WE GOT MARRIED

WE GOT MARRIED
Chapter 74 PERUSUH



Ting tong.... ting tong ting tong ting tong....


Sepertinya ada seseorang di depan pintu yang sangat gemas sekali sehingga dia menekan bel berkali-kali. Aku yang tengah duduk manis menunggu Jin yang tengah memasak di dapur hanya saling bertatapan dengannya mengira-ngira siapa kiranya yang pagi-pagi begini sudah datang.


Sebenarnya tidak terlalu pagi juga, karena jam sudah menunjukkan pukul 9. Dan juga karena hari ini akhir pekan jadi Jin juga terlihat santai di rumah.


Ting tong ting tong ting tong...


Lagi. Suara bel yang begitu berentetan benar-benar membuat aku dan Jin cepat-cepat menuju pintu tanpa melihat ke arah intercom.


“TARAAAAAA!!!!” teriakan dua makhluk luar angkasa ini benar-benar membuatku dan


Jin terkejut tak karuan.


Ya, Ling dan Huan berdiri di sana dengan masing-masing memeluk dua boneka besar-besar di tangan kanan dan kirinya. Tapi selain boneka besar tangan Huan juga terlihat memegang tas bekal yang sangat aku kenali. Karena ibu biasanya mengantarkan makanan ayah saat dia lembur mmenggunakan tas itu.


“Aishh... pagi-pagi sudah buat ribut saja.” aku mendesah jengah melihat mereka.


Sedangkan Jin hanya memberikan ekspresi yang bingung dengan menggaruk tengkuknya.


“Aku merindukanmu. Huan bilang mau ke rumahmu. Jadi aku ikut dengannya.” Ling tersenyum riang.


“Baiklah.... ayo masuk dulu.” Jin membalas senyum Ling seraya membantunya membawa boneka yang sedari tadi di gendongnya.


“Kakak... kau membantuku atau gimana kek? Aku kerepotan ini.” Huan merajuk padaku.


Melihatnya aku hanya tertawa karena dia terlihat sangat lucu jika repot seperti itu.


“Ini untukku kan? aku akan membawanya.” Aku mengambil tas bekal dari tangannya dengan suka cita kemudian berlari kecil lebih dulu untuk masuk ke dapur.


"Yak.... sayang jangan berlari-lari seperti itu. Bahaya!" Jin berteriak ke arahku gemad juga.


“Melihat makanan dari ibu saja kau langsung gesit seperti itu.” Huan semakin merajuk. Sedangkan aku hanya tertawa.


Aku hanya terkekeh mendengar Huan yang menggerutu sembari berjalan masuk ke dalam rumah.


Aku membuka tas itu seperti membuka sebuah peti harta karun. Benar-benar bercahaya sekali seperti bongkahan emas berkilo-kilo. kkkk...


Trimester kedua memang rasa mual dan muntahku sudah sama sekali berkurang. Mungkin dua atau tiga hari sekali baru muntah. Untuk nafsu makan juga rasanya sudah mulai membaik.


Tak terasa usia kandunganku sudah memasuki minggu ke 14. Bahkan sesekali aku sudah bisa merasakan semacam kedutan ringan di perut bawahku.


Pemeriksaan yang lalu, dokter Zhao juga sudah menggunakan doppler. Dan tau bagaimana reaksi Jin pada saat itu?


Awalnya dokter menunjukkan USG little Feng yang sudah mulai bergerak ringan, di sana juga ditunjukkan ada sesuatu yang berkedip-kedip kecil dan itu adalah jantung little Feng yang benar-benar sudah berkembang.


Pada saat itu aku dan Jin begitu senang sekali dan tak bereaksi apa pun kecuali tertawa karena senang dan membayangkan anakku benar-benar tumbuh dengan sehat.


Tapi kemudian dokter Zhao meminta asistennya untuk membawakan alat doppler dan mulai mencari detak jantung bayiku. Tepat di bawah pusarku.


Dang... dang.... dang....


Suaranya kencang sekali. Jin membelalakkan mata.


“Ini jantung anakku dokter?” Jin ternganga tak percaya.


