WE GOT MARRIED

WE GOT MARRIED
Chapter 80 (FLASH BACK STORY part I)




"Jin? Ayo ke sini nak! Lihat... adik bayinya sangat cantik bukan?" Ayah Feng memanggil Jin yang masih berusia 2 tahun tengah bersembunyi dibelakang tubuh ibunya malu-malu.


Ya... Jinyi kecil yang pendiam dan pemalu.


Kali ini keluarga Feng datang ke rumah keluarga Zhang untuk melihat putri pertama keluarga sahabatnya tersebut yang lahir beberapa hari yang lalu.


Feng Rong Hao dan Zhang Zhu Long bersahabat sejak mereka masih di bangku sekolah. Persahabatan mereka sangat erat.


Jin yang mengintip dari balik tubuh ibunya dengan perlahan keluar dari persembunyiannya untuk berjalan mendekati Ibu Zhang yang tengah memangku putri kecilnya itu takut-takut.


Lama... Jin yang masih kecil memandangi bayi mungil tersebut dari kejauhan.


"Tak apa-apa nak.... ayo mendekatlah." ajak ibu Zhang kepada Jinyi.


Perlahan Jin berani mendekat dia menatap bayi mungil itu beberapa saat hingga kemudian dia memberanikan diri menyentuh pipi chubby bayi mungil itu.


"Cantik." Jin berusaha mengucapkan kata itu dengan benar.


"Iya kan? adiknya cantik? Apa kau menyukainya?" Ibu dari bayi mungil tersebut bertanya pada Jin sembari tersenyum.


Jin kecil hanya mengangguk dan tersenyum. Kini dia sudah tidak malu-malu lagi. Bahkan dia berani duduk di samping ibu Zhang hanya untuk memandangi bayi mungik itu.


Sontak seisi ruangan tertawa riuh. Namun Jin kecil tak mempedulikannya dan terus memandangi bayi kecil yang tak lain adalah Xiumei itu lekat-lekat.


Sejak saat itu, hampir setiap hari Jin selalu meminta ayahnya untuk mengantarkannya ke rumah keluarga Zhang hanya untuk bisa melihat Mei yang tengah tidur atau menangis. Ada kesenangan tersendiri bagi Jin kecil ketika berada di dekat Xiumei.


Ada saat di mana Jin tak mau diajak pulang dan ingin terus berada di samping Mei yang masih bayi.


"Adik Mei dibawa pulang." Ucap Jin kecil dengan suara lucunya.


"Apa???" Kedua orang tua Jin sangat terkejut mendengar perkataan Jin. Namun detik berikutnya mereka tertawa kembali karena merasa Jin sangat lucu.


"Tidak boleh sayang, nanti kalau adik Mei menangis bagaimana? Ibu tidak bisa memberinya Asi." Ibu Feng memberikan alasan.


"Tapi Jin mau adik Mei." Ucapnya terbata-bata dengan wajah cemberut menahan sedih.


Sepertinya Jin kecil benar-benar terpesona oleh bayi mungil itu. Itu adalah kali pertamanya melihat seorang bayi. Mungkin karena itu dia begitu terpesona.


Tak terasa tahun pun berganti dan akhirnya tiba juga saat ulang tahun yang pertma untuk Mei kecil. Jin dan keluarganya pun datang untuk ikut merayakannya sekaligus untuk berpamitan karena keluarga Feng akan pindah ke Hunan.


Saat itu Jin yang telah berusia 3 tahun hanya diam memandangi Mei yang tengah duduk di atas antelop dan menggigiti biskuit marie kesukaannya.


Perlahan Jin yang sedari hanya menatapnya kini mulai mendekat dan menyentuh pipi Mei kecil yang tengah belepotan oleh biskuit.


Tangan Mei yang masih kecil dan penuh dengan remah biskuit kini perlahan menyentuh hidung Jin kecil sembari tertawa. Jin tersenyum senang mendapatkan perlakuan itu dari Mei.


Namun kemudian dia terdiam dan duduk kembali. Jin terlihat sangat sedih.


"Sayang... mungkin dia tau kalau kita akan membawanya keluar kota." Ibu Feng menduga-duga.


"Tapi dia masih sangat kecil, bagaimana dia bisa mengerti?" Ayah Feng sedikit tak percaya.


"Begini saja, Aku akan mengirimkan foto kepadamu setiap ulang tahun Mei, agar Jin bisa mengobati rasa rindunya pada Mei." Ayah Zhang memberikan ide.


"Sepertinya itu ide yang tak buruk. Kami akan sangat senang sekali menerimanya." Ibu Feng sangat bersemangat.


"Bagaiman Jin sayang? Kamu akan mendapatkan foto adik Mei setiap dia ulang tahun." Ibu Zhang mengangkat Jin ke pangkuannya.


Jin kecil yang pendiam kemudian tersenyum mengangguk senang.


