
Ayah Zhang menemani Jinyi di rumah inapnya. Malam itu langit begitu cerah, sehingga menunjukkan semua bintang-bintangnya yang berkedip-kedip seakan menggoda.
Di balkon, mereka berdua tampak berbincang hangat. Dan sesekali tersenyum satu sama lain.
"Bukankah kau sangat merindukannya nak? Tapi kenapa kau malah bersembunyi?" Ayah Zhang tiba-tiba menanyakan hal itu pada Jin dengan perasaan heran.
Ya... dua tahun telah berlalu, tapi Jin sama sekali belum pernah bertatap mata dengan Mei. Sesekali, ayah Zhang memberikan foto dari ponselnya untuk memberi tahu perkembangan Mei pada Jin. Hanya seperti itu.
Jin merasa sakit, meski begitu... dia tetap kekeh pada prinsipnya untuk tidak menemui Mei. Karena... Jin merasa tak bisa mengendalikan jantungnya jika harus berhadapan langsung dengan Mei.
Perasaan yang semula hanya sayang sebatas adik, kini perasaan itu bertambah semakin kuat dan kuat, serta berubah menjadi perasaan yang lebih dalam dan menyakitkan.
"Saya...." Jin bingung harus bagaimana menjelaskan. "Entahlah paman. Melihatnya dari kejauhan saja sudah membuatku sangat senang." Jin tersenyum kecut kemudian.
"Hey... Kau ini... mana ada perasaan senang kalau hatimu menahan rindu." Ayah Zhang prihatin. "Kau ini, benar-benar seperti.ayahmu ya. Aku benar-benar menyukaimu, kau tau itu nak?" Ayah Zhang menepuk pundak Jin gemas hingga membuat Jin meringis dan rersenyum secara bersamaan.
"Oh iya, Mei mendaftarkan diri masuk di sekolahmu dan syukurnya dia diterima. Kau jaga dia ya? Dia... sedikit masa bodoh dengan lingkungannya. Mungkin... dia akan kesulitan mencari teman." Ayah Zhang memberikan kabar kemudian meminta sesuatu pada Jin. "Dan ini kesempatanmu untuk lebih mengenalnya." Beliau memberikan saran.
Tidak ada tanggapan lain selain hanya tersenyum antara senang dan bingung. Karena, rasanya tak mungkin jika harus mendekati Mei. Secara Jin adalah termasuk orang yang sulit mengekspresikan perasaannya.
Semakin tahun semakin bertambahnya usia mereka, perasaan senang yang dirasakan Jin sebelumnya berubah menjadi perasaan menyakitkan karena perasaan rindu yang semakin dalam dan dalam.
Sifat dingin dan pendiam Jinyi saat dia masih kecil masih terlihat hingga sekarang. Mungkin karena itu... hingga saatnya dia bertemu dengan Mei, Jin malah merasa sangat takut dan bingung. Hingga akhirnya dia memilih untuk berpura-pura tidak mengenal Mei sama sekali.
Tepat hari di mana Xiumei memasuki SMA sekolahnya yang baru.
Semua murid baru berkumpul di aula pertemuan dan berbaris rapi. Jinyi selaku presiden sekolah telah berdiri di depan podium bersiap untuk memberikan sambutan kepada murid baru sebelum acara pengenalan sekolah dimulai.
Keriuhan terjadi. Para siswi baru berbisik-bisik dan ternganga melihat Jinyi yang tengah berdiri di podium. Semua merasa terpesona oleh Jinyi yang begitu tampan dan kharismatik. Wajah pengusaha sudah terlihat dengan jelas ada pada dirinya.
Tapi saat dia hendak membuka pidatonya, terlihat seorang anak perempuan yang sangat manis tengah berlari tergesa-gesa untuk bergabung ke dalam barisan.
Deg!
Jantung Jinyi serasa ingin melompat dari tempatnya.
Siswi baru itu benar-benar membuat jantungnya berdebar tak karuan. Tubuh mungilnya yang tingginya tak lebih dari 150cm. Rambut sebahu dengan menjepit sedikit rambutnya di atas kedua telinganya.