“Iya, ini suara detak jantung anak bapak. Sepertinya, dia benar-benar sehat sekali.” Senyum dokter Zhao menjelaskan.


“Ya Tuhan...” Jin hanya mengatakan hal itu kemudian mulai menangis tersedu-sedu saking senangnya.


Melihatnya dokter Zhao semakin melebarkan senyumnya.


“Sebenarnya boneka ini untuk apa?” Suara Jin yang berada di ruang tamu membuyarkan lamunanku.


Aku pun tersenyum dan menggelengkan kepala pelan antara senang dan lucu.


“Ini??” Ling malah balik bertanya meyakinkan. “Tentu saja ini untuk little Feng.” Ling dengan senang menata empat boneka itu hingga memenuhi sofa.


Mendengar penjelasan Ling, Jin menepuk keningnya pelan. Sigh.


Aku yang tengah menyiapkan makanan di meja makan hanya tersenyum mendengar Ling.


Jin berjalan kembali ke dapur dan melanjutkan kegiatannya tadi yang sempat tertunda.


“Apa kalian sudah sarapan? Ayo Sarapan bersama..!” Ajakku pada Huan dan Ling yang berada di ruang tamu.


“Kakak makan saja, aku sudah Kenyang, tadi sarapan di rumah.” Jawab Huan acuh sembari memainkan game dalam ponselnya.


“Ling?” aku memanggil Ling dengan maksud mengajaknya makan.


“Aku tadi juga sudah sarapan di rumahmu. Kau makan saja.” Jawabnya santai sembari duduk di bawah sofa membaca majalah yang selalu tersedia di meja.


“Ya sudah... kalau begitu kami makan sendiri saja.” Ucapku sama tak acuhnya.


Aku mulai mencicipi makanan pemberian ibu dan.... eum.... benar-benar enak sekali. Aku rindu sekali masakan ini.


Jin mengikutiku menuju dapur sembari membawa masakannya kemudian duduk di meja makan dan mulai makan bersamaku.


"Benarkan? masakan ibu benar-benar membawa kenangan." Ucapku sembari menyantap dengan lahap.


"Pelan sayang.... kok sampe belepotan begitu makannya?" Jin merasa semakin gemas menatapku kemudian membersihkan area sekotar mulutku. Namun aku tak acuh dan melanjutkan makan.


"Ya Tuhan.... Kau sudah hampir punya anak tapi kenapa menggemaskan sekali." Jin tak melanjutkan makannya dan malah menopang kepalanya dengan dua tangannya menatapku dengan mata berbinar-binar.


"Apa kalian setiap hari seperti itu? Jika aku di sini setiap hari, Aku rasa aku akan menderita gagal jantung karena melihat pemandangan seperti itu setiap harinya." Ling terlihat sebal karena merasa iri dengan kami.


Kami mengabaikannya saja, bahkan Jin tetap menatapku dengan penuh sayang.


"Kak Ling terlalu berlebihan sekali, aku ingin memperlakukan kakak seperti itu, tapi kakak yang tak mau kan?" Huan menimpali dengan balas menatap Ling sebal.


"Ya beda lah itu ceritanya sayangku yang manis...." Ling mencubit kedua pipi Huan gemas. "Kalau Mei dengan Jin, itu suaminya. Kalau aku dengan mu sama saja aku dengan adikku. Haduuhh..." Ucap Ling sembari mencubit Huan semakin gemas.


"Ahh... nasibku yang lahir setelahmu." Huan menggerutu tak jelas setelah Ling melepaskan cubitannya dan malah dibalasnya dengan tawa tertahan.


Sekilas aku dan Jin menoleh ke arah mereka yang sedikit beradu argumen.


Beberapa saat kemudian aku dan Jin saling bertatapan, namun dengan pikiran masing-masing. Mungkin Jin memikirkan hal yang sama denganku.


"Kau memikirkan hal yang sama denganku kan?" Aku bertanya pada Jin menyelidik.


"Mungkin iya." Jin menjawab tak yakin. "Sudahlah lanjutkan makannya... makan yang banyak biar Little Feng tumbuh sehat." Jin menyuapiku.


Mau tak mau aku membuka mulut juga meskipun pikiranku berkecamuk.


