
Pagi harinya saat sarapan bersama keluarga, aku tiba-tiba memberikan pengumuman mengejutkan.
Semalam aku benar-benar tak bisa tidur dengan nyenyak gara-gara Jin. Ya semua gara-gara dia hidupku kacau.
Mulai sekarang aku mau fokus pada kebahagiaanku sendiri. Aku akan berusaha tak peduli dengan orang lain. Aku harus egois. Demi kebahagiaanku.
“Aku tak mau menikah dengan Feng Jinyi!” ucapku kepada anggota keluargaku.
“APA???” kedua orang tuaku dan Huan terkejut secara bersamaan.
“Apa yang kau katakan nak? Pernikahan tinggal beberapa hari lagi?” ibuku mengingatkan, dia tampak kebingungan. Sedangkan ayahku hanya terdiam seperti memikirkan sesuatu.
“Ya, aku tak mau menikah dengannya, titik.” Ucapku marah kemudian segera berlalu untuk berangkat ke kantor tanpa sarapan.
Entah kenapa aku bisa merasa semarah ini pada Jin? Padahal aku mencintainya juga tidak. Telepon dari Jin ku abaikan begitu saja. tidak. Aku tak mau mendengar suaranya. Pria jahat itu. Aku sungguh membencinya.
Karena aku berangkat sangat awal jadinya aku memilih untuk berjalan kaki. Aku berpikir berjalan kaki dapat mengurangi stresku yang berlebihan. Ya, aku benar-benar merasa stres akhir-akhir ini. Aku butuh suasana yang baru.
Saat hendak menyeberang jalan mataku tanpa sengaja melihat sebuah salon kecantikan yang berada di dekat penyeberangan sudah mulai buka pelayanan.
Ku raba rambut bergelombangku yang panjangnya hampir menyentuh pinggul. Bibirku menyunggingkan senyum.
Entah setan apa yang merasukiku sehingga aku berjalan masuk ke dalam salon kecantikan itu. Ya aku berniat memotong rambutku menjadi sebahu.
Setelah rambutku mulai digunting, tiba-tiba aku sadar dan takut kalau-kalau aku akan terlihat semakin buruk. Tapi nyatanya setelah semua selesai, aku merasa aku terlihat lebih fresh dengan gaya rambut pendek seperti ini. Ini remind gaya rambutku saat aku Menengah atas. Ternyata aku masih pantas dengan tatanan seperti ini.
Tak berapa lama aku telah tiba di kantor. Aku masih merasa kesal hingga tak memperhatikan sekelilingku.
Pintu lift telah terbuka dengan cepat ku langkahkan kakiku memasukinya sebelum pintu tertutup kembali. Saat ini pun pikiranku benar-benar kosong melompong. Aku sama sekali tak fokus dengan sekitarku. Hingga sebuah suara mengagetkanku.
“Pagi?” aku terkejut ke arah suara yang menyapaku.
Suara yang membuatku berdebar-debar.
“Ah... pagi.” Aku langsung tersenyum canggung padanya tak percaya bahwa ini benar-benar terjadi. Aku juga begitu salah tingkah dibuatnya.
Tumben-tumbennya manager Wang, orang yang sangat aku sukai menyapaku kali ini. Biasanya dia begitu acuh padaku. Menatapku saja dia tak pernah. Apalagi menatap, melirik saja tidak.
“Rambutnya sangat cocok denganmu.” Ucapnya sambil menatapku sehingga membuatku semakin salah tingkah. Ini seperti sebuah doorprize. Karena Wang Tian si manager cuek telah menyanjungku.
“Ah... iya. Sudah lama aku menginginkannya.” Ucapku sambil mengusap pipiku yang terasa memanas. Pasti kini aku terliha seperti kepiting rebus yang merah merona karena tersipu.
“Kau terlihat sangat berbeda...” dia tersenyum masih dalan topik yang sama, menyanjungku. Yang membuat aku menjadi merasa tak nyaman. Awalnya senang tapi.... perasaanku berubah menjadi tak enak.Karena tidak biasanya Wang Tian berlaku seperti ini.
“Untukmu!” tiba-tiba dia menyodorkan kopi kaleng ke padaku yang membuatku semakin canggung. “Ambillah!” ucapnya lagi meyakinkanku bahwa dia benar-benar memberikan kopi kaleng itu padaku.
“Ah... terimakasih!” senyumku kemudian seraya menerima kopi yang masih hangat dari vending machine itu.
Aku tak sedang bermimpi kan? Aku terus berusaha meyakinkan diriku.
Akhirnya pintu lift pun terbuka dan kami bergegas melangkah keluar bersamaan.
“Aku mau menemui sekretaris direktur dulu, sampai jumpa nanti?!” dia berpamitan padaku dan tersenyum sembari melambai.
Dan aku hanya membalasnya dengan anggukan dan senyum canggung. Kutatap punggungnya hingga dia tak terlihat dari hadapanku. Aku benar-benar merasa tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
“Wohooo rambut baru? Ada apa gerangan???” Ling mendekatiku membuatku terkejut.
“Apa sih Ling.... Cuma potong rambut juga...”jawabku malas menanggapinya karena aku tengah merasa kesal.
“Hmmm..... Hanya potong rambut ya??" Ling tersenyum menggoda karena dia tau aku dalam sebuah tekanan. "Ya! Ada apa dengan manager Wang?” Ling semakin mendekatiku untuk bertanya karena tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Sepertinya dia memperhatikan aku dan manager Wang.
