WE GOT MARRIED

WE GOT MARRIED
Chapter 53 INGATAN (part II)



 


Kenangan itu... benar-benar membuatku tersenyumm-senyum sendiri. Karena aku telah menikah tentu saja terasa begitu lucu.


 


Tetapi... ketika mengingatnya rasa debaran jantungku pada waktu itu seolah terasa begitu nyata dan rasa penasaran tentang siapa dia itu tetap saja ada.


Yang semakin membuatku penasaran adalah apakah pengirim surat di lokerku dan pria itu adalah orang yang sama?


 


Kenapa aku bisa berspekulasi demikian? Itu karena setelah surat terakhir aku terima, aku juga tak pernah bertemu dengan pria misterius itu. Saat itu memdekati musim kenaikan kelas. Entah lah...


Aku ingat lagi, waktu itu aku bangun kesiangan karena asik membaca novel hingga tengah malam sehingga aku pun terlambat berangkat ke sekolah.


Dengan sigap Aku mengambil roti selai yang ibu siapkan di atas piring dan langsung memakannya sambil berlari menuju halte. Tepat sekali saat aku sampai di halte bus yang biasa aku tumpangi mulai bergerak pelan untuk beranjak pergi.


Melihat hal itu aku mulai panik. Dan aku pun segera berlari sekencang mungkin mengejar bus itu.


“Tunggu....” Aku berteriak sembari berlari berharap sopir bus mendengarku dan menghentikan kemudinya. Akhirnya aku yang berlari kencang mampu mensejajari pintu belakang bus . Aku sudah hampir tak kuat mengejarnya.


Greb!


Tiba-tiba sebuah tangan dari seorang penumpang menarik lenganku sehingga aku berhasil masuk ke dalamnya. Aku begitu terkejut.


 


Hebat. Untung saja aku tak tergelincir dan terjatuh. Coba kalau sampai aku tak berhasil masuk. Pasti aku terjatuh dan resiko terkecilnya aku akan patah kaki. Aku benar-benar kagum akan kemampuan keseimbanganku.


 


Dengan spontan aku menubruk penolong itu. Dia juga berhasil menjaga keseimbangannya dan langsung mendekapku hingga aku tak terjerembab ke dalam bus.


Ya itu dia, pria misterius yang tak aku tau namanya. Aku yakin itu dia. Karena dia masih sama seperti saat pertama kali aku bertemu dengannya di pasar buku. Memakai hoddie yang menutup hingga keningnya serta memakai masker hingga hanya matanya saja yang terlihat. Dan itu kali kedua aku bertemu dengannya.


Dan lagi yang membuatku yakin, adalah... matanya benar-benar meneduhkan seperti sebelumnya.


“Terima kasih.” Ucapku padanya waktu itu sangat gugup setelah menyadari aku terlalu lama terpaku padanya.


“Lain kali jangan sampai terlambat.” Ucapnya dengan suara yang masih tak begitu jelas karena mulutnya tertutup masker hingga ke hidungnya.


Dia terus berdiri didekatku selama perjalanan dan aku sama sekali tak berani menatap matanya lagi. Hanya sesekali mencuri pandang saat dia tengah asik memainkan ponselnya. Tentu saja wajahnya tak begitu kentara.


Bus pun telah sampai di halte dekat sekolah, semua berdesakan untuk segera turun. Ku lihat dia turun terlebih dahulu. Aku berusaha mengejarnya setelah berhasil turun, tapi ternyata dia sudah tak terlihat dan akhirnya aku pun kehilangan jejaknya.


Mungkin dia juga bersekolah di tempat yang sama denganku atau di sekolah yang berada tak jauh dari sekolahku? karena halte di sekitar sini hanya ada satu. Jadi siswa di sekolah sebelah biasanya berhenti di halte ini juga.


 


 


Aku pun tersadar akan lamunanku yang berlayar ke masa lalu. Dan kembali menelusuri setiap buku-buku dalam rak itu.


 


Kemudian mataku tertuju pada beberapa album foto di sana.


 


Album-album foto itu masih terjajar rapi, tentu saja... itu sudah lama sekali tak pernah aku buka. Aku pun tiba-tiba tergerak untuk melihatnya. Langsung saja ku ambil album foto bersampul hitam di antara album-album foto yang ada di sana.


 


Aku ingat, album ini berisi foto-foto yang di ambil pihak sekolah sebagai memori saat penerimaan siswa baru menengah atas.


 


Aku membuka lembar pertama, hari itu adalah hari saat aku tengah melakukan masa perkenalan sekolah. Di halaman pertama itu ada foto beberapa siswa baru yang berjajar rapi menghadap ke kamera. Aku langsung tertawa ringan ketika melihat seorang siswi yang dulu terlihat kecil dan kekanakan sekali seperti anak SD dan itu adalah aku. Rambutku dulu sepanjang rambutku yang sekarang. Bedanya, dulu aku selalu mengikat sedikit rambutku yang berada di atas telinga. Dan sekarang aku menggerainya.


Tunggu... apa bedanya aku dulu dan sekarang? Tinggi juga hanya bertambah 2 cm saja. Senyumku pun memudar menyadari fakta itu.


Aku pun membuka lembar berikutnya, di sana terdapat beberapa foto saat siswa baru tengah menjalani hukuman yang diberikan oleh presiden sekolah yang sangat menakutkan. Dan salah satunya adalah aku. Mengapa menakutkan? Karena seniorku yang menjabat sebagai presiden sekolah itu benar-benar sangat dingin dan galak. Aku benar-benar sampai takut padanya. Melihat matanya saja aku tak berani.


Jika bertemu atau berpapasan dengannya aku selalu menunduk. Hawanya jika berada di dekatnya benar-benar seperti berada di kutub selatan. Aku tiba-tiba jadi mengingat semuanya. Sudah hampir 10 tahun berlalu, kenangan-kenangan yang hampir aku lupakan kini satu persatu teringat dengan jelas.


Aku mencoba mengamati foto presiden sekolah yang tengah menghukumku saat itu. Sepertinya... aku mengenalnya , aku merasa tak asing dengannya . Ah... tentu saja, siapa yang tak tau tentang dia? Dia seorang tsundere. Teman-teman siswi mulai dari tingkat satu sampai tingkat tiga semua menyukainya, kecuali aku. Aku benar-benar membencinya karena dia terus-terusan memarahiku.


Dan lagi... aku benar-benar sangat membencinya. Karena dia selalu memperlakukan aku semena-mena. Makanya aku sama sekali tak tertarik bahkan untuk melihat wajahnya dengan jelas. Mengetahui namanya saja aku tidak.


Aku melihat siswi senior yang selalu menempel pada presiden sekolah berdiri di sebelahnya dengan rambut dikuncir kuda. Wajahnya benar-benar cantik tapi terlihat sangat jutek sekali. Kakak itu selalu menempel kemana pun presiden sekolah pergi.


"Benar-benar seperti tak ada kerjaan." Aku memggumam sendiri.


 


Aku tiba-tiba teringat dengan cerita teman yang mengatakan bahwa si kakak jutek itu menyukai presiden sekolah, tapi tak pernah mendapatkan tanggapan dan selalu diabaikannya. Ckckck... kasian. Benar-benar bermuka tembok ini kakak senior. Aku berdecak ngeri mengingat itu semua.


 


Tapi.... setelah mengamatinya kenapa Sepertinya aku merasa tak asing dengan mereka. Aku mencoba mengingat-ingat seperti siapa presiden sekolah tersebut.


Detik berikutnya aku benar-benar terkejut menyadari siapa sebenarnya yang ada di foto itu.


 


***