
"Ayah.... Ini aku..." sapaku ketika ayah mertua membuka mata.
"Mei?? Ini benar kau nak?" Suaranya parau tak percaya jika aku benar-benar ada di sampingnya.
Ayah mertua terlihat sangat lemah sekali. Bohong jika ibu mertua dan Jin berkata bahwa ayah mertua baik-baik saja.
"Iya ayah, ini aku Mei." Ucapku sembari menggenggam dan mencium tangannya hangat.
Aku sangat menyayanginya.
"Menantuku... Ayah takut kehilanganmu... Jangan pergi." Ucapnya sembari menatapku dengan mata berkaca-kaca, memohon.
Ayah mertua. Aku sangat sakit melihat matanya yang berkaca-kaca. Aku pun menggeleng pelan dan mencium tangannya lagi.
"Tidak ayah. Tidak. Aku akan tetap di sisi Jinyi. Aku tak akan pergi. Aku akan tetap bersama di sini. Bersama ayah dan ibu." Aku mengucapkan janji padanya dengan sungguh-sungguh. "Ayah... maafkan aku... gara-gara aku... ayah jadi seperti ini." sesalku.
Akhirnya air mataku mengalir juga. Aku tak bisa lagi menahannya. Melihat kondisi ayah mertuaku yang seperti ini. Ini benar-benar menyakitkan.
"Ushhh.... Tidak nak jangan menangis. Kondisi ayah saja yang memang lemah. Maka dari itu... ayah dulu memintamu menikah dengan Jinyi, karena ayah ingin sekali melihat Jin menikah dengan orang yang dicintainya. Dan itu adalah kau. Selain itu... ayah juga sangat menginginkanmu, menginginkan putra sahabatku sebagai menantuku." Ucapnya lagi sembari tersenyum lemah. padaku.
Bibirnya terlihat membiru, wajahnya benar-benar pucat. Bahkan ayah mertua terlihat lebih kurus dari sebelumnya. Raut wajahnya sangat muram.
"Ayah senang sekali kalian akan segera mempunyai anak. Tapi sepertinya... ayah tak akan bertahan sampai saat itu. Sepertinya... aku tak bisa melihat cucuku lahir nanti. " Ucapnya lagi semakin sedih.
Kali ini ayah mertua benar-benar menangis dan semakin menghancurkan hatiku. 'Ya Tuhan... apa yang dibicarakannya?? Jangan kau ambil dia secepat ini.' Aku berharap dalam hati.
"Tidak ayah, tidak. Ayah jangan berkata demikian. Ayah akan kembali sehat seperti sedia kala. Kita akan berkumpul bersama, bersama ayah dan ibuku. Ayah juga akan menjadi kakek dan mengajak cucu ayah berkeliling setiap pagi. Ayah akan bermain bersamanya di ruang tengah setiap hari. Jadi... ayah harus bertahan sampai saat itu. Bahkan sampai nanti melihat cucu-cucu ayah menikah." Aku menubruk tubuhnya yang tergeletak lemah dan memeluknya sangat erat.
Akusangat takut. Kenapa Ayah mertua mengatakan hal semacam itu.
"Ayah tak bisa berjanji... tapi ayah akan berusaha." Ucapnya sembari menepuk-nepuk punggungku pelan membangkitkan sedikit harapannya yang tersisa.
Aku pun semakin mengeratkan pelukanku. Aku sangat menyayanginya. Seperti aku menyayangi ayahku sendiri. Aku tak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika dia pergi. Aku takut. Sangat takut.
Bayangan ketika aku bertemu dengan ayah mertua tadi di rumah sakit teringat dengan jelas di mataku.
Kata-katanya terus terngiang di telingaku.Aku benar-benar gelisah memikirkannya.
Aku memiringkan tubuhku ke sana ke mari mencoba mencari posisi yang nyaman. Gelisah. Aku tak dapat memejamkan mata barang semenit pun. Ini karena pengaruh kehamilanku atau kah memang karena aku memikirkan kondisi ayah mertua yang sepertinya semakin memburuk.
Mungkin efek dua-duanya.
Perutku berkedut beberapa saat. Little Feng sepertinya ikut merasakan apa yang ku rasa. Dia mencoba berinteraksi denganku. Mungkin untuk meyakinkan mamanya bahwa semua akan baik-baik saja.
