
Ibu mertua menggenggam erat tanganku. Aku terguguk mendengar semua ceritanya.
Jadi.... selama ini aku yang bodoh? Aku tak tau jika Jin begitu mencintaiku.
Dari awal.... Bahkan dari aku belum bisa melihat dengan jelas. Sebegitu dalamnya perasaannya padaku?
Pria berhoodie yang selalu membuat jantungku berdebar-debar. Yang membuatku selalu ingin berangkat ke sekolah setiap hari meskipun terkadang aku merasa kecewa ketika tak bertemu dengannya. Presiden sekolah yang kejam tapi berhasil membuatku menjadi pribadi yang lebih kuat. Dan pengirim surat kaleng yang penuh dengan kata-kata menenangkannya. Mereka semua adalah satu orang yang sama.
Jin, menjadi orang yang membuatku jatuh, mengobati lukaku dan membuatku tenang di saat yang tak terduga.
Apakah aku merasa dipermainkan olehnya? Apakah aku merasa dia adalah pria berkepribadian ganda? pada awalnya aku merasa demikian, tapi setelahnya.... aku mengerti kenapa Jin melakukannya. Karena dia terlalu mencintaiku. Aku menyadari ini semua bukanlah seratus persen kesalahannya. Karena perjodohan di antara kami adalah ide ayahku sepenuhnya.
Semua karena aku dan hanya untukku. Aku sadar karena bentakan-bentakan Jin aku berubah menjadi orang yang lebih kuat dan tak lagi mengeluh, aku lebih bisa menghargai diriku sendiri.
Aku memeluk erat hoodie milik Jinyi.
"Maafkan kami nak... Kami benar-benar tak bermaksud membohongimu. Semua kami lakukan karena cinta Jin untukmu sangatlah tulus." Ibu mertua mencoba menenangkanku. "Percayalah... kami para orang tua melakukannya karena menginginkan kalian bahagia." Ibu mertua beranjak memelukku hangat.
Karena kejadian ini aku jadi tau mana yang bohong mana yang benar.
Aku berpikir aku adalah penebus hutang, tapi ternyata bukan. Aku sudah salah menyimpulkan semuanya.
Kebodohanku, aku tak mendengarkan penjelasan Jin terlebih dahulu. Aku ingat sekarang. Sebenarnya, dari awal Jin ingin sekali menjelaskan semua padaku. Tapi aku selalu merasa takut dan marah. Aku tak mau mendengarkan apa pun penjelasannya.
Ya... ini sepenuhnya salahku... salahku....
Feng Jinyi... aku merindukannya... Kekasihku... Cintaku... aku sangat merindukannya.
"Ibu... maafkan aku... Aku yang telah menyebabkan semua kekacauan ini. Jika bukan karena aku, maka...."
"Ushh... jangan berkata begitu." ibu mertua memutus kalimatku dan perlahan melepaskan pelukannya dariku dan menatapku dengan kening mengernyit.
"Tapi.... ayah..."
"Tidak sayang... jangan berkata begitu. Ini bukan salahmu... ayah memang sedang tidak sehat. Bukan karena dirimu. Memang takdirnya sperti ini." Ibu mertua memutus kalimatku lagi seraya merengkuh wajahku sehingga dia bisa melihatku dengan jelas.
"Sebaiknya kau istirahat sekarang. Kasihan little Feng kan? Kau terlihat pucat sekali. Kau pasti kurang beristirahat." Ibu mertua menatapku khawatir. "Lagi pula ini sudah subuh. Ini tidak baik untukmu dan little Feng." Ibuku mengimbuhkan.
Ya... di saat seperti ini dia malah merasa khawatir padaku. Menantu macam apa diriku yang membuat mertuanya khawatir sampai seperti ini.
Dan aku baru menyadarinya. Jarak kami yang begitu dekat membuatku bisa melihat dengan jelas kerutan-kerutan halus di dekat matanya. Ada warna kehitaman terlihat samar di sekitar matanya.
Spontan aku memeluknya dengan sangat erat. Aku meluapkan tangisanku dipundaknya.
Ibu mertuaku. Saat pertama bertemu dia terlihat sangat cantik sekali dengan kulitnya yang sehat. Tapi sekarang... Semua itu... pasti karena dia merasa kelelahan dan banyak beban pikiran. Kenapa aku menambahkan beban pikiran dan hatinya?
