WE GOT MARRIED

WE GOT MARRIED
Chapter 38 DIA SUAMIKU



Ku lirik jam di dinding kantor sudah menunjukkan pukul 6 sore dan ini sudah melebihi jam kerjaku. Aku melongok melihat meja Ling yang kosong. Dan aku baru teringat bahwa dia telah pulang lebih dulu.


Pantas saja ruangan terasa sepi, ternyata tinggal beberapa orang saja yang berada di kantor.


Merasa lelah, aku mulai merenggangkan seluruh tubuhku agar semua ototnua kembali rileks.


Setelah merenggangkan otot-otot tangan dan punggungku aku berdiri untuk berbenah pada meja kerjaku yang terlihat sangat berantakan.


File-file lain aku rapikan sedemikian rupa. Dan terakhir, aku mengecek PC dan mematikannya.


“Belum pulang?” Sebuah suara lagi-lagi mengejutkanku. Ya siapa lagi? Manager Wang. Kenapa dia hobi sekali mengejutkanku akhir-akhir ini.


“Manager? Ini... aku masih berbenah.” Ucapku dengan menoleh ke arahnya sebentar kemudian melanjutkan kegiatanku. "Manager sendiri kenapa belum pulang?" aku balik bertanya padanya tanpa menoleh.


"Aku juga baru menyelesaikan pekerjaanku." Ucapnya menjelaskan. “Apa ada yang perlu aku bantu?” dia menawarkan diri dengan semakin mendekat ke mejaku.


“Ahh... tidak.... tidak usah, tak apa manager. Ini sudah selesai.” Ucapku sembari menumpuk map-map yang berserakan di atas meja menutup kegiatan berbenahku.


"Hhh..." Aku menghela napas melalui mulutku lega sembari menepuk-nepuk tanganku sebagai tanda semua telah beres.


“Aku antar kau pulang?!” Ucapnya dengan tiba-tiba sehingga membuatku sangat terkejut. Seolah tersengat listrik ribuan volt. Dia menawarkan atau mengajak? Tapi ini sama-sama tidak benar.


Kesalahan. Ini sebuah kesalahan.


“Maaf manager wang... aku sudah dijemput oleh seseorang." aku menolaknya dengan lembut dan sopan. "Aku... permisi dulu manager.” Ucapku dengan cepat-cepat mengambil tasku uang berada di samping meja dan bergegas pergi tanpa menunggu jawabannya.


“Mei...!” dia memanggilku dengan setengah berlari mengikuti langkahku hingga memasuki lift.


Hukuman apa ini ya Tuhan? Padahal aku sudah memencet tombol liftnya dengan celat tapi kenapa dia berhasil mengejarku.


“Kau mempunyai sebuah janji yang belum kau tepati.” Ucapnya mengingatkanku setelah berhasil menyusulku memasuki lift.


Aku mengernyit, berpikir sejenak. Janji apa yang dia maksud. Kemudian aku teringat. Apakah maksudnya...


“Ahh.... apakah maksud manager makan malam?” tanyaku padanya memastikan apakah benar yang aku maksud.


“Hu um... wah... kau sudah melupakannya rupanya?” tanyanya sembari tersenyum kecut mengalihkan pandangan dariku.


Aku merasa menyesal melihatnya seperti itu.


“Maafkan aku manager... ingatanku memang sangat buruk.” Ucapku kemudian mencari alasan.


“Tak apa-apa Mei. Tapi kau bisa menepatinya kan?” tanyanya bersamaan dengan pintu lift yang terbuka.


Aku bingung. Bagaimana aku harus menjawabnya. Aku juga tak mau mengingkari janji pada seseorang.


Sembari berjalan pelan keluar dari lift aku terus berpikir langkah apa yang harua aku ambil.


“Manager... aku akan menepatinya. Tapi untuk saat ini, aku tak bisa.” Ucapku padanya sembari berhenti berjalan dan menghadapnya di tengah lobi yang lengang.


“Eoh... Aku mengerti.” Ucapnya lesu.


Dengan perasaan yang berkecamuk aku berbalik untuk berjalan kembali. Kami pun berjalan beriringan hingga keluar pintu gedung kantor.


