
“Hai Mei....? Aku datang.” Sapa Manager Wang kepadaku dengan senyum yang tersungging dibibirnya.
Senyum itu... adalah senyum yang dulu sangat aku kagumi, senyum yang jarang sekali terlihat... senyum yang mampu membuatku kelabakan... tapi kini, sudah tidak lagi. Di hatiku manager Wang adalah temanku, sahabatku dan kakakku. Bukan orang yang aku selalu aku harapkan menjadi bunga tidurku lagi.
Ahh.... Manager Wang... Aku senang melihatnya berubah seperti ini. Berubah lebih care terhadap orang lain. Tapi... aku juga sedih melihatnya terus bertingkah seperti ini di depanku. Seolah-olah aku benar-benar telah mencampakkannya. Seolah-olah... aku lah yang paling berdosa.
Adikku terlihat kebingungan dan aku hanya duduk mematung menatap manager Wang yang tersenyum sumringah ke arahku.
“Meiii....? selamat ya?!” Ling memecahkan keheningan di antara kami seraya menubrukku dan memeluk erat diriku. "Aku tak menyangka Mei... Sahabatku akan menjadi seorang ibu." Ling terdengar menangis tertahan.
"Dan kau akan menjadi a Yi." aku balas memeluknya hangat. Lama.... setelah kami merasa lega, kami pun melepaskan pelukan kami dan saling berpegangan tangan.
Aku kemudian menatap Ling dalam mencoba mencari penjelasan. Kenapa Ling harus ke sini dengan manager Wang? ini akan memperumit masalah pastinya.
Ling menyadari tatapanku yang tak biasa. Dia kemudian memasang mimik seolah-olah menangis lagi. Dia benar-benar tak tau harus bagaimana.
“Haiii..... Little Feng... a Yi datang menjengukmu. Jangan nakal mengerti?” Ucap Ling sembari mengusap-usap perutku pelan mencoba mengalihkan perhatian dariku.
“Kemarin Jinyi menelfonku ketika kamu pingsan dan di bawa ke rumah sakit, saat itu manager Wang mendengarkan pembicaraan kami tanpa sengaja, jadi dia terus mendesak untuk ikut menjengukmu hari ini.” Ling akhirnya memberikan penjelasan.
“Apakah aku tak boleh menjengukmu?” Manager Wang menimpali penjelasan Ling. "Dia menatapku menyelidik dari kejauhan.
“Ahh... bukan begitu... hanya saja... aku merasa tak enak jika manager sampai harus repot-repot seperti ini.” Aku bingung mencari-cari alasan.
Aku tidak mungkin kan berkata, 'manager jangan ke sini!' oh no! itu tak mungkin secara aku mempunyai etika.
“Tidak.... aku tidak di repotkan olehmu. Aku bahkan merasa sangat khawatir saat mendengar keadaanmu.” Ucap manager Wang sembari mendekat dan meletakkan buket bunga lili di pangkuanku dan meletakkan keranjang buah di atas nakas.
Aku benar-benar tak tau apa yang harus aku lakukan.
"Terimakasih." Ucapku akhirnya memegang buket bunga itu.
Manager Wang mengangguk sembari tersenyum.
"Aku tau kau menyukainya." Ucap manager Wang membuatku semakin salah tingkah.
"Apakah sekarang sudah baik-baik saja? bagaimana dengan kandungannya? Kenapa kau bisa sangat ceroboh seperti itu? Harusnya kau lebih berhati-hati saat kondisimu seperti ini." Manager Wang terus saja bertanya tanpa henti. Dia bahkan terlihat seperti suami'yang tengah mengomel kepada istrinya.
Bagaimana harus menjelaskannya.
Aku tak bisa menjawab saking terkejutnya. Ling bahkan membekap mulutnya terlihat sangat terkejut mendapati manager Wang yang bersikap introvert.
Ini tidak benar, dia bahkan sudah tau aku mengandung, tapi kenapa dia tetap seperti ini. Ini membuatku benar-benar merasa sangat bersalah.