"Kan? Apa ku bilang. Jin rasanya benar-benar menginginkan sorang adik ya?" Ayah Zhang berkomentar.


"Kau ada-ada saja." Ayah Feng malu-malu. "Zhu Long, Mei sudah aku anggap.seprti anakku sendiri. Jadi dialah adik Jin. Tapi.... di sisi lain.... Kenapa aku ingin kita benar-benar menjadi keluarga ya?" Ucapnya kemudian.


"Apakah kau membaca pikiranku? Kau cenayang atau apa? Aku juga memikirkan hal yang sama." Ayah Zhang terkejut kemudian tertawa.


"Bagaimana caranya?" Ibu Zhang bertanya tak mengerti. Kedua keluarga pun hanya saling bertukar pandang kemudian tertawa riuh kembali.


Malam telah larut, Jin juga sudah tertidur pulas di samping Mei dengan memeluknya. Kedua keluarga hanya menatap kedua anak itu dengan senyuman.


"Sepertinya Jin benar-benar menyayangi Mei." Ibu Feng bergumam pelan namun masih bisa didengar oleh semua orang.


"Mei, biasanya akan menangis jika dekat dengan orang lain, tapi kenapa dia begitu tenang dengan keluarga kalian? Ini juga sangat lucu kan?" Ibu Zhang merasa keheranan.


"Ada ikatan yang terjadi di antara kita, itu yang jelas." Sambung Ayah Feng kemudian.


"Kau benar..." Ayah Zhang memantabkan.


"Sudah larut, kami pamit ya. Besok jam 3 penerbangannya."'Ayah Feng berpamitan.


"Hati-hati sahabat, Semoga tujuanmu tercapai dan berjalan dengan lancar." Ayah Zhang merangkul ayah Feng kemudian mereka saling berpelukan erat dan hangat.


"Aku pasti akan merindukan kalian." Ucap ibu Zhang sedih.


"Kita masih akan sering ngerumpi lewat sambungan telepon. Iya kan?" Ibu Feng menghibur meskipun dirinya juga merasa sangat sedih.


Ayah Feng kemudian menggendong Jinyi yang tengah tertidur dan membawanya pulang.


Hanya melalui telepon dan surel mereka saling berkomunikasi. Setiap tahunnya Jin selalu mendapatkan foto Mei yang tengah berulang tahun, Jin juga mendapatkan hadiah di setiap ulang tahunnya dari keluarga Zhang.


Namun, tidak dengan Mei. Keluarga Jin tak pernah mengirimkan foto Jin untuk Mei. Hanya hadiah setiap ulang tahunnya tapi Mei hanya mengetahui jika hadiah itu dari teman ayahnya tanpa tahu siapa nama dan orangnya.


"Jin ayah ada sesuatu untukmu." Ayah Feng memanggil Jinyi yang sudah menginjak sekolah tingkat dasar dan tengah belajar di kamarnya.


"Ada apa ayah? Apakah foto Mei sudah datang?" pertanyaan itu selalu dia tanyakan ketika kalender sudah menunjukkan hari ulang tahun Mei.


Jin sama sekali tak pernah lupa dengan ulang tahun Mei. Bahkan dia benar-benar mengingatnya di luar kepala.


"Iya, ini sudah ayah cetak." Ucap ayah Feng memberikan foto hasil cetak kepada Jin yang sudah tersenyum tak sabar.


Ketika dia sudah mendapatkan foto ulang tahun Mei, Jin akan langsung berlari ke kamarnya dan memandangi foto itu.


Meskipun sudah bertambah usia ternyata Jin masih tetap mengingat Mei bahkan masih menyukainya.


Hingga waktu pun berganti.


Jin telah menginjak SMP tingkat pertama, sedangkan Mei masih berada di bangku dasar tingkat 5. Roda pun berputar.


Usaha Properti keluarga Zhang yang semula cemerlang kini tengah mengalami kesulitan keuangan. Hingga bantuan pun datang dari keluarga Feng.


Dan akhirnya, karena bantuan dari keluarga Feng, usaha keluarga Zhang pun kembali membaik.


"Bantuan yang aku berikan, aku tak mau jika kau mengembalikannya. Zhu Long, sebagai gantinya, mau kah kau merawat putraku nanti semasa SMA? Aku ingin agar dia bersekolah di Beijing. Sementara aku akan memproses pemindahan capital bisnisku ke Beijing. Karena ini memakan waktu yang lumayan lama jadi aku tak bisa cepat pindah ke Beijing dan memantau Jin di sana." Ucap ayah Feng melalui sambungan telepon bersama ayah Zhang.


"Jangan khawatirkan Hal itu, aku akan senang hati merawat Jinyi. Tapi... karena rumahku terlalu sempit, jadi tak apa kan kalau dia tinggal di rumah lamaku? Tenang, itu tak jauh dari rumahku. Aku dan Ibunya Mei akan menemuinya setiap hari." Ayah Zhang menyetujui permintaan ayah Feng dengan persyaratan.


