WE GOT MARRIED

WE GOT MARRIED
Chapter 14 INGIN MEMBATALKAN PERNIKAHAN



Sunyi. Hanya terdiam tanpa sepatah kata pun keluar dari mulut kami. Kami berkecamuk dalam pikiran masing-masing. Itu yang terjadi di dalam mobil saat perjalanan menuju ke rumahku.


Hanya terdengar deru halus mobilnya. Sesekali Jin melirik ke arahku. Tapi aku berpura-pura tak menyadarinya dan malah mengalihkan pandanganku ke luar kaca mobil untuk melihat pemandangan malam kota dengan lampu-lampu hias yang berkelap-kelip.


 


Niat awalku yang semula untuk membatalkan pernikahan, kini malah tidak jadi terucap. Aku sulit sekali mengatakannya. Seolah lidahku terasa kelu dan sulit sekali digerakkan untuk membuat sebuah kata. Aku semakin down dan merasa semakin putus asa.


Aku bingung harus bagaimana?


“Ada apa denganmu?” tiba-tiba Jin membuka suara memecah keheningan di antara kami berdua.


Mendengarnya bertanya seperti itu membuatku merasa kesal. Saking kesalnya aku hanya bisa diam dan tak mengatakan apa pun.


Pertanyaan macam apa itu? Tidakkah dia menyadarinya? Kenapa dia tidak peka sama sekali.


Lama..... Namun akhirnya aku beranikan diri untuk balik bertanya padanya.


“Sepertinya... kau dengannya terlihat begitu dekat?” aku balik bertanya, tapi sepertinya nada bicaraku tidak dalam konteks untuk sebuah pertanyaan.


Jin tidak langsung menjawab, dia mencerna kalimatku kemudian berpikir siapa yang aku maksud dengan kata ganti "nya".


“Ah... apakah Fei yang kau maksud?” Jin menebaknya dengan menoleh ke arahku.


Aku masih mengabaikan tatapannya dan tak bergeming dari pandanganku ke luar kaca.


“Aku lupa namanya.” Jawabku asal, terdengar ketus sepertinya. “Kenapa ayahmu tidak meminta dia saja untuk menjadi istrimu? menjadi orang yang akan kau nikahi? Sepertinya kau bahkan mengenalnya dengan sangat baik.” Aku mengajukan beberapa pertanyaan lagi.


Jin mengerutkan keningnya mencoba menangkap maksud dari perkataanku yang aku sendiri juga bingung dengan apa yang baru saja aku tanyakan.


“Siapa yang mengatakan demikian? Kau berpikir aku dan Fei terlibat dalam sebuah hubungan? Sehingga kau menyimpulkan dan mengatakan begitu. Sebenarnya, aku tak mengenal Fei sebaik itu. Kita hanya teman lama itu saja.” Jin mencoba menjelaskan.


“Tidak. Aku tidak mengatakan kau dan dia punya atau terlibat suatu hubungan. Aku hanya mengutarakan pendapatku, itu saja.Karena... Di saat kau begitu sibuk dengan kegiatanmu, kau masih bisa bersamanya kan? Kau masih bisa bertemu dengannya. Bukankah... itu sangat bagus untuk suatu hubungan?”aku mencoba mencari alasan yang tepat sebelum aku mengutarakan keinginanku untuk membatalkan pernikahan.


Jin melirik ke arahku tajam. Namun aku masih tak menghiraukannya dan berusaha menghindari lirikan matanya yang setajam mata anak panah.


"Dia... juga terlihat sangat sempurna. Dari kaki hingga kepala dia benar-benar sempurna. Itu sangat mustahil kalau kau tak menyukainya." Aku mengimbuhkan kemudian menggigit bibir bawahku merasa berat sekali mengatakan itu.


Jin terkejut mendengar opiniku. Tapi dia masih berusaha fokus dalam kemudinya.


“Mei... ayolah... aku tidak begitu... Aku bukan tipe pria seperti yang kau katakan. Aku sama sekali tak menyukainya. Sebenarnya.... apa yang ingin kau katakan padaku?” sepertinya dia menangkap gelagat anehku. "Semua Orang itu tidak sama. Dan aku adalah termasuk dalam golongan yang mustahil itu." Jin masih mencoba menjelaskan.


