
Ibu mertua telah kembali ke rumah sakit menggantikan Jin yang juga sudah berangkat bekerja.
Stok sayur dan buah di rumah juga telah habis. Jadi, aku berencana berbelanja hari ini. Aku pun mulai bersiap untuk pergi ke supermarket favorit yang letaknya tak jauh dari tempatku bekerja dulu.
Sudah hampir jam 11 siang, tapi itu tidak membuat cuaca memanas karena ini pada puncak musim semi yang menyejukkan. Jadi, setelah mengendarai taksi sampai di perempatan yang berjarak sekitar 500 meter dari supermarket, aku memutuskan untuk turun dan mulai berjalan kaki.
Kata dokter Zhao ini lumayan bagus untuk kehamilanku.
Tiba-tiba mataku menangkap sesosok orang yang aku kenal tengah berada di sebuah café terbuka yang berada sekitar 10 meter dariku. Sepertinya dia tidak mengetahui keberadaanku karena aku mengenakan masker yang menutup separuh wajahku.
Saat aku memutuskan untuk mengacuhkannya saja, tiba-tiba seseorang datang dengan tergesa-gesa menghampirinya kemudian duduk di kursi di meja yang sama dengannya sehingga mereka kini terlihat saling berhadapan.
Bukan manager Wang atau Jin. Ini adalah Fei. Dan orang yang mendatanginya sepertinya aku juga mengenalnya.
Ya, sepertinya dia adalah Yang Mi, teman yang berada dalam satu team denganku sebelumnya. Aku tak begitu dekat dengannya. Cerita singkat, dalam team kami terbagi menjadi dua kelompok lagi. Yang pertama adalah kelompokku bersama Ling beserta anggota lainnya, yang kedua adalah kelompok Yang Mi dan anggotanya.
Kami sebenarnya tidak benar-benar bersaing karena pada dasarnya kami berada dalam team yang sama. Tapi beberapa kali ada masa di mana Yang Mi merasa tersaingi olehku.
'Tapi kenapa jam kantor begini dia berkeliaran di sini? dan bertemu dengan Fei? Apakah mereka sedekat itu?' Aku membatin.
Kemudian ku lihat jam tangan yang aku kenakan telah menunjukkan waktu makan siang.
Ahh.... Dia mengambil jam makan siang untuk bertemu dengan Fei? Aku pikir mereka benar-benar sangat dekat.
Apa jangan-jangan??? Kenapa aku tidak sampai memikirkannya. Aku bahkan tak begitu peduli. Makanya aku tak pernah membahasnya.
Aku pun mulai mengendap-endap untuk lebih mendekat lagi pada mereka, sehingga kini jarak antara kami hanya terhalang pot bunga besar. Aku pun mencoba mendengarkan pembicaraan mereka dengan hati-hati agar tidak ketahuan.
"Kau seharusnya berterimakasih padaku, karena berkat bantuanku Xiumei sekarang sangat membenci Wang Tian." Fei berkata sinis nan bangga sembari menyeruput americano-nya. "Bukankah kau sangat menyukainya??? Lalu apa masalahnya?" Fei bertanya menyelidik.
Apa??? jadi selama ini Yang Mi menyukai manager Wang?? Dan Yang Mi harus berterima kasih pada Fei karena telah membuat aku membenci manager Wang?? Jadi... ini maksudnya adalah... Fitnah?? Mereka melakukan fitnah? Yang Mi berarti juga mengetahui bahwa manager Wang menyukaiku. Maka dari itu dia...
Dan jika ini memang benar fitnah, maka... aku melakukan kesalahan yang sama untuk yang kedua kalinya. Kesalahan karena terhasut oleh mereka.
"Apakah menurutmu aku harus berterimakasih padamu? Kau tak ubahnya menggali kuburmu sendiri." Yang Mi sepertinya terlihat kesal.
"Ya sialan! Meskipun kau telah gagal waktu itu, apakah pantas kau berkata begitu padaku? Hei... aku yang membantumu." Fei kini terlihat marah karena Yang Mi terkesan tak peduli.
