
Sudah seminggu rupanya sejak kepergian manager Wang. Tapi rasanya baru kemarin saja.
Ayah mertua juga semakin membaik, tapi dokter belum mengizinkan untuk pulang. Jadi Aku dan Jin masih berdua saja di rumah.
Polisi? Karena seminggu terakhir tidak ada tanda-tanda Fei akan menemuiku lagi, jadi detektif Song menarik perintahnya dan menyatakan aku dalam keadaan aman untuk sementara waktu.
Dan Fei.... Kami belum menemukan tanda-tanda di mana dia berada. Mungkin ini terdengar seperti omong kosong, tapi aku benar-benar mengkhawatirkannya.
"Memikirkan apa?" Jin tiba-tiba memelukku dari belakang dan mencium pundak kananku singkat.
Aku merasa kaget tentu saja.
"Ishh... mengagetkan saja." Ucapku padanya sedikit merajuk.
Jin terkekeh pelan kemudian ikut duduk bersamaku di sofa ruang tamu sembari menatap televisi.
"Apa yang kau pikirkan? Kenapa terlihat serius sekali?" Jin bertanya sembari mendekatkan wajahnya pada perutku.
Dia kemudian menciumi perutku beberapa kali dan mengusap-usapnya pelan.
"Aku...? Entahlah... Aku merasa... simpati dengan Fei." mendengar ucapanku spontan Jin langsung mengangkat kepalanya dan menyentil hidungku pelan.
"Kau memang tak berubah... kenapa hatimu lemah sekali heum?" Jin menatapku dalam.
"Hey... ini perwatakan... sulit mengubahnya." Aku semakin cemberut.
"Iya sayang.... mau bagaimanapun kamu... aku tetap menyukaimu." Jin meyakinkanku lagi akan perasaannya.
Meskipun Jin selalu mengatakan hal demikian aku tak pernah merasa bosan atau merasa perkataan Jin hanyalah omong kosong saja. Aku merasa sangat senang mendengarnya.
Ting tong... Ting tong.... Ting ting ting tong ting tong...
Seseorang memencet bel rumah tanpa henti....
Aku dan Jin mendesah bersamaan. Kami sudah sangat hapal dengan orang ini. Ya siapa lagi? Pasti adik tercintaku yang datang berkunjung.
Sebelum kendang telinga kami bocor, dengan cepat Jin beranjak membukakan pintu untuknya.
"Kakaaaaaakkkkk....... ini gawat." Huan nyelonong masuk tak menyapa Jin yang membukakan pintu untuknya. Jin terlihat menggelengkan kepalanya jengah.
"Kenapa??? apa yang gawat???" Tentu saja aku terkejut karena Huan mengatakan ada sesuatu yang gawat? "Apa kau ada masalah di sekolah? atau kau menabrak seseorang? kau mencuri? Kau membully temanmu??" Aku bertanya tanpa henti karena aku benar-benar khawatir.
"Bukaaaaaaan..... bukan seperti itu...." Huan mengelak semua tuduhanku.
"Terus apa???" Aku semakin khawatir.
"Sayang.... tenang dulu.... dengarkan Huan bicara." Jin menenangkanku.
"Pokoknya ini gawat. Kakak harus ikut denganku." Huan langsung menarikku berdiri.
"Yaaa.... hati-hati!" Jin histeris melihatku di tarik paksa oleh Huan.
"Kakak ipar.... Aku tau.... Aku harus memperlakukan kakakku dengan lembut seperti seperti membawa air panas dalam cangkir retak, tenang saja." Huan beranjak menarikku.
"Ya... apa kau bilang? Kau mengatakan istriku cangkir retak????" Jin terlihat kesal.
"Aishh.... kakak ipar ini." Huan jengah. "Pokoknya aku pinjam kakakku sebentar." Huan menarikku berjalan ke luar rumah.
"Kau mau mengajakku ke mana??" Aku masih mencoba mencari tahu kemana Huan akan membawaku dan apa yang sebenarnya terjadi.
"Yaaa...... kakakku belum pakai mantel." Jin berteriak kencang sembari mengejarku yang hampir saja sampai pintu depan.
"Kalau begitu.... kakak ipar juga harus ikut. Kakak yang menyetir." Ucap Huan sambil berlari ke dalam mengambil sebuah mantel tebal yang tergantuk di gastok dekat ruang makan dan diberikannya padaku.
"Sebenarnya ada apa ini??? Kenapa terlihat gawat sekali?" Jin mau tak mau akhirnya mengambil mantel dan kunci mobilnya.
"Kak Ling...." Huan bingung bagaimana menjelaskannya.
