
Aku duduk di sebuah bangku panjang yang berada di ujung koridor, kini tengah dirangkul oleh Jin yang sebelah tangannya menggenggam erat sebelah tanganku.
Di depan kami duduk Ibu mertua yang nampak sangat khawatir tengah dirangkul erat oleh ibuku. Sedangkan Ayahku berdiri dan berjalan mondar-mandir dengan melipat tangannya.
Ya, kami semua tengah harap-harap cemas. Sangat khawatir dan gugup. Kami menanti lampu yang berwarna merah di atas pintu ruang operasi segera padam. Karena ketika lampu itu padam maka operasi telah selesai dilakukan.
Sudah hampir 5 Jam kami berada di sini menanti dan menanti.
Benar, akhirnya ayah mertua melakukan operasi transplantasi jantung. Siapa pendonornya?
Orang yang tak pernah terduga. Orang yang tak pernah terlintas di pikiran kami. Dan dia adalah seorang malaikat yang kini benar-benar telah menjadi malaikat di surga. Wang Tian. Dia adalah Wang Tian.
Aku sangat terpukul akan kepergiannya yang tiba-tiba. Dan aku lah penyebabnya. Tapi aku harus tabah dan menerima kenyataan yang ada dengan lapang dada. Dia... telah pergi meninggalkan kami setelah menyelamatkanku dalam kecelakaan itu. Dan kini dia berusaha menyelamatkan ayah mertuaku.
Betapa mulia hatinya?
Ternyata... saat dia tersadar beberapa saat sebelum aku menemuinya. Dia sudah mempunyai firasat tak akan bisa bertahan lebih lama, sehingga dia mengatakan pada dokter bahwa dia ingin mendonorkan jantungnya untuk ayah Feng.
Dan pada saat itu juga, beberapa tes segera dilakukan untuk melihat kecocokan antara ayah mertua dan dirinya. Tanpa diduga, ternyata hasilnya menunjukkan bahwa manager Wang bisa mendonorkan jantungnya untuk ayah dengan resiko yang sangat kecil.
Dan setelah kepergiannya, operasi transplantasi pun dilakukan sesuai dengan sertifikat donor yang telah tertanda cap merah ibu jarinya.
Sangat aneh, sejak dia masuk rumah sakit dan setelah kepergiannya. Tak ada seorang pun keluarga yang menemuinya. Bahkan aku baru mengetahui bahwa Jin lah yang menjadi wali akan perawatannya.
Hingga akhirnya kami menemukan sebuah fakta mengejutkan tentang kehidupan manager Wang.
Dulu... di hari kelulusan tingkat dasar saat aku tak bisa menemukannya di taman di tempat biasa aku menemuinya, ternyata orang tuanya terlibat dalam sebuah kecelakaan yang sangat besar. Dan dia menjadi seorang yatim piatu sejak saat itu.
Kemudian kakeknya mengambil alih merawatnya hingga beberapa tahun yang lalu beliau juga meninggal. Sungguh tragis.Aku hanya berharap Tuhan akan mempertemukan mereka di surganya dan bahagia selamanya.
Dia telah pergi, tapi dia masih tetap ada di sini bersama kami. Dan tetap hidup dihati kami. Dia juga telah memberikan harapan baru bagi keluarga kami. Pahlawan kami Wang Tian.
Tung...
Suara dengungan lirih terdengar bersamaan padamnya lampu di atas pintu ruang operasi. Itu menandakan kalau operasi telah selesai dilaksanakan.
Tak berapa lama pintu terbuka, dokter bedah pun ke luar dari ruangan itu dengan wajah yang sangat kelelahan. Dan tentu saja semua orang spontan berdiri dan beranjak mendekati dokter untuk menanyakan bagaimana keadaan ayah Feng.
"Dokter... suami saya?" Tanya ibu mertua terlihat sangat khawatir. Wajahnya sangat pucat.
"Syukurlah, operasinya berjalan sangat lancar. Bisakah ibu dan tuan pergi ke ruangan saya sekarang?" Jawab dokter bedah itu sembari meminta ibu mertua dan Jin untuk ke ruangannya.
"Tentu." Jawab Jin siap.
"Mari!" Dokter itu mempersilahkan sembari memberikan kode dengan tangannya agar Jin dan ibu mertua mengikuti.
Ibu mertua mengangguk kemudian berjalan mengikuti dokter tersebut yang kemudian di susul oleh Jin.
Ibuku kemudian berjalan ke arahku dan memelukku hangat.
"Mimpi buruk berakhir sayang... jangan khawatir." Ucap ibuku sembari membelai rambutku.
"Istirahatlah nak, ayah akan menunggu di sini." Ucap ayahku menyuruhku kembali ke kamar inapku.
Aku pun mengangguk perlahan. Ibu memapahku berjalan pelan menuju ke kamar perawatan.
Syukurlah, semua berjalan dengan lancar, operasi ayah mertua terbilang sukses. Meskipun begitu, ada satu hal yang masih mengganjal dipikiranku.
Mobil itu? Sepertinya aku mengenalinya. Aku bersumpah akan membuat pengendara itu merasakan hukuman yang setimpal.