Aku membekap mulutku karena tercengang mendengar apa yang tak pernah ku pikirkan.
Jadi waktu itu yang melakukannya benar Yang Mi? Bagaimana bisa aku tak memperhatikan gerak geriknya? Aku malah sama sekali tak memperhatikannya. Bahkan dia tak terlintas sama sekali di kepalaku.
"Kau pikir kau telah berhasil sekarang? Manager Wang sepertinya tau kalau aku yang telah melakukan sabotase beberapa waktu lalu pada Xiumei dan Ling. Katamu kalau aku melakukannya dia akan membenci Mei dan aku akan mudah mendekatinya. Tapi... apa???." Yang Mi merasa semakin kesal.
Tunggu.... Jadi ini sebenarnya aku di jadikan sebagai bola bagi mereka? Intinya mereka akan menghancurkanku? Tujuan mereka yang sebenarnya adalah... membuat Jin dan manager Wang membenciku. Dan aku di pecat, sehingga hidupku akan menjadi penuh tekanan karena tak ada orang yang percaya lagi padaku. Mungkin seperti itu.
"Itu karena kau bodoh. Kenapa kau hanya fokus pada Xiumei? Kau melupakan temannya. Itu masalahnya. Karena kau itu memang bodoh." Fei semakin kesal.
"Cihh... kau berani mengatakan aku bodoh? apa bedanya denganmu? Dan sekarang? apa untungnya denganmu?" Yang Mi berdecih sinis.
"Sebenarnya aku akan mengadu domba mereka. Aku akan membuat Mei membenci Jin dan Tian. Jadi Mei akan menjauhi mereka. Dan ini menguntungkan untuk kita." Fei tersenyum senang membayangkan rencananya yang sudah mulai berjalan.
Jadi dia tak tau kalau aku sudah kembali pada Jin?
drt... drt...
Ponselku bergetar di saat mereka tengah beradu argumen. Sigh. Aku pun membuka pesan singkat yang ternyata berasal dari manager Wang.
Attachment suara? Aku berpikir sejenak. Dengan segera aku memasang headset dan mulai mendengarkan file suara itu.
Ternyata file yang sama dengan yang dikirmkan Fei padaku. Tapi.... ini durasinya lebih panjang.
"Meskipun aku menyukai Mei, aku tak akan melakukan hal sepicik itu. Maaf... kau telah salah menilaiku." Ucapan terakhir manager Wang sebelum akhirnya terdengar pintu tertutup kasar.
"YA WANG TIAN SIALAN!!!" Teriakan Fei terdengar sangat nyaring sehingga itu membuat aku memejamkan mata karena suara yang memekikkan telinga.
Setelah itu file itu berakhir.
"Ya Tuhan... Dasar Fei benar-benar nenek sihir." Aku menggerutu lirih sembari melepaskan headset dari telingaku.
Aku benar-benar kesal padanya. Headset dan ponsel aku masukkan lagi ke dalam tas. Dan kemudian ku renggangkan tanganku seolah mengambil aba-aba.
"Apa kau membawa apa yang aku minta?" Fei bertanya pada Yang Mi kemudian membuatku kembali menguping pembicaraan mereka lagi.
"Akan kau gunakan pada siapa aprodisiac ini?" Yang Mi berbalik bertanya pada Fei sembari memberikan sebuah botol obat.
"Jangan bertambah bodoh? tentu saja aku akan menjebak Jinyi." Ucap Fei senang.
APA??? Jin???? Dia mau menjebak Jin??? Tidak. Aku tak bisa membiarkannya. Ini sudah terlewat jauh.
"Lakukan sesukamu. Aku harus kembali ke kantor." Yang Mi jengah sembari berdiri beranjak meninggalkan Fei yang tersenyum-senyum sendiri.
Setelah kepergian Yang Mi, aku sudah tak bisa lagi menahan emosi. Aku pun beranjak mendekati Fei sembari membuka maskerku.
PLAK!!!!
Tepat sasaran. Bagus sekali. Aku menamparnya dengan sangat kencang sampai tanganku terasa panas.