Manager Wang masih berada di sampingku. Dia melihat Jin yang tengah melambai ke arahku. Dia tak terkejut sama sekali. Bahkan sikapnya sangat datar sehingga aku sangat sulit menebaknya.


Perlahan senyumku mengembang kemudian membalas lambaian tangan Jin. Namun senyum Jin memudar saat menyadari seorang pria tengah berdiri di sampingku.


Hatiku berkecamuk tak karuan. Aku harus bisa menguasai situasi. Aku masih tetap berdiri pada tempatku sedangkan Jin, dia perlahan berjalan mendekatiku dan Manager Wang yang tengah terpaku di depan gedung kantor.


Ku lirik sekilas Manager Wang yang diam tanpa ekspresi. Dia sama sekali tak memberikan reaksi apa pun. Hanya terdiam menatap Jin yang berada semakin dekat dengan kami.


Terdiam. Setelah Jin berada dekat dengan kami. Ku lihat dia dan Manager Wang yang saling melemparkan tatapan mata tajam. Mereka sama sekali tak berkedip. Aku yang berada di antara mereka kini mulai merasakan hawa yang sangat mencekam dan menakutkan.


Aku benar-benar merasa sangat tak nyaman. Bagaimana tidak? Hawanya terasa benar-benar sangat aneh sekali seperti berada di titik antara dua medan magnet yang sama. Sehingga terjadi penolakan yang hebat.


Aku harus mencairkan suasana.


"Jin, kau sudah lama menunggu?" Tanyaku padanya dengan senyum semanis mungkin.


Sangat sulit sekali membuat senyum seperti ini saat hatimu berdebar kacau dan perasaanmu juga sangat kacau.


“Sudah hampir malam, ayo kita pulang.” Jin tersenyum mengajakku pergi sembari menggenggam sebelah tanganku dengan sebelah tangannya.


Sret!!


Sebelah tanganku yang bebas menarik tangan Jin yang menggenggam tanganku sehingga Jin yang mulai beranjak mengajakku pergi, kini menoleh ke arahku terdiam dan bingung.


Aku tak bisa menggambarkan bagaimana ekspresinya. Dia hanya mengernyitkan keningnya mengisyaratkan akan keheranannya akan sikapku.


Sedangkan Manager Wang masih terlihat menatap kami Tajam. Jin menatapku dengan tatapan yang menyiratkan berbagai pertanyaan.


Melihatnya seperti itu, Ku berikan senyumku padanya kemudian aku gamit lengannya tulus. Ku tatap matanya meyakinkan. Perlahan ku ajak dia untuk lebih mendekati manager Wang.


“Manager... dia adalah suamiku Feng Jinyi.” Ucapku pada manager Wang memperkenalkan Jin dngan penuh kemantaban.


Ya.... aku kini benar-benar menunjukkannya. Aku menunjukkan pada Manager Wang bahwa aku telah menikah. Aku tak lagi bersembunyi.


Namun manager Wang sama sekali tak terlihat kaget. Bahkan ekspresinya masih tetap tak berubah. Datar, diam dan tanpa ekspresi lainnya.


Dia sulit sekali ditebak. Ekspresinya seolah tak peduli aku telah menikah atau belum.


Mungkin memang dia hanya menganggapku sebagai bawahannya saja. Tidak lebih dari itu.


“Dan sayang... dia adalah manager team ku Wang Tian.” Jin juga sama halnya dengan Manager Wang. Diam.


Ya Tuhan.... Aku ingin menghilang saja saat ini. Kenapa situasinya sangat tak mengenakkan.


Aku menoleh ke Jin dan Manager Wang bergantian. Kenapa ini terasa sangat mengerikan.


Tidak ada yang mengulurkan tangan sama sekali. Tidak Jin, tidak juga manager Wang. Aku rasa kini aku benar-benar berada di antara awan dan mendung yang tengah bergesekan dan menimbulkan percikan listrik yang bergemuruh semakin lama semakin besar, sehingga menimbulkan tegangan listrik yang sangat kuat yang mangakibatkan terjadinya petir yang begitu dahsyat.


‘MATI LAH AKU!’ pikirku lemas.


***