"Sayang...??" Ibu mertua terkejut mendapatkan pelukan spontan dariku. Kemudian dia tersenyum dan membelai rambutku pelan.
"Ibu dan ayah sangat menyayangimu. Jangan menangis lagi. Atau Jinyi akan memarahi ibu karena membiarkan istri tercintanya berubah jelek karena terus-terusan menangis." Ibu mertua menyisipkan candaan ringan dalam ungkapannya sehingga membuatku tertawa lirih dalam tangisan.
"Ibu sungguh maafkan aku. Aku ingin bertemu dengan ayah dan meminta maaf langsung padanya." Ucapku setelah melepaskan pelukanku padanya dan membersihkan air mataku.
Kali ini, akhirnya aku merasa lebih tenang dan santai.
"Tidak.... sebaiknya kau istirahat dulu eoh!" Ibu melarangku.
"Tidak Ibu... Aku tak apa." Aku meyakinkannya.
Cklek!
Terdengar pintu depan terbuka. Dan suara langkah kaki mendekat ke arah dapur di man kami berada.
"Mei????" Jinyi terkejut melihatku tengah duduk berdua dengan ibu mertua di kursi meka makan. "Sayang? ini benar kau???" Jin langsung berjalan tergopoh mendekatiku.
Pakaiannya sangat berantakan, sepetinya dia belum berganti pakaian dari kemarin. Rambutnya sangat acak-acakan. Matanya terlihat sembab. Entah karena kurang tidur atau karena menangis.
Melihatnya seperti membuat hatiku terluka segingga aku langsung bergegas berdiri dan berjalan mendekatinya. Tidak. Tidak hanya mendekatinya tapi aku juga memeluknya terlebih dahulu.
Ya... aku tak bisa berbohong. Aku tak bisa menghianati hatiku, aku benar-benar merindukan priaku.
"Maafkan aku." Ucapku dengan suara parau karena tangisku mulai pecah.
"Sayang.... aku sangat merindukanmu. Aku yang bersalah padamu. Kau tau aku hampir gila karena kau meninggalkanku. Terimakasih kau telah kembali." Jin mengeratkan pelukannya padaku.
"Apa kau baik-baik saja?? eum??? Apa kau makan dengan baik??? apa kau tidur dengan baik??? Apa kau kedinginginan??? Bagaimana little Feng??? Tidak ada yang terluka kan???" Jin bertanya tanpa henti sembari memgecek seluruh tubuhku dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Sayang.... Aku benar-benar mengkhawatirkanmu. Terimakasih kau telah kembali. Maafkan aku.ya?" dia merengkuh wajahku namun detik berikutnya memelukku kembali.
Aku yang mendapatkan perlakuan seperti itu tak bisa berkata apa-apa.
Ini Jin-ku. Dia mengkhawatirkan aku. Dia benar-benar mencintaiku. Sejengkal saja dia tak mau menjauh dariku. Dia sepertinya sangat merindukanku. Padahal baru sehari semalam. Tapi rasanya sudah berabad-abad kami tak bertemu.
Kali ini dia melepaskan pelukannya dan mencium keningku kemudian beralih ke ubun-ubunku.
"Maafkan aku." Aku malah mengucapkan maaf lagi pada akhirnya.
Jin tersenyum tipis kemudian...
Cup.... sedetik dia mengecup bibirku kilat kemudian menatap mataku.
Cuup... dia mengecup lagi sedikit lebih lama dan menatap ku kembali.
Cuuup.... Dan ini yang ketiga kalinya membuatku langsung merasa pusing dan berdebar-debar.
"Jangan katakan itu lagi." Jin tersenyum sembari mengusap membersihkan pipiku yang basah dengan kedua tangannya.
"E.... em... ehm... Dan... sebaiknya ibu harus bersiap ke rumah sakit." Suara ibu mertua mengejutkanku yang begitu terlena setelah bertemu kembali dengan belahan hatiku.
Kami kemudian menoleh ke arah ibu mertua yang tersenyum senang. Aku jadi gugup dan tersipu-sipu. Aku hampir saja melupakan kalau ibu mertua masih berada di sini.
Dan aku baru tersadar jika jam di dinding sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Rasanya malam cepat sekali berlalu.
"Aku ingin sekali ikut menemui ayah. Aku ingin meminta maaf." Ucapku kemudian membuat Jin membelalakkan matanya.
"Sayang... nanti saja. Kau harus istirahat dulu." Jin sedikit membentak.
