa Jin gunakan.
Benar saja, ternyata dia tengah berdiri di depan cermin besar yang berada di sudut kamar tengah berpakaian. Dan sepertinya dia juga baru saja mandi karena rambutnya masih terlihat sedikit basah.
Kenapa dia terlihat seperti malaikat tanpa sayap yang bersinar terang sekali. Pantas saja, kalau banyak wanita di luar sana yang berebut menarik perhatian dan mengejarnya. Karena... postur tubuh dan kontur wajahnya benar-benar terlihat sempurna.
Mataku benar-benar seperti ditarik sebuah magnet yang menempel padanya sehingga aku tak mampu mengalihkan pandanganku darinya.
Aku terus memperhatikan dia yang terlihat tengah serius mengaitkan kancing kemeja junkist warna misty yang terlihat pas sekali di tubuhnya. Kemeja itu dipadankannya dengan celana hitam selutut yang membuatnya semakin terlihat charming dan stylist.
Sepertinya dia tidak menyadari bahwa aku tengah mangaguminya dan memperhatikannya sedari tadi.
Aku pun tersadar dan bertanya-tanya ke mana Jin akan pergi? Karena dia hanya berpakaian kasual saja.
"Mau ke mana??" Tanyaku padanya sembari beranjak duduk perlahan.
Padahal baru trimester kedua tapi aku sudah kesusahan seperti tengah hamil tua. Punggungku mulai tak nyaman.
"Eoh? sudah bangun?" Jin terkesiap dan langsung menoleh ke arahku sekilas kemudian menghadap kembali ke cermin memperhatikan bayangannya sendiri.
"Mau menggantikan ibu menjaga ayah di rumah sakit." Ucapnya kemudian sembari menggulung lengannya hingga mendekati siku.
Aku kemudian mengangguk paham. Hampir saja aku melupakan ayah mertuaku yang tengah sakit.
"Jin... apakah ayah benar-benar butuh donor jantung?" Tanyaku padanya tiba-tiba.
Jin kemudian menoleh padaku dan menatapku untuk beberapa saat.
"Dokter menyarankan seperti itu. Kondisi jantung ayah sangat lemah. Pihak rumah sakit, aku dan paman Huang masih berusaha mencarikan donor yang tepat untuk ayah." Ucapnya terlihat muram. "Tapi kau tak perlu khawatir. Ayah sekarang meskipun sedang tidak baik-baik saja, tapi beliau tidak dalam kondisi yang fatal. Doakan saja kabar baik akan segera datang." Jin melanjutkan penjelasannya.
Aku mengangguk penuh harap.
"Sayang aku mau ikut..." Aku menggulung selimut hingga menutupi badanku dan beranjak turun dari tempat tidur untuk mendekatinya.
"Tidak usah sayang. Kau di rumah saja." Dia melarangku sembari menata rambutnya yang berantakan.
"Tapi.... aku mau menengok ayah." Aku mulai merajuk.
Jin melihatku dari pantulan cermin dan mendesah.
"Jangan bertingkah menggemaskan seperti itu. Aku sudah sangat lelah." Ucapnya kesal sembari memejamkan mata.
Aku bingung dan tak mengerti apa maksudnya. Padahal aku hanya merengek memintanya untuk ikut ke rumah sakit. Tapi dia berkata begitu seolah-olah aku meminta sesuatu.
Kemudia aku kembali teringat akan sesuatu. Aku pun mendesah pelan. Dasarnya Jin kalau melihatku bertingkah bagaimana pun juga pikirannya langsung ingin menerkamku seperti macan melihat rusa di padang savana.
"Ya... Aku tak bertingkah menggemaskan. Kau saja yang setiap melihatku langsung ingin yang macam-macam." Aku merengut kesal.
Dia berkacak pinggang kemudian berbalik arah untuk menghadapku.
"Mei jangan menggodaku." Jin semakin kesal.
"Aku tak menggodamu. Aku hanya ingin ikut. Aku ikut ya... Aku ingin melihat kondisi ayah, Jin." Aku semakin cemberut dan merengek padanya.
"Ya Tuhan... memang dasarnya juga kalau kau ini menggemaskan. Pantas saja Wang Tian sangat tergila-gila padamu." Kesalnya sembari berjalan mendekatiku.
"Jangan bahas orang lain. Sendirinya juga tergila-gila padaku." Ucapku masih dengan mengerucutkan bibirku karena kesal. "Aku mau ikut denganmu. Aku ingin menengok ayah. Karena kebodohanku, ayah harus dirawat di rumah sakit. Jadi boleh ya? Jin... boleh ya??? Eum??" Aku menatapnya dengan penuh harap dan mencolek-colek lengannya merayu berharap dia mengijinkanku.
"Tak boleh sayang, kau hamil. Di rumah sakit itu tak baik untukmu." Jin memegang kedua pundakku menjelaskan.
"Tapi aku memeriksakan kandungan juga di rumah sakit kan? Tak baiknya di mana?" Aku merengek lagi mencoba mencari celah agar aku diperbolehkan Jin.
"Ya Tuhan... kenapa kau seperti kucing begini. Baiklah... baiklah...." Ucap Jin pada akhirnya menyerah.
"Nah... begitu kan lebih baik. Itu baru namanya suamiku" Aku langsung menghambur memeluknya.
