
Hari ini adalah akhir pekan. Namun aku bangun tetap seperti biasanya untuk berbenah rumah dan memasak sarapan kami berdua.
“Hari ini kau ada acara ke mana?” Jin membuka suara saat kita tengah sarapan bersama.
“Eum...” aku berpikir sejenak. “Apa kau mau mengajakku ke suatu tempat?” aku menebak.
Ada sedikit kesenangan ketika aku menanyakannya. Karena biasanya, ketika orang menanyakan apakah ada acara atau tidak, dia sebebnarnya ingin di temani. Atau lebih tepatnya mengajak berkencan. Eh apa? Berkencan? Kok aku senang?
“Eummm.... memangnya kau mau aku ajak pergi ke mana?” jin balik bertanya sehingga membuatku langsung down dan cemberut.
Dia melirik ke arahku dan malah tertawa lirih yang kemudian di tahannya.
“Tidak, aku tidak mau. Lebih baik aku tiduran saja seharian.” Aku merajuk kesal tidak bernafsu melanjutkan sarapan.
“Ya sudah... tidur saja sana.” Ucapnya sembari menggoda.
Tak menjawabnya aku malah semakin kesal. Terus untuk apa dia bertanya jika tak ingin mengajakku? Dasar pria kurang vitamin.
Dia telah selesai sarapan, tak peduli dia masih ada di sana atau tidak. Aku mengambil mangkuk dan piring-piring kotor di depannya secara kasar dan mencucinya dengan kasar pula. Sehingga membuat suara gemerincing gaduh. Tau kenapa? Karena aku kesal.
Aku tak memperhatikan sejak kapan dia telah pergi. setelah mencuci piring dan mengeringkan tanganku dengan lap kering yang tergantung di dekat wastafel, aku pun akhirnya berjalan pergi meninggalkan dapur.
Sret...
Aku tersentak hampir terjengkang.
Jin. Ya... tiba-tiba dia menarik tanganku paksa dan di bawanya keluar rumah. Aku kebingungan.
“Ya... ini ada apa sih?” tanyaku padanya heran.
Namun dia tak menjawabnya. Dan malah membawaku mendekati mobilnya. Setelah itu dia melepaskan tanganku dan berdiri di depanku sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
“Jangan bilang kau menyuruhku mencuci mobil.” Aku semakin kesal. "Aku tak mau. Bawa saja ke tempat pencucian mobil. Aku mau baca novel saja sambil tiduran." Aku nyerocos panjang lebar meluapkan kekesalanku.
“Ck...ck... pikiranmu ini?" Jin menoyor kepalaku gemas. "Memangnya aku mau memforsir istriku dengan pekerjaan berat seperti ini??? sudah masuk saja!” ucapnya sembari membukakan pintu mobilnya dan mengisayaratkanku untuk segera masuk.
Karena aku masih tak mengerti akhirnya dia mendorongku masuk dan menutupkan pintunya setelah aku berada di dalam.
“Ini apa-apaan sih?” aku menggerutu sebal tak mengerti maksud Jin yang sebenarnya. Tak berapa lama dia sudah duduk di sebelahku.
Tak berbicara dia mendekatiku dan memasangkan sabuk pengaman tempat dudukku. Sangat dekat. Degub jantungku mulai tak beraturan lagi. Aroma Feromone nga kini tercium lagi. Aku mulai merasakan pusing. Pusing karena aroma itu seolah menjadi candu bagi para wanita sepertiku.
“Kau mau membawaku ke mana sebenarnya?” aku bertanya sekali lagi padanya.
Jika kali ini dia tak menjawabku, maka aku akan memukulnya dengan sendalku.
Cup!
Aku terkejut. Tadi apa? Kecupan? kecupan kilat mendarat dibibirku? Ini... dia menciumku? Mataku membelalak. Aku pun berubah menjadi tegang dan gugup.
“Sudah jangan banyak bertanya istriku sayang. Duduk dengan tenang, agar suamimu ini berkendara dengan baik dan aman.” Ucapnya kemudian menjauhkan wajahnya dariku.
Memang manjur sekali. Aku bahkan tak bisa berkata apa-apa. Ada apa dengan mulutku? Ini benar-benar ada yang tak beres dengan diriku.
Tak berapa lama kami telah sampai di tempat tujuan. Tempat yang tak pernah berada di benakku. Sebuah hamparan bunga warna-warni yang sangat indah dan luasnya tak terkira. Benar-benar luas. Aku yang telah keluar dari mobil berjalan dengan takjub tak bisa berkata apa-apa.
“Kau menyukainya?” Jin menyadarkanku yang tengah tertegun kagum memandangi hamparan bunga warna-warni yang sangat indah.
“Ini.... ini indah sekali!” aku kegirangan dan melompat ke sana ke mari.
Dengan merentangkan ke dua tanganku senang. Ini seperti masa kecilku dulu. Aku ingat pernah bermain di taman bunga seperti ini.
Dulu sekali.... aku pernah bermain seperti ini. setiap kali sepulang sekolah aku pasti bermain ke taman bunga seperti ini di bukit kecil dekat sekolah. Aku tiba-tiba teringat.