"Baiklah... itu akan sangat bagus untuknya jika dia hidup mandiri. Hanya saat dia SMA saja, karena dia punya cita-cita ingin bersekolah bisnis di German." Ucap ayah Feng mengimbuhkan.


"Rong Hao, sampai dia menikah pun kami akan sangat senang sekali. Karena dia juga anakku." Ayah Zhang begitu bersemangat.


"Haha....baiklah... baiklah.... terimaksih banyak." Ayah Feng begitu senang.


"Aku yang sangat berterima kasih padamu." tutup ayah Zhang dengan senyum menyungging di bibirnya.


Waktu serasa bergulir dengan cepat. Jin telah menyelesaikan menengah pertamanya dan akhirnya datang juga ke Beijing. Ayah Zhang beserta istrinya sudah menunggu di bandara dengan harap-harap cemas.


Mereka sama sekali tak mengetahui bagaimana wajah Jin sekarang ini. Karena keluarga Feng tak pernah mengirimkan foto Jin sama sekali.


Terlihat seorang remaja tampan berperawakan jangkung tinggi berbadan tegap dengan kulit seputih susu bak supermodel berjalan mendekati ayah Zhang dan istrinya yang terlihat celingukan mencari-cari Jinyi. Hidungnya yang mancung, matanya yang tajam tapi meneduhkan, serta bibirnya yang tipis nan lembab benar-benar menambah kesempurnaan dirinya.


"Permisi paman...." Sapa remaja itu berhenti tepat di depan mereka.


"Iya? apakah Ada yang bisa kami bantu?" Ayah Zhang balik bertanya tanpa menatap ke arah Jin dan masih terlihat mengamati arah terminal di mana Jinyi tadi keluar.


"Apakah anda Paman Zhang Zhu Long?" Tanya remaja itu kemudian membuat ayah Zhang dan Istrinya sontak menoleh ke arah pemuda yang kini berdiri tepat di depannya.


Terkejut. Mereka terdiam mengamati remaja itu dan berpikir beberapa saat.


"A...a...apakah kamu Jinyi?" Ibu Zhang ternganga tak percaya.


"Apa kabar bibi? Iya, saya putra Rong Hao." Remaja itu membungkuk sopan.


"Ya Tuhan!" Ayah Zhang dan istrinya memekik bersamaan sembari melotot tak percaya.


"Kau benar Feng Jinyi? putra sahabatku Feng Rong Hao?" Ayah Zhang memastikannya lagi dan hanya dijawab senyuman manis remaja itu yang memabukkan.


"Ya Tuhan.... Jadi ini benar kau? kenapa kau bisa tampan sekali???!!!" Ibu Zhang langsung memeluk Jinyi gemas. "Kami berpikir Jinyi masih di sana. Saat melihatmu, kami pikir kau seorang model yang berada dalam penerbangan yang sama dengan Jinyi. Nyatanya kau memang Jinyi kami." Ibu Zhang masih memeluk Jinyi erat.


"Bagaimana bisa Hao punya putra setinggi dan setampan ini??" Kini giliran ayah Zhang yang memeluk Jinyi erat. "Bagaimana kabarmu nak?" ayah Zhang melanjutkan pertanyaannya sembari melepaskan pelukannya dan memegang kedua pundak Jinyi yang lebih tinggi darinya.


"Baik paman." Senyum Jinyi kepadanya ramah.


"Ya Tuhan.... Aku masih tak percaya ini kau." Ibu Zhang menggenggan erat tangan Jinyi dan sesekali menepuk-nepuknya.


Tapi Jinyi sepertinya tidak.terlalu.fokus. Matanya terlihat tengah mencari-cari sesuatu di sekitar. Ayah Zhang dan istrinya ikut celingukan bingung.


"Kau mencari apa nak?" Ayah Zhang heran melihat Jinyi yang terlihat celingukan.


"Ah.... pasti kau mencari Mei kan?" Ibu Zhang menebak pada akhirnya setelah beliau berpikir sesaat.


Jinyi pun akhirnya merasa malu dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal sembari menggigit bibir bawahnya setengah tersenyum.


"Ooalah..." Ayah Zhang tertawa kemudian. "Mei bersama dengan adiknya pergi mengikuti les private. Apa kau ingin bertemu dengannya?" Ayah Zhang sedikit menggoda.


"Ahh.... tidak paman. Tidak sekarang.... Aku... malu." Jawab Jinyi dengan kedua telinganya mulai memerah. "Aku akan melihatnya dari kejauhan saja." Ucap Jinyi kemudian.


"Apa kau yakin?" Ibu Zhang meyakinkan Jinyi.


Jinyi hanya tersenyum tak menjawab.


"Baiklah... ayo kita pergi sekarang kalau begitu." Ajak ibu Zhang kemudian.


***