Setelah kami selesai sarapan, tidak..


lebih tepatnya menjelang makan siang dan mencuci piring, kami berkumpul kembali di ruang tamu dan saling bercanda kembali.


Ditengah keasikan kami, tiba-tiba ponsel Ling berdering. Ling terlihat terkejut saat melihat pesan di ponselnya.


“Ada apa?” tanyaku khawatir. “Apakah terjadi sesuatu dengan paman?” melihat ekspresinya aku langsung khawatir dengan ayah Ling.


Bagaimana tidak? Ling hanya berdua dengan ayahnya karena ibunya sudah lama meninggal. Aku khawatir jika beliau sakit atau terjadi apa-apa padanya.


“Ahh... tidak, ayahku baik-baik saja." Ling menggeleng sembari meletakkan kembali ponselnya di atas meja. "Hanya saja.... tetanggaku, beliau berniat mengatur kencan buta antara aku dan keponakannya.” Ling melanjutkan ceritanya dengan ekspresi bingung.


“Apa??” Huan tiba-tiba bertanya balik dengan nada sedikit terkejut.


Dia yang semula asik bermain dengan ponselnya tiba-tiba langsung duduk tegap dan fokus.


“Kau anak kecil diam saja.” Ling melempar Huan dengan bantal sofa.


Huan terlihat semakin kesal. Aku hanya mengamatinya saja.


“Menurutku... tak ada salahnya kau mencoba.” Jin memberikan masukan.


“Ummm... apakah semua akan baik-baik saja?” Ling balik bertanya.


“Kenapa Tidak? Hanya kencan buta kan? kalau cocok lanjut, kalau tidak cocok, cukup saat itu saja.” Jin kembali memberikan masukan.


“Tidak....!” Huan histeris. Aku masih memperhatikan tanpa berkomentar.


“Ya?! Kau diam saja ini pembicaraan orang dewasa.” Ling melemparkan bantal lagi pada Huan.


“Tidak! Tidak! Tidak! Kak Ling tak boleh ikut kencan buta itu, kalau pria itu jahat bagaimana? Kalau pria itu bertindak kurang ajar bagaimana? Kalau...”


“Aishhh kau jangan menakutiku.” Ling memutus perkataan Huan.


“Aku ada benarnya kan? apalagi kencan buta itu bertemu dengan orang yang belum pernah dikenal. Akan sangat berbahaya pada perempuan seperti kakak.” Huan mencari-cari alasan.


Aku dan Jin menyadari sesuatu kemudian saling bertatapan kembali. Tapi sepertinya Ling benar-benar tak menyadarinya.


“Kau datang saja. Hanya berkenalan tak ada salahnya.” Ucapku menyarankan pada Ling tapi mataku melirik ke arah Huan.


“Kakak! Kau ini bagaimana? Sahabatmu malah kau suruh bertemu dengan pria asing yang belum di kenalnya.” Huan kini terlihat kesal ke arahku.


"Loh aku salah? Siapa tau pria itu jodohnya. Dulu juga aku sama kakak iparmu juga dikenalkan kan? malah dijodohkan loh. Salahnya di mana?"


"Ya itu berbeda... paman Feng dan ayah sudah bersahabat sejak lama, jadi sudah tau seluk beluk keluarga masing-masing. Kalau kasus kak Ling ini kan berbeda." Huan masih ngotot mencari-cari alasan.


“Terus?” Aku menyelidik menatap Huan dalam.


Huan terlihat salah tingkah, sepertinya dia menyadari arti dari tatapan mataku.


“Ya... aku.... aku...” Huan terlihat geragaban karena kebingungan. “Aku hanya mengkhawatirkan kak Ling saja.” Pungkasnya . “Ahh.... aku mau ke kamar mandi dulu.” Huan kemudian bergegas pergi menghindari tatapan mataku yang menyelidik.


“Bocah itu kenapa sih? Kakaknya mau mencari jodoh juga...” Ling sepertinya belum menyadari apa yang sebenarnya terjadi karena dia terlihat begitu keheranan dengan tingkah Huan.


Sedangkan aku dan Jin hanya saling bertatapan meyakini akan sesuatu.


***