Setiap kali, aku selalu menemukannya dia tengah menangis di antara bunga-bunga. Namun suatu ketika dia tak ada di sana. Setelah Dia lulus sekolah tak pernah lagi ku lihat dia di taman bunga. Dan aku tak tau rumahnya ada di mana? namanya siapa? Dia melanjutkan sekolah di mana?
Tak lama setelahnya juga, taman bunga di bukit kecil itu di gusur dan dijadikan pemukiman. Sangat di sayangkan.
“Jinyi?” Aku mendengar seseorang memanggil Jin yang seketika membuyarkan ingatanku.
“Oh... Hai...” Jin kembali menyapa dengan senyum mengembang dibibirnya.
Seorang wanita? Tidak ini bukan Fei yang waktu itu. Ini bahkan lebih cantik dari Fei. Kelihatannya juga sangat kaya.
Aku tiba-tiba menjadi sangat kesal melihatnya. Bukankah tadi tempat ini sangat sepi? Kenapa sekarang ada seorang wanita cantik di sini? Dan dia kenal dengan Jin lagi? Ahhh.... kenapa aku merasa kesal sekali.
“Apa kabar?” Ucap wanita itu kemudian memeluk Jin yang langsung membuatku melongo.
Detik itu juga, ubun-ubunku serasa terbakar sehingga kepalaku serasa ingin meledak.
Aku dengan kesak berjalan mendekati Jin dan wanita itu. Dan aku langsung menggamit tangannya setelah pelukan wanita itu lepas. Wanita itu melirik ke arahku sekilas dengan tatapn aneh.
Euuh.... dasar nenek sihir. Ingin rasanya aku menjambak rambutnya. Heran. Kenapa kekesalanku bisa sampai seperti ini?
“Ehm...” aku berdehem. Namun Jin tidak menghiraukanku.
Mereka malah berbincang ke sana ke mari tak memperdulikanku. Aku benar-benar merasa sangat kesal. Perlahan tanganku meraih punggung Jin dan mencubitnya.
“Ak...” Jin sedikit berteriak kemudian menoleh ke arahku.
Kemudian ku balas dengan senyuman dan tatapan mautku yang mengisyaratkan bahwa aku benar-benar marah. Dia pun kemudian menyadari sesuatu.
“Ahh... aku hampir lupa, perkenalkan. Ini istriku Feng Xiumei.” Jin akhirnya memperkenalkanku sebagai istrinya pada wanita itu.
Wanita itu sekilas menoleh ke arahku lagi yang jauh lebih pendek darinya dengan tatapan tak percaya. Dan dengan bangganya aku tersenyum sembari mengulurkan tangan padanya.
“Dan Mei, ini Daniela Luo. Orang yang punya lahan ini sebelumnya.” Namun tanganku Hampa.
Daniela tidak menyambut tanganku sama sekali setelah diperkenalkan oleh Jin. Aku kembali merasa kesal.
“Apa??? Menikah? Kapan kau menikah? Apa kau bercanda?” si Daniela malah meremehkanku.
Aku kemudian menarik napas dalam menahan segala emosiku.
“Bercanda atau tidak, yang jelas itu faktanya.” Aku yang menjawab Daniela dengan tegas.
Ku lirik Jin sekilas dan dia malah mengepalkan tangannya di depan mulut menahan tawa. Memangnya ada yang lucu? Sehingga dia menahan tawa seperti itu? Aku semakin kesal.
“Benar, kami menikah sekitar tiga minggu yang lalu.” Jin kemudian memperjelas pernyataanku sembari memelukku dari belakang. "Aku memang tidak mempublikasikannya. Karena aku tak mau kenyamanan istriku terganggu." Jin mengimbuhkan.
“Baiklah aku mengerti. Kalau begitu aku permisi dulu. Ahh... mengenai Jual beli aku akan segera mengutus sekretarisku ke kantormu.” Ucap Daniela sebelum beranjak pergi.
Akhirnya aku yang sedari tadi menahan kesal kini benar-benar marah langsung melepaskan rangkulan tangan Jin dan pergi begitu saja meninggalkannya.
Apa bagusnya tubuh seperti itu? Cuma menang tinggi saja. sedikit menang juga di dada dan pinggulnya. Tidak. Tidak cantik. Jelek sekali. Saking jeleknya aku ingin sekali mencakar mukanya itu. Sok kecakepan sekali.
Dasar pria! Maunya apa? Tadi menciumku, sekarang ganjen dengan wanita lain dan hampir melupakanku. Awas saja sampai rumah akan aku rontokkan semua giginya biar dia tidak ganteng lagi. Eh tidak maksudku. Biar dia tambah jelek. Aku tidak berkata dia ganteng.
Aku mengerti. Jadi tadi dia mengajakku ke sini karena dia mau pamer kalau ada wanita lain yang lebih cantik dan lebih seksi sepuluh kali lipat dariku.
Ok. Aku paham. Dan ke marahanku sepertinya telah sampai pada titik puncak.
***