WE GOT MARRIED

WE GOT MARRIED
Chapter 37 KODE KERAS!



Aku ingin jujur. Tapi... sangat tak masuk akal jika aku tiba-tiba jujur bahwa aku telah menikah. Iya kalau dia benar menyukaiku? Jika tidak? Dia pasti akan berpikir bahwa aku terlalu percaya diri.


Tidak, aku tak mau menanggung malu. Jadi sebaiknya aku jujur jika nanti dia menyatakan perasaannya. Iya , benar demikian.


“Mei...?” Manager Wang memanggilku lagi karena aku tak menanggapi pernyataannya bahwa dia mencemaskanku.


“Iya manager.” Aku masih berada dalam fase kebingungan menanggapi pernyataannya.


“Lain kali... kau harus menjaga kesehatanmu. Makanlah dengan teratur. Jangan sampai kau sakit lagi, eum?” manager Wang menyentuh pundak kananku pelan.


Deg!


Ini benar-benar kode keras. Apa yang harus aku lakukan? Aku sangat bingung dalam situasi ini. Tidak.... atau ini hanya perasaanku saja?


“Ah... baik manager, aku akan menjaga kesehatan dengan baik.” Ucapku sembari sedikit mundur ke belakang sehingga tangan manager Wang terlepas dari pundakku.


Dia sedikit terkejut melihat reaksiku. Tangannya yang semula berada di pundakku kini dimasukkannya ke dalam saku celananya. Dia telah memberiku sebuah isyarat. Apa sebaiknya Aku harus memberinya sebuah isyarat juga.


 


Berpikir sejenak, bagaimana aku harus melakukannya? Aku harus melakukannya dengan cara yang halus agar aku tak malu jika ini semua hanya perasaanku.


 


“E... ehmm...!” aku berdehem sembari menyibakkan rambutku ke belakang telinga dengan tangan kiriku, dengan maksud manager Wang melihat cincin yang berada di jari manisku dengan cantiknya.


Aku pikir pasti dia akan mengerti apa maksudku.


Manager Wang menatapku namun sayangnya reaksinya begitu datar. Tidak ada reaksi seperti apa yang aku harapkan.


Sekedar memperjelas. Reaksi yang aku harapkan adalah di mana dia akan terkejut saat melihatnya. Namun nyatanya tidak. Reaksinya benar-benar datar, Sehingga aku berpikir, mungkin aku yang telah salah paham terhadapnya.


Ya, Jadi ini semua adalah kesalah pahaman karena aku terlalu percaya diri. Konyol. Aku tertawa miris dalam hati. Jadi... dia benar-benar menyukai orang lain bukan aku. 'Syukurlah' aku bersyukur dalam angan.


“Ahh... kalau begitu sampai jumpa saat makan siang nanti.” Senyumnya padaku.


Lah ini apa...?? aku baru saja bersyukur. Tapi ini apa? Apa ini maksudnya dia mengajakku makan siang bersama dengannya? tidak. Aku pasti salah mengira.


“Ma... kan... siang?” aku balik bertanya bingung dan tak percaya.


“Hu um.... Selamat bekerja!” Ucapnya tersenyum menyemangatiku kemudian beranjak pergi.


Apa coba maksudnya ‘sampai jumpa saat makan siang?’? apa dia mengajakku makan bersama? Tapi... bukankah tadi dia sudah melihat aku mengenakan cincin di jari manisku? Dia melihatnya apa tidak sih? Aku sangat yakin dia melihatnya, tapi....


‘Ahh... kamu berpikir apa Mei? Teman pun juga bisa makan siang bersama.’ Sebelah Hatiku mencoba menenangkan sebelah hatiku yang bimbang.


Mungkin kalau dalam film atau drama, dalam hati manusia itu ada dua penjaga, yang satu angel yang satu demon. Dan mungkin juga dalam situasiku di sini angel yang merasa khawatir, sedangkan demon yang menenangkan? Atau sebaliknya.


Karena aku juga belum tau yang benar yang mana?


Gara-gara percakapan pagi tadi aku yang semula masih terkena efek dentuman supernova kini berubah menjadi titik black hole yang sangat suram karena tak dapat ditembus oleh cahaya.