"Ling kenapa???" Aku sangat terkejut.
"Kak Ling.... ini gawat...." Huan masih terlihat panik sehingga tak bisa berkata apa-apa.
"Bicara yang benar. Ling kenapa???" Kini giliran Jin yang terlihat geregetan.
Aku dan Jin benar-benar sangat khawatir.
"Baiklah.... bicara pelan-pelan...." Jin mencoba menenangkan Huan.
"Kak Ling..... dia kencan buta!!!!" Huan akhirnya bisa mengatakannya dengan histeris.
PLAKKK!!!
Spontan aku memukul kepalanya karena kesal. Aku pikir ada sesuatu yang sangat fatal terjadi.
"Ya.... kenapa kakak memukulku???" Huan kesal.
Jin terlihat melepas mantelnya kembali dan kembali duduk di sofa denga jengah.
"Kakak ini gawat! Bagaimana kalau pria itu adalah pria yang jahat dan.... dan.... dan...." Huan tidak menlanjutkan kata-katanya karena Aku dan Jin menatapnya tajam
"Ada satu hal yang membutuhkan penjelasan di sini." Ucapku pada Huan sembari menjewer telinga kanannya dan menariknya agar duduk di sofa yang berada tepat di depan sofa yang diduduki oleh Jin.
"Yaaakkkk..... sakit....." Huan merintih.
Aku pun melepaskan jeweranku setelah Huan duduk dengan tenang sembari mengusap-usap telinganya yang sakit.
"Sekarang.... jelaskan pada kami apa maksudmu!" tegasku padanya setelah aku duduk di samping Jinyi.
Kami menatap tajam ke arah Huan yang kini terlihat kebingungan.
"Mm...mak...maksud kakak apa??" Tanyanya takut-takut.
"Ya... kami butuh penjelasanmu. Kenapa kau begitu histeris mengetahui Ling tengah melakukan kencan buta?" Tanyaku lagi.
"Eum.... kakak.... ini tak seperti yang kalian pikirkan...." Huan berusaha mengelak.
"Huan.... Aku juga pernah seusiamu. Katakan pada kami. Baru kami akan membantumu memecahkan masalah." Jin akhirnya ikut membuka suara.
Tak salah aku menikah dengannya. Dia sangat berwibawa sekali.
"Baiklah.... tapi.... kakak jangan marah..." Huan meminta syarat.
Dari sini aku dan Jin sudah mengerti. Kami saling bertatapan untuk beberapa saat dan kemudian menoleh kembali ke arah Huan.
"Ok.... lanjutkan!" ucapku.
"Aku..... aku.... aku menyukai kak Ling. Kakak ipar tau sendiri kan bagaimana perasaanku? karena kakak ipar pernah merasakannya. Jadi.... kakak.... tolong jangan marah padaku. Aku tak bisa mengontrolnya. Aku tak bisa menolaknya." Huan akhirnya mengatakannya dengan jujur.
"Bagus.... itu bagus..." Jin mengangguk mengerti.
"Tapi Jin...?" Aku menoleh ke arah Jinyi mencoba menolaknya.
"Mei.... kau tak bisa mengatur perasaan orang lain... Aku juga tak pernah mengatur perasaanmu padaku. Semua berjalan dengan alami kan? Untuk itu.... kau tak harus memaksa Huan untuk melupakan Ling." Jin merayuku.
"Iya kak.... Aku benar-benar tulus pada kak Ling. Aku tak peduli berapa jarak usia kami. Mau tujuh tahun mau seabad... yang jelas aku menyukainya." Huan memohon.
Aku melihat Huan dan Jin bergantian untuk beberapa saat.
"Hufh...." Aku mendesah berat. "Zhang Xiuhuan... masalahnya adalah.... Aku tak keberatan dengan perasaanmu tapi... bagaimana dengan Ling??" Aku benar-benar merasa kasihan dengan Huan.
"Kakak.... Kak Jin bisa membuktikan perasaannya padamu dan membuatmu menyukainya. Maka.... aku pasti juga akan bisa melakukannya. Asal kakak mau membantuku." Huan menatapku penuh harap.
"Ayolah sayang kasihan dia..." Jin sama halnya dengan Huan menatapku dengan penuh harap.
Ya Tuhan.... satu seperti anak anjing yang satu seperti anak kucing. Membuatku tak bisa mengelak.
"Baiklah... baiklah.... aku akan membantumu." Akhirnya aku menyetujuinya.
Jin dan Huan pun akhirnya tersenyum senang.
Aku hanya berharap.... Perasaan Huan bukan hanya cinta remaja saja. Tapi cinta seperti yang Jin miliki untukku.
***