Kontur wajahnya yang kecil, hidung mungil nan mancung, kedua matanya yang bulat membelalak lebar, lentik bulu matanya yang lebat serta bibir kecil mungilnya benar-benar membuatnya terlihat seperti sebuah boneka. Sehingga membuat Jinyi benar-benar merasa terpana.
Jinyi mengenali siswi itu dengan jelas meskipun ini kali pertamanya dia bertemu secara langsung dengannya. Ya walaupun dengan jarak yang tidak dekat.
Ya, dia adalah Zhang Xiumei. Namun sepertinya Mei sangat acuh dan fokus pada dirinya sendiri. Setelah bergabung ke barisan, dia hanya berdiri menunduk tanpa menatap ke depan.
Pembukaan akhirnya berjalan dengan baik. Semua siswa telah diberikan waktu selama 30 menit untuk beristirahat sebelum kegiatan dimulai. Semua berpencar ke tujuan masing-masing.
Siswi yang sedari tadi telah diamati oleh Jin terlihat tengah berjalan sendirian ke arah koridor sekolah.
Rambut sebahunya yang tergerai bergoyang ke sana ke mari mengikuti irama langkah kakinya. Melihatnya membuat Jin semakin terpana dengan pesonanya yang sangat polos.
"Jin.... bisa kau tolong bantu aku merapikan ini?" Seorang siswi dengan perawakan tinggi semampai bak supermodel dengan manjanya mendekati Jinyi yang sedari tadi mengagumi keelokan Zhang Ziumei dari kejauhan yang tengab berjalan pergi menunggalkan aula pertemuan sendirian.
Jin merasa sedikit terkejut ketika Fei menyapanya.
"Ahh... Maaf Fei... Aku ada kesibukan lain." Jinyi menolak permintaan Fei dengan tergesa-gesa dan hendak bergegas meninggalkan aula pertemuan. "Ahh...Xiao Han!" Jin berteriak pada salah satu temannya. "Tolong bantu Feiyue. Aku ada sedikit urusan." Jin kemudian berlari.
"Baiklah!" Seseorang yang dipanggil Jin menyetujui permintaannya dan kemudian berjalan mendekati Fei yang katanya membutuhka bantuan. "Mana yang harus aku bantu Fei?" Tanya Xiao Han serius ingin membantu.
Mendapat penolakan dari Jinyi, Feiyue merasa sebal kemudian menendang kursi yang berada di depannya tanpa memperdulikan Xiao Han yang merasa keheranan.
"Awww.... sakit!!!" Fei meringis kesakitan karena ulahnya sendiri. Merasa sebal, akhirnya kemarahannya dia lontarkan pada Xiao Han. "Ini... kerjakan sendiri!" Rajuknya kemudian marah meninggalkan Xiao Han yang semakin merasa keheranan.
Jinyi berlari mengendap-endap mengikuti Mei yang berjalan melewati koridor tanpa sepengetahuan Mei.
Langkah kaki Mei kemudian berhenti tepat di depan jajaran loker dan membuka salah satunya. Dia terlihat tengah mengambil sesuatu dari sana dan kemudian menutupnya lagi.
Jin yang bersembunyi dalam pengamatannya tiba-tiba merasakan detak jantungnya yang tak bisa dikontrol karena bisa melihat Mei begitu dekat.
Tangannya mengepal kemudian memukul dadanya beberapa kali berharap sesak karena deguban jantungnya akan berkurang.
Namun meskipun berada dalam keadaan seperti itu, sepertinya dia mendapatkan sebuah ide cemerlang. Dia pun tersenyum kemudian pergi dari tempat itu dengan senang.
"Murid baru semuanya berkumpul!" Fei memberi peringatan melalui toa kecil yang digenggamnya.
Dengan segera, Semua mirid baru dengan cepat-cepat berlari untuk berkumpul di halaman sekolah tak terkecuali Mei. Namun sepertinya Mei terjebak di tengah-tengah temannya yang lebih tinggi.
Mata Jin tertuju pada Mei yang mungil dan tertutup oleh teman-teman yang lain. Sesekali dia berjinjit untuk melihat apa gerangan yang berada di depan.