Mendapatkan tamparan yang begitu tiba-tiba membuat Fei begitu terkejut dan tak bisa berkata apa-apa. Shock. Dia hanya ternganga tak berdaya sembari memegangi pipinya.
Semua orang sepertinya melihat ke arah kami.
"Sepertinya kau sangat pantas mendapatkan tamparan itu. Aku sudah bersabar terhadapmu, tapi kau malah semakin menjadi-jadi. Mertuaku kau buat terbaring di rumah sakit dan kini kau mau menjebak suamiku agar dia bisa tidur denganmu? wow... idemu sungguh brilliant, tapi aku benar-benar muak." Aku sangat kesal sekali padanya.
"Dan ingat ini, sampai kapan pun suamiku tak akan pernah sudi tidur denganmu. Meskipun dia dalam keadaan mabuk sekali pun dia tak akan pernah menoleh ke arah perempuan iblis sepertimu." setelah puas mengatakannya, aku rampas aprodisiac yang di genggam sebelah tangannya kemudian membuka segelnya dan membuang cairan yang ada di dalamnya begitu saja.
Semua orang terlihat berbisik-bisik menatap kami berdua. Tapi aku tak peduli. Aku pun beranjak pergi dari sana dengan perasaan kesal meninggalkan nenek sihir itu sendirian menikmati bekas tamparanku.
Setelah berjarak sekitar 100 meter, ku ambil ponsel dalam tas ku kemudian ku coba menghubungi manager Wang.
Ya... Aku mau meminta maaf padanya. Karena aku telah salah menilainya.
Nada hubung mulai terdengar, tapi sepertinya manager Wang menunggu panggilanku karena dengan cepat dia menerimanya.
"Hallo Mei???" Manager Wang terdengar senang.
"Hallo manager?" Aku menyapanya kembali.
"Mei... apa kau percaya padaku???" Nada suaranya kemudian terdengar khawatir.
"Maafkan aku.... aku telah terhasut oleh mereka." Ucapku pada akhirnya merasa sangat menyesal.
"Aku mengerti.... apa kita bisa bertemu?" Tanyanya kemudian memberikan gagasan.
"Sekarang aku berada di dekat supermarket Ning." Aku tidak mengiyakannya tapi aku memberi tahunya di mana kini aku berada.
"Ok, aku sedang berada di luar, kita bertemu 10 menit lagi." Ucapnya terdengar senang.
"Baik....." Ucapku padanya kemudian menutup panggilan dan menarik napas lega.
Aku melanjutkan perjalanan lagi dengan perlahan. Rasanya aku benar-benar lega bisa menamparnya di depan umum seperti itu.
Aku sudah bereda di perempatan yang berjarak sekitar 10 meter dari supermarket yang aku tuju. Lampu penyeberangan masih berwarna merah sehingga aku masih berdiri menunggunya berubah hijau.
'Jangan jadi orang seprtinya ya nak?' Aku membatin sembari mengusap perutku perlahan kemudian mendongakkan kepalaku lagi melihat sekitar.
Aku pun tersenyum ketika mataku menangkap ada seseorang di seberang zebra cross yang tengah tersenyum sembari melambai ke arahku.
Manager Wang sudah ada di sana tengah menungguku menyeberang jalan. Aku pun melambai ke arahnya senang.
Tung...
Suara berdengung pelan menandakan lampu telah berubah warna. Perlahan aku mulai melangkahkan kaki menyeberangi zebra cross sehingga aku kini berada lebih dekat dengannya.
Manager Wang masih menungguku dengan senyumnya yang tak pudar sejak melihatku. Aku pun juga masih tersenyum senang melihatnya.
Tiba-tiba senyumnya terhenti dan seperti berubah menjadi panik setelah melihat jalanan dari arah kananku. Dia terlihat menoleh ke arahku dan kembali lagi ke jalanan beberapa kali sebelum akhirnya.
"XIUMEI!!!"
BRAKKK!!!!
Dia berteriak dan selang beberapa detik kemudian terdengar suara mobil menabrak sesuatu.
Aku terpental... dan kepalaku terbentur aspal. Perlahan pandangan mataku mulai buram.
***