Sepertinya ini sulit mencari celah Jin. Sigh. Aku menghela napas dalam.


“Sepertinya pernikahan ini tak bisa dilanjutkan.” Ucapku kemudian langsung tanpa basa-basi dan terdengar sangat tegas.


 


Jin menekan pedal rem spontan sehingga menimbulkan suara berdecit yang memekakkan telinga sebelum akhirnya mobilnya berhenti. Aku sedikit tersentak ke depan. Untungnya aku memakai sabuk pengaman jadi kepalaku tidak terkantuk dashboard karena tubuhku telah aman tertahan sabuk pengaman.


Dan untungnya lagi, di belakang kami tidak ada monil lain. Kalau ada, pasti kami tertabrak dan mobil yang kami naiki akan terpental.


 


“Apa??? Apa yang kau katakan??? Kau ini kenapa? Aku serius akan menikahimu Mei. Aku tidak main-main. Demi keluargaku, deni keluargamu juga.” suaranya terdengar lebih keras dan terdengar sangat tegas.


“Demi keluarga kita...?” aku tersenyum hambar dan balik bertanya padanya. Aku memejamkan mataku sesaat kemudian membukanyaagi. “Sudahlah Jin... kita akhiri di sini saja. Aku rasa aku tak bisa melakukannya. Aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi nanti setelah kita menikah. Aku...” Aku tak bisa lagi memperjelas alasanku karen sepertinya ada yang mengganjal dihatiku sehingga membuatku tak bisa melanjutkannya.


“Ya Tuhan... aku semakin tak mengerti arah pembicaraanmu.” Dia terlihat frustasi dan kemudian menjambak rambutnya yang tertata rapi itu dengan kesal, sehingga kini membuat rambutnya berantakan.


"Mei...." Dia menghadap padaku kemudian menghela napas panjang. "Mei... ku mohon kali ini saja, percayalah padaku. Aku bukan pria yang tidak benar. Aku bukan pria brengsek yang mempermainkan pernikahan. Aku akan menjaga komitmenku. Percayalah." Dia menjelaskan panjang lebar.


Aku mengatur napas sejenak.


"Tapi kita menikah tanpa cinta. Apakah kita bisa hidup bersama seperti itu? Bisa? tidak Jin. Aku tak bisa. Aku tak bisa melakukannya. Aku tak bisa hidup bersamamu dalam perasaan seperti itu." Aku kini memneranikan diri menatap Jin yang menangkupkan kepalanya di kemudi.


"Dan aku pikir... kalau hanya untuk menemanimu dan untuk selalu berada di sampingmu, aku rasa... temanmu memenuhi kualifikasi itu. Jadii...”


“Tidak... Aku katakan padaku aku tidak akan membatalkan pernikahanmu denganku, aku akan tetap menikahimu.” Dia mengangkat kepalanya dan mengucapkannya untuk memotong kalimatku.


Suaranya terdengar sangat tegas. Bahkan aku sampai merinding dibuatnya.


“Apapun keadaannya, apapun yang terjadi dan bagaimana pun juga... aku akan tetap menikahimu. Jangan tanyakan kenapa aku bersikeras menikahimu. Karena percuma aku menjelaskannya padamu. Jadi jangan pernah memintaku untuk membatalkan pernikahan, karena aku tak akan pernah mau melakukannya. Dan satu hal, sudah ku katakan padamu bahwa aku tidak terlibat hubungan apapun dengan wanita mana pun.” Dia menoleh ke arahku. “Aku... minta maaf.” Ucapnya kemudian yang membuatku tertegun tak percaya.


Saking tertegunnya, aku tak bisa mencerna perkataannya yang sangat panjang sekali.


Mulutku terkunci, tak bisa mencari alasan lagi.


Sepertinya aku memang harus menikah dengannya. Percuma aku mengemis padanya untuk meminta pembatalan pernikahan karena dia akan tetap menikahiku mau tak mau.


Sunyi kembali. Kami tak mengeluarkan sepatah kata pun.


Setelah beberapa menit, Jin menginjak pedal gasnya lagi untuk melanjutkan perjalanan.


Tak ada kata yang terucap. Dan kami pun saling terdiam dan berkecamuk dalam pikiran masing-masing kembali.


 


***