Benar-benar suram. Aku merasa bingung dengan tingkah manager Wang. Padahal aku tidak menggodanya kan? Tapi kenapa dia begitu? aku kan mau menjauh darinya malah. Tapi kenapa dia semakin mendekat? Kepalaku rasanya nyut-nyutan.


Aku tak fokus pada pekerjaanku dan bahkan sering melamun hingga tak terasa jam makan siang telah datang.


"Ayo hari ini menu kesukaanmu." Ling memgirimiku pesan singkat.


Tiba-tiba aku jadi tak merasakan nafsu makan lagi. Bukan karena senang, melainkan karena begitu khawatir dan takut kalau-kalau manager Wang akan muncul begitu saja di depanku. Sehingga aku malas pergi ke kantin.


“Ling aku tak makan.” Aku membalas pesan singkat pada Ling dan masih duduk di meja kerjaku.


“Ya... kau baru sakit. Jangan rewel! ayo cepat datang. Aku sudah terlanjur memesankanmu makanan.” Ling membalas dengan mengirimkan foto dua nampan makan yang sudah dipesannya.


Aku langsung lemas. Jadi.. mau tak mau aku harus ke kantin juga.


Perlahan, dengan mengendap-endap aku pergi ke kantin untuk menemui Ling. Takut, kalau-kalau manager Wang menemuiku dan ikut makan bersama dengan kami. Pasti rasanya akan sangat tak nyaman.


“Hufh...” Aku menarik napas lega setelah duduk di depan Ling dan tak melihat manager Wang di mana pun.


“Kau kenapa?” Ling mencurigai sesuatu karena melihat gelagatku sangat aneh.


“Aku rasa ini benar-benar bencana.” Aku mulai menyuapkan makan dengan terburu-buru.


"Bencana apa maksudmu?" Ling bertanya heran padaku.


“Hai... boleh aku ikut makan di sini.” suara seseorang mengejutkanku yang tengah tergesa makan.


“Uhuk... uhuk....” Ya... Manager Wang benar-benar datang.


Sontak aku langsung kaget dan tersedak. Sedangkan Ling hanya ternganga tak percaya dengan apa yang kini tengah terjadi di depan matanya.


“Kau tak apa-apa?” dengan sigap manager Wang meletakkan nampannya di sampingku dan langsung menepuk-nepuk punggung atasku pelan.


“A... aku... aku baik-baik saja.” ucapku padanya sembari memberikan isyarat agar manager Wang menghentikan aksinya menolongku yang tengah tersedak.


Dengan cepat aku membersihkan mulutku dengan tisue dan minum yogurt strawberry kesukaanku.


“Ahh... boleh kan aku duduk di sini?” dia meminta izin lagi.


Terpaksa akhirnya aku mengangguk juga menyetujui permintaannya.


Ling sedari tadi hanya terbengong-bengong tak tau harus berbuat apa. Sepertinya dia juga menyadari sesuatu. Tidak. Dia sudah sadar dari dulu sebelum aku menyadarinya.


Sepertinya bukan cuma perasaanku saja yang mengatakan kalau dia menyukaiku.


“Eoh... silahkan manager.” Ucap Ling kemudian setelah dia mampu menguasai dirinya.


Kami melanjutkan makan. Sunyi. Kami saling terdiam. Tak tau harus berkata apa. Sesekali aku dan Ling saling melempar pandang dan memberikan kode-kode yang hanya kami sendiri yang tahu.


“Kalau anemia, sebaiknya makan daging merah yang banyak.” Tiba-tiba manager Wang memecah keheningan dengan memberikan lauk dagingnya ke mangkuk makanku.


Aku dan Ling langsung terkejut bersamaan. Bingung, tak tahu harus berbuat apa.


“Ahh... ta... tapi manager... aku sudah makan banyak sekali daging hari ini.” aku mengelak namun semuanya sudah terlambat, karena dagingnya sudah berada di mangkukku seolah tersenyum dan melambai ke arahku.


Aku hanya bisa menggigit bibir bawahku dan menunduk. Hingga pada akhirnya aku harus mengatakan..


“ Terimakasih.” Dan tertunduk lesu kembali.


Potongan daging dan nasi kali ini rasanya benar-benar sekeras batu. Kenapa sulit sekali untuk menelannya.


Aku meyakini ini sebuah isyarat buruk. Lalu apa yang harus aku lakukan??


 


***