“Mana ku tau? Aku juga merasa heran.” Jawabku masih dalam keadaan bertanya-tanya sama herannya dengan Ling.
“Ish... Jangan berlebihan ya... Hanya potong rambut biasa, wajahku masih tetap sama. Dan lagi... Memangnya dia tau kalau aku akan menikah?” aku balik bertanya pada Ling heran.
“Iya juga ya..., dia kan tak tau soal rencana pernikahanmu itu.” Ling mencoba berpikir ulang kata-katanya.
“Aku tak mau menikah!” ucapku padanga menegaskan sambil berlalu pergi.
“APA???” Ling berlari mengejarku.
“Entahlah.... ku rasa pernikahan ini tidak benar.” Ucapku lemas sembari meletakkan tas ke meja kerjaku dan beranjak duduk.
“Aku juga merasa begitu? Tapi... aku juga merasa kalau kau akan bahagia jika bersamanya.” Ling mengutarakan opininya.
“Bahagia bagaimana? Kemarin saja dia bersama seorang wanita. Dan kau tau? wanita itu sangat seksi sekali. Mereka saling cium pipi kanan pipi kiri. Euuwhh... Sebenarnya tidak saling sih... wanitanya yang mencium. Tapi... Auhhh... sungguh...! pokoknya aku mau pernikahan ini batal.” aku merasa marah lagi mengingat akan hal itu.
"Kau tau... pria itu telah mencuri ciuman pertamaku Ling." Aku merajuk pada Ling.
“HAHAHAHAHA...." Dan Ling malah tertawa nista mendengarkan ocehanku.
Aku langsung menatap tajam ke arahnya.
“Kau gila? Kenapa kau tertawa? Apakah.ada yang lucu?” ucapku berbalik marah pada Ling yang menertawakan aku.
“Ya Tuhan.... iya kau sangat lucu.” Ucapnya masih tertawa terpingkal-pingkal.
Tak tau bagian mana uang membuatnya tertawa, padahal aku merasa tak ada yang lucu. Merasa kesal, ku abaikan saja dia dan aku berlalu pergi meninggalkannya.
“Ya.... tunggu aku!” dia berteriak mengejarku.
Hari ini pekerjaanku sangat banyak. Ling juga terlihat sangat sibuk sekali sehingga kami seperti orang yang tengah bermusuhan dan tak bertegur sapa sama sekali.
Aku berjalan ke arah mesin photocopy di ruangan kecil di dekat pantry. Di saat aku tengah memphotocopy berkas-berkas, tiba-tiba aku dikejutkan oleh sebuah pesan singkat masuk ke ponselku.
“Nak, nanti makan malam di rumah ya??” aku sedikit terkejut membacanya. Ya dari bibi Feng. Ini membuatku merasa bimbang lagi.
Aku teringat paman Feng lagi. Mereka orang-orang yang baik, juga mereka begitu menyayangiku. Haruskah aku membatalkan pernikahannya?
Lama aku tak membalasnya. Aku malah memperhatikan cincin pertunangan yang bertengger manis di jari manisku. Pikiranku melayang entah ke mana.
Akhirnya aku abaikan saja pesan itu dan kembali melanjutkan kegiatanku. Namun perasaan bersalah datang lagi. Aku tak tau harus membalas pesan bibi Feng apa tidak? Lama aku merasa bimbang. Hingga akhirnya ku keluarkan kembali ponsel dari saku rok maxiku dan mulai membalas pesan darinya.
“Iya ibu, setelah bekerja aku akan ke sana.” Nah balasanku berbeda dari apa yang aku ingin katakan. Padahal sebelumnya aku akan bilang kalau aku ada lembur dan tak bisa datang ke sana. Tapi dasar aku saja yang tak tegaan. Aku hanya bisa mendengus pasrah.
“Nanti ada makan malam kantor, mau berangkat bersama denganku?” Wang Tian mengejutkanku yang tengah melamun.
Berangkat bersama? Apa maksudnya ini dia mengajakku berkencan???? Berpikir apa aku ini? Hanya jalan bersama itu bukanlah sebuah kencan.
Tapi sebelumnya dia tak pernah mengajakku jalan bersama, bahkan dia sangat acuh sekali padaku. Apa mungkin memang benar kata Ling bahwa aku terlihat lebih cantik dengan rambut pendekku sehingga dia mulai memperhatikanku. Ah... ini membuatku semakin gila memikirkannya.
“Ah... malam ini?” Aku bingung lagi... aku sudah menerima undangan bibi Feng lebih awal, Jadi apa yang harus aku lakukan? Apakah menolak undangan bibi Feng dan menerima ajakan manager Wang?
“Maaf manager, sepertinya aku tak bisa. Karena... nanti... aku ada acara makan malam keluarga.” Akhirnya aku menolak manager Wang dan memilih bibi Feng. Aku merasa bersalah sekali telah menolaknya karena raut wajahnya sangat kecewa.“Maafkan aku tak bisa ikut.” Ucapku meminta maaf lagi.
Dia tampak kecewa sekali mendengarnya.
“Baiklah... tak apa-apa. Lagi pula... makan malam keluarga lebih penting bukan?” ucapnya kemudian dengan senyum dipaksakan. “Tapi aku harap lain kali kamu bisa menggantinya dengan makan malam bersama ku?” dia tersenyum seduktif. Ahhh... dia mulai menggodaku rupanya. Aku merasa senang tentu saja.
Tanpa sadar aku mengangguk menyetujui permintaannya. Dia kemudian tersenyum dan beranjak meninggalkanku sendirian untuk melanjutkan kegiatanku
***