WE GOT MARRIED

WE GOT MARRIED
Chapter 47 MAAF AKU MENYUKAI MANAGER WANG



Karena merasa geram, sesampainya di rumah aku langsung ingin tidur. Aku merebahkan badanku di tempat tidur dengan memiringkan badanku ke kiri.


Aku benar-benar tak habis pikir, ada apa dengan mereka? Kenapa bertingkah seperti itu? seperti anak kecil saja.


Bukankah ini sedikit memalukan? ini sama sekali tak sesuai dengan image mereka yang terkenal, tegas dan charming.


Mereka benar-benar berusbah seperti anak kecil.


Cklek...


Aku mendengar suara pintu dibuka seseorang. Aku sangat yakin itu pasti Jin yang tengah memasuki kamar. Sepertinya dia benar-benar sudah pulang.


Aku pun pura-pura memejamkan mataku agar disangkanya aku tengah tertidur pulas.


Ku rasakan tempat tidur yang aku tiduri bergerak ringan. Bisa ku pastikan bahwa kini dia tengah naik ke tempat tidur dan merangkak mendekatiku. Aku benar-benar bisa merasakannya. Namun Aku masih diam tak bergeming dan tetap berpura-pura tidur.


“Mei....” dia memanggilku pelan sembari tangannya bergerak memeluk pinggangku.


Dia sudah merebahkan dirinya sembari memelukku dari belakang.


“Mei.... sayang.... kau sudah tidur??” dia bertanya lagi.


Ku rasakan hembusan nafasnya menyapu tepat di tengkukku. Namun aku mencoba bertahan. Aku harus tetap berpura-pura tidur. Aku benar-benar ingin tau reaksinya seperti apa jika aku mengabaikannya.


“Sayang aku sudah pulang... bangunlah....” dia merengek lagi.


Karena tak mendapat responku juga, akhirnya dia mulai menciumi tengkukku.


Deg...


Rasanya benar-benar membuat jantungku berdesir. Perlahan ciumannya beralih ke telingaku sehingga pertahanan yang ku jaga kuat-kuat untuk berpura-pura tidur runtuh juga. Aku pun mulai tertawa tak tertahan.


“Jin.... hentikan itu geli!!!” Dia masih terus saja melakukannya hingga aku berteriak-teriak karena merasa sangat geli. Um... bukan geli sebenarnya tapi... lebih ke.... bagaimana aku menjelaskannya???


“Mei... bangun.... lihat aku.” Dia membuatku terlentang sehingga dengan mudahnya dia kini berada di atasku dan bertumpu dengan kedua sikunya yang mengapit tubuhku.


Aku pun berhenti tertawa dan menatap matanya dalam.


“Sejak kapan kau pulang? Kau tau aku benar-benar panik saat kehilanganmu.” Ucapnya dengan sedikit merajuk.


“Apakah kompetisinya telah berakhir?” Aku malah balik bertanya padanya.


“Kompetisi apa?” Jin terlihat kebingungan.


Aku menghela nafas panjang kemudian tanganku bergerak menyentuh pundaknya.


“Kau tak sadar bahwa kau tadi benar-benar mengacuhkan aku? Kau malah terpaku pada manager Wang."


“Aku....????” Jin terlihat semakin kebingungan.


"Hu um.... Kau perhatian sekali padanya, Hingga kalian bertatapan begitu dalamnya. Sampai-sampai kepergianku tak ada yang menyadarinya." Aku Juga mualai merajuk.


“Sayang bukan begitu.... aku... Cuma merasa tak suka saja dengan si Wang Tian itu. Kau lihat kan matanya saat menatapmu. Dia sepertinya benar-benar tak bisa dibiarkan.” Jin berubah menjadi kesal.


“Hm.... Bukannya tadi hanya bertatapan denganmu?" Aku malah balik memberikan pertanyaan.


"Tidak... saat menatapmu matanya benar-benar.... ahh.... sulit diungkapkan." Jin kesulitan menjelaskan.


"Dan lagi.... memangnya kalau tak suka apakah harus begitu? Kau bahkan terlihat lebih tertarik pada manager Wang daripada aku.” Aku menyatakan sebuah opini.


“Aduh.... bagaimana aku harus menjelaskannya?!” Jin bertanya pada dirinya sendiri, bingung.


“Ahhh.... Mei... “ Jin mulai merajuk. “Aku benar-benar tak suka kau ada di dekat managermu itu. Kau tau kan dia tampan? Aku takut kau akan terpikat padanya.”