Ya... ini, aku menemukan sosok presiden sekolah yang galak padaku. Sekarang aku bisa mengingatnya dengan jelas. Suara presiden sekolah dan mata teduh pria.berhoodie. Bodohnya aku yang tak menyadarinya dari dulu.
"Tidak. Kau istirahat saja. Semalaman kau tak beristirahat sama sekali." Ucap ibu mertua mengejutkanku dari lamunan. "Dan tentunya.... kalian butuh waktu untuk berdua." Goda ibu mertua dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Ahhh.... ok... ok... ibu cepatlah berangkat. Tadi ayah masih tertidur. Nanti kalau ayah bangun dia pasti kebingungan karena sendirian." Jin mencari-cari alasan agar ibunya cepat pergi.
"Baiklah... baiklah... ibu akan berganti pakaian dulu. Dan kau.... jaga menantu kesayangan ibu. Kalau kau buat dia kecewa lagi... Awas saja, aku patahkan adikmu itu." ancam ibu mertua sembari menunjukkan barang berharga milik Jin.
"Whoaaah... ibu, mana bisa seperti itu." Jin ternganga tak percaya. "Ini satu-satunya asetku yang paling berharga." Jin membela diri.
"Jadi??? Aku bukanlah asetmu yang paling berharga??" Tanyaku spontan.
"Bukan begitu sayang.... Kau tentu saja berharga, tapi.... kalau ibu mematahkannya... secara otomatis aku akan kehilangan dirimu." Dia mencoba menjelaskan. Namun ekspresinya terlihat semakin lucu.
Aku hanya terkikik pelan melihat tingkahnya yang menggemaskan.
"Nah makanya... jaga dia baik-baik. Kalau tidak... coba saja." Ancam ibu mertua lagi.
"Baiklah.... baiklah.... aku akan mengantar istriku beristirahat dulu ibu silahkan bersiap-siap. Setengah Jam lagi pak Huang datang." Ucap Jin kemudian mengangkatku dalam bopongannya.
"Ya... Jin!!!" Teriakku karena begitu terkejut mendapatkan perlakuannya yang tak pernah ku pikirkan.
"Ya Tuhan... Sepertinya ibu benar-benar harus pergi sekarang." Tawa ibu mertua.
"Kau ini... malu kan dilihat ibu." bisikku ketika Jin berjalan membopongku ke kamar.
Jin hanya terkekeh pelan.
"Ibu juga pernah muda. Juga pernah jatuh cinta. Biarkan saja." Ucapnya santai. "Nah... Kasur dan bantalmu sangat merindukanmu. Jadi.. Kau harus beristirahat sekarang. Sementara aku akan membuatkanmu sarapan." Ucapnya sembari menurunkan aku ke tempat tidur.
Tapi aku tak mau dan malah mengeratkan pelukanku di lehernya yang akhirnya membuat Jin terkunci dengan posisi membungkuk karena tangannya berada di bawah tubuhku dan aku merangkulnya erat.
"Heii... apa kau sangat merindukanku??" Godanya membuatku semakin mengeratkan rangkulanku.
"Aku mau seperti ini beberapa saat." ucapku memanja.
Jin menghela napas dalam. Posisinya benar-benar dalam keadaan yang sangat krisis. Jika dia menjatuhkan tubuhnya di atasku takut kalau dia akan menekan perutku yang mulai membuncit. Jadi dia tetap mempertahankan posisinya dengan membungkuk.
"Tapi.... punggungku sakit sayang." Jin kewalahan. "Begini... lepaskan dulu nanti peluk aku lagi setelah posisiku benar." Dia memberikan saran.
"Tak mau...." Dan lagi, aku semakin mengeratkan rangkulanku.
Aku juga tak tau kenapa rasanya aku ingin sekali memanja dengannya secara tiba-tiba.
Sigh. Jin mendesah pelan.
"Bentaaaar saja. Nanti boleh memelukku lagi. Hanya untuk merubah posisiku." Ucapnya dengan suara tertekan karena merasakan pegal pada punggungnya.
"Tidak... tidak... tidak...." Aku bersikeras tak mau.
Jin pun akhirnya menahannya untuk beberapa menit karena sikapku yang tiba-tiba manja.
***
Terimakasih bagi para readers yang telah memberikan komentar untuk mendukung saya, saran maupun kritiknya. Saya harap para readers tak jenuh dan tetap mau memberikan semangatnya!
Terimakasih pyoooong :***