Jadi ini kami semua sudah berkumpul di krematorium dengan pakaian serba hitam menandakan bahwa kami sangat berkabung. Ya hari ini kami melakukan penghormatan terakhir sebelum jenazahnya di kremasi.
Ku pandangi wajahnya yang tengah tersenyum dalam potret di antara lilin dan bunga-bunga cruisant dan lili putih.
"Tau kah kau... kau adalah kakak terbaik untukku. Aku akan selalu menyayangimu. Aku akan selalu mengingatmu. Banyak sekali kesalahan yang telah aku lakukan padamu. Percayalah... pelakunya pasti segera tertangkap. Wang Tian... kakakku bahagialah di sana..." aku terguguk sembari mengambil dupa dan menyalakannya untuk penghormatan terakhir.
Setelah selesai aku mundur ke belakang, kini giliran Jin yang akan melakukan penghormatan terakhir padanya.
"Maaf kita sempat bertikai.... aku berjanji padamu akan menjaga Xiumei dengan baik. Dan... terimakasih telah memberikan kehidupan untuk ayahku. Maaf ayahku tak bisa datang kemari karena beliau harus beristirahat pasca operasi. Beliau berpesan... Kau telah dianggap sebagai putranya sendiri. Kakakku... Bahagialah di surga." Ucapnya dengan suara parau.
Sepertinya dia menahan perasaannya yang ingin menangis. Tubuhnya terlihat bergetar saat menyalakan dupa.
"Nak... terimakasih banyak.... kau malaikat kami. Anakku... Indah dalam perjalananmu..." pesan terakhir ibu mertua dalam penghormatannya penuh rasa terimakasih dan tak dapat menyembunyikan kesedihannya.
"Manager... kau adalah orang yang baik... Aku tak percaya kau akan pergi secepat ini. Terimakasih... sudah mengorbankan dirimu untuk Xiumei. Percayalah... Aku juga akan menjaga Mei dengan baik." Ling menangis sesenggukan.
Peti pun telah dimasukkan dan pintu besi telah menutup. Akhirnya tangisku pun pecah seketika dalam pelukan Jin.
Tidak banyak bicara, Jin hanya memelukku dan mendekapku erat tak bisa melakukan apa pun.
Ini adalah hal tersedih dalam hidupku. Aku benar-benar tak menyangka dia akan pergi secepat ini.
Tuhan... Jika kehidupan ke dua itu ada, maka aku ingin dia dilahirkan sebagai kakakku yang sesungguhnya. Aku mau dia bahagia. Dan jangan buat dia terluka lagi seperti ini.
"Aku tak akan melarungnya..." Jin berucap setelah pihak krematorium menyerahkan guci keramik berisikan abu jenazah dari manager Wang.
Aku terdiam dan hanya menatap guci yang kini berada dalam dekapan tangan Jin.
"Aku akan menyimpannya di kolumbarium agar kita bisa mengunjungunya kapan pun. Karena dia sekarang punya keluarga." Ucapan Jin membuatku ingin menangis lagi.
Aku mengangguk paham. Kami pun segera mengantarkannya ke Dagangtachun Beijing Columbarium and Cemetery sebagai peristirahatan terakhirnya.
Ibu mertua telah kembali ke rumah sakit, ayah dan ibuku juga telah pulang ke rumah. Sehingga hanya aku dan Jin, Ling beserta Huan yang akan mengangantarkannya.
Setelah 40 menit berlalu, kami pun telah sampai di sana.
"Bukankah butuh reservasi?" Aku bertanya pada Jin yang telah berjalan sembari membawa guci abu jenazah dengan kedua tangannya.
"Aku sudah memesankannya dari kemarin." Jin berucap. "Setelah kepergiannya, dokter memberitahuku tentang Tian yang berniat mendonorkan jantungnya untuk ayah dan memintaku untuk segera menandatangani operasi. Saat itu aku sangat terkejut. Dan setelah menandatanganinya, aku langsung menelpon kolumbarium untuk memberikanku tempat terbaik. Hanya itu yang bisa aku lakukan untuknya." lanjutnya menceritakan.
"Kenapa dia harus pergi secepat ini? dia belum menikah. Kasihan dia. Ling kembali menangis.
"Apa kau butuh pelukan?" Huan menawarkan diri pada Ling.
Dan Ling seketika langsung terdiam. Beberapa saat kemudian guci itu telah diletakkan Jin pada tempat yang telah dipesannya.
Aku dan Ling pun mulai menghias sekitarnya. Dan terakhir... fotonya yang tersenyum hangat kami letakkan di sana.
Kami berempat kemudian hanya menatap foto dan guci itu dengan perasaan sedih.
Drt... drt...
Kami pun dikejutkan oleh suara ponsel Jin.
"Dari kepolisian." Jin memberitahu kami dengan mata membelalak.
Apakah polisi sudah menemukan pelakunya? Untungnya ada CCTV di lokasi kejadian jadi polisi pasti sudah mengidentifikasi pemilik mobil putih tersebut.
Kami pun mulai berharap-harap cemas.
***