Huan sedari tadi hanya berdiri terpaku bingung, menyadari situasi tak mengenakkan ini. Sesekali hanya menggaruk-garuk tengkuknya sembari menoleh ke arahku dan yang lainnya bergantian.
“Huan... aku mau smoothie strawberry, bisa kau belikan aku?” aku tiba-tiba menginginkan sesuatu, jadi ini kesempatanku mangalihkan topik.
“Mei... Maaf.” Ling yang berada di belakang mengucapkan kata itu dengan berbisik tanpa suara dan hanya terlihat menggerakkan mulutnya saja seraya mengatupkan kedua tangannya di depan dada yang ditujukan ke arahku.
Ling benar-benar terlihat menyesal. Sepertinya aku tak tega jika harus marah padanya.
Namun aku mengerti situasi ini, sehingga aku hanya tersenyum kepada Ling dan menggeleng pelan. Menandakan bahwa aku bisa mengatasinya sehingga Ling tak perlu merasa bersalah.
Meskipun.... sebenarnya aku juga bingung dan tak tau bagaimana cara mengatasinya. Secara manager Wang benar-benar orang yang pantang menyerah.
“Ada apa?” manager Wang mengejutkanku hingga membuatku menoleh refleks ke arahnya.
Dia sepertinya nenyadari sikapku dan Ling.
“Ahh... Tidak... Itu... Ling bilang kalau dia lapar.” Ucapku pada manager Wang sekenanya.
Manager Wang kemudian menoleh kepada Ling yang ada di belakangnya. Ling melotot ke arahku bingung.
“Ahh... iya manager... aku tadi tak sempat makan siang karena pekerjaan Mei dilimpahkan padaku?” Ling menunjukkan wajah sedih.
“Bukankah kau yang memintanya?” Tanya manager Wang pada Ling bingung.
“Ahhh... i... i...itu benar, tapi kan tidak harus semuanya aku yang mengerjakan manager.” Ling menggerutu.
“Sepertinya..., kalian harus mencari penggantiku.” Ucapku tiba-tiba mengejutkan mereka.
“KENAPA???” mereka menjawab secara bersamaan.
“Ya... aku berencana akan mengundurkan diri dari perusahaan. Mungkin setelah aku keluar dari rumah sakit, aku akan mengantarkan suratnya.” Ucapku sembari tersenyum menatap mereka.
“Tapi Mei...?” Manager Wang terlihat bingung akan keputusanku yang mendadak ini. "Apa Kau tak mau mengambil cuti saja?" Lagi... manager Wang menggoyahkan keputusanku.
“Mei... Aku mengerti... ini karena kehamilanmu kan?” Ling memahamiku meskipun aku belum menjelaskannya.
“Ya... begitulah... sepertinya aku akan fokus pada kehamilanku saja.” Ucapku akhirnya.
Manager Wang terdiam, sulit untukku membaca pikirannya.
“Kalau itu yang terbaik untuk dirimu, semua itu tak masalah. Mengenai pekerjaan, jangan khawatirkan itu. Kami akan menghandle nya. Tapi... jika suatu saat kau ingin kembali bekerja, aku bisa merekomendasikanmu lagi kepada direktur.” Manager Wang pada akhirnya berucap menyetujui maksudku.
“Eum... apa kau mau jeruk ponkan? Kata penjualnya ini sangat harum. Kau pasti menyukainya.” Manager Wang bertanya padaku seraya beranjak mengambilkan jeruk dalam keranjang yang tadi di bawanya.
"Ti...tidak manager terimakasih." aku menggeleng pelan padanya. Aku memang sedang tak ingin. Perhatian ini juga sangat-sangat berlebihan. Ling terdiam melihat tingkah manager Wang yang mulai menunjukkan perhatiannya. Aku juga mulai merasakan tak nyaman.
Baiklah.... Aku harus menarik nafas teratur agar fikiranku bisa tenang dan tak mempengaruhi janinku. Dokter bilang stres bisa berefek buruk pada janin. Jadi aku harus rileks.
“Sayang aku datang...” Suara seseorang yang sangat aku kenal dengan baik memasuki ruangan tanpa mengetuk pintu.
Terdiam. Kini suasana dalam ruangan menjadi hening dan mencekam.
***