“Nah kau tau itu. Aku dulu memang sangat menyukainya. Sangat menyukainya. Bahkan setelah menikah aku masih menyukainya.” Aku mulai menggodanya. Karena aku pikir melihat wajahnya yang merajuk itu benar-benar sangat menyenangkan. Dia terlihat sangat imut sekali.


“APAAA????” Jin sangat terkejut sehingga dia langsung beranjak duduk. Sepertinya dia terlihat sangat marah. “Ya sudah kalau begitu, kau pergi saja sana temui dia.” Jin terlihat semakin marah. Dia membelakangiku tak bergeming.


Aku pun beranjak duduk dan memeluknya dari belakang.


Jin hanya diam terpaku tak mengeluarkan suara sepatah kata pun.


“Baiklah kalau begitu.... aku akan menemuinya saja sekarang.” Ucapku melepaskan pelukanku darinya hendak beranjak.


Namun tiba-tiba tanganku ditarik dan dipegangnya erat.


“Tak akan ku biarkan kau pergi padanya. Tidak akan pernah.” Jin terdengar tegas.


Namun kemudian....


“Mei.....” dia berbalik padaku dan mulai memanja lagi. Benar-benar pria dengan berbagai macam dimensi.


“Mei.... kau bercanda kan sayang??? Kau hanya menyukaiku kan? Iya kan???” Dia mencoba meyakinkanku, terlihat raut ketakutan dari wajahnya.


“Aku?? Bercanda??? Tidak... aku memang menyukainya. Sangat menyukainya.” Ucapku lebih meyakinkannya.


“Tapi.... itu dulu.... sebelum aku menyukaimu. Tidak... aku tak hanya menyukaimu, tapi aku benar-benar di mabuk cinta denganmu.” Senyumku padanya kemudian. Tulus.


“Apa itu benar? Kau jangan berbohong.” dia menatap mataku dalam. Aku tak menjawabnya dan hanya menganguk.


“Tapi sepertinya.... sekarang kau yang menyukai manager Wang.” Ucapku berbalik cemberut padanya dan beranjak rebahan lagi.


“A.... a... apa maksudmu? Aku??? Aku menyukai managermu itu?” Jin terbelalak tak percaya.


Aku hanya terdiam dan mulai memejamkan mata hendak segera tidur.


“Mei.... aku bukan gay! Mei sungguh.... aku sangat mencintaimu. Aku normal Mei.... kau jangan salah paham... Mei.... Apa kau benar tak bisa merasakan ketulusanku?” Jin merajuk dan mulai menggoyang-goyangkan badanku mencoba menjelaskan.


Aku pun akhirnya terduduk kembali. Kemudian ku tatap dia lekat.


“Iya.... iya sayang... Aku mengerti... Sekarang... mandi sana gih... ” Ucapku sembari mendorongnya agar pergi mandi.


“Tidak! Aku harus buktikan bahwa aku bukan gay.” Jin malah ikut berbaring dan memelukku erat dan mulai menciumi pundak dan leherku bergantian.


“Jin.... hentikan.... itu geli.” Aku mulai gugup lagi.


Dia tak mau mengehentikan aksinya. Namun disaat serius-seriusnya...


Kriuuukkk....


Terdengar bunyi dari dalam perut seseorang. Tapi itu bukan perutku. Terus itu perut siapa?? Jin?? Aku menatapnya.


“Aku lapar...” ucapnya kemudian memelas.


Tawaku pun akhirnya pecah juga.


"Siapa suruh tadi tidak makan?" Aku mulai menggerutu.


"Aku melihat wajah Wang Tian saja sudah tak nafsu makan." Ucapnya memelas.


"Tapi kau sangat suka menatapnya." Ucapku memberikan penyangkalan.


"Tidak Mei..." Jin kebingungan lagi.


“Baiklah.... madilah dulu sana, aku akan buatkan makan.” Ucapku dengan mengusap pipinya.


“Tak mau.... aku mau....”


Kriukkkkkkk.............


Belum selesai dia berkata perutnya berbunyi lagi. Kali ini lebih kencang suaranya. Aku pun tertawa.


Dan dia akhirnya menyerah juga untuk segera beranjak ke kamar mandi.


Dan malam ini, sepertinya pembuktian bahwa dia tidak gay akan sedikit tertunda .