"Tapi... tunggu sebentar. Aku mau minta satu hal..." Jin mengajukan sebuah persyaratan yang membuatku membelalakkan mata.
Apa mungkin dia minta lagi karena aku begini? Tidak.... aku sudah lelah.
"Apa??" Aku mengernyitkan keningku dan menatapnya menyelidik.
"Nanti, kau harus ikut pulang bersama ibu dan beristirahat di rumah. Mengerti?" Dia menunduk menatapku dengan tatapan memohon.
"Hofh...." Aku mendesah lega. Dasar akunya saja yang sudah berpikir terlalu jauh. Otakku mungkin sudah terkontaminasi.
"Kenapa???" Jin balik menatapku menyelidik.
"Aah... tidak. Tidak ada. Aku mengerti." aku tertawa meringis menunjukkan deretan gigiku padanya.
Melihatku seperti itu membuat Jin tiba-tiba berwajah masam.
"Dan satu hal lagi...." Jin terlihat kesal.
"Apa??" Aku menatapanya menyelidik lagi dan bingung kenapa dia tiba-tiba kesal dan punya permintaan banyak sekali. Bilangnya satu hal, terus tambah lagi satu hal, terus tambah lagi. Ya Tuhan...
"Jangan pernah bertingkah seperti ini di depan orang lain. Tak boleh Aku tak mengijinkannya. Aku tak ikhlas." Ucapnya tegas.
"Seperti ini??? Bagaimana???" Aku menatapnya bingung dan tak mengerti.
"Ya seperti ini... Kau... sangat menggoda ketika menggemaskan begini." Ucapnya sembari mengalihkan pandangannya dari ku namun masih mendekapku erat.
Gugup? Jin gugup? Ku lirik telinganya telah memerah. Aku pun tersenyum lebar melihat tingkahnya.
"Eiii.... suamiku jadi gugup?? Aku...??? semenggoda itu???" Jawabku polos.
"Kau tak menyadarinya. Setiap kali kau bertingkah seperti itu... membuatku ingin memasukkanmu dalam kantong dan membawamu ke mana saja. Tak rela jika kau jauh dariku. Parahnya, aku jadi ingin segera menerkammu. Tapi aku harus sabar... aku tak boleh berlebihan. Ada little Feng di sana." Ucapnya kesal.
Menurutku, dalam kasus ini dia yang lebih menggemaskan. Aku terkekeh pelan.
"Juga.... aku tak suka kalau kau bertingkah begini pada orang lain. Kau.... entalah pokoknya kau hanya boleh begini jika bersamaku." Dia ingin menjelaskan tapi tak bisa dan malah berakhir kesal.
Terlihat lucu sekali. Kalau aku seperti kucing baginya, dia seperti hamster bagiku. Ya Tuhan.... gemas sekali.
"Baiklah.... hanya kau suamiku. Jadi... hanya padamu seorang aku merajuk." Aku menyetujui permintaannya meskipun aku tak tau harus bagaimana caranya berhenti untuk bertingkah menggemaskan.
Memangnya aku memggemaskan? Memang Jin saja yang terlalu berlebihan.
"Aku mau mandi dulu.... Kau jangan terus menatapku seperti itu." Aku malu-malu karena menyadari diriku yang hanya tertutup selimut dan berada dalam dekapan Jin.
Bergegas aku berusaha melepaskan pelukannya dan ingin cepat-cepat bersembunyi di kamar mandi.
"Apakah ini terlarang? Hei... kita sudah sah dari aspek mana pun. Kau itu adalah milikku." Jin menegaskan dengan senyuman mengembang manis dibibirnya. "Bahkan kau juga boleh melihatku seperti aku melihatmu kalau mau. Karena aku adalah milikmu. Tapi... kau selalu menutup matamu saat melihatku..." Jin memberikan penekanan pada kalimat terakhirnya yang terputus.
"Hentikan.... itu memalukan.... aku mau mandi dan bersiap." Ucapku padanya tak berani menatap matanya.
"Baiklah... mandilah yang bersih." Ucapnya terkekeh sembari melepaskan pelukannya padaku perlahan.
Aku pun dengan segera beranjak ke kamar mandi saking malunya. Entah kenapa rasanya masih seperti ini. Apa mungkin ini karena aku belum lama mengenalnya? Yang jelas. Perasaan seperti ini yang membuatku merindukannya.
"Ahh... Jin.... bisa kau tolong aku?" Aku melongok dari balik pintu dan memanggil Jin.
"Apa sayang? kau mau aku yang memandikanmu??" Jin berjalan mendekat dengan senyum mengembang.
"Stop.... jangan mendekat." Aku memperingakan dengan memberikan sign tangan kananku.
Jin mengernyit bingung.
"Bukan membantuku mandi. Tapi aku mau salad buah dan sayur... buatkan ya sayang. Nanti aku makan di mobil." Ucapku sambil tertawa geli.
Jin langsung menepuk keningnya. Sigh.
"Baik... baik... mandi sana." Ucapnya kemudian sembari terkekeh beranjak ke dapur.
Aku pun juga terkekeh melihatnya seperti itu.
Sembari mengguyur tubuhku dengan air dari shower, pikiranku kemudian teringat kembali akan Wang Tian. Sebaiknya aku jujur tentang manager Wang pada Jin. Aku tak mau menyembunyikan apa pun darinya.
***