Karena Jin berbadan tinggi, dia mampu melihat tingkah Mei yang cemberut tak bisa melihat ke depan secara jelas karena pandangannya terhalang oleh teman yang lain yang lebih tinggi. Jin pun tak sadar mengembangkan senyumnya yang sangat berharga.
Bagaimana tidak? Dalam sehari belum tentu dia tersenyum di depan teman-temannya. Maka dari itu dia yang pendiam, dingin dan tampan sering disebut sebagai sekrang tsundere yang benar-benar keluar dari anime.
"Jin???" Rupanya Fei memperhatikan Jin yang tengah tersenyum-senyum sendiri sedari tadi.
"Eum?" Jin tersadar dan spontan memasang wajah dinginnya lagi.
"Kau kenapa?" Fei menyelidik curiga.
"Tak apa." Jawab Jin singkat. "Apakah sudah berkumpul semua?" Tanyanya kemudian mengalihkan topik.
"Sudah. Apakah bisa dimulai sekarang?" Fei meminta izin.
"Silahkan!" Jin mempersilahkan Fei untuk memberikan pengarahan.
"Semuanya mohon perhatikan. Tugas pertama kalian hari ini adalah olahraga." Fei mulai mengarahkan.
Mei mulai berjinjit-jinjit kembali berusaha melihat pengarahan dari Fei. Akhirnya Mei merasa kesal karena usahanya terus gagal.
Jin yang terus memperhatikannya membekap mulutnya sendiri karena menahan tawa melihat tingkah lucu Xiumei. Dia benar-benar terlihat sangat imut dan menggemaskan hingga membuat jantung Jin mulai berdebar-debar lagi.
"Kalian akan dibagi menjadi beberapa team. Setiap team akan melakukan pertandingan, yang menang akan mengikuti banak selanjutnya. Mengerti?" Fei menjelaskan.
"Mengerti!" Jawab semua siswa serempak.
Mei terlihat celingukan bingung, pandangannya benar-benar terhalang. Dia pun akhirnya benar-benar merasa putus asa dan hanya mengandalkan pendengarannya saja.
"Olahraga pertama adalah bola tangan. Jadi kalian harus persiapkan diri." Fei mewanti-wanti.
Nama demi nama telah dipanggil untuk bergabung ke dalam regu tertentu.
"Zhang Xiumei." Kini tiba saatnya Mei dipanggil.
Dengan Hati-hati Mei mengangkat tangannya.
"Saya kak." Ucapnya dengan suara yang sangat halus.
Dengan ragu-ragu Mei berjalan menghadap Fei.
"Kau masuk ke regu 3." Jelas Fei pada Mei.
"Siap kak." Mei berjalan ragu-ragu menuju segerombolan anak yang berkumpul di sisi lapangan.
"YA!! APA YANG KAU LAKUKAN?!" Jin membentak galak kepada Mei sehingga membuat Mei terkejut dan langsung menunduk. "MANA REGUMU? APA KAU TAK MEMPERHATIKAN?" Teriaknya lagi semakin galak.
Mendengar bentakan itu Mei ketakutan dan semakin tak berani menatap Jin. Dia hanya menunduk gugup ketakutan.
Sepertinya Jin telah melakukan kesalahan fatal. Sebenarnya, Jin ingin memberitahunya dengan baik-baik, tapi entah kenapa yang keluar dari mulutnya malah bentakan. Apa mungkin karena dia benar-benar begitu gugup? Sehingga antara hati dan mulutnya benar-benar tidak sinkron?
"Mm... mm... maaf kak...!" Dengan wajah ketakutan dan menunduk, Mei berputar arah dan mencari regunya.
"Sini!" seseorang dari regu 3 memanggilnya karena kasihan melihat Mei dibentak-bentak oleh presiden sekolah.
Mei bergabung dengan regu itu dengan perasaan campur aduk. Namun setelah Mei berbalik darinya, Jin merasa menyesal.
Dia meremas rambut kepalanya geram menyesali apa yang telah diperbuatnya.
***