"Apa kau mengerti apa yang mama rasakan nak? Mama takut... Mama tau kau juga ingin bertemu dengan Opa. Jad... mari kita doakan Opa agar Opa cepat sembuh dan kembali seperti sedia kala." Aku membai lembut perutku dan mengajaknya berbicara.
Tak berapa lama perutku berkedut lagi merespon apa yang aku katakan.
"Kau memang anak baik. Mari kita juga menjadi sehat." Ucapku padanya lagi sembari beranjak dari tempat tidur.
Akhirnya ku langkahkan kakiku berjalan keluar dari kamar untuk mencari suasana yang nyaman di luar kamar.
Aku berinisiatif membawakannya teh chamomile hangat agar pikirannya bisa tenang dan ibu mertua bisa lebih rileks.
Aku letakkan cangkir teh perlahan di atas meja kecil yang berada di balkon.
"Ibu... kenapa ibu tak beristirahat? Ini sudah larut malam." Tanyaku sembari mendekatinya.
"Eoh??? Kau juga tak tidur?" Ibu mertua terkejut serta menoleh spontan ke arahku, dia malah balik bertanya padaku.
"Apakah perutmu sudah mulai tak nyaman?" Tanya ibu mertua kemudian mendekatiku dan mulai mengusap-usap perutku yang membuncit.
"Entahlah." Aku tersenyum menggeleng padanya.
"Atau kau tengah memikirkan hal lain?" Tanya ibu mertua menyelidik.
Aku terdiam beberapa saat kemudian menghela napas dalam.
"Ibu... apakah donor jantung ayah belum dapat juga?" tanyaku tiba-tiba.
"Kau memikirkan hal itu?" Ibu mertua khawatir. "Mei... sebenarnya... Ada banyak calon pendonor yang terdata di bank donor, tapi..."y
Ibu mertua tak melanjutkan kata-katanya. Aku paham betul apa maksudnya. Donor jantung akan dilakukan jika pendonor telah meninggal. Jadi... ini akan sangat sulit.
Apa lagi, donor jantung adalah donor yang paling sulit. Aku sekarang mengerti kenapa ibu mertua sangat gelisah.
"Ah... Aku buatkan teh chamomile yang masih hangat untuk ibu." Ucapku mengalihkan topik dan menyodorkan teh itu pada ibu mertua.
"Terimakasih." Senyumnya kemudian menyeruputnya sedikit. "Uum.... Rasanya sangat segar." Katanya mengomentari teh itu dengan membelalakkan matanya.
Aku tersenyum mengangguk sebagai jawaban ucapan terimakasihnya.
"Tadi.... dokter berkata... ayah mungkin tak akan bisa bertahan lebih lama." Ibu mertua mulai bercerita dan air matanya jatuh juga.
Aku yang mendengarnya begitu terkejut. Aku juga tak tau harus bagaimana??
"Aku tak bisa membayangkan jika ayahmu pergi aku harus bagaimana?? Ibu takut." Ibu mertua menangis tersedu-sedu.
"Tidak bu, ayah akan bertahan. Aku yakin. Ayah akan bertahan. Dokter bukanlah Tuhan yang bisa memprediksi kehidupan seseorang bu. Kita harus yakin Tuhan akan memberikan jalan terbaik untuk ayah. Ayah akan bertahan." Ucapku meyakinkannya dan meyakinkan diriku sendiri.
Ya, kami masih punya Tuhan. Jadi kami harus meminta padanya yang terbaik bagi kami. Kami tak boleh pasrah dan harus terus berusaha sampai titik terakhir.
"Kau benar. Tuhan pasti akan memberikan kesehatan kembali pada ayah." Ibu mertua menahan tangisnya kemudian menggenggam erat tanganku dan menatapku dalam nan meneduhkan.
"Jadi ibu harus kuat dan jangan bersedih lagi. Eum??!!" Aku membuat sebuah permintaan pada ibu mertua.
Ibu mertua mengangguk dan mengembangkan senyum di sela tangisnya.Kami saling berpegangan erat untuk menguatkan satu sama lain. Dan berharap ada keajaiban untuk ayah mertua yang kini tengah terbaring lemah di rumah sakit.
***